Sapporo, ibukota prefektur paling utara (1) Maret 2015

sapporo-14

Apakah saya terlalu cepat meninggalkan Otaru, ya?

This post is about JapanSaya bertanya-tanya dalam hati sembari memandangi kota Sapporo yang membentang di luar jendela bis. Setelah menikmati Otaru yang kecil dan cantik, Sapporo jadi terlihat hambar. Jalan-jalan lurus dan besar, gedung-gedung bertingkat, toko dan restoran berantai yang bisa ditemukan di bagian-bagian lain Jepang. Bila dilihat sepintas saja, Sapporo tampak seperti kota-kota Jepang pada umumnya, tak tampak istimewa.

Saya menggeleng. Masa, menjejakkan kaki pun belum, sudah berpikiran begitu sih tentang Sapporo. Kan belum tentu juga bis ini melewati rute yang menarik di Sapporo (setelah sebelumnya melewati jalanan di lereng bukit di pesisir, yang menampakkan biru laut dan langit membaur menjadi satu tanpa batas yang jelas).

sapporo-12

Tidak lama setelah berpikiran begitu, bis melewati Tokeidai, gedung jam yang merupakan salah satu tetenger ibukota prefektur paling utara di Jepang ini. Gedungnya tidak besar, dan bahkan agak tersembunyi di antara bangunan-bangunan modern yang menjulang di sekitarnya. Namun terlihatnya Tokeidai membuat saya kembali bersemangat bahwa tentunya ada hal-hal menarik untuk dilihat di kota ini.

sapporo-11

Bis berhenti di Stasiun Sapporo, stasiun sentral kota yang namanya konon berasal dari bahasa Ainu, meskipun artinya masih diperdebatkan, apakah ‘lebar dan kering’ ataukah ‘lahan basah yang luas’. Ngomong-ngomong soal bangsa Ainu, ini memang masalah yang masih cukup sensitif di Jepang. Bangsa Ainu adalah penduduk asli Hokkaido (termasuk tentunya juga Sapporo) sebelum orang-orang Yamato, ‘bangsa Jepang’ yang kita kenal, berdatangan dari arah Honshu. Apa yang digambarkan bangsa Jepang sebagai ‘kerja perintis’ membuka Hokkaido, bagi bangsa Ainu adalah pengusiran dan diskriminasi. Pada tahun 2008, Diet (Parlemen Jepang) telah menyerukan diakhirinya diskriminasi terhadap bangsa Ainu dan mengakui mereka sebagai penduduk asli dengan bahasa, agama, dan kebudayaan tersendiri. Di Stasiun Sapporo, kita bisa melihat sosok seorang Ainu diabadikan dalam wujud patung yang tampak gagah. Hmm… sekilas kok tameng mereka mengingatkan saya pada tameng Dayak, ya?

sapporo-07

Stasiun Sapporo sendiri tampak cantik dan megah. Di bagian depan, ada pelataran luas tempat kita bisa duduk-duduk sambil menikmati udara Sapporo yang sejuk, atau bahkan dingin, di musim panas sekalipun. Seorang teman yang berasal dari Hokkaido, beberapa kali mengimbau saya agar angkat kaki dari Tokyo selama musim panas dan menghabiskan waktu di Hokkaido saja.

“Hokkaido itu kering, enak, sejuk, tidak lembap dan gerah seperti di Tokyo!” Ia berpromosi.

Hmm, yah, saya juga mau sih begitu, tapi masa mahasiswa ‘hilang’ dari kampusnya selama musim panas, hahaha…

O ya, di stasiun ini saya melihat ada hal unik, yaitu bentuk sebagian loker yang tipis dan memanjang. Baru agak lama saya sadar bahwa loker-loker tersebut dikhususkan untuk papan ski, olahraga musim dingin yang popular di Hokkaido.

sapporo-09

Meskipun sekilas bangunan-bangunan di pusat kota Sapporo mirip-mirip saja dengan kota-kota besar lain di Jepang, namun sebenarnya tata kota ini menyimpan keunikan. Tidak seperti Tokyo atau Osaka yang berkembang lebih secara organik menghasilkan jalan-jalan kecil dan alamat-alamat membingungkan, Sapporo dibangun dengan Kyoto sebagai model. Kedua kota ini pun menjadi mirip: jalan-jalannya tersusun membentuk kisi-kisi, atau grid system.

Jalan utamanya adalah Oodoori (大通りalias ‘Jalan Besar’), yang merentang dari timur ke barat dan membagi kota ini menjadi bagian utara dan selatan. Sebuah sungai, Souseigawa, lantas membagi lagi kota ini menjadi barat dan timur. Dari sinilah kita bisa memperoleh koordinat untuk setiap blok di kota, misalnya ‘Utara 1 Barat 5’. Dengan demikian, mencari alamat pun menjadi lebih mudah daripada di Tokyo, misalnya.

Saya melangkahkan kaki ke sebelah utara stasiun, ke sisi kota yang sama dengan tempat Hokkaido University berada. Menurut peta memang hotel saya, Business Inn Norte 2, terletak di salah satu jalan kecil yang tegak lurus dengan jalan di depan universitas tersebut. Letak hotel ini terjangkau dengan jalan kaki dari Stasiun Sapporo, namun kalau tidak terbiasa jalan, lumayan juga.

sapporo-26

Selain faktor lokasi, saya memilih hotel ini juga karena harganya yang murah. Kamar privat dengan kamar mandi dalam yang dilengkapi bathtub dan segala fasilitas hotel bisnis dihargai hanya 3.200 yen/malam lewat Booking.com! Rasa-rasanya nyaris tak mungkin menemukan hotel bisnis semurah ini di Tokyo. Pergi ke kota-kota kecil memang saatnya memanjakan diri! (Yah, tentu saja saya berkata begini karena saya banyak menginap di hotel murah atau hostel. Kalau saya terbiasa menginap di hotel mewah, mungkin menginap di hotel bisnis justru adalah kemunduran.)

Alasan lain adalah hotel ini tidak terlalu jauh dari Masjid Hokkaido. Saya sudah memperkirakan bahwa saya akan sholat sekali di siang hari sebelum harus berangkat ke bandara. Nah, mengenai masjid ini, nanti saya ceritakan ya.

Sewaktu saya berhasil menemukan hotel, ternyata belum waktunya check-in. Berhubung lapar, saya melangkahkan kaki memasuki restoran bernama ‘Cafe taft B’ yang terletak menempel dengan hotel. (Esok harinya baru saya tahu, restoran ini kalau pagi berfungsi sebagai ruang makan sarapan hotel. Saat siang, ia berganti menjadi restoran yang bebas dimasuki siapa saja.) Restoran itu tidak terlalu besar, namun desain interiornya menyenangkan.

sapporo-06

Saya memesan teishoku (set hidangan lengkap), yang harganya mengejutkan: 790 yen saja! Untuk ukuran Jepang, lumayan murah kan untuk set semacam ini? Rasa bumbu ikannya memang tidak terlalu akrab dan pas di lidah saya, namun hitung-hitung pengalaman lah, mencoba-coba hidangan. Sayur-sayurannya sih enak, meskipun setiap jenis hanya diberikan sejumput-sejumput. Sedangkan rumput lautnya benar-benar terasa segar.

sapporo-04

Saya kemudian check-in, dan mendapati kejutan lain. Di meja resepsionis, hanya ada seorang ibu-ibu. Penampilannya tidak seperti penerima tamu pada umumnya, melainkan lebih seperti petugas cleaning service. Ia menjelaskan bahwa di hotel ini, check-in dilakukan di mesin yang berdiri di samping meja resepsionis. Wah, ini pertama kalinya bagi saya. Akhirnya, saya hanya mengikuti arahan dari sang ibu – saya bahkan tak ingat lagi langkah-langkah menggunakan mesin tersebut. Pokoknya, saya membayar ke mesin tersebut, yang lantas mengeluarkan kartu yang lantas berfungsi sebagai kunci kamar saya.

sapporo-02

Ibu-ibu itu mempersilakan saya menuju elevator, dan sambil jalan ia menunjukkan sebuah lemari tempat berbagai peralatan mandi dan piyama yang sekiranya kita butuhkan tersedia. Ini satu lagi keunikan hotel ini: bukannya disediakan di kamar masing-masing, aneka peralatan itu harus kita ambil sendiri dari lemari tersebut. Selain itu, kopi gratis juga tersedia di lobi ini, bukan di kamar tidur.

Dan…. seperti apakah kamar tidurnya? Seperti ini!

sapporo-01

Herannya, sewaktu melihat isi kamar yang nyaman ini, pikiran pertama saya adalah “Aduh, enaknya bisa bekerja di kamar ini.” Sebagai orang yang memang membawa kerjaannya ke mana-mana di dalam laptop, memang penginapan pun harus enak untuk dipakai bekerja.

Matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat, dan suhu semakin dingin saja. Namun saya tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk melihat-lihat Sapporo.

Tapi… ceritanya disambung di bagian kedua, ya…

4 Comments (+add yours?)

  1. totoryan
    Jan 20, 2016 @ 01:28:17

    aaaah bersambung…
    (berasa kayak nntn drama thriller lalu pas mulai seru tiba2 ketemu 「つづく」 di sudut layar) huahahaha…
    hotelnya bagus gitu harganya kayak hostel di tokyo ya ka tyas… *melirik wangi dengan otak penuh alternatif rencana* xDD

    Reply

    • lompatlompat
      Jan 20, 2016 @ 02:56:33

      Huahaha maaf… soalnya kemarin udah nulis sampai situ terus merasa agak mentok dan kalo ngelanjutin ceritanya berasa udah agak kepanjangan… eh udah belum sih? Hihihi. Bagian kedua segera diselesaikan deh.

      Iyaaa, hotel-hotel di tempat-tempat wisata kalau bukan high season (misalnya di Sapporo pas Festival Musim Salju), bisa jatuh banget kok harganya… Hotel ini kalau lagi Festival Salju sebenarnya harganya bisa 8000 yen/malam :O

      Jadi saranku kalau mau ke luar Tokyo, jauh-jauh hari coba aja cek dulu harga hotel sebelum beralih ke guesthouse atau hostel. Sering kali dapat harga yang worth it banget, karena hotel kan biasanya sudah kamar mandi dalam dan dapat sarapan.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: