Jelajah Budaya dan Kuliner Palestina

Kali ini, anggota Tim Lompat-lompat diajak berwisata kuliner Palestina.  Perhatikan, bukan ke Palestina lho, meskipun Lompat-lompat juga ingin mengunjungi negara tersebut, apalagi Tante Guru yang doyan sejarah Perang Salib.  Di Palestina, banyak sekali peninggalan zaman Perang Salib, meskipun sebagian hanya tersisa reruntuhannya.  Nah, berhubung belum kesampaian ke sana, mencicipi makanannya dulu, tidak apa-apa dong ya?  Apalagi kali ini kokinya spesial lho…  Yang Terhormat Duta Besar Palestina untuk Indonesia sendiri, Bapak Fariz N. Mehdawi, didampingi chef Teuku Kelana.

Acara yang diselenggarakan tanggal 4 Juni 2011 ini merupakan bagian dari rangkaian bertajuk ‘Ambassador’s Roadshow’ yang diadakan oleh AMA SIWA bekerja sama dengan majalah Femina, Tupperware, dan Electrolux.  Sebelum memasak, Bapak Mehdawi terlebih dahulu berbagi berbagai kisah tentang negara beliau.  Negara istimewa, yang ‘telah dipilih oleh Tuhan sebagai alamat-Nya di Bumi’.  Hmmm, iya juga ya.  Palestina adalah tempat kelahiran Yesus.  Dulu, sebelum dipindahkan ke Mekah, kaum Muslim juga salat dengan berkiblat ke Yerusalem.  Dan kaum Yahudi juga menganggap Palestina tanah suci, bukan?

Pertama-tama, beliau ‘menenangkan’ para calon wisatawan-wisatawati tentang keamanan Palestina.  Media memang mengesankan setiap hari ada saja keributan dan kekerasan di negara tersebut.  Namun sebenarnya kekerasan banyak terjadi di daerah yang bersinggungan dengan Israel, namun di daerah-daerah lain, kondisi relatif aman.  “Yah, seperti 2 orang yang hidup bersama di satu kamar, tidak mungkin akur terus,”  Beliau menganalogikan.  Berkat bantuan dari negara-negara donor, Palestina banyak melakukan pembangunan dan perbaikan di berbagai bidang.

Bidang pendidikan, misalnya.  Di Palestina, pendidikan wajib dan gratis.  Malah, orang tua yang memaksa anaknya untuk tidak bersekolah, bisa dihukum penjara!  Tingkat murid sekolah menengah atas yang melanjutkan ke perguruan tinggi kini bahkan lebih tinggi di Palestina daripada di Israel.  Sebagian mahasiswa/i Palestina juga dikirim untuk berkuliah di luar negeri, termasuk di Indonesia.  Menurut Bapak Mahdewi, memang di kawasan Arab kualitas pendidikan semakin membaik.  Bahkan protes yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa negara Arab adalah efek dari pendidikan yang maju.  Karena, semakin tinggi kualitas pendidikan seseorang, semakin sadar ia akan pentingnya demokrasi.

Bapak Mahdewi terutama sangat membanggakan kaum perempuan Palestina.  Mereka sangat tangguh, menanggung beban yang berlipat-lipat.  Tak hanya berperan sebagai ibu, perempuan yang sudah menikah seringkali juga harus berperan sebagai ayah, apabila sang suami masuk tahanan Israel.  Dan juga jangan dipikir mentang-mentang ada stigma ‘orang Arab’, maka perempuan-perempuan Palestina ‘terbelakang’.  Justru dalam masyarakat yang aslinya agraris, kaum perempuan berperan besar dalam keluarga dan masyarakat.  Jadi peran besar perempuan Palestina sudah berlangsung sejak lama.  Tante Guru terutama terharu sekali lho sewaktu Bapak Duta Besar berbicara tentang bagian ini!

Penjelasan bahwa bangsa Palestina aslinya adalah bangsa petani juga menjelaskan mengapa mereka sedemikian sedih ketika tercerabut dari akar mereka tatkala tanah mereka dicaplok satu per satu dan mereka terusir!  Terakhir Tante Guru baca, laporan UNHCR menyebutkan ada tak kurang dari 5 juta pengungsi Palestina.  Banyak di antara mereka yang keluarganya tercerai-berai ke beberapa negara sekaligus, termasuk Bapak Mahdewi sendiri.   Namun ikatan kekeluargaan mereka tetap kuat, bahkan mungkin semakin kokoh ditempa ujian yang seolah tiada putus.

Bapak Mehdawi dan Chef Kelana.

Ngomong-ngomong nih, dari tadi kita menggunakan kata ‘Arab’.  Namun Bapak Mehdawi berujar bahwa janganlah kita menganggap ‘Arab’ itu satu.  Yang disebut ‘Arab’ sungguh beraneka-ragam  saat ini, dan seringkali yang mengikat mereka hanyalah kesamaan bahasa, yang kini kita kenal sebagai ‘bahasa Arab’ dan dibawa menyebar ke seluruh kawasan Arab dan Afrika Utara bersama dengan datangnya Islam.

Secara garis besar, dunia Arab terbagi menjadi 4 kelompok.  Masing-masing kelompok memiliki kemiripan adat dan budaya, termasuk kuliner.  Kelompok pertama adalah negara-negara Maghribi: Maroko, Tunisia, Aljazair, Mauritania.  ‘Kelompok’ kedua terdiri atas satu negara saja yang khas, yaitu Mesir.  Kelompok ketiga adalah Libanon, Palestina, Yordania, dan Suriah.  Sementara kelompok terakhir adalah negara-negara Arab lain, termasuk Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Yaman, Uni Emirat Arab, dan Irak.

Keanekaragaman orang Arab juga tercermin pada penduduk Palestina, yang merupakan campuran penganut Islam dan Kristen.  “Kalau datang ke Yerusalem dekat-dekat Natal, kita akan mengira kota itu kota Kristen.  Kalau datang dekat-dekat Idul Fitri, kita akan mengira kota itu kota Islam,” papar Pak Duta Besar.  Ya, karena penganut Islam maupun Kristen sama-sama menyambut dan menghormati hari raya kedua agama.

Menurut Bapak Mahdewi, perbedaan itu tidak mereka permasalahkan, karena yang mereka nomorsatukan adalah predikat mereka sebagai ‘orang Palestina’.  Pernikahan campur bahkan lazim saja.  Mereka bahkan kerap tidak membicarakan agama yang dianut dengan orang lain, karena itu masalah pribadi.  Jadi bisa saja setelah 30 tahun berteman, baru tahu kalau sahabat kita beragama berbeda dengan kita!  Bahkan Bapak Mahdewi mengaku sewaktu di Palestina suka mendatangi gereja karena senang mendengar musik yang dimainkan saat ada ibadah.

Di latar depan adalah salad simpel ala Palestina.

Oke deh… kembali ke soal masak-memasak.  Pak Dubes tanpa canggung turun tangan memasak bersama chef Kelana maqluba (hidangan mirip nasi kebuli) dan membuat salad palestina untuk hadirin.  Nama ‘maqluba’ sebetulnya berarti ‘terbalik’, karena nasi dikeluarkan secara terbalik dari dandang sebelum dihidangkan.  Resepnya sangat fleksibel, bisa menggunakan beraneka ragam sayur dan lauk sebagai pendamping.  Yang Pak Dubes dan chef Kelana masak menggunakan kembang kol dan ayam.  Soal lauk ini, orang Palestina harus memastikan agar semua tamu pasti kebagian sepotong.  Jadi jumlah tamu yang datang harus diketahui dengan pasti!  Sewaktu Tante Guru cicipi si maqluba… hmmm… lezat lho!  Rasa dari campuran berbagai bumbu membanjiri lidah, namun tidak sekuat rasa rempah-rempah makanan India.

Untuk salad, biasanya orang Palestina menggunakan minyak zaitun.  Minyak dari pohon zaitun, yang sangat dihargai oleh masyarakat Palestina, tidak digunakan untuk menggoreng.  Sebagai gantinya, digunakan minyak lain, misalnya minyak jagung atau kelapa sawit.  Khusus di bulan Ramadhan, entah mengapa, yang banyak digunakan adalah minyak wijen.

Maqluba yang sudah jadi. Sedap!

Pak Dubes juga menjelaskan bahwa memasak adalah tugas keluarga bagi orang Palestina.  Jadi, meskipun mungkin yang memegang komando di dapur hanya 1 orang saja—ibu atau nenek, misalnya—semua orang ikut membantu, meskipun mungkin hanya mengupas atau memotong-motong bahan makanan.  Oleh karena itu, salah satu ‘gegar budaya’ orang Palestina yang datang ke Indonesia adalah keheranan, mengapa di Indonesia membayar orang untuk memasak di rumah!

Bukan berarti restoran di Palestina nggak laku lho…  Malah banyak kedai yang buka 24 jam.  Jadi wisatawan tidak perlu takut kelaparan kalau malam-malam mendadak keroncongan.  Makanan juga banyak dijajakan oleh pedagang kaki lima, namun biasanya hanya berupa penganan.  Peraturan pemerintah melarang makanan berat dijual di jalanan atas alasan standar kebersihan.

Hmmm… setelah mencicipi masakan Palestina yang sedap, semakin ingin nih berkunjung ke sana!  Apalagi negara Palestina kini juga semakin menggenjot  sektor pariwisatanya.  Pemerintah Palestina yakin banyak yang bisa dipelajari melalui pertukaran budaya.  Untuk para pelajar, pemerintah bahkan memiliki program yang memungkinkan mereka tinggal di rumah penduduk, dan hanya membayar makan saja.  Waduh, coba saya masih pelajar, ya?  Hehehe…

6 Comments (+add yours?)

  1. Eve
    Jun 22, 2011 @ 22:55:39

    Post ini bikin saya ingin ke Palestina.

    Reply

  2. hilsya
    Jul 01, 2011 @ 12:35:03

    bentuk nasinya beda ya? kira-kira pulen apa pera?

    Reply

  3. noni
    Jul 11, 2011 @ 19:01:47

    TFS, pengen ke palestina skr juga hehehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: