Istana Akasaka, Februari 2016

akasaka04

Sebenarnya masih banyaaak sekali ‘tabungan’ cerita saya tentang Jepang dari tahun 2014-2015. Tapi kali ini kita melompat dulu ya ke tahun ini, tepatnya ke bulan Februari 2016. Soalnya, bulan lalu, berkat info dari seorang teman (thanks, Dira!) saya berkesempatan mengunjungi Istana Akasaka, yang hanya dibuka untuk umum pada waktu-waktu tertentu. Jadi saya tulis ini cepat-cepat, agar kalau-kalau Anda akan mengunjungi Jepang, Anda bisa cek apakah istana ini sedang terbuka untuk umum atau tidak.This post is about Japan

Oya, foto-foto yang saya hadirkan di sini hanya foto-foto dari sebelah luar istana. Di dalam istana, tidak boleh mengambil foto. Barangkali untuk menjaga kerahasiaan juga. Maklumlah, istana ini sebenarnya masih menjalankan fungsi penting, yaitu sebagai tempat penginapan tamu negara.

Istana Akasaka – atau dalam bahasa Jepang dikenal sebagai Geihinkan (Wisma Tamu Negara) – dibangun pada 1909 sebagai istana bagi putra mahkota. Lahan tempat berdirinya istana merupakan bagian dari tanah yang dahulu dimiliki klan Kishu-Tokugawa, salah satu cabang utama keluarga Tokugawa yang berkuasa di zaman Edo. Bahkan sejak awal, istana ini dibangun sebagai struktur yang tahan gempa dan tahan kebakaran.

Akan tetapi, istana ini nyaris tak pernah dipakai sebagai tempat tinggal putra mahkota. Hanya Kaisar Showa dan kaisar yang sekarang pernah menempati bangunan ini untuk waktu singkat. Setelah Perang Dunia II, dan setelah sempat berganti fungsi beberapa kali, istana ini direstorasi dan dijadikan istana tamu negara. Restorasi selesai tahun 1974, dan ada bangunan tambahan bergaya Jepang yang juga diresmikan untuk menerima tamu dalam suasana tradisional Jepang. Tapi saat istana ini dibuka untuk umum, hanya pengunjung dalam jumlah tertentu yang diterima ke bangunan tambahan (annex) ini, itu pun harus mendaftar dulu lewat situs web. Pendaftaran ditutup beberapa minggu sebelum istana dibuka untuk umum, dan sayangnya saya terlambat mendaftar.

akasaka01

Saya dan seorang teman yang bekerja di Jepang datang sebelum pukul 10 pagi, waktu ketika istana dijadwalkan dibuka. Kami turun di Stasiun Yotsuya, dan dari situ berjalan kaki ke arah gerbang istana. Tidak begitu jauh, kok. Di seberang bagian depan istana, kami harus terlebih dahulu mengambil tiket masuk (gratis) dari petugas. Di tiket itu tertera tanggal berlakunya tiket (tanggal hari itu adalah yang dilingkari), dan bahwa kami diperbolehkan masuk dari pukul 10 pagi sampai 4 sore. Sedangkan kami harus mengantri di gerbang barat, bukan di gerbang utama. Jadi, saya dan teman pun menelusuri pagar luar istana menuju gerbang barat.

Dari sebelah depan pun, istana ini sudah tampak mengesankan. Gayanya neo-Baroque, sangat Eropa. Sepintas, rasanya tidak seperti berada di Jepang.

Di gerbang barat, kami diminta mengantri untuk satu per satu menjalani pemeriksaan. Antriannya panjang mengular, namun karena semuanya tertib dan para petugas bekerja siap, barisan bergerak cukup cepat.

akasaka02

Sebelum gerbang pendeteksi logam, ada meja khusus untuk pendaftaran ulang para pengunjung yang mendapatkan izin memasuki bangunan tambahan bergaya Jepang. Selain itu, ada mesin sinar-X untuk memeriksa bawaan kami. Apabila kita membawa minuman, petugas akan meminta kita meminum seteguk untuk memastikan yang kita bawa bukan cairan berbahaya. Hanya ada pemeriksaan tubuh (body check) minimal yang dilakukan dengan sangat sopan.

Lepas dari gerbang detektor logam ini, ada sejumlah loker gratis untuk pengunjung yang hendak menitipkan bawaan yang susah dibawa-bawa. Ada pula toilet umum untuk yang ingin mengosongkan ‘bawaan’ dulu, karena di dalam istana nanti tidak ada kamar mandi yang terbuka bagi pengunjung.

akasaka05

Ketika akan memasuki istana, kami berbaris lagi menunggu giliran diperbolehkan masuk ke istana. Agar di dalam pengunjung tidak menumpuk, setiap kali petugas hanya mempersilakan masuk pengunjung dalam jumlah tertentu.

Sampai di dalam, kami tercengang-cengang. Istana ini bukan hanya besar melainkan juga indah. Sungguh sayang, barangkali karena alasan keamanan, di dalam istana tidak boleh berfoto-foto. Pengunjung pun hanya boleh mengikuti alur yang telah ditetapkan. Sebagian besar ruangan tertutup dan off limit bagi pengunjung. Tidak apa-apa juga, karena melihat 4 ruangan utama dan lobi istana pun sudah membuat kami terkesima. Koridor-koridor memang terkesan sederhana dengan dinding-dinding berwarna putih dan karpet merah. Namun, ke-4 ruangan utama yang akan saya jabarkan berikut ini dipenuhi berbagai barang dan hiasan mewah yang mengundang decak kagum, dari lantai sampai langit-langit.

akasaka03

Ke-4 ruangan itu adalah:

Sairan-no-Ma, yang namanya diambil dari nama burung legendaris ‘ran’ (phoenix), yang ditampilkan dalam relief emas di atas cermin di kedua sisi ruangan dan juga perapian. Ruang ini adalah ruang tunggu bagi para tamu sebelum rapat atau acara dimulai. Wawancara dengan media dan upacara penandatanganan persetujuan juga biasanya dilakukan di sini.

Nama ruang berikutnya, Kacho-no-Ma, berasal dari 36 lukisan minyak di langit-langit yang menggambarkan bunga (kanjinya saat dirangkai dibaca ka) an burung (cho). Ruang ini biasa digunakan untuk jamuan makan resmi yang diselenggarakan oleh tamu negara dengan kapasitas maksimum 130 orang.

Nama Asahi-no-Ma diilhami oleh lukisan di langit-langit yang menggambarkan seorang dewi yang mengendarai sebuah kereta kuda, dilatari matahari pagi (asahi). Ruang ini digunakan sebagai tempat pertemuan dan rapat penting.

Sementara, langit-langit di ruang Hagoromo-no-Ma dihiasi lukisan yang menggambarkan adegan-adegan dari drama Noh berjudul ‘Hagoromo’. Tapi seingat saya sih, di ruangan ini saya hanya melihat lukisan-lukisan bergaya Eropa, jadi mungkin drama Noh tersebut mungkin diwujudkan dalam lukisan a la Renaisans, dengan karakter-karakter bersosok bule. Tafsir seperti ini bukan hal aneh. Inilah yang dilakukan banyak pelukis Zaman Pertengahan dan Renaisans dengan kisah-kisah Alkitab.

Di ruang ini pula terpasang tiga kandelir yang paling mengesankan di Istana Akasaka. Bila cuaca sedang buruk, dalam ruangan inilah upacara penyambutan tamu diselenggarakan, juga resepsi dan konferensi. Bila sedang ada jamuan makan di Kacho-no-Ma, Hagoromo-no-Ma menjadi tempat menghidangkan minuman sebelum dan sesudah makan.

akasaka06

Puas melihat-lihat sebelah dalam, kami keluar di sisi lain istana, ke taman dengan alun-alun luas dan air mancur yang cantik. Tak heran semua pengunjung (termasuk saya dan teman, tentunya!) memanfaatkan tempat ini sebagai tempat berfoto-foto, baik sendirian ataupun beramai-ramai. Air mancur yang tampak biru muda berpadu serasi dengan dinding istana yang putih dan langit Februari yang biru cerah. Sungguh hari yang pas untuk mengunjungi istana ini!

Jadi, bila Anda akan bertandang ke Tokyo, cobalah cek situs web Istana Akasaka untuk mengetahui apakah istana ini sedang terbuka untuk umum. Semoga beruntung, ya!

akasaka07

 

2 Comments (+add yours?)

  1. mysukmana
    Mar 21, 2016 @ 09:10:40

    kota yang indah..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: