Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri

This post is about Indonesia

Kota Jakarta sungguh perlu museum-museum berkualitas.  Memang ada museum yang sangat bagus dan terawat seperti Museum Nasional alias Museum Gajah, namun banyak juga yang masih seadanya saja.  (Berapa banyak di antara kita yang tahu dan pernah berkunjung ke Museum Tekstil?)  Oleh karena itu, kita boleh berbangga dan bersenang hati akan kehadiran museum yang satu ini: Museum Bank Indonesia, yang terletak berdampingan dengan Museum Bank Mandiri, dan terletak tidak jauh dari Museum Fatahillah dan beberapa museum lain yang terletak di kawasan Kota Tua Jakarta.

Langit-langit lobi depan Museum Bank Indonesia.

Saat ini sebenarnya Museum Bank Indonesia masih dalam tahap renovasi, belum semuanya siap menerima pengunjung.  Namun bagian-bagian yang sudah dibuka sungguh memuaskan dahaga akan museum yang menyenangkan sekaligus informatif.  Tidak hanya koleksinya, arsitektur bangunan ini juga membuat terkagum-kagum dan menuntut mata kita mengamati lekat-lekat agar dapat melihat segala detail yang terawetkan sedari zaman kolonial.

Pintu masuk ke Museum Bank Indonesia, dilihat dari dalam.

Masuk museum ini gratis, namun barang-barang bawaan harus dititipkan di bagian penitipan di dekat pintu masuk museum.  Setelah memperoleh tiket dan mengisi buku tamu, kita pun dipersilakan menuju sebuah lorong gelap dan berbelok, di mana kita disambut permainan interaktif.  Koin-koin tampak berjatuhan dari atas di dinding.  Bila kita berhasil mengurung salah satu koin dengan bayangan lengan dan tangan kita yang disatukan, maka akan keluar informasi mengenai koin yang bersangkutan.  Ingat, sewaktu di lorong ini, jangan memotret dengan flash, ya!

Tangkap koinnya, tangkap infonya!

Museum lantas akan membawa kita menyusuri masa demi masa perkembangan uang dan jasa perbankan di Indonesia, melalui lukisan, diorama, dan beraneka rupa pajangan lain. Adapula ruangan khusus yang memamerkan berbagai macam uang logam, uang kertas, dan uang dalam bentuk lain yang terkadang tak terduga dari berbagai daerah di Nusantara dan negara lain.  Yang sangat menyenangkan, di setiap lemari pajangan tersedia kaca pembesar, yang bisa kita geser-geser bila ingin mengamati koleksi tertentu secara lebih terperinci.

Nah, rangkaian foto berikut ini menunjukkan bagian dalam Museum Bank Indonesia.

Teater di bagian depan.

Diorama kegiatan ekonomi di Nusantara zaman dahulu.

Ada meneer-meneer Belanda bertransaksi!

Lantai pun menjadi tempat memajang koleksi.

Ke museum beramai-ramai, tambah seru!

Instalasi seni yang juga dipajang di Museum BI.

Gedung Museum BI juga memuaskan hati pencinta arsitektur kuno.

Rak-rak kumpulan uang kertas dari berbagai negara.

Toko yang menjual cenderamata Museum BI. Banyak yang murah-meriah, lho!

Tepat di samping Museum BI, terdapat Museum Bank Mandiri, yang juga popular sebagai tempat penyelenggaraan berbagai pameran dan acara.  Museum yang satu ini lebih berfokus pada sejarah Bank Mandiri, meski tentunya juga terkelindan sejarah umumIndonesia.  Begitu memasuki bangunan dan melangkah menaiki tangga di depan setelah tempat penitipan barang, kita akan langsung disambut aula besar di mana dahulu segala bentuk transaksi perbankan berlangsung.

Hayo, mau mengambil uang, atau menabung, atau…?

Ini petugas bank, atau inlander lagi ditahan kompeni, ya?

Ketika menaiki tangga sekali lagi menuju lantai dua, perhatian kita akan tersita oleh seni kaca patri Empat Musim karya FH Abbing, Jr. yang menghiasi jendela-jendela bagian depan.  Meski berjudul dan menampilkan keempat musim di Eropa, sebenarnya ada lima bilah – bilah yang di tengah menggambarkan alamIndonesia.  Kecantikan kaca patri raksasa ini bisa membuat yang melihatnya menahan napas.

‘Empat Musim’

Telusurilah ruang demi ruang, dan silakan berimajinasi menjadi seorang pegawai – atau malah direktur – bank di masa lalu.  Bahkan bentuk toilet pribadi di ruang-ruang kerja direktur mengundang keingintahuan, memantik kenangan akan masa-masa yang telah dilalui bangunan besar yang masih kokoh ini.

Tak pelak terucap doa dalam hati: semoga suatu hari kelak, semua museum di Indonesia bisa menjadi menarik dan terawat seperti kedua museum yang terletak bersisian ini.  Karena kita butuh museum untuk menjaga ingatan kita akan sejarah, dan seperti yang sering dikutip orang, apatah arti bangsa yang tidak menghargai sejarahnya sendiri?

Eh… muesum?

2 Comments (+add yours?)

  1. hilsya
    Jul 01, 2011 @ 12:33:34

    aku belum pernah ke sini, hikss…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: