Mencari kopi putih ke Ipoh, Agustus 2017 (Bagian 1)

Eeeetsss… belok sedikit yuk dari Jepang, dan mampir ke Malaysia. Jadi saya pernah bercerita kan, kalau saya dan teman saya P (di sini marilah kita sebut dia secara lebih lengkap, yaitu Pila…) pergi berlibur ke Malaysia pada Agustus 2017? Nah, saya belum menjabarkan lagi pengalaman kami di sana. Jadi marilah saya mulai cicil…

Kami tiba di KLIA 2 tanggal 17 Agustus pukul 04.35 waktu setempat, alias sewaktu masih pagi buta. Ini memang kami sengaja karena selain tiket pesawatnya lebih murah, kami juga jadi menghemat waktu: Tidak perlu cuti hari sebelumnya, tidak perlu menginap di bandara, dan lebih banyak waktu yang bisa kami habiskan pada tanggal 17 Agustus itu. Apalagi untuk pergi ke Ipoh, kami masih harus menaiki bis beberapa jam lamanya. Kalau baru 17 Agustus pagi berangkat dari Jakarta, dilanjutkan naik bis ke Ipoh, bisa-bisa pagi dan siang habis di jalan.

Saya baru sekali mendarat di KLIA 2, karena terakhir kali saya singgah di Malaysia adalah sebelum AirAsia pindah ke bandara ini. Sudah lama sekali, ya! Terkagum-kagum juga saya melihat ukuran dan fasilitasnya, apalagi bila dibandingkan dengan bandara lama yang AirAsia gunakan, KLIA LCCT. (Begitu-begitu juga, LCCT menyimpan banyak kenangan, tuh…)

Perjalanan kami ke Ipoh akan dilanjutkan dengan bis Yoyo seharga RM 45 per orang, yang tiketnya kami beli melalui Internet. Bis ke Ipoh berangkat langsung dari terminal di KLIA 2, sehingga kami tidak perlu ke Kuala Lumpur dulu. Kami menghitung-hitung waktu agar sempat solat subuh dan sarapan santai terlebih dahulu, juga mempertimbangkan kemungkinan pesawat terlambat, sehingga kami memesan tempat duduk di bis pukul 8.40 pagi. Ternyata meski bersantai-santai pun, kami masih punya waktu sekitar empat puluh menit sebelum bis kami tiba.

Setiap tempat perhentian bis ditandai dengan jelas, lengkap dengan petunjuk bis apa yang berikutnya akan berhenti untuk mengambil penumpang di situ dan kapan.

Bisnya sih datang tepat waktu. (Kenapa ‘sih’? Nah ini ada ceritanya, sebentar lagi…) Kami menunjukkan bukti pemesanan tempat duduk kepada petugas, dan kami pun naik menempati kursi yang telah kami pesan. Maklum hanya sempat tidur sebentar di pesawat, tak lama setelah bis beranjak dari KLIA 2, Pila sudah ketiduran. Saya masih menguatkan diri agar tidak tertidur, demi melihat Malaysia yang sudah lama tidak saya kunjungi.

Belum lama bis masuk jalan tol, supir menepikan kendaraan. Waduh, ada apa nih, batin saya. Supir turun, dan untuk waktu cukup lama sepertinya berupaya mengutak-atik entah apa yang salah pada bisnya itu. Saya menatap berkeliling. Pila masih terlelap, penumpang-penumpang lain tampak tenang-tenang saja, tidak ada yang marah-marah. Walhasil saya ikut tenang.

Ternyata bis tidak bisa diapa-apakan oleh pak supir. Namun ia telah menelepon kantornya, dan mungkin juga karena kami belum terlalu jauh dari bandara, bis pengganti tiba cukup cepat. Akhirnya kami memindahkan diri dan bawaan ke bis yang baru, dan perjalanan kami pun berlanjut lagi. Bis bersih dan penyejuk udaranya nyaman, sehingga saya pun akhirnya jatuh tertidur juga, dan baru terbangun setelah Ipoh sudah tidak jauh lagi.

Bis kami berhenti di Terminal Amanjaya yang sebenarnya masih berada di luar pusat kota Ipoh. Terminal ini sebenarnya bagus, besar, dan masih tampak cukup baru. Akan tetapi, suasananya sepi, dan sejumlah restoran ternyata tutup (permanen). Suasana lantai bawah lebih ramai daripada lantai atas, namun tetap saja tidak banyak penumpang bis hari itu.

Kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran Cina-Muslim yang ada di lantai atas. Pemiliknya menyambut kami dengan ramah. Kami pun mengisi perut dengan nasi dan lauk-pauk yang kami pilih sendiri dari sejumlah pilihan yang disajikan. Enak dan murah-meriah.

Setelahnya, kami mencari cara menuju ke pusat kota. Seharusnya sih ada bis lokal, tapi jadwalnya tidak begitu sering, dan rutenya juga – kalau menilik dari informasi yang kami cari di Google – cukup berputar-putar. Padahal kami sudah terbayang ingin beristirahat dengan enak di hotel, apalagi hari sedang panas. Kami mencoba mencari mobil lewat aplikasi Uber yang ada di telepon genggam Pila, namun entah kenapa dia gagal log-in. Akhirnya kami memutuskan naik taksi lokal saja.

Sebenarnya sih, sudah dari tadi kami lihat deretan taksi lokal ini. Namun kami ragu-ragu karena mobil-mobil mereka tidak dapat dikatakan bagus.  Banyak yang sepertinya berasal dari tahun 1990-an. Akan tetapi, taksi-taksi semacam ini memang hal yang umum saya temui di Malaysia. Orang-orang Jakarta yang biasa mengeluhkan soal taksi-taksi lokal kita mungkin bakal tambah panjang lagi keluhannya melihat taksi-taksi semacam yang ada di Ipoh ini.

Namun, sudahlah. Kami berdua sudah bersepakat menghabiskan uang lebih yang penting bisa cepat sampai di hotel. Toh meskipun tidak pakai argo, tarif taksinya sudah ditetapkan ini sesuai kawasan tujuan. Tarif tersebut terpampang di sebuah papan pengumuman di dekat tempat menunggu taksi itu.

Mobil taksinya memang tidak bagus, namun supirnya cukup ramah, meski sempat mengomel juga ia melihat macet di salah satu ruas jalan yang kami lewati. (Di kota kecil begini ada macet juga, ya…) Saya pribadi lumayan menikmati perjalanan dari Amanjaya sampai ke hotel. Maklumlah, baru sekali pemandangan ini saya lihat. Ke mana pun mata memandang, tampak perbukitan menjulang yang mengelilingi Ipoh. Di beberapa tempat, terlihat kuil-kuil yang memang banyak dibangun di dekat atau di dalam tebing bukit di kawasan ini.

Akhirnya kami tiba di M Boutique Hotel, hotel pilihan kami kali ini. Sebenarnya saya agak harap-harap cemas karena hotel ini terlihat cantik dan mewah sekali di foto-foto yang kami temukan di Internet, namun harganya murah sekali. Semacam too good to be true. Nanti tahu-tahu kami diminta membayar lebih, lagi. Namun ternyata tarif murah itu benar adanya. Kecantikan hotel itu pun bukan tipuan.

Baru melangkah ke dalam hotel ini pun, saya langsung jatuh cinta pada desainnya. Dan mumpung resepsionis masih sibuk mengurusi beberapa tamu, saya dan Pila langsung dengan bersemangat potret-potret kanan-kiri di lobi. Di sini, sofa-sofa modern yang nyaman dipadukan dengan perabot dan lantai kayu berwarna gelap beserta berbagai barang vintage. Di lantai dasar ini, terdapat dua restoran dan sebuah toko yang menjual berbagai pernak-pernik termasuk buatan artisan lokal.

Setelah check-in, kami langsung menuju kamar kami di lantai dua. Dinding-dinding lorong dibiarkan menampilkan warna abu-abu beton dengan aksen bata tempel dan dekorasi penunjuk jalan berwarna hitam. Ada beberapa tipe kamar, dan yang kami pesan adalah tipe The Cabin.

Sewaktu membuka pintu kamar, kami seolah tidak percaya. Whoaaaaa…. Kamar sebagus ini, beserta sarapan, harganya hanya RM 212 per malam, alias tidak sampai Rp750 ribu saat itu. (Kami memang sengaja mencari tempat penginapan yang nyaman dan lebih privat, bukan mencari dorm.) Sekujur kamar didominasi hitam-putih, mulai dari perlengkapan tempat tidur sampai tegel kamar mandi.

Detail-detail sangat diperhatikan, termasuk pesan untuk digantungkan di pintu dan ucapan selamat datang.

Selain dua botol air putih sebagai servis, juga terdapat dua kantong kecil kudapan lokal. (Cara bagus untuk berpromosi!) Tulisan tangan dari pegawai hotel menambah rasa ‘akrab’.

Kami juga memperoleh kopi dan teh dalam saset. Kopinya Old Town, karena pemilik hotel ini tak lain tak bukan adalah salah satu pemilik jaringan kafe tersebut. Tidak heran di lantai dasar hotel terdapat sebuah cabang Old Town yang cukup besar.

Kecuali kenyataan bahwa tidak ada pintu yang memisahkan area tempat tidur dan area toilet/mandi, kamar ini sangat nyaman! (Oh ya, kalau Anda bertanya-tanya, ih… ga ada pembatasnya, baunya masuk ke kamar tidur, dong? Jawabannya: enggak kok. Asal Anda jangan lupa siram setelah menyelesaikan urusan di toilet, ya…)

Setelah beristirahat sekaligus menunggu terik matahari siang agak mereda, kami akhirnya berani keluar lagi dari ‘liang’ kami yang nyaman ini. Yah, sewaktu kami keluar, sebenarnya masih lumayan panas, namun rasanya sayang membuang sore hari ini. Kami menelusuri jalan besar, rute yang sebenarnya agak merepotkan karena sebagian badan jembatan yang harus kami lewati sedang diperbaiki. (Nantinya kami tahu bahwa sebenarnya ada sejumlah alternatif yang lebih pendek untuk menuju kawasan pusat kota tua. Tapi kali ini, yah maklumi saja deh, namanya juga baru pertama kali. Hitung-hitung, sekalian lihat-lihat.)

Apa saja yang kami lihat di Ipoh di hari pertama kami di kota itu? Bersambung ke bagian berikutnya, ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Lompat hari

March 2018
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip Lompat-lompat

%d bloggers like this: