Festival Sejuta Cahaya Kawagoe 2014

This post is about Japan

Prak prok, prak prok, terdengar suara langkah kaki prajurit-prajurit Romawi menyusuri jalan aspal yang panas membara diterpa sinar matahari bulan Juli yang gila-gilaan. Lho… tapi… tunggu sebentar. Memangnya saya saat ini sedang berada di mana, dan kapan?

kawagoe01

Yah, sebenarnya saya sedang berada di Kawagoe (川越), sebuah kota kecil yang terletak tidak begitu jauh dari Tokyo. Julukannya adalah Koedo – Edo kecil, karena ada sejumlah bagian kota dengan bangunan-bangunan zaman Edo (nama lama Tokyo) yang masih terlestarikan dengan baik di kota ini. Kawagoe memang memiliki nuansa Edo yang cukup kental, karena di zaman Edo (1603-1867) kota ini memang punya peran penting dan hubungan baik dengan Edo.

kawagoe02

Jadi lucu juga ya, hendak melihat wajah lama Tokyo, justru harus pergi agak ke luar kota sedikit. Tapi dengan lama perjalanan hanya sekitar tiga puluh menit dari kota Tokyo, Kawagoe terhitung tidak jauh kok, dan bisa dijadikan salah satu pilihan daytrip yang menghadirkan nuansa berbeda dari Tokyo.

kawagoe03

Dan saat itu, 26 Juli tahun 2014, saya mendorong diri saya yang sebenarnya sedang berpuasa untuk mendatangi Kawagoe karena sedang berlangsung apa yang disebut ‘Festival Sejuta Cahaya’ alias Hyakumantou-matsuri (百万灯祭り). Asal-muasal festival ini adalah tradisi rakyat menggantungkan lentera di depan rumah mereka sebagai penghormatan terhadap tuan kastil Kawagoe (yang sayangnya sekarang tinggal sisa-sisanya saja), Naritsune Matsudaira. Dan meskipun tergolong festival tradisional, festival ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya tradisional, melainkan juga tari-tarian modern dan dari negara-negara lain, meskipun yang menarikannya ya orang-orang Jepang juga. Selain itu ada arak-arakan omikoshi dan pesta jajanan. Pokoknya, pesta rakyat, lah!

kawagoe08

Festival itu dilangsungkan selama dua hari, dan sayangnya saya hanya bisa memilih salah satu di antaranya. Sebenarnya saya sangat ingin menyaksikan pertunjukan bersejarah menarik yang merupakan kekhasan Kawagoe: penembakan bedil yang disebut tanegashima. Bedil kuno ini sebenarnya dibuat berdasarkan bedil yang dalam bahasa Inggris disebut matchlock, yang cara pembuatannya dipelajari penduduk pulau bernama Tanegashima dari orang-orang Portugis yang menjual dua buah di antaranya kepada mereka. Orang-orang Tanegashima lantas berhasil memproduksi tiruannya secara massal, dan bedil buatan mereka menjadi dikenal sebagai tanegashima juga. Nama lainnya adalah hinawajuu (火縄銃). Di Kawagoe, ‘seni’ menembakkan tanegashima juga dilestarikan, sama seperti bangunan-bangunan tua dari zaman Edo.

Sayangnya, ya tadi itu. Di hari yang saya pilih, tidak ada pertunjukan tanegashima. Akhirnya saya pun memuaskan diri dengan pertunjukan-pertunjukan lain yang dilangsungkan hari itu – dan mereka juga menarik kok!

kawagoe17

Untuk sampai ke Kawagoe, ada beberapa jalur yang bisa digunakan, antara lain jalur-jalur swasta Tobu Tojo dan Seibu-Shinjuku. Namun sebagai pengguna jalur JR (maklum, tempat tinggal saya terletak di jalur JR Chuo), saya lebih memilih menggunakan jalur Saikyo. Setibanya di Kawagoe, meski panas siang hari menyengat, festival sudah dipadati hadirin maupun peserta.

kawagoe11

Sambil berjalan ke arah ‘distrik pergudangan’ (alias kurazukuri no machinami, 蔵造りの町並み), saya menyaksikan pawai (termasuk pawai tentara Romawi jadi-jadian yang saya sebutkan di awal), pertunjukan seni tradisional, tari-tarian modern… namun yang membuat saya tidak habis pikir adalah tarian Hawaii yang dibawakan oleh sejumlah wanita Jepang. Bukan apa-apa… mereka tidak bersepatu, lho! Padahal bagi saya yang memakai sepatu kets saja, panasnya aspal terasa menguar sampai ke kulit telapak kaki.

kawagoe10

Nah, kalau yang di foto di bawah ini, dashi (山車) namanya. Sebenarnya, di Kawagoe ada satu festival lagi yang juga sangat meriah, yang disebut ‘Kawagoe Matsuri’. Kawagoe dilangsungkan di bulan Oktober, ketika penduduk mengarak dashi milik daerah masing-masing. Mereka saling ‘bersaing’ memamerkan keindahan dashi dan kepiawaian membawakan musik tradisional hayashi. Namun saat festival musim panas ini, dashi hanya dipamerkan saja.

kawagoe09

Berjalan-jalan di bagian kota tua Kawagoe – termasuk menyusuri jalan-jalan kecilnya – memang menyenangkan. Banyak bangunan tua, baik yang bergaya Jepang maupun Barat, yang masih terawat baik, meskipun fungsinya mungkin sudah berubah dari fungsi aslinya ketika bangunan tersebut didirikan. Kurazukuri, misalnya, adalah gudang dengan tembok dari tanah liat – yang sekarang telah beralih-fungsi terutama sebagai restoran dan toko. Ya, sah-sah saja, lebih baik kan daripada bangunan-bangunan itu hilang tak berbekas?

kawagoe07

Beberapa tetenger Edo Kecil berada di kawasan ini. Salah satunya tentu saja Toki no kane, Lonceng Waktu, sebutan untuk sebuah menara lonceng dari kayu. Lonceng ini masih dibunyikan beberapa kali sehari sebagai penanda waktu. Bangunan yang sekarang berasal dari tahun 1894, setelah bangunan sebelumnya habis terbakar di tahun sebelumnya.

kawagoe04

Di daerah ini juga terdapat Kashiya Yokochou, gang toko manis-manisan. Di sini masih bisa ditemukan kedai-kedai yang menawarkan beraneka ragam kudapan manis ala Jepang. Suasananya lebih teduh dan tenang dibandingkan jalanan besar yang hiruk-pikuk, setidaknya di kala festival ini.

kawagoe05

Nah, kalau lagi festival begini, sebenarnya yang benar-benar menggoda itu apa? Penjual jajanan yang berjejer-jejer, bahkan tumpah-ruah sampai ke jalan-jalan kecil. Saya yang masih berpuasa hanya bisa menatap kepengen tanpa sanggup berbuat apa-apa selain membuat daftar dalam benak, makanan dan minuman mana saja yang harus saya cicipi nanti ketika sudah tiba waktunya berbuka puasa. Di saat berpuasa, bahkan timun jepang (kyuri) yang dijual rata-rata 100 yen per tusuk pun terasa tampak menawan. (Waktu sudah berbuka sih, tidak lagi terasa demikian, meskipun jajanan sederhana ini tampak cukup laris diserbu pembeli.) Satu hal lagi: jajanan yang dijual saat festival mungkin lebih mahal dibandingkan hari biasa. Tangan pun bergerak miris menghitung-hitung keping-keping uang dalam dompet.

kawagoe06

Sore sedikit, pawai utama dimulai. Tua-muda, laki-perempuan, berombongan menarik gerobak berhiasan indah dengan para musisi tradisional (tak sedikit yang masih anak-anak) di atasnya, ataupun menjunjung omikoshi (‘altar portabel’). Riuhnya sorak-sorai, gelak riang, dan musik tradisional bersahut-sahutan memeriahkan suasana. Arak-arakan makin seru ketika ada yang menyiramkan air kepada kelompok pembawa omikoshi yang lewat – hal yang tidak mereka tolak, mengingat betapa panasnya hari itu! Ada kelompok-kelompok yang membawa omikoshi sungguhan, ada juga yang hanya tiruan, termasuk yang dibuat dari bahan berupa botol-botol plastik bekas.

kawagoe18

Saya akhirnya menemukan tempat enak untuk menyaksikan arak-arakan itu – duduk di atas beton pembatas jalan di salah satu perempatan besar yang ditutup bagi kendaraan bermotor selama festival berlangsung. Sialnya saat itu juga kamera saya, yang saya lupa isi ulang baterainya, kehabisan daya. Saya akhirnya hanya bisa mengambil foto dengan telepon genggam.

kawagoe12

Matahari semakin bergulir ke Barat, dan suhu semakin sejuk. Akhirnya tiba juga waktunya buka puasa. Saya lekas-lekas mencari tempat duduk untuk menenggak minuman botolan yang saya peroleh dari mesin otomat. Setelahnya, ya, apalagi yang saya lakukan selain langsung mencari makanan untuk mengisi perut?

kawagoe20

Bila Tokyo terkenal karena ubi kuningnya (serius, bukan Tokyo Banana atau apalah, kudapan tradisional Tokyo sebenarnya terbuat dari ubi kuning), maka Kawagoe membanggakan ubi ungunya. Tepat sebelum sebuah toko penjual es krim ini tutup, saya berhasil membeli satu cone es krim ubi ungu yang terasa sangat segar di kerongkongan saya yang habis berpuasa seharian. Tapi saya lupa… ini bagian yang warna kuning, es krim rasa apa ya?

kawagoe16

Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan lebih lanjut untuk mencicipi berbagai jajanan festival lainnya. Mata saya kembali terpikat jajanan yang terlihat lucu: pisang cokelat. Iya, pisang cokelat yang biasa-biasa saja, di mana-mana juga bisa ditemukan, tapi memang kalau sedang dalam suasana festival (apalagi saat suhu panas), pisang cokelat terasa sedemikian menggoda! Meijses-nya warna-warni, lagi, membuat si pisang terlihat cantik sekali.

kawagoe14

Ada satu hal yang cukup menyebalkan dalam ‘wisata kuliner’ kali ini. Sewaktu saya dan berpuluh-puluh orang lain sedang dengan sabarnya mengantri untuk membeli yakitori di sebuah kedai yang sangat laris, empat turis Thailand yang berisik datang menyelak antrian, langsung ke paling depan. Entah mereka ini betul-betul tidak menyadari bahwa ada antrian atau tidak – yang jelas, saya sering kesal kepada orang-orang yang tidak main lihat-lihat seperti itu. Penjual sempat tertegun, namun mungkin daripada berpanjang-panjang, ia layani juga keempat turis itu. Orang-orang Jepang yang mengantri diam saja, tidak berkata apa-apa, tapi pandangan mata mereka seolah-olah mengatakan “Aduh, dasar orang asing norak, tidak tahu sopan-santun!” Saya hanya bisa terdiam, merasakan secondhand embarrassment.

kawagoe13

Saya berjalan kembali ke bagian utama kota, karena di sanalah pusat penyelenggaraan fase terakhir festival. Sedang santai melangkah, mata saya tertumbuk ke sebuah dompet kartu transpor yang tergeletak di jalan. Belum beberapa lama saya juga kehilangan dompet semacam itu, dan saya teringat perasaan kesal dan bingung yang saya rasakan waktu itu. Akhirnya, dengan harapan si pemilik tidak perlu merasakan hal yang sama, saya berinisiatif membawanya ke pos polisi terdekat.

Pos polisi ini sebenarnya pos polisi sementara, berupa beberapa atap terpal yang dibentangkan di atas tiang-tiang dengan beberapa meja ternaung di bawahnya. Di pos ini, sejumlah polisi dan petugas lainnya – entah apakah polisi juga, karena tidak berseragam – berjaga-jaga, siap membantu siapa pun yang membutuhkan. Kepada seorang petugas polisi saya memberitahu bahwa saya menemukan sebuah dompet. Ia lalu mempersilakan saya menghampiri salah satu meja yang ditunggui seorang petugas perempuan. Dan dari situ dimulailah kebingungan saya. Apa pasal?

kawagoe15

Hal yang saya kira akan mudah saja – paling-paling saya ditanya menemukan dompet ini di mana, lalu sudah, saya akan disuruh pergi, begitu perkiraan saya – ternyata jadi panjang. Si mbak segera bersiap membuat catatan terperinci, sementara pak polisi yang ramah menanya-nanyai saya. Awalnya saya diminta menunjukkan lokasi tempat saya menemukan dompet itu di peta. Oke, ini masih wajar. Tapi malah saya jadi ditanya macam-macam, antara lain ditanya tinggal di mana dan sedang apa di Jepang. Saking lamanya saya ditanya-tanyai, pisang cokelat saya yang masih tersisa sedikit menjadi sedemikian lembek dan… jatuh dari tusuknya. Melihat itu, barulah pak polisi dan mbak yang mencatat jawaban-jawaban saya tampak tidak enak hati.

Akhirnya pak polisi bertanya apakah saya datang sendirian atau tidak. Saya jawab, iya. Dia bilang, Wah, keren ya, berani! (Sebenarnya sih biasa saja, tapi memang orang Jepang biasa memuji basa-basi begini.) Dia pun melepas saya dengan berpesan agar berhati-hati. Saya pun meninggalkan pos polisi masih dengan bingung. Mau melaporkan menemukan dompet hilang saja kok jadi runyam amat, ya? Saya jadi berpikir: ih, apa lain kali nggak usah aja melaporkan kalau menemukan barang yang hilang. Namun ternyata, di Jepang ada aturan bahwa bila si pemilik mengambil barangnya yang hilang, ia wajib membayar ke si penemu sebesar 5-20% dari nilai barang. Dan bila tidak ada yang mengakui barang itu, maka barang tersebut diserahkan kepada penemunya. Maka itu pak polisi sempat bertanya kepada saya, apakah tidak apa-apa kalau saya tidak dapat apa-apa dari si pemilik nantinya. Saya, yang berpikir “Kok mengembalikan barang pakai pamrih?” menjawab tidak apa-apa berkali-kali, meskipun pak polisi juga menanyai saya berkali-kali bahwa hal itu benar-benar ‘daijoubu’ buat saya. Ternyata aturan hukum toh! Oalaaah.

Hari semakin larut, tapi keramaian festival tidak makin berkurang, justru sepertinya makin bertambah-tambah, terutama daerah di dekat stasiun JR. Beberapa kedai makanan ataupun restoran disemuti pengunjung. Saya sampai kesulitan berjalan di sejumlah jalan kecil yang saya masuki gara-gara antrian orang! Oh, tapi mungkin perlu saya sebutkan, ya: meskipun ada orang sebanyak itu, tidak terlihat sampah berserakan, padahal tempat sampah juga tidak begitu mudah ditemukan, walaupun ada sejumlah toko atau kedai yang menyediakan bak atau kotak penampung sampah.

kawagoe21

Saya menonton pertunjukan-pertunjukan terakhir hari itu – didominasi oleh tari-tarian tradisional kolosal – sambil melahap jagabataa (kentang dengan mentega) dengan santai. Para penari – yang saya yakin di hari-hari lain hanyalah orang-orang biasa, bukan seniman – sangat penuh energi membawakan tari-tarian rakyat, yang disambut tepuk-tangan dan seru-seruan meriah.

Hari sudah gelap sekali ketika akhirnya festival ditutup. Saya dan para hadirin lain beranjak pulang, meskipun lentera-lentera sumber ‘jutaan cahaya’ belum lagi redup. Toh, kalaupun lentera-lentera ini pada akhirnya dipadamkan, tahun depan mereka akan menyala lagi, menyinari keriaan pesta rakyat Edo Kecil.

1 Comment (+add yours?)

  1. sendydewi
    Jun 22, 2015 @ 15:35:28

    Fheartily@yahoo.com

    Sent from Yahoo Mail on Android

    From:”Lompat-lompat Sana-sini” Date:Mon, 22 Jun, 2015 at 22:08 Subject:[New post] Festival Sejuta Cahaya Kawagoe 2014

    lompatlompat posted: ” Prak prok, prak prok, terdengar suara langkah kaki prajurit-prajurit Romawi menyusuri jalan aspal yang panas membara diterpa sinar matahari bulan Juli yang gila-gilaan. Lho… tapi… tunggu sebentar. Memangnya saya saat ini sedang berada di mana, dan”

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: