Candi dan Vihara Mendut

This post is about Indonesia

Belum lama ini, sebagian tim Lompat-lompat melompat-lompat ke Jogja.  Sayang kami hanya sebentar di sana, namun lumayanlah, kami bisa melihat berbagai tempat yang menarik, dan juga menonton sendratari Ramayana.  Memang kami tiba di saat yang kurang tepat, yaitu berbarengan dengan Muktamar Muhammadiyah.  Akibatnya, Jogja – dan juga situs-situs pariwisata di sekitarnya – sedang ramai-ramainya dengan para peserta dan penggembira muktamar.

Namun perasaan risih karena tergencet sana-sini tidak ada bandingannya dengan kemarahan menggelegak di hati kami saat melihat perilaku sejumlah ‘turis domestik’ di Candi Borobudur.  Bayangkan, warisan dunia yang dipuja jutaan orang di seluruh dunia, ternyata malah dikotori sampah oleh anak bangsa pemiliknya sendiri.  Selain itu, meski dipasangi tulisan larangan memanjat candi, ternyata justru sebagian wisatawan malah dengan sengaja menaiki candi untuk berfoto-foto – termasuk di samping papan-papan larangan!  Geram betul rasanya melihat itu semua!

Yah, terlepas dari hal menyebalkan itu, kami menikmati kunjungan kami ke sejumlah candi di sekitar Jogjakarta, termasuk Candi Mendut.  Meskipun terletak sebelum Candi Borobudur di jalan menuju candi yang luar biasa besar itu, ternyata tidak semua wisatawan berminat mengunjungi Mendut terlebih dahulu.  Barangkali karena ukurannya yang kecil, dan tidak (belum) berhasil direnovasi utuh pula.  Padahal candi ini, dan juga biara di sampingnya, sungguh menimbulkan kekaguman.  Beruntung kami menyewa jasa seorang kusir sado, yang dengan bayaran 20 ribu/penumpang bersedia mengantarkan kami ke ketiga candi yang ada di kawasan itu dan menunggui kami tanpa batas waktu.

Vihara Mendut

Salah satu bangunan dalam kompleks Vihara Mendut

Biara (vihara) di samping candi dinamai juga Mendut.  Wisatawan boleh masuk, gratis, namun tentu saja, harap jaga ketenangan dan kebersihan.  Bagaimana pun juga kompleks ini adalah tempat beribadah dan tempat tinggal para biksu.  Memasuki ruangan pun tidak boleh sembarangan, harus mencopot sepatu.

Arca di Vihara Mendut

Salah satu arca Buddha di Vihara Mendut.

Sewaktu berada di dalamnya, sejenak kami seperti lupa sedang berada di Indonesia.  Kami dikelilingi keheningan, yang makin diperkuat oleh taman yang rindang dan kolam-kolam yang tenang, serta berbagai artefak agama Buddha yang berasal dari berbagai negara, antara lain Jepang.  Ada pula sejumlah arca yang, di mata kami yang awam, terasa lebih Hindu daripada Buddha, sehingga menimbulkan kesan ‘unik’.   Mungkin ada yang bisa membantu menjelaskan hal ini kepada kami?  Hal unik lain adalah vihara ini sebelumnya merupakan biara Katolik.

Patung di Mendut

Salah satu patung yang menghiasi tepi kolam di Vihara Mendut.

Setelah melihat-lihat biara, kami menyambangi Candi Mendut di depannya.  Saat ini hanya satu struktur yang berdiri cukup utuh, itu pun tanpa puncaknya.  Sekeliling candi dihiasi berbagai relief, stupa, dan patung.  Sejumlah batu yang belum berhasil disatukan kembali menjadi bangunan dijejerkan dengan rapi di samping bangunan candi.  Sebuah pohon beringin raksasa berdiri di dalam kompleks candi.  Melihat ukurannya, pasti usianya sudah sangat tua.

Candi Mendut

Candi Mendut

Untuk mengalami perasaan paling menggetarkan saat mengunjungi Mendut, masuklah ke sebelah dalam.  Di ruangan dengan langit-langit yang membumbung jauh ke atas – sempat menimbulkan pikiran “Piramida!” dalam otak kami – berdirilah tiga arca Buddha berukuran besar dengan berbagai pose.  Mereka duduk dalam sunyi di dalam ruangan yang temaram dan dingin, saksi dari masa-masa yang telah lama berlalu.  Sungguh memalukan rasanya bila warisan tak ternilai seperti ini justru diabaikan atau bahkan dirusak oleh tangan-tangan kita sendiri.

O ya, tiket masuk Candi Mendut juga sudah mencakup biaya masuk ke Candi Pawon, jadi ada baiknya Anda juga mengunjungi candi yang bahkan berukuran lebih kecil lagi dari Mendut itu.

Lompat hari

November 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Arsip Lompat-lompat