Buddha Raksasa dan Rusa di Nara

This post is about Japan

Ketika kita membayangkan segenap Jepang tak ubahnya bagai megapolitan Tokyo, di mana teknologi tinggi bertubrukan ramai dengan unsur-unsur tradisional yang tampak mewah seperti Asakusa yang ramai pengunjung, terlupa oleh kita bahwa masih banyak daerah di Jepang yang berupa hutan, pedesaan, dan persawahan.  Itulah yang tampak oleh kami dalam perjalanan kereta dari Kyoto ke Nara yang tidak memakan waktu begitu lama (menurut ukuran orang Jakarta, tentu saja).  Rumah-rumah yang tampak sederhana terkadang diselingi oleh bangunan yang hanya bisa disebut gubuk.  Orang-orang berjalan kaki atau bersepeda melintasi pematang sawah.  Ini sisi Jepang yang bagi saya juga menarik.  Di luar segala hiruk-pikuk kota-kota besarnya, Jepang yang permai masih luas terhampar.  Ah, ya, meskipun satu kali terlihat oleh kami pengguna sepeda yang dengan andalnya memainkan telepon genggam dengan sebelah tangan seraya terus menggenjot sepedanya…

Kami turun dari kereta di stasiun Kintetsu Nara, bukan di stasiun Nara.  Kintetsu Nara lebih dekat dengan objek utama yang hendak kami tengok hari itu: Todai-ji, di mana terdapat salah satu daibutsu (patung Buddha raksasa) kenamaan di Jepang.  Ceritanya, mau membalaskan ‘penasaran’ karena gagal melihat daibutsu di Nara.  Todai-ji tercapai dengan berjalan kaki dari Kintetsu Nara, meski bila Anda ingin menghamburkan uang sedikit, bisa saja naik bis sebentar menempuh perjalanan singkat itu.  Bukan masalah perjalanannya yang singkat, tapi apa yang akan Anda lewatkan bila hanya melihat-lihat dari balik kaca jendela bis: rusa.

Ya, rusa.  Kota kecil ini kesohor ke seantero Jepang antara lain karena rusa-rusanya yang bebas berseliweran di mana-mana.  Bahkan para pengemudi mobil yang tadinya melaju kencang karena jalanan yang tidak terlalu ramai, selalu siap sedia melambatkan atau bahkan menghentikan sebentar kendaraannya agar rusa bisa menyeberang jalan dengan aman dan damai.  Rusa dianggap hewan suci yang melindungi kota Nara, sehingga tak ada yang berani mengusik mereka.   Maskot kota Nara saat ini – Sento-kun – juga menyandang rangga rusa di kepalanya.  Jangan heran pula, ada penganan oleh-oleh dari Nara yang berbentuk… kotoran rusa.  Jijik-jijik lucu.

Inilah Sento-kun.

Rusa, rusa di mana-mana…

Yang ini tampangnya lumayan ramah nih. Makanya bisa didekati dari depan sampai jarak segini.

Bekas ibukota Jepang di abad ke-8 Masehi ini – pada periode yang karenanya dikenal sebagai ‘periode Nara’ – juga bertaburkan kuil Buddha di berbagai sudutnya.  Beberapa orang biksu terlihat berdiri di beberapa tempat, membacakan doa-doa sambil memegang wadah tempat menampung sedekah.  Salah satunya kami lihat di tepi air mancur yang terlihat oleh kami sewaktu baru keluar dari Kintetsu Nara.  Beberapa menit saya perhatikan, tak ada yang memberinya barang sekeping dua keping sekalipun.  Entah mengapa.  Di Tokyo juga saya pernah melihat dua peminta sumbangan sampai membungkuk-bungkuk memohon kesediaan orang-orang yang berlalu-lalang untuk beramal.  Apakah orang-orang lain khawatir mereka penipu?  Entahlah.

Air mancur di dekat Kintetsu Nara, dan sang biksu yang tidak dipedulikan orang.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami masuk ke salah sebuah rumah makan bergaya tradisional di lorong perbelanjaan di samping Kintetsu Nara.  Yang melayani sudah agak berumur.  Dua tamu lain selain kami di ruang depan pun juga tidak lagi muda.  Namun deretan manga shounen yang dipajang berjejer di lemari dinding menunjukkan tanda napas muda di kedai itu.  Lagipula, sepertinya ada lagi ruang makan di sebelah belakang, yang tidak kami tengok sedikit pun.  Sudah cukup langsung mengisi perut yang kelaparan dengan sajian soba dan yakitori yang luar biasa enaknya.

Lorong pertokoan dekat Kintetsu Nara.

Soba dingin, memang paling nikmat disantap di hari panas!

Keluar dari rumah makan, kami kembali ke rute semula: menuju ke timur, menyusuri jalan yang agak menanjak, sambil agak main halang-rintang dengan rusa-rusa yang di Nara tidak bisa kita katai ‘Emangnya jalannya engkong lo’ – karena di kota ini memang mereka ‘pemilik’ jalanan.  Hati-hati.  Tidak semua rusa ramah dan mau dielus.  Lihat-lihat juga tampang dan gelagatnya sebelum Anda mencoba beramah-tamah dengan anggota keluarga rusa.  Yah, ada juga sih rusa-rusa yang justru sok akrab, menarik-narik pakaian atau tas ataupun menggesek-gesekkan moncong ke orang yang lewat.   Tapi ya, paling mungkin akan lebih aman beramah-tamah dengan penarik jinrikisha yang siap mengantar Anda melihat-lihat Nara.

Saat berjalan ke arah Todai-ji, sejumlah museum di sebelah kanan kami terpaksa dilewatkan, meskipun tampak mengundang: Museum Harta Nasional dan Museum Nasional Nara.  Apa daya, kunjungan ke Nara ini memang hanya day-trip yang baru kami putuskan malam sebelumnya, ketika bingung keesokan harinya hendak berkunjung ke mana lagi, saking banyaknya pilihan tersedia di tangan.

Tiba di kompleks Todai-ji, kami tidak langsung berhadapan wajah dengan sang Buddha raksasa.  Terlebih dahulu kami menyusuri jalan yang di satu sisinya berjejer kedai dan kios penjual cenderamata.  Rusa?  Oh ya, tentunya, tidak usah ditanya.  Dan anak sekolah.  Banyak sekali anak sekolah.  Ternyata kedatangan kami berbarengan dengan rombongan demi rombongan anak sekolah yang tidak terkira banyaknya.

Boleh dicoba: wasabibashi. Seperti sushi tapi tidak dibungkus dengan nori (rumput laut), dijual oleh Umemori.

Pengunjung masuk melewati Nandaimon (Gerbang Selatan), struktur yang berukuran besar sekali (bahkan merupakan gerbang terbesar di Jepang) dan terbuat dari kayu.  Usianya sudah 7 abad.  Tak heran, gerbang ini ditetapkan sebagai salah satu Harta Nasional Jepang.  Di Nandaimon ini, terdapat 2 patung penjaga yang disebut Nio.  Yang mulutnya terkatup dikenal sebagai Ungyo, sementara yang mulutnya terbuka dikenal sebagai Agyo.

Nandaimon. Perhatikan manusia-manusia yang jadi terlihat seperti kurcaci ketika berdiri di bawah gerbang raksasa ini.

Nah, sudah tahu dong yang mana ‘Ungyo’ yang mana ‘Agyo’?

Dari Nandaimon, kami terus melangkah sampai ke Chumon, dan baru kemudian ke Daibutsuden, aula tempat patung Buddha raksasa bersemayam.  Patungnya saja raksasa, tentunya aulanya juga.  Betul-betul diri terasa kecil ketika telah berada di dekat bangunan itu.

Daibutsu-den dari kejauhan.

Daibutsu Nara dengan tingginya yang mencapai 16 meter sungguh mengagumkan.  Kepalanya menjulang jauh di atas kami, mengharuskan kami mendongak senantiasa untuk melihat wujudnya.  Patung perunggu ini – dan juga struktur-struktur lain di kompleks Todai-ji – telah mengalami kerusakan beberapa kali akibat gempa, dan diperbaiki.  Hati jadi bergetar mengingat bahwa kompleks ini telah berdiri sejak abad ke-8 Masehi!

Bila mengitari Daibutsu, kita juga bisa melihat patung Bishamonten dan Komukuten serta maket lengkap wujud asli kompleks kuil, yang menampilkan juga model sejumlah bangunan yang sudah tidak ada.  Untuk yang ingin mencoba peruntungan, ada sebuah lubang di salah satu tiang penyangga Daibutsuden.  Konon yang bisa melewatinya, akan beroleh berkah di kehidupan nanti.  Sayang saya tidak sempat mencobanya, meski hanya untuk menunjukkan bahwa saya masih cukup langsing untuk melewati sebuah lubang berukuran kecil…

Sang Daibutsu.

Patung Komukuten.

Sementara di teras kanan depan, terdapat sebuah patung kayu yang tampak agak menyeramkan karena bagian wajahnya mulai rusak digerus waktu.  Namun patung yang diberi pakaian berwarna merah ini pun banyak disembahyangi dan disentuh orang.  Ternyata ini adalah perwujudan Bizuru (Pindola Bharadvaja), salah seorang dari enam belas arahat atau murid Sang Buddha.  Orang Jepang percaya, bila kita mengelus bagian patung Pindola yang berkesesuaian dengan bagian tubuh kita yang sakit, maka penyakit itu akan hilang.

Patung Pindola yang bertuah.

Pekarangan Todai-ji, dilihat dari teras luar Daibutsu-den.

Di antara asap hio yang menyesakkan hidung dan memedihkan mata, serta para peziarah yang khusyuk bersembahyang, murid-murid sekolah asyik berfoto dengan gaya ‘unyu’, termasuk sambil membelakangi Daibutsu.  Ini bukan masalah rupanya di Jepang.  Di beberapa negara lain, misalnya Thailand, Anda tidak boleh menunjukkan punggung kepada Buddha.  Pun di dalam Daibutsu-en, terdapat kios-kios yang menjual cenderamata khusus Todai-ji.  Urusan komersial bukan hal tabu dilakukan di dalam bangunan yang semestinya untuk beribadah.  Untuk yang hendak beramal, bisa juga, dengan cara menyumbangkan uang untuk membeli sebilah genting yang akan ditulisi nama kita dan digunakan mengganti atap bangunan-bangunan Todai-ji yang telah rusak.

Yang modern dan yang tradisional.  Yang fana dan yang baka.  Pada akhirnya, seperti juga banyak orang asing lain, saya tak habis pikir bagaimana bangsa Jepang dengan mulusnya bisa menyelaraskan hal-hal yang tampak bertentangan itu.  Termasuk di sini, di Todai-ji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: