Hue, Ibukota Kekaisaran Lama Vietnam

This post is about Vietnam

Wilayah Hue sudah didiami manusia sejak lebih dari 2.000 tahun lalu.  Hue modern kini dibelah oleh Perfume River yang teramat bersih (sewaktu nantinya melayari sungai ini, kami hanya melihat kurang dari lima sampah yang mengapung!).  Bagian utara merupakan benteng kota tua kekaisaran dinasti Nguyen, sementara bagian selatan banyak dihiasi bangunan modern dan bergaya Prancis dari zaman kolonial.  Di dalam dan di sekitar Hue, banyak peninggalan bersejarah, bangunan keagamaan, dan keindahan alam yang patut dikunjungi.  Bahkan duduk-duduk di pelabuhan ‘perahu naga’ atau tepian sungai yang beralas rumput hijau saat pagi, sore, atau malam hari pun sungguh terasa menyenangkan.  Dan meskipun sama-sama terletak di Vietnam Tengah, tak seperti Da Nang, Hue tidak banyak tertimpa kerusakan akibat badai tropis, meskipun katanya kalau sedang banjir, orang pun tidak bisa keluar-keluar.

Incense stick di Hue

Warna-warni seperti ini menanti Anda di Hue!

Kami tiba di Hue tanpa terlebih dahulu memesan penginapan, alias memutuskan go show.  Banyak yang sering ragu melakukan hal ini karena takut tertipu supir taksi yang malah akan membawa kita ke tempat yang mahal sekali.  Nah, kami punya taktik sendiri.  Caranya, cari informasi di jalan mana banyak terdapat penginapan atau hotel.  Pilih saja salah satu penginapan, dan tunjukkan alamatnya kepada supir taksi.  Meskipun belum dapat, atau malah tidak dapat, kamar di situ, yang penting kita seolah-olah punya tujuan jelas.  Yang penting kan sampai di satu tempat yang aman, jadi menginap di situ atau tidak kan urusan lain.  Banyak sih hotel besar dan megah di Hue, namun kami memilih mencari yang sederhana saja.

Maka kepada supir taksi (dari perusahaan taksi Mailinh) kami meminta diantar ke sebuah hotel yang tertera dalam buku panduan yang kami bawa.  Jalan kecil tempat hotel itu terletak ternyata hanya beberapa menit jauhnya dari stasiun kereta api.  Yah, namanya juga bukan kota besar dan tidak ada kemacetan.  Kami hanya melintasi satu ruas jalan utama dari stasiun kereta sampai daerah hotel, yaitu Le Loi, yang memang panjang sekali.  Waktu sejenak di dalam taksi pun sudah menjadi tur yang cukup berharga untuk melihat-lihat Hue.

Di sebelah kiri kami, berjejer di tepian Perfume River, adalah sejumlah bangunan penting bergaya kolonial.  Ada museum, gedung kesenian, gedung panitia festival Hue, dan lain sebagainya.  Rumah sakit pusat Hue juga terletak di jalan tersebut.  Di sebelah kanan, supir taksi dengan bangga menunjukkan, “Sekolah saya dulu!”

Ada dua kompleks sekolah yang berdampingan, terpisahkan oleh jalan kecil.  Yang satu, Hai Ba Trung, untuk siswi, sementara yang satu lagi, Quoc Hoc untuk siswa.  Kedua kompleks yang cukup luas itu diteduhi pohon-pohon besar, dan terdiri atas sekumpulan bangunan gaya Eropa berwarna merah gelap.  Bedanya, di sekolah putri, bangunan-bangunan lebih besar dan mengelompok, sementara di sekolah putra, bangunan-bangunan berukuran lebih kecil dan lebih berjauh-jauhan, dihubungkan oleh jalan setapak.

Hue sebelah selatan dihubungkan dengan Hue sebelah utara di seberang Perfume River oleh sejumlah jembatan besar.  Bila malam, lampu-lampu bersinar lembut aneka warna menjadikan jembatan-jembatan itu pemandangan tersendiri yang menemani jalan-jalan kita di tepi sungai.

Jalan yang kami beri tahukan kepada pak supir ternyata sebuah jalan kecil yang diapit berbagai penginapan dan hotel di kanan-kiri.  Seorang pria menawarkan kamar di Hotel Phoenix (66/3 Le Loi)—saya ingat nama ini pernah saya temukan di salah satu situs web ketika saya mencari-cari informasi soal Hue.  Ada kamar dobel dan tripel, yang lumayan juga sewaktu kami tengok, meski jangan harapkan ada lift.

Setelah beristirahat sejenak, pukul 7, saat udara beranjak semakin dingin, kami keluar untuk mencari makan sekaligus memesan tempat di tur esok hari.  Banyak biro pariwisata yang terorganisasi rapi menawarkan paket-paket murah—hanya sekitar 60 sampai 100 ribu rupiah per orang—untuk menyambangi tempat-tempat tersebut, atau bahkan mencicipi hidup bersama penduduk asli Vietnam.  Kendaraan umum kecuali ojek dan siklo (sejenis becak) masih jarang di Hue, sehingga mengambil paket tur itu merupakan pilihan baik bagi turis.

Restoran di Hue

Restoran di Hue tempat kami menanti rombongan tur berangkat, dan juga nantinya makan siang.

Paket Thang Long City Tour (16 Pham Ngu Lao Street, telepon (84) 054.3838666), misalnya, dengan harga sedemikian murah menyediakan bis ber-AC dan pemandu berbahasa Inggris yang baik untuk mengunjungi 5 titik wisata dan melayari Perfume River dengan ‘perahu naga’, serta makan siang prasmanan dengan 50 menu.  Hanya saja, tiket masuk untuk beberapa tempat yang dikunjungi, sebesar 55 ribu Dong per orang, harus dibayar sendiri.  “Hari ini, angka keberuntungan kalian 55, ya,” demikian canda Mr Dang, yang keesokan harinya menjadi pemandu kami.  Paket inilah yang kami ambil dengan membayar 120.000 dong/orang di biro wisata dekat hotel.  Saya mengambil peta Hue keluaran Asiana Travel Mate, yang seharusnya gratis, namun diminta membayar 10.000 Dong oleh mbak-mbak penjaga biro tersebut.  Berhubung petanya bagus, saya menurut saja.

Hue, meski masih kalah pamor dari HCMC atau Ha Noi, sebetulnya amat menjanjikan sebagai surga belanja dan makanan bagi turis.  Restoran yang menjadi pilihan kami malam itu terhitung mewah untuk ukuran Hue, namun harga makanannya tetap saja murah dibandingkan harga di HCMC, apalagi kalau dirupiahkan.  Tapi memang pendapatan per kapita di Hue masih rendah.  Kaum mudanya berbondong-bondong meninggalkan kota yang damai itu, mencari penghidupan yang lebih baik terutama di HCMC di Selatan.

Di restoran Khai Hoan (90 Le Loi), Mel memesan menu yang paling menarik malam itu: queen’s royal tea dan kue khas Hue.  Yang disebut queen’s tea ternyata mirip jamu, campuran berbagai bagian tumbuhan yang lantas diseduh.  Rasanya?  Huek, pahit!  Mungkin berkhasiat, tapi kalau untuk teman makan, terima kasih, deh.  Untungnya, kue yang berisi kacang merah sangat nikmat dan legit.  Kalau ke Hue jangan lupa mencicipi kue ini, karena belakangan saat kami tanyakan kepada Mr Vu, kue tersebut susah ditemukan di HCMC.  Keragaman kuliner Vietnam Selatan dan Vietnam Tengah (juga Vietnam Utara) berbeda.  Di HCMC, mereka tidak terlalu suka memakan kacang-kacangan, sehingga kue kacang merah Hue bukan hal lazim di kota terbesar di selatan itu.

Usai makan, kami mendatangi beberapa toko yang masih buka.  Ada toko kain sutra yang juga menawarkan jahit cepat—4 jam jadi.  Suvenir tergolong murah, sehingga kami yang tadinya tidak betul-betul berniat membeli apa-apa akhirnya malah jadi memborong banyak.  Salah satu jenis barang yang kami beli adalah syal rajutan yang cukup tebal—popular untuk menghalau hawa dingin di Hue, namun tidak akan banyak gunanya di tempat panas seperti HCMC.  Kalau mau buat bergaya di mal-mal Jakarta yang AC-nya ganas sih, oke juga.

Suvenir di Hue

Sejumlah cenderamata hasil kerajinan tangan rakyat yang dijual di salah satu toko di daerah Hue.

Kelar berbelanja, kami duduk-duduk cukup lama di tembok batu dingin yang membatasi taman dengan dermaga dragon boat di tepi Perfume River.  Hanya ada beberapa penjaja kaki lima yang sedang berbenah-benah, namun suasana taman jauh dari menyeramkan.  Hawa dingin cukup menggigit, sementara suasana senyap—rasanya sungguh menyegarkan, jauh berbeda dari hiruk-pikuk HCMC.

Keesokan pagi, kami check out dari hotel, karena akan mengikuti tur sampai sore dan setelah itu langsung menuju stasun kereta untuk naik kereta malam ke Da Nang.  Eh, ternyata ibu-ibu di bagian penerimaan tamu mencoba mengerjai kami.  Atau, entah ya, mungkin sekadar ia salah ingat, karena mukanya kok polos sekali.  Dia bilang, kami kurang bayar untuk satu orang.  Mel bersikeras bahwa kemarin itu harga yang ia berikan kepada kami—dan sudah kami bayar—ia nyatakan sebagai harga kamar untuk 5 orang.  Untunglah akhirnya ia mengalah dan berhenti meminta uang lebih.  Hmmm… mungkin lain kali kalau ke Hue, coba cari hotel lain saja barangkali ya.

Terlebih dahulu kami pergi ke stasiun kereta untuk membeli tiket kereta malam.  Kali ini, kami memperoleh tiket kereta SE7 yang akan bertolak pukul 19.58 dari Hue dan tiba pukul 22.40 di Da Nang.  Penjual karcis sempat bertanya apakah tidak apa-apa kami duduk terpisah-pisah, karena ternyata sebagian besar tiket sudah habis terjual.  Hmm, ya, tidak apa-apalah, yang penting kami bisa berangkat dan tidak ketinggalan pesawat dari Da Nang esok hari!

Setelahnya, kami mendatangi cabang biro wisata tempat kami membeli paket wisata hari sebelumnya.  Petugas menjemput dan membawa kami berjalan kaki sedikit ke jalan Pham Ngu Lao, yang sepertinya merupakan urat nadi pariwisata backpacking di Hue.  Mirip Bui Vien di HCMC, hanya berkali-kali lipat lebih sepi.  Kami diminta menunggu di kantor pusat biro wisata sampai bis yang akan membawa kami datang.  Seperti juga bis kami di HCMC, bis di Hue nyaman dan bagus.  Hanya saja kami membuat bis itu jadi seperti bis antarkota, gara-gara kami berlima heboh membawa barang bawaan berlimpah, sementara tamu-tamu lain santai-santai saja dengan bawaan ringan.

Pemandu kami kali ini, Mr Dang, masih cukup muda dan tidak kalah humoris dengan Mr Hai.  Bahasa Inggrisnya juga bagus.  Dari dialah kami tahu banyak hal mengenai Hue dan sekitarnya.  Pertama-tama, ia membawa kami ke sebuah sentra kerajinan barang-barang khas Vietnam, dan kami pun bisa melihat cara pembuatan caping serta dupa.  Membeli juga boleh, atau sekadar memanfaatkan toilet yang bersih.  Sayang, sepertinya ada sejumlah turis asing yang tidak paham bahwa di beberapa negara seperti Vietnam dan Indonesia, toilet tidak bisa dipakai membuang tisu.  Akibatnya, di dalam toilet ada saja tisu yang menyangkut.

Setelah dari sentra tersebut, kami menuju tujuan utama kami di pagi itu.  Di sekeliling Hue, terdapat sejumlah kompleks makam para kaisar dinasti Nguyen.  Sebagian di antaranya masih direstorasi, sebagian di antaranya tidak terlalu popular di kalangan wisatawan.  Tiga kompleks makam yang paling kerap dikunjungi, dan juga yang paling memukau dari segi arsitektur, adalah makam Kaisar Tu Duc, makam kakeknya, Kaisar Minh Mang, dan makam kaisar boneka Prancis, Khai Dinh.  Sulit menghafal nama-nama kaisar ini?  Mr Dang punya julukan bagi masing-masing raja agar mudah diingat: Smallpox King (Tu Duc), Sexy King (Minh Mang), dan Homosexual King (Khai Dinh).  Alasannya?  Nanti kita tengok satu-satu.

Makam Tu Duc

Salah satu bagian kompleks makam Tu Duc di Hue. Terlihatkah oleh Anda anggota Tim Lompat-lompat?

Meskipun judulnya makam, kompleks-kompleks ini dihiasi bangunan-bangunan megah, pelataran luas, dan taman.  Begitu kami memasuki kompleks makam Tu Duc, misalnya, kami disambut rimbunan pepohonan dan danau, dan harus menyusuri jalan setapak yang cukup jauh sebelum mencapai kumpulan berbagai bangunan.  Kompleks makam ini sudah digunakan bahkan sebelum yang empunya wafat, yaitu sebagai tempat tinggal, meskipun sebetulnya istana kekaisaran Hue ada di benteng kota tua.  Tu Duc pun silih-berganti tinggal di kompleks makam dan benteng tua sesuai tanggal genap atau ganjil.  Wah, apa malah tidak merepotkan, ya, apalagi di zaman dahulu yang belum mengenal mobil?

Malang, meski selirnya banyak, Tu Duc tidak punya keturunan, akibat cacar api parah yang menyerangnya dan membuat tak hanya wajahnya rusak, melainkan juga kemampuannya menghasilkan anak jadi nol.  Tak heran ia selalu dirundung kesedihan, dan ia juga lemah sehingga selain bolak-balik ke makam dan benteng, biasanya ia tidak ke mana-mana lagi.  Makamnya pun dibangun dengan segala sumber kesenangan tersedia baginya.  Ia bisa memancing di danau, berburu di pulau kecil yang ada di tengah danau, menonton teater, dan lain sebagainya.  Bahkan di kompleks tersebut ada istana bagi keseratus selirnya, meski kini yang bisa kita lihat tinggal reruntuhan menyedihkan.  Sayang juga sedang tidak musim bunga teratai, padahal danau Tu Duc pasti indah sekali bila teratai sedang bermekaran.

Jumlah selir yang banyak memang tidak terhindarkan karena pernikahan-pernikahan itu juga bagian dari intrik politik istana.  Para mandarin (yang artinya hulubalang, bukan orang Cina) dan para pembesar lain berlomba-lomba menawarkan putri mereka untuk dinikahi sang kaisar demi mengamankan kedudukan sang ayah.  Kaisar menerima demi menjalin persatuan dan dukungan dari pejabat-pejabat tersebut.

“Zaman dahulu perempuan tidak bisa memilih,” kata Mr Dang, separuh curhat, “tapi sekarang berbeda.  Sekarang mereka yang berkuasa.  Dan saya beberapa bulan lalu memilih untuk mengikuti salah satu di antaranya…”  Ia pun memamerkan cincin pernikahan yang terselip di jari manisnya, memancing suara ‘oooh’ dari sebagian anggota kelompok kami.  “Kalau ditelepon dan disuruh pulang dalam 15 menit, saya harus pulang dalam 15 menit…”  Kami pun tertawa mendengar ceritanya itu.

Pojok lain makam Tu Duc

Pekarangan makam Tu Duc, lengkap dengan mandarin batu.

Berhubung tidak punya anak, Tu Duc menulis sendiri teks yang tertera di prasasti riwayat hidupnya.  Di setiap makam kaisar memang ditegakkan prasasti berukuran raksasa yang menuturkan riwayat sang kaisar, dan berdasarkan tradisi, teksnya seharusnya digubah oleh putra mahkota.  Prasasti-prasasti itu masih dituliskan dalam aksara Cina, yang lantas tak lagi digunakan oleh bangsa Vietnam.  Di pelataran di depan prasasti, terdapat patung batu sejumlah mandarin, kuda, dan gajah.  Ada mandarin militer dan mandarin urusan sosial, seperti bisa terlihat dari jenis pakaian yang mereka kenakan.

Kita juga bisa melihat berbagai hiasan naga—simbol kekuasaan—yang terpasang di atap istana.  Naga adalah motif favorit yang banyak menghiasi bangunan pemerintahan zaman kekaisaran.  Ada pula patung binatang mitos yang disebut ‘unicorn’ oleh Mr Dang, meski bentuknya lebih mirip singa.  Unicorn ini yang lazim dikenal dengan nama qilin di Cina.

Hal lain yang unik dari makam para kaisar adalah posisi tepat tempat peti mati mereka dikuburkan ternyata dirahasiakan.  Jadi, meskipun di dalam kompleks ada berbagai macam bangunan mewah, tak ada satu pun tanda yang dengan jelas menunjukkan makam sesungguhnya sang kaisar.  Ini untuk mencegah orang-orang yang berniat jahat terhadap jenazah almarhum.  Posisi peti mati kaisar yang diketahui dengan pasti adalah peti Khai Dinh, yang makamnya kami kunjungi berikutnya.

Makam Khai Dinh

Undak-undakan berjumlah cukup banyak di bagian depan kompleks pemakaman Khai Dinh.

Makam Khai Dinh, yang disebut Mr Dang ‘Raja Homoseksual’ berbeda dalam hal struktur dari makam-makam lain.  Apabila yang lain sangat dipengaruhi gaya Cina, bahkan meniru Kota Terlarang di Beijing, makam Khai Dinh merupakan campuran berbagai gaya, termasuk Eropa.  Dan alih-alih melebar, makamnya bertingkat-tingkat ke atas, dan dari puncak, digali lubang dalam tempat petinya lantas diturunkan.  Meskipun demikian, di makam ini juga terdapat prasasti riwayat hidup sang kaisar (yang digubah oleh salah seorang mandarin-nya) dan jejeran patung mandarin.

Lumayan juga energi yang harus dihabiskan untuk menapaki semua undak-undakan sampai ke atas.  Tapi kita akan memperoleh imbalan setimpal: dari tingkat-tingkat sebelah atas, kita bisa menyaksikan pemandangan alam yang menakjubkan, dan juga melihat ruang-ruang tempat berbagai foto dan benda lain milik sang kaisar dipamerkan.  Kita juga bisa melihat tahta emas dengan hiasan matahari terbenam—melambangkan kaisar yang wafat—yang tersimpan di makam ini.

Lucunya, saya melihat sebuah patung putih menjulang di kejauhan, di antara pepohonan yang lebat.  Awalnya saya kira itu patung raksasa Yesus atau Bunda Maria yang kerap kita jumpai di wilayah-wilayah mayoritas Katolik.  Eh, ternyata menurut Mr Dang, itu patung Buddha berwujud perempuan (ataukah maksudnya Kwan Im?), yang harus dicapai dengan mendaki tangga yang cukup tinggi.

Oh ya, mengapa Khai Dinh disebut ‘Raja Homoseksual’?  Rupa-rupanya, meskipun punya 4 istri, sang raja lebih senang bersenang-senang bersama para pelayan prianya.  Ia juga senang berdandan, dan di foto-foto hitam putihnya yang masih ada, bisa terlihat ia mengenakan lipstik dan komestik lain.  “Lihat saja, susah kan membedakan yang mana raja, yang mana ratu, dan yang mana ibu suri?”  Mr Dang bertanya seolah menantang kami membuktikan.

Mandarin makam Khai Dinh

Jejeran mandarin batu di makam Khai Dinh.

Mr Dang juga menjelaskan bahwa sebetulnya rakyat Vietnam tidak menyenangi Khai Dinh.  Ia adalah kaisar lemah yang diangkat oleh Prancis justru karena Prancis tahu ia bakal manut saja kepada para penjajah dan tidak menghasilkan keturunan.  Khai Dinh juga amat menggemari hal-hal berbau Eropa.  Dalam salah satu kunjungannya ke Prancis, ia memesan patung dirinya seukuran asli yang kini lantas dipajang di makamnya.  Namun Khai Dinh tetap menginginkan kekuasaan: di makamnya, di mana-mana dipajang naga, seolah ia berharap bahwa dengan semakin banyak hiasan naga yang ada, kelemahannya bisa tertutupi.  Sang kaisar memang tidak popular di kalangan rakyat, namun kini kompleks makamnya menjadi salah satu tujuan pariwisata terkemuka di Hue.  (Kekurangan yang kami dapati di sini: mbak-mbak penjaga kios makanan sungguh jutek, dan harga barang yang dijual juga jadi mahal sekali!)

Kami kemudian menuju kompleks makam Minh Mang yang berusia paling tua di antara ketiga kompleks yang kami singgahi hari itu.  Ia dijuluki Sexy King karena selirnya luar biasa banyak.  “Makanya hidupnya tidak panjang,” Mr Dang berkomentar.  “Satu istri saja, masalah banyak.  Apalagi banyak!”

Bayangkan, pemilihan putra mahkota saja bisa ruwetnya minta ampun.  Pertama-tama, raja akan memilih istri favorit untuk dijadikan ratu.  Kalau sang ratu melahirkan anak laki-laki, beres urusan, itulah putra mahkota.  Kalau tidak?  Ya, raja harus mencari lagi di antara istri-istri favorit tingkat kedua, siapa yang punya anak laki-laki duluan.  Kalau ternyata ada yang melahirkan bersamaan?  Nantinya akan diuji, siapa yang lebih cerdas dan pantas sebagai pemimpin di antara anak-anak itu.  Yang gawat kalau ketika besar, mereka tidak menerima keputusan itu dan bertarung memperebutkan tahta.  Alamak!

Untuk mencapai gerbang masuk kompleks Minh Mang, kami harus berjalan memutari tembok luar yang melingkar.  Beberapa anak dan wanita dengan memelas menawarkan pisang dan buah-buahan lain dengan bahasa Inggris terpatah-patah.  Agak tidak tega melihatnya, tapi saya tidak membeli apa-apa—entah apakah mereka punya izin berjualan di situ atau tidak.

Makam Minh Mang

Jembatan yang melintasi salah satu danau di pemakaman Minh Mang. Pria bertopi adalah pemandu wisata kami.

Makam Minh Mang juga tidak kalah luas, lengkap dengan danau dan taman yang memukau, meskipun dari segi kelengkapan bangunan, makam Tu Duc yang juga merangkap tempat tinggal masih tak terkalahkan.  Di makam Minh Mang, bila kita terus menelusuri jalan sampai ke sebelah belakang, maka kita akan mentok di sederet anak tangga yang berujung di depan sebuah gerbang bergembok di sebelah atas.  Di balik gerbang, terdapat bukit kecil yang rupanya menjadi tempat peti mati si Raja Seksi dikuburkan—meski posisi pastinya juga tak jelas di mana.  Gerbang hanya dibuka setahun sekali, ketika para keturunan raja-raja dinasti Nguyen datang untuk bebersih-bersih.

Ngomong-ngomong, kalau istri dan selir kaisar banyak, tentunya keturunan mereka juga banyak dong ya?  Oh, ternyata menurut Mr Dang, saat ini ada sekitar satu juta orang yang bernama keluarga Nguyen di dunia ini.  (Dua tentara yang dulu menabrakkan tank ke Reunification Palace, HCMC, ngomong-ngomong, bernama Nguyen Van Tap dan Nguyen Van Ky.  Anda juga mungkin ingat bintang film dan komikus Amerika Dustin Nguyen?)

“Nama saya juga Nguyen,” Mr Dang menunjukkan kartu pengenalnya sebagai pemandu wisata, “tapi saya bukan keturunan kaisar.  Mungkin dahulu kakek saya mengganti namanya, supaya bisa dekat dengan kaisar atau dapat keistimewaan karena dikira keluarga raja.”  Ah!  Jadi mungkinkah di antara satu juta manusia yang menyandang nama Nguyen itu juga banyak keturunan orang-orang yang sekadar latah memakai nama keluarga Nguyen?

Dalam sunyi, kompleks-kompleks makam para kaisar menguarkan nuansa kemegahan Vietnam di masa lalu, zaman kekaisaran yang berakhir ketika kaisar Bao Dai mengundurkan diri tahun 1945.  Sang kaisar terakhir terkenal karena kata-katanya “Lebih baik saya menjadi warga sebuah negara yang merdeka daripada menjadi kaisar bangsa yang terjajah”.  Ia beserta keluarganya mengungsi ke Paris, dan akhirnya wafat serta dimakamkan di sana.  Bahkan hingga sekarang, sepertinya tak ada usaha mengembalikan jenazah Bao Dai ke Vietnam, dan keluarganya juga belum pulang ke tanah air.

“Saya tidak mengerti apakah mereka yang tidak menginginkan Vietnam, atau Vietnam yang tidak menginginkan mereka,” sesal Mr Dang, “Padahal bagi saya, mereka silakan datang kapan saja.  Mereka juga orang Vietnam.”  Ah, rupanya itu juga salah satu luka Vietnam yang belum sembuh.

Saat makan siang, kami kembali ke kantor pusat biro wisata yang juga mencakup sebuah restoran.  Kami dijamu dengan 50 macam makanan secara prasmanan, termasuk santapan asli Hue, meskipun air minum harus beli sendiri.  Kesempatan ini kami manfaatkan mengisi perut yang ternyata lapar sekali setelah terakhir diisi pagi tadi, meski kami harus berhati-hati karena sebagian makanan yang terhidang mengandung daging babi. Tapi kalau Anda tidak berpantang sih, sikat saja!

Usai bersantap, biro pariwisata mengajukan dua pilihan.  Pertama, yang sudah mengunjungi benteng Hue, boleh langsung naik dragon boat menyusuri Perfume River.  Kedua, untuk yang belum, akan kembali ikut bis ke benteng Hue, baru nanti berkumpul kembali dengan rombongan pertama di Pagoda Thien Mu dan pulang dengan dragon boat.  Kami ikut rombongan kedua dan kembali naik ke atas bis.

Citadel Hue 5 Phoenix

Bagian dalam Citadel Hue, terlihat dari Paviliun Lima Phoenix.

Kota kekaisaran lama—termasuk benteng (citadel) Hue—adalah tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Hue.  Kompleks kekaisaran dikelilingi oleh parit besar dan tembok pertahanan tinggi yang masih terlihat kokoh.  Saat ini, kompleks kekaisaran masih menjalani proses restorasi besar-besaran, karena sebagian bangunan dalam kompleks tersebut hancur saat perang dalam peristiwa yang disebut Serangan Tet.  Akan tetapi, saat ini pun sudah cukup banyak yang bisa kita lihat di situ, mulai dari tiruan Kota Terlarang di Cina, Menara Bendera, Paviliun Hien Lam dengan sembilan tempayan raksasa, Paviliun Ngu Phun, dan banyak lagi.  Kompleks ini sangat luas, dan barangkali perlu waktu berjam-jam untuk meneliti setiap sudutnya dengan berjalan kaki menapaki jalan berbatu apik yang dinaungi rimbunan pohon.

Bis tidak bisa masuk melalui gerbang kota lama, sehingga diparkir di tempat parkir merangkap pasar kecil yang jaraknya lumayan jauh juga dari benteng.  Belum-belum keringat sudah kembali bercucuran!  Kami disambut oleh empat dari sembilan meriam suci yang melambangkan ruh dinasti Nguyen penjaga kota.  (Lima meriam lagi ada di sisi barat kota lama.)  Kemudian dari kejauhan, bisa terlihat Menara Bendera (Ky Dai) bersusun tiga.  Di puncaknya, berkibar bendera Vietnam raksasa, sementara di tingkat-tingkat sebelah bawah terpasang foto Paman Ho dan sejumlah spanduk.  Rupa-rupanya Hue sedang bersiap-siap menyambut peringatan ke-35 penyatuan kembali Vietnam, dan akan ada acara besar yang digelar di kota tua minggu depan.

Parit sekitar Citadel Hue

Parit pertahanan yang mengelilingi Citadel Hue.

Rombongan kami masuk melalui Gerbang Selatan—pintu utama bagi turis untuk keluar-masuk—dan lantas terpencar-pencar.  Aneh juga rasanya, meski berpuluh-puluh menit waktu yang kami habiskan di benteng, tak sekali pun kami berpapasan dengan anggota rombongan kami yang lain!  Barangkali inilah bukti betapa luas bagian dalam benteng—keliling luarnya adalah 2 km x 2 km—dan betapa banyak yang bisa dilihat serta dilakukan.  Kita bisa berfoto ala raja dan ratu Vietnam zaman dahulu dengan pakaian sewaan, mengendarai atau sekadar berfoto bersama gajah, sampai memberi makan ratusan ekor ikan koi di danau di depan tiruan Istana Terlarang.

Ukiran naga timbul Citadel Hue

Ukiran naga timbul yang amat indah di salah satu sudut Citadel Hue.

Saya dan Mel juga sangat antusias melihat kesembilan tempayan raksasa yang lagi-lagi melambangkan kesembilan pelindung kota dari dinasti Nguyen.  Kami juga menyempatkan naik ke Paviliun Ngu Phun (Lima Phoenix) yang mengungkungi Gerbang Selatan.  Dari paviliun tempat genderang raksasa terpasang itu, kita juga bisa memperoleh pemandangan luas dan indah ke arah dalam benteng sekaligus ke arah Menara Bendera dan parit keamanan di sekeliling benteng.

Oleh karena lelah, kami memutuskan kembali ke bis untuk mencuri-curi sholat di bis mumpung turis-turis lain belum kembali untuk kembali melanjutkan perjalanan.  Sejumlah pengemudi siklo dengan bersemangat menawarkan mengantar kami berkeliling kota kekaisaran tua.  Sayang sekali, kami tidak punya waktu, meskipun tawaran mereka itu sangat menarik.

Sambil berjalan kaki menuju bis, saya dan Mel membeli kaus Hue yang dijajakan di pinggir jalan.  Harganya membuat kami melotot saking murahnya, yaitu 20.000 Dong.  Nah, ini juga bisa jadi oleh-oleh yang lumayan ekonomis dari Hue.

Yang juga tak boleh luput didatangi adalah Pagoda Thien Mu (Heavenly Lady), yang terletak di tepi Perfume River.  Kapal rombongan kami sudah tiba sewaktu bis kami sampai di sana, dan karena kami tidak akan menggunakan bis lagi, saya dan teman-teman menurunkan tas-tas kami yang berat dan meletakkannya di atas kapal.  Baru kemudian kami mendaki undak-undakan di sebelah depan kompleks pagoda yang dibangun oleh tuan tanah Nguyen pertama yang menguasai wilayah tersebut setelah memperoleh ramalan dari seorang wanita tua misterius.

Thien Mu istimewa bukan hanya karena bangunan-bangunannya yang menarik, melainkan juga karena merupakan tempat asal biarawan Thich Quang Duc yang membakar diri di Sai Gon tahun 1963 sebagai protes terhadap penindasan agama Buddha oleh pemerintahan Katolik Vietnam Selatan.  Foto peristiwa menggemparkan itu mungkin masih terekam di benak Anda saat ini.  Konon saat membakar diri, tak sepatah pun keluhan atau erang kesakitan yang keluar dari mulut sang biarawan.  Jantungnya pun ternyata utuh, tidak terbakar.  Aksi Thich Quang Duc yang menggetarkan ini bahkan ditiru sejumlah pemrotes anti-perang Vietnam.

Kompleks biara Hue

Salah satu bangunan di kompleks Biara Thien Mu.

Di kompleks biara itu masih tersimpan mobil yang membawa sang biarawan ke Sai Gon, simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pihak yang berkuasa.  Repro foto pembakaran diri Thich Quang Duc juga dipajang.  Kebetulan saat peristiwa itu, hanya satu jurnalis dan pewarta foto asing yang hadir.  Sebetulnya maksud beserta lokasi yang direncanakan Thich Quang Duc sudah diumumkan sebelumnya, namun pada saat itu, sudah terlalu banyak berita mengenai perang yang berseliweran sehingga pengumuman itu tak terlalu dipedulikan kecuali oleh kedua wartawan itu.  Merekalah yang lantas menjadi corong yang menyuarakan kesaksian keteguhan sang biarawan renta.

Hal lain yang menarik untuk dilakukan di Thien Mu adalah berfoto bersama patung-patung kura-kura raksasa.  Kura-kura adalah salah satu hewan mitos paling penting di Vietnam, yang berkaitan dengan asal-muasal negeri tersebut, seperti yang bisa kita tonton sebagai salah satu kisah yang dipentaskan sebagai wayang air.  Konon, kalau ingin kembali ke Vietnam lagi, jangan lupa menyempatkan diri berfoto bersama salah satu patung kura-kura itu.

Mobil di Thien Mu

Mobil yang membawa Thich Quang Duc ke Saigon untuk membakar diri, dipamerkan di Thien Mu.

Kini, Thien Mu terasa teduh dan damai, tempat para biksu muda menuntut ilmu dan melatih diri.  Air kolam yang disemarakkan teratai nyaris tak beriak.  Thich Quang Duc barangkali akan bahagia bila bisa melihat bahwa protesnya tidak sia-sia: kehidupan beragama yang damai telah kembali ke negeri yang ia cintai.

Kami kembali ke Hue menggunakan dragon boat yang menyusuri Perfume River yang, duhai, alangkah bersihnya, sampai membuat kami iseng menghitung jumlah sampah buatan manusia yang terlihat (jawab: tiga).  Nahkoda kapal santai sekali, hampir sepanjang waktu mengendalikan kemudi dengan kakinya saja.  Perfume River lebar, tenang, dan bersih, sehingga tidak banyak gangguan yang memaksa ia bersusah-payah.  Tepiannya tampak landai, dan di banyak bagian dilapisi rumput yang terlihat lembut dan nyaman untuk diduduki.  Sungguh beruntung para penduduk Hue, memiliki kota yang demikian indah!

Perjalanan berakhir di dermaga tempat semalam kami duduk-duduk.  Mr Dang betul-betul pemandu wisata yang mengurusi tamu-tamunya sampai akhir: ia menunjukkan jalan kembali ke hotel masing-masing bagi yang belum kenal jalan.  Oleh karena jadwal keberangkatan kereta masih lama, dan tubuh sudah lengket akibat cucuran keringat seharian, kami menanyakan kepada Mr Dang apakah ia tahu di mana kami bisa menyewa kamar untuk beberapa jam saja agar kami bisa mandi dan beristirahat.  Ia tampak berpikir keras, lantas meminta maaf karena tidak tahu.  Akhirnya kami mengucapkan terima kasih dan berpisah darinya.

Kami menyusuri trotoar, mencari-cari restoran atau penginapan untuk rehat sejenak.  Baru hendak duduk di sebuah restoran di depan Century Riverside Hotel, tiba-tiba Mr Dang muncul lagi, mendatangi kami dengan terburu-buru.  “Teman-teman, saya temukan tempat di mana kalian bisa mandi!  Ayo, ikuti saya!”

Astaga!  Kami tercengang.  Saking bertanggung-jawabnya ia, Mr Dang menanyai sejumlah penginapan, dan bergegas menyusul kami untuk memberitahukan tempat sesuai keinginan kami yang ia temukan.  Betul-betul pemandu wisata jempolan!  Kami pun segera mengikuti ia.

“Di sana tidak bisa menginap jam-jaman, sih, tapi bisa menumpang mandi,” Mr Dang menjelaskan sambil berjalan.  “Kalian juga bisa makan dan minum.”  Sungguh tak terkira rasa terima kasih kami bagi Mr Dang!

Dragon boat di Perfume River.

Perjalanan menyusuri Perfume River yang damai di atas dragon boat.

Tempat yang dimaksud Mr Dang adalah Backpacker’s Hostel (10 Pham Ngu Lao street) Lantai bawah bangunan itu adalah restoran, sementara bagian atas adalah kamar-kamar yang disewakan untuk backpacker.  Hanya dengan membayar 10.000 dong untuk handuk bersih (meski agak belel), kami bebas menggunakan kamar mandi bersih berpancuran di lantai bawah untuk membersihkan diri.  Sambil bergantian mandi, kami juga makan dan minum sekadarnya di restoran hostel.

Eh, waktu saya mandi, teman-teman saya dihampiri bule-bule ganteng yang rupanya penasaran melihat tampang-tampang dan juga mungkin bahasa kami.  Rupa-rupanya mereka pernah menghabiskan sebulan di Indonesia, dan mereka pun memuji-muji negeri kita.  Bangga sih mendengarnya, tapi mbok ya ngobrolnya bukan pas saya mandi!

Puas mandi, kami kembali ke restoran yang tadinya hendak kami singgahi sewaktu Mr Dang memanggil kami.  Soalnya, makanan di situ relatif lebih murah.  Setelah mengisi perut, kami menghentikan sebuah taksi untuk mengantar kami ke stasiun kereta.  Supir kami kali ini juga baik sekali.  Dengan bahasa Inggris yang lancar, ia bertanya kami berasal dari mana.  Ia bahkan meminta kami menyanyikan lagu Indonesia!  Akhirnya taksinya pun ramai oleh dendangan.  Keramahan orang-orang seperti Mr Dang dan supir taksi inilah yang membuat pengalaman di Hue sungguh berkesan.  Terlupa deh perlakuan agak tidak mengenakkan sewaktu check-out dari hotel.  Eh, barusan saya mengingatnya lagi!

Alam Vietnam dari makam Khai Dinh

Pemandangan permai alam Vietnam Tengah yang terlihat dari kompleks pemakaman Khai Dinh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: