Sapporo, ibukota prefektur paling utara (2) Maret 2015

sapporo-19

Ups… maafkan saya, baru sempat menulis lagi untuk blog ini. Gara-garanya, bulan Februari lalu saya sempat kembali ke Jepang untuk beberapa lama. Saya antara lain mengunjungi prefektur Gunma dan Ibaraki, dan banyak sekali yang ingin saya ceritakan! Tapi sekarang saatnya melanjutkan kisah saya tentang Sapporo.

This post is about JapanSampai mana kita?

Oh ya, sampai matahari tenggelam… (Ngomong-ngomong, karena foto-foto yang saya ambil kala malam rata-rata tidak jelas, foto-foto yang saya pajang yang diambil saat siang saja, yah!)

Sekeluar dari hotel, saya memutuskan untuk terlebih dahulu melangkah ke utara, untuk mencek lokasi masjid. Saya lumayan kaget karena jalanan Sapporo ternyata sudah sepi. Iya sih, sudah gelap, namun malam kan sebenarnya turun lebih cepat saat musim dingin. Alias… Masih jam segini, orang pada ke mana aja?

Saya jadi tidak lagi heran mendapati Masjid Sapporo sudah gelap, tanpa tanda-tanda kehidupan, padahal masih menjelang waktu Isya. Mungkin populasi Muslim kota ini—yang saya duga-duga tidak seberapa besar—juga lebih memilih beribadah di rumah saja di malam musim dingin begini. Bangunan masjid sendiri tidak tampak seperti masjid dalam bayangan pada umumnya, melainkan masih terlihat sekali merupakan bangunan biasa yang dialihfungsikan.

sapporo-20

Setelah memastikan posisi masjid, saya pun berbalik badan, mengarah ke pusat kota alias ke sekitar Stasiun Sapporo. Saya hanya berpapasan dengan segelintir orang, dan hanya sedikit pula mobil yang berlalu-lalang. Seram? Tidak juga, sih. Memang agak aneh rasanya kota dengan gedung-gedung tinggi dan jalan-jalan besar ternyata senyap dan nyaris kosong seperti ini—lebih aneh daripada kota kecil seperti Otaru yang mungkin dalam bayangan kita sedari awal kita kaitkan dengan ‘sepi’. Apa begini ya rasanya jadi protagonis Silent Hill? Hiiii… eh, tapi, sungguh kok, tidak seseram itu rasanya. Saya malah memanfaatkan suasana itu untuk berbuat norak tanpa ada yang melihat.

sapporo-17

Ceritanya, di pinggir jalan besar yang menuju ke stasiun ada sebuah taman. Kecil saja, namun salju masih menumpuk tebal di situ, menenggelamkan bangku-bangku taman dan aneka ragam permainan untuk anak-anak. Jalan setapak yang asli sama sekali tidak kelihatan, hanya tertinggal jalur salju yang menipis karena banyak dilewati orang. Tanah yang sebenarnya masih terkubur salju. Saya melipir masuk ke taman itu, dan dengan girang bermain salju sebentar. Saya berhenti setelah kaki saya amblas cukup dalam. Ngeri tersangkut, saya pun dengan agak bersusah-payah berjalan kembali ke jalan utama dengan wajah seolah-olah tidak baru saja berperilaku seperti anak kecil di taman itu.

sapporo-27

Suasana stasiun dan sekitarnya, di mana terdapat sejumlah pusat perbelanjaan, kantor, dan hotel besar, masih lumayan ramai. Cukup banyak orang yang hilir-mudik, membawa tas kerja ataupun belanjaan. Memang tampaknya sebagian besar keramaian di Sapporo malam hari itu terpusat di daerah tersebut.

sapporo-18

Saya berjalan menyeberang ke bagian selatan kota. Di sinilah terletak Oodori Kouen, yang namanya berarti ‘Taman Jalan Besar’, yang tenar sebagai tempat penyelenggaraan Festival Salju Sapporo. Festival tersebut dimulai pada 1950 dan menjadi salah satu daya tarik utama Sapporo di musim dingin, tepatnya bulan Februari. Namun apabila sedang tidak ada festival seperti sewaktu saya berada di sana, dan ketika sebagian besar pohon masih meranggas, taman itu terlihat kosong dan tidak terlalu istimewa, selain mungkin bentuknya yang memanjang membelah kota.

sapporo-16

Terlihat pula Sapporo TV Tower, yang dirancang oleh Naitou Tachu, arsitek yang juga membuat Tokyo Tower. Jam digital di keempat sisinya memungkinkan orang yang berada cukup jauh sekalipun dari menara itu untuk mengetahui waktu. Saya melirik jam itu, membandingkannya dengan jam di telepon genggam saya. Iya, sama. Ketepatan waktu Jepang memang luar biasa—mungkin hanya kalah dari Swiss?

sapporo-31

Setelah sedikit berjalan-jalan di sekitar Oodori Kouen, saya memutuskan menengok Akarenga sebentar. Ups, sudah gelap. Tentu saja bangunan tersebut—yang nama panjangnya adalah Bekas Gedung Pemerintahan Prefektur Hokkaido (北海道府旧本府舎)—sudah tutup. Warna merah bangunan itu, disorot oleh sejumlah lampu, tampak mencolok di tengah kegelapan malam. Saya pun melanjutkan berkeliling, sambil mencatat dalam benak tempat-tempat yang akan saya kunjungi lagi keesokan harinya. Akarenga jelas masuk dalam daftar!

Saya kembali ke hotel, dan dalam perjalanan pulang mampir di sebuah kombini—yang namanya tak pernah saya temukan terpampang di Tokyo—untuk membeli makan malam. Sisa malam saya habiskan dengan bersantai di kamar hotel.

sapporo-03

Pagi hari, terlebih dahulu saya menyantap sarapan di Cafe taft B yang setiap pagi bersalin rupa menjadi tempat makan pagi khusus penghuni hotel. Lumayan, kita bisa mengganjal perut dengan beberapa jenis roti berbeda dan minuman panas. Sedikit kopi saat sarapan bisa membantu pagi menjadi lebih ‘nendang’!

Setelah itu, saya check-out dan menitipkan bawaan di resepsionis, sambil berjanji untuk mengambil kembali tas besar saya sekitar pukul 2 siang. Sekali lagi, saya mengarah ke selatan. Pertama-tama, saya mengunjungi Tokeidai, gedung tertua yang masih ada (didirikan pada 1878) sehingga menjadi simbol Sapporo. Saya hanya mengagumi gedung ini dari luar dan memutuskan untuk tidak masuk. Katanya sih, dalamnya biasa-biasa saja, padahal harus bayar. Seandainya saya lagi ‘tajir’ mungkin saya tidak keberatan, tapi bulan Maret itu saya banyak sekali menjelajah di Jepang sehingga saya harus pilih-pilih.

sapporo-15

Oh ya, ada satu fitur unik yang saya lihat di Sapporo namun tidak pernah saya temukan di Tokyo ataupun kota-kota lain yang terletak di wilayah yang lebih hangat: kotak-kotak berisikan pasir dalam plastik yang bebas kita ambil untuk taburkan bila jalanan terlalu licin. Juga ada tempat untuk membuang kantong plastik yang sudah kosong, yaitu di sebelah atas maupun di sebelah bawah kotak. Salju dan es adalah bagian rutin dari kehidupan di Sapporo setiap tahun, sehingga tidak heran bila kota memiliki persiapan seperti ini.

sapporo-sand

Dan karena berkunjung ke Hokkaido tidak afdol tanpa menyantap makanan hasil lautnya (meskipun saya sempat mencicipinya sedikit di Otaru), saya pun menuju Nijou Ichiba (二条市場). Kalau di Tokyo ada Tsukiji, di Sapporo ada pasar hasil laut yang satu ini. Paling asyik ya sebenarnya membeli hasil laut segar di pasar yang buka pukul 7 pagi ini. Sewaktu saya belum terlalu dekat pun, pedagang pun sudah berseru-seru menawarkan berbagai macam hewan laut segar. Sayang sekali saya tidak bisa membeli apa-apa karena tidak mungkin membawa-bawa belanjaan seperti itu sampai ke Tokyo, meskipun saya tergiur.

sapporo-21

Setelah berkeliling melalui lorong-lorong pasar menyaksikan kesibukan jual-beli hasil laut, saya masuk ke salah sebuah restoran yang berada di pinggir pasar. Seperti juga di Tsukiji, tidak perlu takut bila kita tidak bisa membeli hasil laut segar karena tidak bisa memasaknya sendiri, sebab ada berbagai tempat makan yang menyajikan hidangan siap santap.

sapporo-22

Pilihannya macam-macam, harganya juga lumayan aduhai—kebanyakan paket nasi harganya lebih daripada 1.000 yen. Mau menambah lauk terpisah juga bisa. Jadi, misalnya, kita bisa pesan kani-don (nasi kepiting), dan minta ditambahkan ikura (telur ikan). Dan bila memesan makanan lebih daripada 1.000 yen, kita memperoleh sup kepiting gratis. Kalau air putih sebagai pendamping sih sudah jelas gratis.

Ini daftar hidangan di restoran yang saya masuki sebagai gambaran. Saya rasa restoran-restoran lain di sekitar situ menawarkan kisaran harga yang serupa.

sapporo-menu

Pilihan saya jatuh pada hidangan berikut ini: nasi kepiting! Rasanya sungguh segar, berbeda dari kepiting hasil awetan (atau bahkan daging kepiting buatan).

sapporo-23

Perhentian berikutnya adalah Akarenga. Di pekarangan depan, seorang kakek menawarkan bantuan memotret saya berlatarkan gedung yang dihiasi bendera-bendera Hokkaido ini. Dengan bahasa Inggris sebisanya ia pun menyarankan saya pergi ke dalam untuk melihat-lihat lebih jauh. “Gratis!” tandasnya. Hehehe, iya Kek, saya memang mau masuk kok.

sapporo-28

Bagian luar Akarenga dengan bata merahnya memang terlihat ekspresif, namun sebelah dalamnya agak kosong dan terlihat agak usang. Terasa sekali usianya sudah lanjut. Saya pernah melihat bangunan-bangunan tua lain yang kira-kira seusia yang terawat dengan lebih baik di Jepang.

sapporo-30

Di lantai bawah, ada toko suvenir yang menarik. Selain menawarkan berbagai produk Hokkaido—rata-rata berbasis cokelat, mulai dari merek yang terkenal dan banyak dicari sampai yang belum tenar namun terasa lebih unik sebagai oleh-oleh—di toko ini juga dijual berbagai kartu pos dengan beraneka desain yang menarik. Rasa-rasanya di sinilah saya menemukan kartu pos khas daerah yang paling memikat se-Jepang. Saya mencatat dalam hati untuk kembali ke toko ini guna membeli beberapa kartu pos setelah selesai menjelajahi isi gedung.

sapporo-29

Di lantai dua, tersimpan berbagai artefak, kenang-kenangan, dan foto yang menceritakan tentang riwayat Sapporo, termasuk cenderamata dari pemerintah Indonesia. Ada juga awetan sejumlah hewan yang bisa ditemukan di Hokkaido dulu—mungkin sekarang juga masih? Saya tidak bisa membayangkan beratnya hidup di wilayah ini ketika manusia belum mengenal berbagai teknologi modern yang bisa membantu mereka tetap hangat dan nyaman sepanjang musim dingin!

sapporo-32

Saya lantas menghabiskan waktu beberapa puluh menit setelahnya untuk berkeliaran di Sapporo, sekadar menikmati kesenyapan yang menguar dari balik salju. Rasanya dunia damai sekali, di sini, nun di utara…

Dan setelah cukup lama baru saya ingat…

Saya lupa kembali ke toko suvenir Akarenga untuk membeli kartu pos, padahal saya sudah terlalu jauh.

sapporo-24

Hhhh… sudahlah. Apa boleh buat. Siapa tahu nanti di stasiun atau bandara ada toko yang menjual kartu pos-kartu pos serupa. (Pada kenyataannya, saya tidak menemukan toko semacam itu. Niat mengirimkan kartu pos yang lucu-lucu pun saya urungkan.)

Ketika sudah tiba waktu Zuhur, saya kembali ke utara, menuju Masjid Sapporo. Terheran-heran saya mendapati gedung itu masih saja sepi dan… terkunci pula! Baru sekali ini saya mendapati ada masjid yang terkunci di Jepang. Di kota-kota lain yang punya masjid yang pernah saya kunjungi, masjid bebas-bebas saja dimasuki walaupun sedang tidak ada pengurus atau siapa pun di dalam.

Di dinding depan, terpasang daftar berisikan sejumlah nama dengan nomor telepon dan bahasa yang dikuasai masing-masing orang. Instruksi yang tercantum meminta kita menghubungi salah satu orang tersebut. Saya memilih untuk menelepon salah seorang Indonesia (tentu saja!), dan suara laki-laki di seberang sana memberitahukan kode yang harus dimasukkan ke mesin di samping pintu untuk membuka kunci. (Kalau Mas membaca ini, terima kasih sekali lagi ya! Maaf tidak ingat nama Mas.)

sapporo-26

Kelar melaksanakan salat di masjid yang menjadi terasa milik pribadi itu, saya mengambil titipan di hotel dan langsung menuju tempat menunggu bis ke bandara New Chitose di dekat Stasiun Sapporo. Oleh karena keterbatasan waktu, saya terpaksa mengurungkan niat mengunjungi tempat-tempat menarik yang terletak agak ke luar Sapporo.

Oya, berikut jadwal keberangkatan bis tersebut, namun harap diingat bahwa ini adalah jadwal Maret 2015. Ini untuk gambaran saja mengenai seberapa sering dan kapan kira-kira layanan bis bandara ini tersedia.

sapporo-northexit-newchitosebus

Setelah bis bertarif 1.030 yen itu mulai bergerak, semakin berat hati saya meninggalkan Hokkaido. Ah, rasanya belum puas. Orang-orang tidak bohong ketika mengatakan Hokkaido sungguh indah di musim dingin. Hal ini sudah terbukti. Namun betulkah Hokkaido juga sama indahnya di musim panas? Sepertinya ini harus dibuktikan lain waktu!

sapporo-25

6 Comments (+add yours?)

  1. totoryan
    Mar 21, 2016 @ 02:11:15

    nasi kepiting… uwawwaaa… belum pernah makan kepiting segede gitu yg bukan olahan ahahahaha mmg wajib nih ya per-seafood-an kalau ke hokkaido… dia dibumbui apa ka? atau bener-bener polos dan fresh?

    suasana segala macem ketutupan saljunya itu pengen lihat dan rasakan dgn indera sendiri… uwuuu

    thanks for sharing ka tyas😀

    Reply

    • lompatlompat
      Mar 21, 2016 @ 02:45:40

      Sama-sama Yantiii, thanks for reading! Ga dibumbui apa-apa deh, tapi lidahku kan lidah Indonesia yah, yang biasa bumbu rame. Jadi kalaupun ada bumbu yang samar mungkin aku nggak ngerasakan. Tapi seger banget!

      Reply

  2. htetsuko
    Jun 08, 2016 @ 06:04:30

    Hee.. aku baru tau kalo hotel2 yang bentuknya begitu itu hotel bisnis. Pantesan waktu di Kyoto ukuran kamar sama menu breakfast-nya juga sama.

    Aduu enak banget itu kaisen-don kepitingnyaaa.. gede banget, itu daging utuh? Kalo kanikama mah kepiting sintetis, alias dagingnya daging ikan tapi warnanya aja kayak daging kepiting..

    Reply

    • lompatlompat
      Jun 08, 2016 @ 06:40:48

      Richmond ya? Iyaaa hotelmu tampak menyenangkaaan. Tapi Tyas emang penyuka hotel-hotel bisnis Jepang, hahaha.

      Nah iya, mending bayar mahal biar bisa icip-icip daging kepiting bener, kan. Ini aja belum puas. Lain kali kalau ke Hokkaido harus siap duit jajan yang banyak😄

      Reply

      • htetsuko
        Jun 08, 2016 @ 06:58:14

        Yang di Kyoto R&B hotel namanya.. persis deh interiornya ala2 hotel bisnis yang di foto2mu. Sarapannya juga minimalis, ga kayak waktu di Richmond. Sempet bingung (lebih ke ga percaya) check out-nya pake mesin.. dan melongo-lah diriku ketika si mesin nelen kartunya.

      • lompatlompat
        Jun 08, 2016 @ 07:36:12

        Oh iya deng.. kayaknya Richmond lebih di atas kelasnya. HAHAHAHA ya kayak gue bingung check in pake mesin😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: