Danau Haruna yang tertidur, Februari 2016

Di kereta yang melaju ke arah Gunma siang itu, saya menatap ke luar, bertanya-tanya kepada diri sendiri kenapa saya sebelumnya tidak pernah mendatangi Gunma. Padahal prefektur yang dikelilingi daratan itu adalah tetangga Tokyo, tempat saya tinggal dulu. Barangkali yang dekat-dekat justru sering kali tidak terasa mendesak untuk dikunjungi.

Dan, yah, saking dekatnya, perjalanan kereta ke Takasaki—salah satu kota di Gunma—itu tidak terasa seperti perjalanan ke luar kota. Bentangan urban Tokyo menjalar ke mana-mana, nyaris tak terputus rasanya sampai ke Takasaki. Ketika tiba di Takasaki, seolah-olah saya hanya habis naik kereta dari satu titik ke titik lain di Tokyo, apalagi saya hanya menggunakan kereta biasa. Perjalanan kira-kira memakan waktu satu setengah jam dari stasiun keberangkatan saya di Tokyo—kalau tidak salah, Ikebukuro. Lucu memang, ingatan saya tentang kereta mana yang saya naiki kabur sekali. Habisnya, ya itu, rasanya seperti naik kereta dalam kota saja.

Saya telah memesan kamar di Hotel 1-2-3 yang letaknya sebenarnya tidak jauh dari stasiun. Namun saya memutuskan untuk meletakkan dulu saja bawaan di dalam loker di stasiun, sebelum kemudian menaiki bis langsung ke Danau Haruna (Harunako). Saya ingin ke danau tersebut karena terpesona dengan foto-fotonya di puncak musim dingin yang saya lihat di Internet. Saya menanyakan tentang bis yang harus saya naiki ke petugas di kantor pariwisata di stasiun, dan petugas menjelaskan nomor bis dan halte di mana saya harus menunggu. Agak tergesa saya pun menuju ke halte tersebut. Namun… waaah, bis berikutnya baru akan tiba 40 menit lagi!

Empat puluh menit… bukan waktu yang sebentar, namun tidak terlalu panjang juga. Mau ke mana-mana serba nanggung. Saya sudah bertekad mau menyantap makanan khas Danau Haruna, jadi saya tidak mau mencari makanan di sekitar stasiun dulu. Untungnya, di area sekitar stasiun, pemerintah kota menyediakan wi-fi gratis. Jadi lumayanlah, selama menunggu saya ada hiburan. Yah, begitulah kalau di kota-kota kecil di Jepang. Bis bisa jadi jarang-jarang lewat, dan saat musim dingin/bukan high season seperti ini, frekuensinya bisa semakin dipangkas.

Akhirnya bis yang harus saya naiki tiba juga. Saya memperhatikan bahwa saat naik, penduduk setempat menempelkan kartu transportasi yang bukan SUICA atau PASMO (kartu-kartu transportasi Tokyo) ke mesin di pintu masuk. Kartu SUICA saya ternyata tidak bisa dipakai. Celinguk sana-sini, tidak ada mesin untuk mengambil tiket juga. Saya pun mendatangi supir bis dan bertanya apakah saya harus membeli tiket dulu. Dia menjawab, tiket tidak diperlukan, dan malah balik bertanya, mau ke mana memangnya? Danau Haruna, jawab saya. Bayarnya nanti saja kalau turun, ia menjelaskan lagi.

Baiklah. Saya berterima kasih dan mundur lagi ke bagian penumpang, mencari tempat duduk untuk menikmati perjalanan yang menurut perkiraan saya cukup jauh. Cukup jauh, karena tarif bis dari stasiun Takasaki ke Danau Haruna adalah 1.320 yen.

Bis pun bergerak, pertama-tama melewati jalan-jalan perkotaan. Sepintas tidak ada yang istimewa dari Takasaki—rapi, cukup menarik, bersih, namun ini adalah ciri-ciri kota-kota kecil Jepang pada umumnya. Bukannya saya tidak suka lho ya. Namun mungkin memang kebetulan tidak banyak hal yang bisa diceritakan, atau setidaknya sangat menonjol sehingga teringat oleh saya, di jalur yang dilalui bis ini. Begitulah setidak-tidaknya sewaktu bis masih melaju di dalam kota. Ketika kemudian bis meninggalkan daerah perkotaan dan mulai menanjak gunung melalui jalan-jalan yang diapit hutan, lain cerita!

Takasaki saja suhunya lebih dingin dari Tokyo, berhubung letaknya dari permukaan laut yang memang lebih tinggi dibandingkan ibukota. Nah, apalagi lereng gunung ini.

(Di bagian ini saya tadinya hendak menulis “Meskipun di Tokyo sudah tidak ada salju…” namun saya meralat diri sendiri. Soalnya pada dasarnya salju memang barang yang lumayan langka di Tokyo. Percaya deh, kalau mau membuat cerita berlatar belakang musim dingin dengan salju tebal membalut, lokasinya jangan di Tokyo. Tokyo dapat tiga-empat hari bersalju dalam satu musim dingin saja sudah syukur. Sekali-kalinya salju lebat turun sampai membuat kota lumpuh dalam beberapa puluh tahun terakhir adalah musim dingin 2013/2014, ketika saya terjebak di kereta Chuo Line sepuluh jam lebih.)

Semakin bis mendaki, pemandangan semakin cantik sekaligus entah mengapa, mencekam. Eeriely beautiful. Semakin ke atas, salju semakin tebal, pepohonan semakin rapat. Nyaris tak ada tanda-tanda permukiman manusia. Saya keasyikan sendiri memandang dunia di luar bis yang semakin putih. Jumlah penumpang juga semakin menyusut. Mendekati tujuan akhir, hanya lima penumpang tersisa di atas bis—saya, dua orang gadis, dan sepasang kekasih. Dan ketika akhirnya kami tiba di Danau Haruna…. napas saya tercekat.

Apa yang ada di depan mata saya tidak saya duga sebelumnya.

Danau Haruna yang beku.

Sepenuhnya beku. Dengan salju masih menumpuk di mana-mana. Dan seolah tak ada kehidupan. Semuanya begitu sunyi karena saat itu bukan musim libur. Semua perahu tertambat, lumpuh sampai es yang menutupi danau cair lagi nanti di musim semi. Danau itu tertidur. Kota kecil itu tertidur.

Keempat penumpang yang turun bersama saya sudah langsung menyebar berdua-dua, entah ke mana. Saya bertanya kepada pak supir, kapan bis terakhir balik ke Takasaki berangkat. Jam 5, katanya. Baiklah. Masih banyak waktu.

Saya memutuskan mencari makan dulu. Saya berjalan ke arah yang saya duga menuju pusat kota kecil itu sambil sebentar-sebentar berhenti untuk mengagumi keindahan danau yang cantik. Cantik sekali, serba putih, beradu dengan birunya langit yang untungnya hari itu sangat cerah. Cantik, sekaligus mencekam. Ah, saya mengulangi penggunaan dua kata sifat ini untuk menggambarkan apa yang saya lihat. Tapi begitulah adanya. Di seberang danau, terlihat Gunung Haruna-fuji, si ‘miniatur Gunung Fuji’. Di musim-musim yang lebih bersahabat, gunung tersebut cukup popular sebagai tempat hiking.

Sebetulnya saya datang memang terlambat. Di puncak musim dingin di daerah ini, sekitar bulan Januari, ada festival Danau Haruna ketika orang-orang bersenang-senang di atas danau kaldera yang beku, saat es sangat tebal dan kokoh. Kalau sekarang? Hmmm, saya tidak berani mencoba. Cukuplah berjalan saja di sekelilingnya, itu pun di jalanan yang sudah dibersihkan dari salju. Kalau nekad melangkah ke di tanah yang masih tertutupi salju tebal, bisa-bisa saya ambles.

Saya mulai agak khawatir karena bangunan-bangunan yang saya lewati tampak sepi semua. Apakah tidak ada tempat makan yang buka? Oh, untungnya ada. Terlihat beberapa orang keluar-masuk dari sebuah restoran yang jendela-jendelanya tidak tertutup kerai. Tanpa pilih-pilih lagi (berhubung saya sudah sangat lapar juga), saya pun bergegas masuk. Di dalam restoran hanya ada sepasang perempuan lanjut usia yang sedang bersantap, beserta pemilik restoran yang juga seorang perempuan yang sudah berumur. Sang pemilik menanyakan apakah saya ingin makan. Saya jawab, ya, dan karena tubuh masih belum lupa dinginnya suhu udara di luar, saya langsung memilih udon saja dari menu yang disediakan. Setelah si ibu meninggalkan saya untuk menyiapkan makanan, saya kembali menelusuri menu dan merasa agak menyesal mengapa saya tidak memesan sesuatu yang lebih khas daerah ini yang ditawarkan oleh restoran tersebut: wakasagi, sejenis ikan kecil.

Udon yang dibawakan si ibu memang enak, banyak campuran sayur-mayurnya. Ukurannya besar pula, mengenyangkan. Namun saya masih penasaran soal wakasagi… Seharusnya tadi saya pesan wakasagi-don saja ya (nasi dengan wakasagi). Restoran itu sih menawarkan sepiring wakasagi goreng, 700 yen. Mahal juga, jumlahnya lumayan banyak pula untuk satu orang. Kira-kira terlalu mahal tidak ya menghabiskan yuang sebegitu untuk mencicipi makanan lokal? Saya putuskan: tidak, dan saya pun memesan satu porsi. Dan saya tidak menyesal karena wakasagi goreng renyah di luar, tapi lembut di dalam, paduan rasa gurih dan agak manis daging ikan. Entah tulang-tulangnya sudah dibuang atau sangat lunak, sehingga saya tidak merasakannya. Hanya saja saya merasa sedikit agak besalah ketika mendapati bahwa sebagian ikan kecil yang lezat itu ternyata betina dan berisikan telur. Duh, tapi ikan ini bukan ikan langka yang dilindungi, kan… saya membatin.

Setelah perut kembali kenyang dan badan kembali hangat, saya membayar pesanan saya dan kembali menerjang dingin di luar. Saya mulai berjalan ke arah berlawanan, menuju sisi lain danau. Setidaknya saya berusaha begitu. Nah, ternyata di sisi lain ini, ada sederetan restoran dan toko cenderamata yang buka, meskipun tidak tampak banyak yang berkunjung. Seorang perempuan tua keluar dari salah satunya dan berteriak menawarkan kopi kepada saya. Saya hanya tersenyum kepadanya dan terus berjalan. Nanti dulu ya, Bu. Saya ingin mencoba mendatangi jalur kereta gantung yang bisa terlihat dari kejauhan.

Sebenarnya sih sepertinya kereta gantung itu tidak beroperasi, namun saya ingin mencoba saja berjalan ke arah itu. Lagipula, ada segerombolan buluh berwarna keemasan yang tampak melambai-lambai di danau yang beku, dekat stasiun kereta gantung. Saya bertanya-tanya, apa betul itu buluh? Saya pun terus melangkah sendirian di jalanan berwarna gelap yang hanya sesekali dilewati mobil. Mau tidak mau di jalanan mobil yang melingkari danau itu, karena hanya jalanan mobil yang telah dibersihkan dari salju. Kira-kira apakah para penumpang mobil itu berpikir, kok aneh betul cewek ini jalan sendirian di tengah salju begini ya?

Tidak apa-apa lah mereka beranggapan apa saja. Toh dengan berjalan kaki menyusuri tepi danau begini, saya jadi bisa melihat banyak hal. Misalnya, saya melihat jejak-jejak kaki kecil di atas es. Siapa kira-kira yang telah meninggalkan tapak-tapak itu? Saya melihat pohon-pohon yang tertidur, batang-batang gelap yang tampak mencolok pada latar belakang yang putih. Putih, putih, putih di mana-mana. Dan dingin. Saya tidak tahu berapa suhunya tepatnya, namun rasanya baru kali itu saya merasakan suhu seperti itu. Bahkan sewaktu ke Hokkaido tahun sebelumnya, rasa-rasanya suhu tidak sedingin ini.

Setelah memastikan dari lumayan dekat bahwa apa yang saya kira buluh keemasan ternyata memang buluh keemasan yang seolah ditancapkan dengan sengaja di atas es (padahal alami), saya berjalan kembali ke arah halte bis dan mampir di kafe milik perempuan yang menawarkan kopi kepada saya tadi. Ia menyambut saya dengan cerah.

Kafenya—yang juga menyediakan makanan berat—merangkap sebagai toko cenderamata, namun segala sesuatu tampak diatur seadanya. Hanya sejumlah omiyage (oleh-oleh) yang masih ada. Barang-barang lain yang ia tawarkan bukanlah barang-barang yang saya yakin ada yang mau beli—boneka, patung kecil, hiasan meja dari batu berbentuk penis… sebagian di antaranya mungkin sudah teronggok di rak-rak toko itu bertahun-tahun lamanya.

Akan tetapi si ibu sangat ramah, dan itu jauh lebih penting daripada apa pun. Ia tampaknya juga senang ada yang bisa diajak mengobrol. Saya sih tidak keberatan menemani dia sampai bis berikutnya tiba, meskipun bahasa Jepang saya juga pas-pasan. (Ini pun masih dia puji-puji. Standar kesopanan orang Jepang lah kalau sudah menyangkut kemampuan kita berbahasa Jepang.) Saya memesan kopi, dan duduk di depan salah satu meja yang berhadapan dengan pemanas model lama. Pemanas model begini ya tidak kuat menghangatkan satu ruangan, apalagi yang besar seperti bagian dalam kafe/toko si ibu. Tapi ada kenikmatan tersendiri duduk dekat-dekat pemanas itu dan merasakan suhu panas yang menguar.

Si ibu kembali dari dapur untuk menghidangkan kopi pesanan saya, juga teh hijau panas gratis yang merupakan standar di restoran-restoran Jepang. Ia ikut duduk bersama saya dan mengajukan sejumlah pertanyaan, seperti dari mana asal saya, apakah saya jalan-jalan sendirian, menginap di mana, dan semacamnya. Ia mengingatkan bahwa saat musim dingin seperti ini, frekuensi bis lebih jarang, dan yang paling akhir menuju Takasaki berangkat pukul lima. Tepat seperti yang diterangkan supir bis tadi.

Kopi saya habis beberapa saat sebelum pukul tiga. Si ibu mengatakan bahwa karena di luar sangat dingin, sementara bis berikutnya baru datang pukul 3.30, tidak apa-apa kalau saya mau menunggu di dalam saya. Saya merasa agak tidak enak, jadi saya katakan saja saya mau keluar untuk memfoto-foto lagi. Saya pun minta diri, berjalan kembali ke halte sambil menikmati lagi pemandangan sekeliling, dan… mendapati bahwa memang suhunya TERLALU DINGIN. Seperti prajurit kalah perang, saya kembali ke kafe si ibu dan meminta izin untuk menunggu di dalam saja. Ia mempersilakan saya. Hanya saja, saat itu meja saya di dekat pemanas sudah diambil oleh lima pemuda yang baru saja datang. Senang ya bu, ada pengunjung lagi. Akan tetapi, makanan yang tersedia untuk hari itu sudah terbatas. Hanya ada udon untuk dua orang, dan yang lain harus memesan makanan yang lain.

Saya menghabiskan sisa waktu untuk melihat-lihat lagi cenderamata yang ia tawarkan, mencari-cari sesuatu untuk saya beli. Hitung-hitung untuk membalas budi kebaikan hati si ibu. Sayangnya, benar-benar tidak ada apa-apa. Si ibu juga berkali-kali meminta maaf atas tokonya yang dingin dan karena tidak banyak oleh-oleh yang tersisa untuk ditawarkan. Haduh, padahal saya yang tidak enak lho Bu, sudah boleh berteduh begini. Si ibu pakai mengenalkan saya ke pemuda-pemuda itu, lagi. “Dari Indonesia lho!” Pemuda-pemuda itu mengangguk secukupnya ke saya.

Akhirnya tiba juga waktunya untuk benar-benar berpamitan kepada si ibu. Memang hanya sebentar, tapi kehangatan yang disajikan si ibu – dalam bentuk tidak hanya kopi dan pemanas ruangan, tapi juga keramahan – terasa sangat istimewa di tengah dingin yang menggigit.

Syukurlah saya tidak ketinggalan bis. Perjalanan kembali ke Takasaki lebih sepi lagi daripada saat berangkat tadi. Barangkali karena orang-orang juga sudah malas keluar-keluar rumah atau pergi jauh-jauh, mengingat malam turun lebih cepat di musim dingin. Sesampainya di Takasaki, saya mengambil barang di loker dan check-in ke Hotel 1-2-3, hotel bisnis yang tidak mengecewakan meskipun terhitung sederhana.

Tidak banyak hal yang bisa saya lakukan malamnya di Takasaki selain berjalan keliling-keliling, termasuk ke Balai Kota Takasaki. Para pegawai balai kota sih sudah pulang dari sore, hanya saja di puncak bangunan berlantai 21 ini ada dek pengamatan tempat kita bisa memandang kota Takasaki dari atas. Saya agak ragu-ragu karena kok ya tidak ada yang jaga pintu di lantai dasar… tidak ada yang jaga lift juga… tidak ada pemeriksaan apa segala. Pokoknya waktu itu ya saya masuk saja mengikuti petunjuk yang ada, lalu langsung naik lift ke lantai 21. (Saya membaca pengalaman orang lain di Internet, ternyata memang naik ke dek pengamatan itu bebas-bebas saja seperti itu.)

Di dek pengamatan, selain bisa melihat pemandangan sekeliling dari jendela-jendela besar yang dilengkapi deretan meja dan tempat duduk sehingga kita bisa duduk santai menatap ke luar, juga ada sejumlah lukisan yang dipamerkan. Hitung-hitung ke pameran gratis. Juga ada sebuah restoran, namun sepertinya harganya di luar jangkauan kantong saya.

Akhirnya, untuk beberapa lama saya duduk memandangi lampu-lampu yang terbentang menerangi malam jauh di bawah sana, menikmati santai dan damainya kota ini. Setelahnya saya kembali ke hotel, menyusuri jalan-jalan yang meski gelap dan sepi namun tidak terasa menakutkan. Hanya tenang.

Esok paginya saya sudah harus kembali ke Tokyo sehingga saya tidak sempat melihat-lihat Takasaki lebih jauh. Namun perjalanan ke Danau Haruna yang indah sudah sangat memuaskan hati saya. Katanya sih, Haruna di musim panas juga menarik dan jadi tempat tujuan banyak orang untuk berkemah dan menikmati cuaca yang lebih sejuk daripada di dataran rendah. Mungkin Anda yang mau membuktikannya? Kalau iya, nanti cerita-cerita, ya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: