Mengurus Visa Jepang

This post is about Japan

Sulit tidak ya, memperoleh visa Jepang?  Ternyata, tidak juga.  Harganya juga tidak terlalu mahal, bila dibandingkan dengan visa Amerika atau Eropa.  Untuk satu kali kunjungan yang akan berlaku selama tiga bulan sejak visa diberikan, harga yang dibebankan kepada calon pengunjung Jepang adalah 300 ribu.  Harga ini diturunkan per April 2011, dari sebelumnya 320 ribu rupiah.

Waktu pengurusan visa minimal 4 hari kerja, tanpa wawancara.  Cukup unduh formulir dan jadwal perjalanan yang harus diisi dari situs ini, isi dan lengkapi dokumen-dokumen penunjang.  Jangan lupa, pasfoto terbaru dengan latar belakang polos terang/putih berukuran 4,5 x 4,5 cm.  Susun dokumen dengan rapi menurut urutan yang diwajibkan seperti yang tercantum dalam situs kedutaan Jepang, dan bawalah ke konjen terdekat (di Jakarta, di Kedutaan Besar Jepang yang terletak di samping pusat perbelanjaan Plaza Indonesia/eX di Jalan Thamrin).

Yang perlu diperhatikan adalah harus jelas benar di mana kita tinggal nantinya di Jepang.  Apabila kita menginap di rumah orang lain/pengundang, maka lengkapi pula dokumen-dokumen yang menjelaskan hubungan kita dengan mereka, surat undangan, dan surat domisili.  Kalaupun berwisata atas biaya sendiri/bukan diundang orang, siapkan bukti pemesanan hotel/penginapan, meski ini tidak diminta di situs.  Dokumen lain yang juga tidak diminta secara tertulis namun sebaiknya disiapkan saja adalah surat keterangan kerja bila Anda memang telah bekerja.

Seperti apa pengalaman Tim Lompat-lompat di Jepang?  Nantikan tulisannya di bulan Juli, ya!

[UPDATE: 7 SEPTEMBER 2012]

Mulai 1 September 2012, Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia akan mengeluarkan visa kunjungan berkali-kali untuk yang memintanya dengan jangka waktu 3 tahun.  Dengan visa kunjungan ini, pemegangnya akan dapat melakukan kunjungan singkat (paling lama 15 hari) ke Jepang berkali-kali selama 3 tahun tanpa bolak-balik mengajukan visa.

Visa bisa diberikan kepada:

  • WNI yang berdomisili di Indonesia dan memiliki E-paspor atau paspor MRP (machine-readable passport)
  • Melakukan kunjungan yang bersifat kunjungan sementara (temporary visit, paling lama 15 hari setiap kali masuk Jepang)
  • Mengajukan permohonan VISA Kunjungan Sementara Berkali-kali (jadi sewaktu di loket jangan lupa bilang menginginkan visa jenis ini yah)

Yang boleh mengajukan Visa Kunjungan Berkali-kali:

  1. Pernah melakukan kunjungan singkat ke jepang dalam 3 (tiga) tahun terakhir*, dan memiliki kemampuan ekonomi yang cukup.
    *dapat dibuktikan dari riwayat perjalanan di paspor
  2. Karyawan yang memiliki kemampuan ekonomi yang cukup
  3. Suami/istri/anak dari yang orang yang dimaksud dalam kriteria (B)

Info selengkapnya bisa dibaca di siniSaya juga berencana akan mengajukan visa ini segera.  Wish me luck!

Beberapa Gagasan Menghabiskan Waktu di Bangkok

Tulisan berikut ini saya tulis atas permintaanTitin yang akan mengunjungi Bangkok di bulan Oktober.  Semoga tulisan ini membantu, ya!

This post is about Thailand

Bangkok pada khususnya dan Thailand pada umumnya telah menjadi salah satu tujuan pariwisata luar negeri utama wisatawan Indonesia, terutama semenjak maskapai penerbangan AirAsia membuka jalur langsung dari beberapa kota Indonesia menuju Bangkok.  Dalam tulisan berikut ini, saya menjabarkan beberapa gagasan kegiatan yang bisa Anda lakukan di Bangkok.

Telusuri Chao Phraya

Kami pernah menjabarkan cara menelusuri sungai yang menjadi nadi utama kota Bangkok lama ini di tulisan ini.  Nikmati semarak aktivitas penghuni Bangkok di Chao Phraya saat siang hari.  Perhatikanlah keanekaragaman bangunan lama bersejarah maupun bangunan baru bergaya modern, juga bermacam-macam tempat peribadahan berbagai agama yang berdiri mengapit Chao Phraya.  Tampak wat, masjid, dan gereja tegak berselang-seling.  Susuri pula sungai ini di malam hari, ketika lampu-lampu sengaja menyoroti bangunan-bangunan utama sehingga terlihat dramatis.

Suasana di feri untuk turis.

Salah satu sudut Maharaj Pier. Turunlah di sini bila hendak menuju Grand Palace.

Kunjungi Grand Palace dan Vinmanmek Mansion

Rasanya kalau ke Bangkok tapi belum ke Grand Palace, agak kurang afdol, ya.  Di kompleks istana berukuran 218.000 meter persegi ini terdapat sejumlah bangunan penting, baik yang masih berfungsi sebagai kantor pemerintah, museum, tempat peribadahan, maupun tempat tinggal kerabat raja.  (Raja sudah tidak lagi tinggal di Grand Palace.)  Tidak hanya bergaya khas Thailand atau Indocina, ada pula bangunan-bangunan bergaya Barat, ataupun yang campuran.

Yang perlu diingat, berpakaianlah yang sopan bila hendak memasuki Grand Palace.  Bila pakaian Anda (baik laki-laki ataupun perempuan) terlalu terbuka, misalnya mengenakan celana pendek, maka Anda akan diminta mengenakan pakaian tertutup yang disediakan pihak istana.  Selain itu, bila Anda datang tepat di hari ulang tahun raja (5 Desember), maka di pagi hari Anda tak boleh memasuki kompleks istana tersebut, yang dijadikan tempat pusat perayaan.  Siang harinya, Anda boleh masuk dengan gratis, tetapi hanya ke bagian tempat wat-wat berada, ini pun menumpangi keistimewaan yang diberikan kepada warga Thailand untuk mengunjungi The Royal Monastery of the Emerald Buddha secara gratis agar bisa berdoa untuk sang raja.

Di area Royal Monastery, tak hanya menyambangi sang Buddha Jamrud yang  tersohor, kita juga bisa melihat, antara lain, Phra Siratana Chedi, Phra Mondop, dan model Angkor Wat.  (Sekadar info: nama kota di Kamboja tempat Angkor Wat berada saat ini, Siem Reap, berarti ‘Siam Ditaklukkan’.  Dan keberadaan model Angkor Wat ini di kompleks Grand Palace kiranya juga menjadi jejak hubungan antara Thailand dan Kamboja yang kerap sulit, bahkan hingga kini.)

The Royal Monastery menampilkan keunikan agama Buddha yang dianut oleh sebagian besar penduduk Thailand.  Perhatikanlah patung-patung raksasa yang menjulang, dan juga mural Ramakien (Ramayana) berhias emas yang terpajang di tembok yang mengelilingi Wat Phra Kaeo.  Tunggu sebentar.  Ramayana?  Lalu… patung dewa-dewa ini… tidakkah lebih Hindu daripada Buddha?

Ya, memang benar.  Agama Buddha di Thailand dipengaruhi  agama Hindu.  Bahkan berdasarkan hasil bincang-bincang saya dengan seorang kenalan yang berasal dari Goa, India, Thailand adalah satu dari hanya dua tempat di dunia ini di mana terdapat kuil yang dikhususkan untuk Brahma, godhead dalam trimukti agama Hindu.

Ngomong-ngomong, perhatikanlah patung-patung yang menghiasi sejumlah bangunan di kompleks Royal Monastery.  Bisakah Anda bedakan, yang mana yang demon, yang mana yang monyet?  Kalau setelah ke sana Anda belum tahu juga, silakan hubungi kami ya…

Yang juga tidak bisa dilewatkan saat berada di Grand Palace adalah… mencicipi susu segar dan dingin yang dijual tak jauh dari Aula Amarindra Winitchai dan Chakri Maha Prasat (yang bagian bawahnya difungsikan sebagai museum senjata).   Apalagi kalau Anda mengunjungi Grand Palace ketika cuaca sedang panas-panasnya—misalnya, saat bulan Juli—susu berbagai rasa dari peternakan kerajaan ini terasa sungguh menyegarkan dan memompa semangat kembali!

Chakri Maha Prasat

Pergantian penjaga juga bisa menjadi atraksi menarik di Grand Palace.

Oya, sekeluar dari Grand Palace, jangan keburu membuang tiket Anda, karena masih ada satu tempat lagi yang bisa Anda datangi dengan tiket tersebut, yaitu Vinmanmek Mansion.  Jaraknya agak jauh dari Grand Palace, sehingga gunakanlah taksi atau tuktuk menuju tempat tersebut.  Hati-hati, taksi yang mangkal di sekeliling Grand Palace biasanya memang mengincar wisatawan dan ogah pasang argo.  Atau, mereka mau mengantarkan dengan harga murah asalkan kita mau mereka bawa mampir-mampir dulu ke sejumlah toko atau tempat pembelanjaan.  Alasannya, agar mereka mendapat cap dari masing-masing toko untuk mendapatkan bensin gratis.  Kalau punya waktu banyak, coba saja ikut mereka ke toko-toko itu, yang terkadang menawarkan barang-barang bagus dengan harga murah.  Tidak beli juga tidak apa-apa.  Namun bila ingin langsung ke Vinmanmek Mansion, bersikeraslah minta diantar langsung.  Mungkin mereka akan minta 100 Baht untuk menuju kompleks tersebut.

Ini bukanlah Vinmanmek Mansion, melainkan salah satu gedung di dalam kompleksnya. Mansion-nya sendiri sulit untuk dipotret.

Vinmanmek adalah istana dari kayu jati emas bergaya Eropa yang dahulu menjadi tempat tinggal keluarga raja.  Bangunan beserta segala perabot dan barang-barang yang tersimpan di dalamnya sungguh indah.  Namun untuk memasukinya, peraturan cukup ketat.  Yang pertama, Anda harus meninggalkan tas dan kamera di dalam locker berkunci otomatis yang tersedia.  Hati-hati, sekali buka pintu locker, biayanya 30 Baht.  Saya pernah ketinggalan mengambil sesuatu dari tas, dan harus kembali merogoh 30 Baht dari kocek untuk membuka pintu sekali lagi!

Wisatawan diizinkan keluar-masuk dengan selang waktu tertentu, antara 30-45 menit sekali.  Waktu masuk wisatawan berbahasa Thailand dan berbahasa asing juga dipisah, seturut ketersediaan pemandu.  Kita harus menunggu dengan sabar sampai pintu dibuka lagi untuk wisatawan—yang harus melewati pemeriksaan sinar X.  Sejumlah petugas siap memandu kita dan memberikan berbagai informasi mengenai Vinmanmek Mansion, termasuk sejarah koleksi barang wastu tersebut yang mengundang decak kagum.  Bahkan saat cuaca panas mengamuk di luar, bagian dalam wastu dan taman sekelilingnya tetap sejuk.

Bila sempat, kunjungi juga beberapa museum kecil yang masih terletak di kawasan Vinmanmek Mansion.

Berbelanja

Bagi yang hobi berbelanja, memang Bangkok tempat yang pas untuk memuaskan kegemaran Anda itu.  Kalaupun Anda hanya berniat mencari oleh-oleh, tidak usah khawatir karena banyak cenderamata unik, murah, dan meriah yang bisa Anda peroleh.

Bila melewatkan akhir minggu di Bangkok, kunjungilah pasar Chatuchak yang hanya buka Sabtu dan Minggu.  Cara mudah menuju tempat tersebut adalah naik BTS, turun di stasiun Mo Chit.  Setelahnya, tinggal keluar dari stasiun dan berjalan sedikit, dan voila, Anda telah tiba di pasar tradisional yang luas dan berpotensi cukup besar menyesatkan orang ini.  Telusurilah lorong demi lorong, menawarlah bila bisa, yang penting… tetap waspada, karena pencopet dan penjambret berkeliaran mengincar para wisatawan yang lengah.

Kalau tidak sempat menyambangi Chatuchak, jangan khawatir.  Di pasar malam dan kawasan-kawasan wisatawan seperti Nana Sukhumvit, mudah ditemukan toko atau kios kaki lima yang menjajakan barang-barang yang sama dengan yang dijual di Chatuchak.

Ingin berbelanja ‘gaya modern’?  Pusat-pusat perbelanjaan siap menyambut Anda.  Yang saya paling doyan kunjungi adalah kawasan Pathumwan Junction (naik BTS bisa turun di Siam Square atau National Stadium).  Sejumlah pusat perbelanjaan ternama yaitu MBK, Siam Paragon, dan Discovery Center merubung persimpangan tersebut.  MBK terutama sangat popular karena berbagai barang murah berkualitas bagus dan foodcourt yang memikat.  Di sini juga ada mushola untuk yang perlu menunaikan salat di tengah-tengah berwisata.

Siam Paragon lebih mewah daripada MBK, dan menjadi favorit saya antara lain karena di sinilah terletak salah satu cabang Kinokuniya Bangkok.  Saya juga menyenangi Paragon karena di bawah tanahnya terdapat foodcourt yang menyediakan makanan halal.  Terlebih dulu, tukarkan deposit uang (misalnya 200 Baht) dengan kartu magnetik, yang lantas Anda berikan kepada penjaga kedai makanan.  Deposit Anda akan dipotong sesuai harga makanan dan minuman yang Anda pesan.  Setelah selesai makan, tukarkan kembali kartu untuk memperoleh sisa uang.

Daya tarik lain Paragon adalah hypermarket Gourmet Market (tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari ataupun oleh-oleh seperti cokelat) beserta kios-kios makanannya yang menggugah selera.  Ada pula Siam Ocean World yang memungkinkan kita seolah memasuki laut untuk melihat-lihat kehidupan di dalamnya.

Jembatan pejalan kaki yang menghubungkan MBK dengan stasiun BTS National Stadium dan Siam Paragon/Discovery.

Kalau soal makanan, jika Anda lapar saat sedang berjalan-jalan namun tidak ingin makanan berat, cobalah kunjungi kedai-kedai makanan di stasiun-stasiun BTS.  Macam-macam yang mereka tawarkan, mulai dari kue-kue manis sampai sushi siap makan.  Pokoknya, asal jangan disantap di dalam kereta.

Untuk yang ogah barang palsu atau KW2, produk bermerk asli Thailand yang saya rekomendasikan adalah Jim Thompson (kain, tas, dompet, dan lain-lain) serta arloji Link Graphix, yang menampilkan karya para desainer muda Thailand.

Menonton bioskop

Menonton bioskop?  Hmmm… apa istimewanya?  Ada sensasi tersendiri, lho.  Yang pernah saya coba adalah menonton di bioskop Paragon Cineplex.  Ukuran bioskopnya besar sekali.  Dan yang unik, sebelum pemutaran setiap film, terlebih dahulu diputar video yang berisikan kegiatan sang raja, diiringi lagu yang menyanjung-nyanjung beliau.  Selama video diputar, semua pengunjung, termasuk orang asing, harus berdiri sebagai tanda penghormatan.  Pengalaman ini cukup meninggalkan kesan bagi saya, yang berasal dari negeri yang tidak mengenal tata cara semacam ini.

Menonton pertunjukan malam

Nama Bangkok memang juga lekat dengan hiburan malam.  Sebagian orang mungkin akan langsung terkikik geli mengingat hiburan ‘nakal’ yang marak di sejumlah kawasan Bangkok, misalnya Patpong.  Namun jangan keburu menganggap hiburan malam Bangkok negatif semuanya, meski dibawakan oleh para waria yang sering dicap buruk di Indonesia.  Jangan salah, di Thailand, waria bisa memperoleh pekerjaan biasa seperti orang-orang lainnya, misalnya menjadi penjaga toko, tidak melulu sebagai penghibur jalanan atau tukang salon seperti yang menjadi stereotipe di Indonesia.  Dan kabaret waria adalah pertunjukan terhormat yang disiapkan dan diselenggarakan dengan serius, meski isinya bisa jadi mengocok perut Anda habis-habisan.

Teater kabaret waria yang terkenal di Bangkok adalah Calypso, yang menggelar pertunjukan setiap malam di Hotel Asia (naik BTS, turun di stasiun Ratchatewi, ada pintu keluar langsung ke dalam hotel tersebut).  Cobalah minta hotel memesankan tiket untuk Anda, atau coba pesan online di ThaiTicketMajor.  Tanpa makan malam, harga 1 tiket adalah 900 Baht termasuk first drink (ada teh atau kopi juga).  Tersedia pula merchandise Calypso yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan, misalnya DVD pertunjukan mereka.

Seusai pertunjukan, para pemeran kabaret akan berjejer rapi mengapit jalan menuju pintu keluar.  Anda boleh berfoto dengan mereka, namun jangan lupa selipkan sedikit uang tip ke tangan para artis.  Mereka ramah-ramah dan baik-baik, kok.  Tidak perlu merasa seram hanya karena mereka ‘waria’.  Ups, sebagian di antara mereka bahkan lebih cantik dari perempuan asli, lho!

Yang juga boleh dicoba adalah menonton pertunjukan Siam Niramit yang gegap-gempita.

Bersantailah

Jangan terlalu terburu-buru menyusuri Bangkok gara-gara bernafsu mengunjungi tempat sebanyak-banyaknya.  Temukan tempat yang nyaman, dan bersantailah sejenak, menikmati irama kota ini.  Saya punya dua tempat favorit untuk beristirahat sambil mencicipi minuman dan penganan di Bangkok.  Yang pertama adalah cabang Au Bon Pain di persimpangan  dekat Grand Palace.  Setelah berterik-terik menjelajahi Grand Palace, selalu menyenangkan rasanya memasuki gedung kecil berarsitektur Eropa ini dan memesan minuman dingin.

Bagian dalam Au Bon Pain dekat Grand Palace.

Tempat kedua favorit saya adalah cabang Subway merangkap Coffee World di dekat stasiun BTS Nana.  Meskipun meja dan kursinya bergaya restoran cepat saji yang tidak terlalu menghiraukan kenyamanan jangka panjang pengunjung, restoran yang buka 24 jam ini cukup menyenangkan untuk dijadikan tempat nongkrong.

Carrot cake juara dari Coffee World!

Kunjungi beraneka ragam wat

Saat berlayar di Chao Phraya, sempatkan meninjau Wat Arun alias ‘Kuil Fajar’, tempat Buddha Jamrud dahulu disimpan sebelum dipindahkan ke Wat Phra Kaeo di Grand Palace.  Dengan kapal, turunlah di Maharaj Pier, lalu ambil feri menyeberang sungai (tidak ada dermaga khusus feri turis di depan Wat Arun).  Bila Anda tidak gampang gamang, cobalah mendaki tangga yang curam sampai ke puncaknya.

Wat Arun alias ‘Temple of Dawn’

Di dekat kompleks Grand Palace, juga ada Wat Po yang bisa dicapai dengan berjalan kaki.  Di sinilah terdapat patung raksasa Buddha tidur, dan juga patung prajurit farang (orang asing) yang terlihat unik dengan penutup kepala mereka yang bergaya Barat.

Kepala sang Buddha tidur.

Genta di Wat Po.

Perhatikan betapa kecilnya manusia dibandingkan ukuran sang Buddha tidur.

Salah satu prajurit ‘farang’.

Jejeran patung Buddha di Wat Po.

Selain wat-wat yang popular tersebut, banyak pula wat lain bertebaran di seantero Bangkok.  Sebagian di antaranya tidak banyak dikenal wisatawan sehingga sepi pengunjung – yang justru membuat kita lebih bisa meresapi kekhidmatan tempat-tempat suci tersebut.  Kami pernah beruntung memperoleh seorang supir tuktuk yang mengantarkan kami ke beberapa wat yang jarang dikunjungi turis. Ia membawa kami ke Wat Ratchanatdaram Worawihan dan Wat Srakes Rajavaramahavihara.

Sampai-sampai biarawan di Wat Srakes Rajavaramahavihara bertanya kepada kami, “Dari mana tahu tempat kami ini ?”  Kami pun dipersilakan duduk agak lama di aula utama, di mana terpajang arca Buddha raksasa yang berwarna emas.  Orang yang memberi kami petunjuk menuju wat ini menyebutnya ‘Happy Buddha’.  Konon arca Buddha yang satu ini mendatangkan kebahagiaan dan keberuntungan bagi yang mengunjunginya.

Arca yang disebut ‘Happy Buddha’.

Tak hanya wat-wat ‘tersembunyi’, masih banyak tempat yang bisa Anda kunjungi dan kegiatan yang bisa Anda lakukan selama di Bangkok.   Ini hanyalah beberapa sumbangan gagasan kami saja.  Jangan segan berbagi pengalaman Anda di Bangkok dengan kami, ya!

Supershow 3 Vietnam: Antiklimaks di Tengah Guyuran Hujan

This post is about Vietnam

Penunjuk suhu di dalam taksi menunjukkan 40 derajat Celcius.  Wah, kalau benar, gila betul.  Apa betul dengan suhu sepanas ini, Supershow 3 Vietnam akan diselenggarakan di stadion luar-ruang?  Apa tidak kasihan pada Super Junior yang akan tampil menghibur para penggemarnya di konser terakhir dalam rangkaian SS3?

Suhu itu sebenarnya saat siang hari, ketika kami menuju Lotte Mart di Distrik 7 Ho Chi Minh City untuk mengambil tiket SS3 kami.  Ini pertama kali saya menjejak Distrik 7, dan kesan pertama saya tidak mengesankan.  Dulunya daerah ini rawa-rawa, lantas sekarang merupakan monster urban yang sedang dibangun.  Bangunan modern tanpa kekhasan mencolok, menjamur di sana-sini.  Banyak lahan kosong yang sudah dibuka namun kini baru ditumbuhi rumput saja.

Tempat pengambilan tiket di Lotte Mart Q7.

Sebenarnya para fans SuJu (akrab disebut ELF) memperoleh cukup banyak kemudahan untuk menonton SS3 Vietnam.  Tiket bisa dibeli dengan mudah melalui situs internet dengan pembayaran kartu kredit.  Fans bisa juga menitip beli ke fanbase yang berpangkalan di Vietnam.  Bukti pembelian tiket ditukarkan sejak H-7 di Lotte Mart Q7 atau pada hari-H di stadion Go Dau yang terletak di Binh Duong, sebuah kota kecil dekat HCMC.

Tidak ada antrian di tempat pengambilan tiket, barangkali selain karena masa pengambilan tiket yang cukup panjang, loket yang tersedia juga cukup banyak, sesuai kelas tiket yang dibeli.  Dan satu alasan lagi: kali ini konser SuJu gagal sold-out.  Konon dari 11.000 lembar karcis yang tersedia, tersisa 60% yang tak dilirik pembeli.  Apakah penyelenggara kelewat optimistis memperhitungkan jumlah penonton, dan mematok harga terlampau mahal?

Selain mengambil tiket pertunjukan, kami juga membeli tiket bis pulang-pergi seharga 95.000 VND (Dong) menuju stadion Go Dau.  Setelahnya, kami harus ke bandara untuk mengambil koper anggota rombongan kami yang kemarin sempat ‘lenyap’ namun telah ditemukan kembali.  Kebetulan waktunya bersamaan dengan tibanya pesawat yang membawa Eeteuk, Heechul, Yesung, dan Shindong dari Korea.  Wah, ELF tampak menyemut di pintu keluar kedatangan.  Sebentar-sebentar mereka berseru-seru meneriakkan nama Super Junior.  Para wisatawan yang tidak ada sangkut-pautnya dan baru tiba, tampak keheranan ketika melihat sedemikian banyak orang, terutama remaja perempuan, mengerubung.  Bahkan ada yang memotret dan memfilmkan segala kerumunan itu!

Bersyukurlah foto ini tidak bisa memancarkan bau.

I’m waiting outside!  There are so many young girls!  It’s dangerous, dangerous!”  Tanpa sengaja saya mendengar seorang pria berbicara di telepon genggam kepada rekan yang ia jemput.  Hahaha, memang cukup ‘mengerikan’ sih melihat orang sebanyak ini, yang tampak antusias sekali.  Sebagian bahkan menunggu dari malam, meskipun pesawat para anggota SuJu yang tidak tergabung dalam subunit SuJu M dijadwalkan baru tiba pukul 2 lewat.  Bau kerumunan sudah tidak keruan—kebayang kan, HCMC sedang panas-panasnya.

Sorak-sorai semakin keras ketika layar pengumuman menyatakan pesawat dari Seoul telah mendarat.  Namun kegelisahan terasa semakin meruak ketika menit demi menit berlalu dan para anggota SuJu tak muncul juga batang hidungnya.  Mendadak ada yang meneriakkan sesuatu, dan tangis sejumlah fans kontan pecah.  Oh la la.  Ternyata ada yang mendapat kabar, yang dinanti-nanti sudah berada di hotel.  Mereka keluar dari pintu kedatangan domestik.  Kecele, deh.  (Petang harinya, SuJu M juga berhasil mengecoh fans dengan keluar dari pintu VIP.)

Keesokan hari, kami minta diantar taksi ke tempat bis-bis khusus SS3 menanti.  Kami dan juga supir taksi sempat kebingungan mencari alamat yang dimaksud, karena ternyata ada nomor salah pada alamat yang tertera di tiket.  Untung panitia yang telah berjaga di sekitar terminal-sementara itu siap membantu mengarahkan kami.  Meski bis dijadwalkan berangkat pukul 4, ketika bis sudah cukup terisi, pukul 3  bis kami sudah bertolak, menelusuri jalan-jalan HCMC yang sempit.

Jarak yang kami tempuh ternyata cukup jauh, memakan waktu kira-kira sejam dari HCMC.  Pendingin udara yang menebarkan udara sejuk membuat mengantuk.  Uh, syukurlah kami memutuskan naik bis, bukan taksi.  Harus bayar berapa kalau kami memilih taksi?  Dan kami jadi bertanya-tanya, mengapa harus pilih tempat sejauh ini dari HCMC, padahal ada sejumlah stadion di dalam kota tersebut?

Kesan pertama kami atas Go Dau tidaklah mengesankan.  Astaga.  Rasanya di Indonesia masih banyak stadion yang jauh lebih bagus.  Hmm.  Rasanya Tennis Indoor Senayan pun jauh lebih meyakinkan daripada stadion ini.  Kondisi diperparah dengan petugas dan panitia yang kerap kebingungan atau tidak tanggap menghadapi pertanyaan penonton, seperti di mana harus mengantri dan lain sebagainya.

Sudut curcol.

Sambil menanti gerbang-gerbang dibuka, kami melihat-lihat barang-barang yang dijajakan di depan stadion (tidak ada yang ofisial) dan menengok spanduk-spanduk yang dipasang fanbase di pagar sekeliling.  Ada pula penggemar yang membagi-bagikan karya yang disiapkan untuk proyek.  Kami juga bertemu sejumlah ELF Indonesia lain.

Orangnya sudah nggak ada, spanduknya saja. EH NGGAK KOK, MAAF HAN GENG.

Ketika akhirnya gerbang dibuka, penonton berhamburan masuk.  Kami yang di tribun agak santai, namun saya sempat tegang juga ketika tiket saya diperiksa oleh petugas berseragam yang sepertinya sok sekali membolak-balik tiket saya.  Sebenarnya dia mengerti tidak ya seharusnya tiket yang benar seperti apa?  Jahat memang, tapi tak pelak saya berpikir begitu.

Ya, mendingan foto bareng di sini saja. Di dalam nanti jauh sekali.

Sewaktu melangkahkan kaki ke dalam stadion… walah, apa-apaan ini?  Stadion ternyata berbentuk melingkar.  Panggung SS yang biasanya sampai mengelilingi tempat penyelenggaraan, ‘disunat’ jadi di tengah-tengah saja.  Yang lebih konyol, semua kelas yang duduk, jauh sekali letaknya dari panggung!  Bahkan zona A yang paling mahal pun, ada sekitar 4 meteran jauhnya dari bibir panggung!  Hanya kelas free standing yang dekat dengan panggung, itu pun relatif sepi.

Pemegang tiket duduk paling murah nyaris tak bisa melihat panggung, saking miringnya letak kursi mereka.  Namun rupanya karena menyadari penonton bakal ‘bolong-bolong’, panitia meminta semua yang ada di zona E dan G untuk bergeser memasuki zona D dan F yang tiketnya lebih mahal.  Nah lho!  Kalau saya beli zona D & F, saya bakalan kesal, tuh.  Tahu begitu buat apa saya mengeluarkan uang lebih banyak, coba?

Barangkali pengaturan posisi penonton terkonyol yang pernah saya lihat.

Pertanyaan-pertanyaan kembali bermunculan: kenapa ya zona-zona duduk di bagian samping tidak ditiadakan saja, dan lebih banyak tiket free standing dijual sehingga sekeliling panggung terpenuhi penonton?  Kasihan penonton, kasihan SuJu yang jadi sulit berinteraksi dengan para fans.  Singkatnya, pertunjukan jadi rada ‘garing’.  Sudah jauh, gelap sekali pula, sehingga segala proyek yang sudah capai-capai disiapkan menjadi sia-sia.  Bagaimana SuJu mau lihat?

SuJu sendiri tampil memukau seperti biasa.  Meski hawa panas mencekik, mereka tetap tampil dengan kostum yang mereka kenakan di konser-konser SS3 lain—tapi dikabarkan mereka tidak memakai make-up agar tidak luntur.  Hhhh, ya iyalah!  Kami saja kegerahan, apalagi mereka yang biasa hidup dalam iklim Korea.  Peralatan panggung yang diboyong dari Malaysia sih cukup lengkap, mulai dari rangkaian layar melingkar yang bisa naik-turun, sling untuk membuat para personil SuJu melayang di udara, hingga layar khusus untuk Rinaldo.

It’s a bird, it’s a plane, it’s… kayaknya SuJu deh…

Sadar jarak yang memisahkan mereka dengan sebagian besar penonton amat besar, para personil SuJu bergantian mendekati ujung-ujung panggung dan melambai-lambai bersemangat ke arah para fans yang duduk di seberang lautan.  Ini sukses membangkitkan kembali semangat para penonton yang berkali-kali tampak agak lemas.  Namun keadaan memburuk ketika hujan mulai turun.  Sejak pertunjukan belum mulai memang guntur terdengar beberapa kali,  dan yah… kejadian deh.  Jangankan penonton, SuJu pun basah kuyup.  Yang lebih mengesalkan lagi, gara-gara hujan, dua layar di kanan-kiri panggung ditutupi terpal.  Terpaksa hanya mengandalkan layar tengah, yang tidak terlihat jelas dari sebagian zona.

Yang agak membuat risih bagi saya dan teman-teman adalah fanbase Only-13 yang amat kuat di Vietnam.  Henry Lau dengan penampilan manisnya membawakan Baby Justin Bieber masih cukup mendapat sambutan.  Namun ketika giliran Zhou Mi—yang tampil sangat energik—banyak light stick yang dimatikan, dan nyaris tak ada yang meneriakkan namanya.  Auch!  Fans Indonesia langsung bertekad tak akan membiarkan hal itu terulang di Jakarta!

Ketika pertunjukan nyaris berakhir dan SuJu berusaha melemparkan bola-bola ke arah penonton… uh, ya, pada awalnya, tak ada satu pun lemparan mereka yang sampai.  Lha wong jauh sekali!  Namun para anggota berusaha lebih keras melempar hingga mencapai kursi penonton zona A dan B.  Zona-zona lain ya kebagian melihat saja.  Kalau SuJu punya meriam, baru mungkin bola-bola mereka bisa mencapai zona D sampai G.

Akhirnya SuJu pun menutup pertunjukan mereka.  Sepertinya sih Eeteuk mengakhiri salamnya dengan mengatakan sesuatu tentang Indonesia, tapi tidak seorang pun di rombongan kami menangkapnya dengan jelas.  Barangkali ada yang mendengar?

Kami pulang dengan basah dan kelelahan menggunakan bis dari panitia.  Tiba di HCMC, hujan masih terus mengguyur.  Agak lama baru kami bisa memperoleh taksi yang mengantar kami pulang ke penginapan.  Haduh.  Benar-benar pengalaman tak terlupakan, deh.  Para fans Indonesia pun memutuskan untuk menonton SS4 di tempat lain saja—syukur-syukur di Jakarta.  Bahkan teman saya, ELF Vietnam, mengatakan sudah mulai menabung, karena khawatir SS4 tak akan mampir lagi ke negaranya.

SS3 Vietnam terasa seperti antiklimaks bagi seluruh rangkaian konser SuJu kali ini.  Saya sih bersyukur bisa menonton SS3 Vietnam, namun tetap saja saya berharap: Semoga lain kali kita semua bisa menonton SuJu dalam kondisi dan dengan fasilitas yang jauh lebih baik!

Sebagian foto diambil oleh Ayu Palar.

Lompat hari

May 2011
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Arsip Lompat-lompat