Jogasaki Kaigan di Ambang Taifun, Mei 2015

This post is about Japan

Saya mendadak sangat ingin menulis tentang Jogasaki Kaigan gara-gara komik Narita Minako, Hana yori mo hana no gotoku (di Indonesia diterbitkan sebagai More flower than a flower—meski judul yang  lebih enak sepertinya adalah Beauty beyond flower).  Saya baru membaca beberapa volume terbaru karena ketinggalan penerbitannya di Indonesia selama berada di Jepang. Dalam volume 11, karakter utamanya, Kento, berkunjung ke Gunung Takao (sudah pernah saya bahas sebelumnya di sini) . Ini sudah membuat saya senyum-senyum sendiri, ditambah lagi ketika di volume 12 Kento ternyata mendatangi sebuah tempat lain yang masih segar sekali dalam ingatan saya karena baru saya sambangi bulan Mei lalu: Jogasaki Kaigan di Izu.

jogasaki-23

Izu adalah semenanjung yang terletak di sebelah barat Tokyo, dan sekarang merupakan bagian dari prefektur Shizuoka. Saya pernah ke Shizuoka sebelumnya, tepatnya ke Hamamatsu, namun tidak sampai masuk ke arah semenanjung Izu. Tokaido Shinkansen tidak melewati sebelah dalam semenanjung (tentunya demi alasan waktu tempuh), namun singgah di dua kota yang terletak di mulut semenanjung, yaitu Mishima dan Atami. Dari kedua kota itu, kita bisa naik kereta-kereta lokal untuk menjelajah Semenanjung Izu.

jogasaki-01

Saya sendiri bulan Mei lalu pergi bersama teman, Riris, ke Izu. Riris hanya akan daytrip, berjalan-jalan seharian lantas kembali ke Tokyo hari itu juga, sedangkan saya akan menginap di Ito. Kami menumpangi kereta lokal dari Tokyo, terus melewati Atami, lantas berganti kereta di Ito, ujung Jalur Ito milik JR. Di Stasiun Ito, di peron yang sama dengan tempat kami turun dari kereta JR, kami pun menanti kereta Jalur Izu Kyuko, milik perusahaan swasta, yang menghubungkan Ito dengan Shimoda. Oleh karena menurut jadwal yang terpampang di layar masih ada waktu sebelum kereta lokal yang dimaksud tiba, kami duduk-duduk dulu sambil minum di peron.

jogasaki-03

Ketika kereta yang kami tunggu-tunggu tiba, kami terperanjat karena yang datang adalah sebuah kereta mewah, berwarna hitam gagah dengan tulisan Black Ship Train tertera di dindingnya. Jendelanya besar-besar, sementara kepala lokomotifnya sekilas menyerupai lokomotif kereta peluru. Bedanya, bagian depan lokomotif ini terdiri atas jendela-jendela besar yang menampakkan tempat duduk yang berundak-undak seperti di teater! Kami takut ini bukan kereta lokal, melainkan kereta ekspres atau kereta wisata yang membutuhkan tiket khusus yang lebih mahal. Saya buru-buru menghampiri salah seorang petugas stasiun dan dengan kurang sopan bertanya,  “Futsuu janai?” (“Kereta lokal bukan, ya?”) Sambil tersenyum ia menjawab, “Futsuu desu!” Ah! Rupanya betul kereta lokal! Setelah mengucapkan terima kasih, kami bergegas melompat naik ke kereta yang nyaris berangkat.

jogasaki-02

Kejutan lain menanti kami di dalam, karena kereta tersebut bukan hanya mewah di sebelah luar. Black Ship Train—namanya berasal dari ‘kapal hitam’ milik Laksamana Perry yang pertama kali buang sauh di Semenanjung Izu—adalah kereta yang didesain agar penumpangnya bisa menikmati pemandangan semenanjung Izu di sebelah luar. Di sisi kereta yang menghadap ke pesisir, terpasang bangku-bangku nyaman yang menghadap ke bagian samping. Pemandangan luar—mulai dari kota-kota kecil sampai laut yang membentang luas—terlihat jelas dari jendela-jendela yang lebar-lebar. Jelas saja kami kegirangan seperti orang norak dan nyengir nyaris tiada henti selama perjalanan kereta ke Jogasaki Kaigan yang sebenarnya tidak begitu lama.

Di atas jendela-jendela, ada petunjuk soal pemandangan empat musim yang bisa dinikmati dengan Black Ship Train. Duh, di musim-musim lain juga pasti pemandangan yang tersaji di luar jendela sungguh indah—atau tepatnya lebih indah dibandingkan di awal bulan Mei. Saat itu, musim sakura sudah berlalu, hujan sering turun, dan bahkan hari itu diperkirakan taifun akan tiba menghantam Izu sebelum lantas terus bergerak naik ke arah Tokyo.

jogasaki-06

Awan gelap bergelayut dan sedikit rintik hujan menyambut kami saat tiba di stasiun Jogasaki Kaigan. Kalau tidak salah, selain kami, hanya ada satu orang lain yang turun di situ. Dari dalam peron, terlihat kalau stasiunnya kecil saja, namun unik karena adanya tangga spiral yang tampaknya digunakan untuk berpindah dari peron satu ke peron lainnya. Kami tidak sempat mencek tangga itu sebenarnya untuk apa, karena kami lebih memilih untuk segera keluar dari stasiun.

jogasaki-04

Eh, baru beberapa langkah melangkah melewati gerbang tiket, seorang bapak-bapak yang sedang mengobrol dengan petugas berseragam memanggil saya, “Itu tasnya terbuka, tidak apa-apakah?” Ternyata yang ia maksud adalah tas kamera saya, yang tidak saya tutup lagi ritsletingnya setelah mengeluarkan kamera. Saya terkejut sekaligus berterima kasih karena ternyata ia memperhatikan hal ‘kecil’ seperti itu, padahal sedang asyik berbincang-bincang.

jogasaki-05

Jalanan di depan stasiun lebar-lebar, mulus, namun lengang. Bahkan semua jalan mobil yang nantinya kami telusuri ke arah tepi laut ya seperti ini! Jangankan manusia, mobil saja nyaris tidak ada yang lewat.

jogasaki-09

Oleh karena hari sudah cukup siang, dan karena kami tidak yakin akan menemukan tempat makan lagi nantinya, kami memutuskan untuk singgah di sebuah restoran kecil dan manis bernama Momoe. Restoran tersebut dimiliki oleh sepasang suami-istri yang telah berusia lanjut. Di bagian depan restoran, ada meja-meja dan bangku-bangku yang bisa ditempati pengunjung, seperti yang dilakukan oleh sekelompok gadis Jepang yang juga mampir. Meskipun demikian, saya dan Riris memilih untuk duduk di bagian dalam restoran.

jogasaki-08b

Saat memilih-milih makanan, kami tertarik pada chuukadon, namun tidak yakin apakah hidangan tersebut mengandung makanan yang merupakan pantangan bagi kami. Kami pun bertanya kepada sang nenek, yang dengan sabar menjelaskan dan malah bertanya balik apakah ada jenis daging yang tidak bisa kami makan. Nenek lantas bertanya kepada Kakek apakah chuukadon mengandung daging babi, dan Kakek menjawab ya. Akhirnya dengan bantuan Nenek, kami memutuskan untuk memesan shirasudon seharga 1000 yen. Sebelum memprotes ini mahal, simak dulu apa yang kami peroleh dengan harga segitu: semangkuk besar nasi putih bertaburkan shirasu (ikan teri berwarna putih yang tampak di foto); semangkuk salad yang, uniknya, juga mengandung potongan pisang; sup rumput laut; irisan halus lobak; dan buah untuk cuci mulut. Jangan lupa, sudah dapat air putih untuk minum, free flow. Kenyang, sehat!

jogasaki-08a

Selagi kami makan, tamu-tamu lain pun datang dan pergi. Ada seorang bapak yang tampaknya kenal akrab dengan Kakek dan Nenek datang membawa anjing kecilnya. Tidak seperti di Tokyo di mana hewan dilarang memasuki restoran dan toko pada umumnya, si kecil diizinkan ikut masuk dan duduk di dalam restoran. Kedatangan seorang bapak lain disambut dengan cukup heboh oleh Kakek dan Nenek. Sepertinya bapak yang ini adalah orang penting di daerah itu.

jogasaki-07

Setelah usai bersantap, kami duduk-duduk sejenak dan memanfaatkan kesempatan untuk menggunakan kamar kecil yang juga bersih dan apik.  Seusai kami membayar sekaligus berpamitan, Kakek membentangkan peta daerah tersebut, dan kepada saya memberikan petunjuk jalan menuju pesisir. Ia pun menunjukkan kepada saya beberapa alternatif rute yang bisa kami tempuh untuk mencapai stasiun kereta api di sekitar situ dalam perjalanan pulang. Sementara, Riris mengobrol dengan bapak yang tadi disambut dengan cukup ‘heboh’ oleh Kakek dan Nenek. Bapak itu berbahasa Inggris dengan cukup baik. Ia bertutur bahwa ia pernah beberapa kali ke Indonesia. Kakek, Nenek, dan si bapak lantas melepas kami dengan ramah, berharap kami menikmati wisata kami. Sungguh, kami sangat terkesan dengan keramahan yang ditunjukkan oleh penduduk setempat sejak kali pertama kami menginjakkan kaki di tempat ini.

jogasaki-10

jogasaki-11

Kami meneruskan berjalan di atas jalanan yang mulus, lega, dan teramat sunyi, sambil menengok kanan-kiri, menikmati beraneka ragam arsitektur rumah dan taman di sepanjang jalan. Rumah-rumah di daerah ini besar-besar dibandingkan dengan di Tokyo, dengan halaman yang juga luas. Tak heran, banyak yang bisa bebas berkreasi dengan tamannya. Saya langsung mengkhayal punya rumah atau vila di sini. Sepertinya kok enak sekali untuk menjadi tempat ngumpet sambil menulis!

jogasaki-12

Kalau foto di bawah ini, adalah toko yang, kalau saya tidak salah, menjual gerabah dan produk kriya lainnya. Sayang kami tidak sempat melihat-lihat.

jogasaki-13

Yang satu ini, sebuah kafe. Lucu sekali ya bangunannya, disesuaikan dengan kontur tanah.

jogasaki-14

Setelah menempuh sekitar 1,1 kilometer (sesuai jarak yang tertera di sejumlah papan petunjuk), tiba juga kami di pesisir alias kaigan! Pesisir di Jogasaki tidak identik dengan pantai berpasir, melainkan tebing-tebing dan bongkahan-bongkahan raksasa batu berwarna gelap. Saya dan Riris langsung berseru-seru tertahan karena kagum sekaligus girang karena akhirnya bisa juga melihat pemandangan ini. Sungguh dahsyat memang apa yang terpampang di hadapan kami – laut luas berwarna gelap, dengan amuk ombak yang cukup dahsyat pertanda lain akan taifun yang mendekat; tebing yang menghunjam jauh ke bawah, ke arah bebatuan yang bepermukaan halus akibat hantaman air terus-menerus; angin kencang yang menampar-nampar muka. Saya mencoba men-zoom dengan kamera agar bisa lebih jelas melihat air di pantai di bawah sana: sungguh jernih, menampakkan bagian dasar tepi laut yang dangkal.

jogasaki-15

jogasaki-16

Mercusuar Kadowaki yang berwarna putih tampak menjulang di salah satu tebing. Tak jauh dari situ, Jembatan Suspensi Kadowaki membentang di atas sepotong laut yang bergelora. Meski agak gamang—apalagi angin sedang tidak terlalu ramah!—kami memberanikan diri menyeberangi jembatan tersebut. Rasa takut sih ada, tapi tidak mencegah kami untuk mengambil foto dari atas jembatan. Sempat ngeri juga saya membayangkan kalau kamera atau telepon genggam saya sampai jatuh dari atas jembatan, langsung ke laut berpuluh-puluh meter di bawah sana. Tapi ya itulah, siapa yang tidak tergoda mengabadikan pemandangan semenakjubkan itu.

jogasaki-18

jogasaki-17

Kami menyusuri jalan setapak berbatu-batu, berupaya lebih dekat lagi dengan laut untuk melihat lebih jelas. Di antara bebatuan besar, terkadang juga ada ‘lubang-lubang’ di mana kami bisa menengok laut yang ada di baliknya. Indah, megah, misterius, menakutkan—semua perasaan itu campur-aduk.

jogasaki-20

Semakin jauh dari mercusuar, jalan setapak itu semakin tidak bagus. Sebenarnya saya masih ingin mencoba maju lagi, karena ada papan petunjuk yang mengatakan bahwa beberapa jauh di depan ada restoran. Restoran yang hanya bisa dicapai dengan menempuh jalan yang lumayan sulit? Kedengarannya menarik. Namun, kami memutuskan untuk balik badan dan kembali untuk mendaki mercusuar agar bisa melihat sekeliling. Sayang langit yang semakin gelap dan kaca mercusuar yang kabur tidak memungkinkan kami mengambil banyak foto yang tajam.

jogasaki-24

jogasaki-19

Kami turun dari menara, dan meneruskan berjalan kaki menyusuri pesisir, kali ini ke arah berlawanan dari Jembatan Suspensi. Tujuan kami adalah Shiki no Hana Kouen (Taman Bunga Empat Musim) melalui pinggiran tebing. Alternatifnya adalah menembus hutan, namun kami tidak yakin pemandangannya akan seluar biasa jalur tebing. Lagipula, sepertinya jalur hutan akan lebih gelap dan sunyi. Toh, medan jalur tebing cukup berat, naik-turun, dan tidak selalu mulus. Tetap saja, rasanya senang sekali bisa mengalami jalan-jalan lintas alam di kawasan berpemandangan dahsyat ini!

jogasaki-21

Saya sedikit waswas kami akan kehujanan di jalan karena langit makin kelabu saja. Untunglah itu tidak terjadi. Kami berhasil mencapai Shiki no Hana Kouen, di mana ada halte bis yang bisa membawa kami ke stasiun Izu-Kogen. Di stasiun ini kami membeli sejumlah oleh-oleh, lantas duduk menunggu di ruang tamu sampai kereta kami tiba. Di sini, tidak seperti di stasiun-stasiun kota besar pada umumnya, jalan masuk ke arah peron ditutup dengan pita pembatas bila sedang tidak ada kereta yang akan tiba (yang jumlahnya memang tidak terlalu banyak). Beberapa menit sebelum kereta tiba, petugas akan meminggirkan pita pembatas sambil memanggil-manggil para penumpang. Saat itu barulah kami menuju peron.

jogasaki-22

Daytrip di Jogasaki Kaigan selesai sudah. Di bawah bayang-bayang taifun, saya turun di stasiun Ito, sementara Riris melanjutkan perjalanan ke Tokyo. Berikutnya: Ito!

2 Comments (+add yours?)

  1. nyonyasepatu
    Sep 12, 2015 @ 06:59:15

    Duh kalau liat beginian jd sirik karena bedsih bgt disana

    Reply

    • lompatlompat
      Sep 14, 2015 @ 03:24:24

      Iya Mbak.. sebetulnya itu kelebihan mereka. Ada yang berkomentar, dibandingkan Indonesia, pemandangan Jepang sebenarnya biasa saja. Mungkin itu masalah selera, tapi yang jelas kalau di Indonesia saya suka jadi ilfeel karena pemandangan alam yang katanya luar biasa itu ternoda oleh sampah. Bahkan di pulau di tengah laut…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: