Ueno dan Pameran Buddha Tezuka Osamu

This post is about Japan

Kalau menilik kalimat terakhir pada tulisan saya sebelumnya, maka sekarang ini seharusnya saya membahas tentang Nara, ya?  Tetapi bolehlah saya tunda niat menulis tentang Nara sejenak, dan beralih ke Tokyo (yang, setelah dipikir-pikir, masih sedikit kami bahas).  Tepatnya ke Ueno, di mana terdapat sejumlah museum yang amat memikat, juga taman, kompleks pemakaman, dan kebun binatang.  Malah sebenarnya, Ueno-lah tempat pertama yang kami kunjungi begitu tiba di Jepang.

More

Kunjungan Singkat ke Hakone

This post is about Japan

MENJELAJAHI HAKONE

Masih ingat Hakone?  Di kota yang terletak di sebelah barat daya Tokyo inilah terletak Museum Le Petit Prince yang pernah kami bahas.  Nah, dalam tulisan kami kali ini, akan kami bahas secara lebih mendalam mengenai kota kecil yang menarik ini.

Bis berbentuk ‘jadul’ melenggang di jalanan Hakone yang lengang.

Apa daya tarik Hakone? More

Kamakura: ‘Kyoto’-nya Jepang Timur

This post is about Japan

Fujisawa!

Pernah dengar nama ini?

Sebelumnya kami tidak.  Kami mampir ke kota ini pun sebenarnya dalam perjalanan menuju ke Kamakura.  Bukannya memilih kereta JR, kami memilih untuk naik kereta api swasta, Odakyu Line, untuk lantas berganti ke kereta legendaris Enoden.  Di stasiun Fujisawa ini kami sempat agak bingung juga, karena sempat harus mencari-cari jalur Enoden.

Tiket terusan ke Hakone dan ke Kamakura.

Bagian luar stasun Fujisawa, yang hanya kami singgahi sebentar saja. Stasiun ini terhubung dengan department store Odakyu, tempat kita bisa mencari oleh-oleh.

More

Shin-Okubo: Korean Town di Tokyo

Baca artikel ini dan menangkan satu buah CD TONE oleh TVXQ sebelum 21 November 14 November 2011.  Selengkapnya ada di bagian akhir artikel.

Lho, jauh-jauh ke Jepang, kok yang dibelanjakan barang-barang artis Korea juga?

Barangkali pertanyaan itu yang terlintas di benak orang-orang yang melihat isi bawaan saya sewaktu pulang dari Jepang.  Alasan yang paling mudah saya lontarkan adalah, banyak artis Korea yang merilis album dan pernak-pernik khusus Jepang, yang sulit diperoleh di luar Jepang.  Jepang memang salah satu sasaran utama pemasaran para artis dari negara tetangganya tersebut, dan negeri ini memang tak luput terlanda hallyu alias Korean Wave.  Alasan lain, ya saya memang ‘gelap mata’ saja saat mengunjungi Korean town Tokyo yang berada di daerah Shin-Okubo.

Semua bermula saat D-san (salah satu penghuni tetap rumah komunal yang kami tumpangi, masih ingat?) mengetahui bahwa saya juga menggemari hallyu.  Si penggemar SNSD ini dengan antusias menyarankan agar saya mengunjungi Shin-Okubo.  “Di sana banyak toko yang khusus menjual barang-barang Korea,” Ia menerangkan.

Sebenarnya Shin-Okubo tidak ada dalam daftar tempat yang pada mulanya ingin kami kunjungi.  Namun saya jadi tertarik juga mendengar penjelasan singkat D-san, dan untunglah teman-teman bersepakat untuk menyambangi daerah tersebut.  Kami menyempilkan kunjungan ke Shin-Okubo dalam jadwal yang sudah kami isi dengan rencana jalan-jalan ke Shibuya, Harajuku, Yoyogi, dan Shinjuku.  Sebenarnya Shin-Okubo memiliki stasiun kereta sendiri, namun kalau mau sekalian jalan, daerah tersebut bisa juga didatangi dengan berjalan kaki dari Shinjuku.  (Dan inilah yang kami lakukan.)

Trotoar nyaman, siapa takut jalan kaki?

Sebelumnya, di Shibuya, kami mampir ke salah satu cabang dari jaringan toko musik ternama Tower Records.  Cabang Shibuya menempati gedung tersendiri yang terdiri atas beberapa lantai.  Sedari lantai paling bawah, berbagai pajangan dan deretan CD serta DVD tampil menggoda.  Tanpa sadar, kelompok kami otomatis terpisah-pisah, masing-masing menuju lantai yang dikhususkan untuk rekaman dari jenis musik yang ia sukai.  Saya menuju lantai yang menjual rekaman musik Korea.

Bagian depan Tower Records Shibuya, mengundang pembeli masuk.

Oya, sebagai catatan, belanjaan di setiap lantai harus dibayar terlebih dahulu sebelum bisa dibawa berpindah lantai.  Saya juga tahu hal ini ketika tanpa sengaja membawa keranjang berisikan belanjaan melewati mesin pendeteksi label yang langsung berbunyi nyaring… waduh malunya.  Untunglah pramuniaga di lantai tersebut, seorang laki-laki muda, sangat lancar berbahasa Inggris.  Dengan sabar ia membantu saya dan menerangkan peraturan yang berlaku di toko tersebut.

Di setiap lantai, juga dipajang berbagai memorabilia artis-artis yang karyanya dijual di lantai tersebut.  Tower Records cabang Shibuya memang juga sering dipakai sebagai tempat fanmeeting ataupun konser mini, termasuk oleh artis-artis Korea.  Saya yang menggemari Park Jungmin girang sekali mendapati posternya yang bertanda tangan terpajang di lantai tersebut.  Tanpa ba-bi-bu saya langsung mengambil foto.  Baru belakangan saya sadar bahwa sepertinya sebenarnya ada larangan berfoto di situ… hehehe.  Maaf ya.

Ingin bawa pulang poster bertanda tangan Park Jungmin...

Dari Shibuya, kami berjalan kaki ke Harajuku, lantas meneruskan ke Shinjuku.  Tapi bagian yang ini, kami ceritakan lain kali, ya.  Nah, dari Shinjuku, kami jalan kaki menuju Shin-Okubo, menelusuri trotoar yang nyaman.  Untunglah hari itu kami ‘dikawal’ teman yang telah lama tinggal di Tokyo, yang membimbing kami melewati jalan-jalan kecil yang nyaman.  Tak jauh dari jalan utama Shin-Okubo, kami melewati sederetan restoran.  Di depan salah satunya, terpajang foto besar Dongbangshinki yang berbingkai.

“Itu artinya, mereka pernah makan di sini lho,” Teman kami menerangkan.  Wuah!  Bersejarah juga rupanya restoran kecil yang nyaris tersembunyi ini!  Sayang kami tidak sempat mampir untuk mencicipi hidangan di situ.

Wih, poster Dongbangshinki bertanda tangan ini, meski dipajang terbuka tanpa dijaga seperti ini, tidak ada yang mau menggondol, ya?

Ketika akhirnya tiba di Shin-Okubo, sekejap kami merasa seperti bukan di Jepang.  Toko-toko yang berderet menjual berbagai pernak-pernik artis Korea.  Supermarket menjual produk-produk Korea.  Poster-poster yang dipajang di sana-sini mempromosikan drama ataupun konser Korea.  Restoran-restoran menjual berbagai hidangan Korea.  Berbagai macam tulisan dalam aksara hallyu terpajang di sana-sini.  Dan manusia memadati kawasan ini seperti semut mengerubungi gula.

Kawasan ini memang ditata dan dikelola dengan baik.  Dari pengeras suara, dikumandangkan ucapan selamat datang ke Shin-Okubo dalam berbagai bahasa.  Para pengelola sadar benar Korean town yang satu ini telah menarik minat bukan saja para penggemar hallyu di Jepang, melainkan juga dari berbagai penjuru dunia.  Sejumlah band K-pop yang debut di Jepang juga rajin dipromosikan oleh toko-toko di kawasan tersebut.

Saya mencoba memasuki beberapa toko yang menjual pernak-pernik dan rekaman artis Korea.  Ada yang menjual umum-umum saja, dalam artian segala macam band yang sedang popular seperti Super Junior dan Big Bang ada.  Barang-barang itu ada yang asli keluaran perusahaan sang artis, ada juga yang keluaran tidak resmi (tetapi bukan palsu), namun kualitasnya rata-rata sama bagusnya.  Berbagai benda yang menggoda selera tersebut dipajang di rak khusus untuk masing-masing band atau artis.  Jadi secara sepintas lalu, tingkat kepopuleran mereka bisa diperiksa dengan memperhatikan berapa banyak orang yang merubung di depan rak-rak itu.  Tidak semua remaja atau anak muda, lho!  Ada juga oom-oom sampai nenek-nenek yang tidak malu-malu ikut sikut-sikutan memilih-milih belanjaan.

Selain toko-toko ‘umum’ seperti itu, ada pula toko-toko yang lebih terspesialisasi, misalnya khusus menjual pernak-pernik aktor film, lebih banyak menjual barang-barang DBSK, dan lain sebagainya.  Hal itu membuat keluar-masuk berbagai toko untuk mencek jualan mereka menjadi keasyikan tersendiri.  Sepengamatan saya, Jang Geun Seuk adalah aktor yang paling laris-manis dijajakan.  Lee Hongki FT Island juga rupanya memiliki penggemar lebih banyak daripada bandnya secara keseluruhan.  Sejumlah toko mempunyai rak khusus Hongki.

Sayang hari itu hujan dengan rintik berukuran cukup besar, sehingga agak sulit bagi saya untuk memotret sana-sini.  Namun kiranya beberapa foto yang saya pajang di sini bisa sedikit memberikan gambaran mengenai betapa serunya Shin-Okubo.  Saya malah tidak puas hanya sekali berkunjung ke situ.  Sebelum pulang, saya menyempatkan diri datang lagi satu kali.  Jadi, kalau kamu juga penggemar hallyu dan berkesempatan pergi ke Jepang, cobalah masukkan Shin-Okubo ke dalam rencana perjalananmu, ya!

Ingin memenangkan satu CD TVXQ berbahasa Jepang, TONE, keluaran Indosemar Sakti (Indonesia)?  Mudah saja.  Jawab pertanyaan berikut ini di boks komentar di bawah:

Seandainya bisa berkunjung ke Shin-Okubo, benda apa yang kamu ingin beli atau apa yang ingin kamu lakukan di sana?

Jangan lupa sertakan alamat surat elektronik yang bisa kami hubungi.

Jawaban ditunggu sampai 21 November 14 November 2011 ya!

CD TONE adalah sumbangan dari Ayu Palar.

Museum Ghibli, Mitaka, Jepang

This post is about Japan

Studio Ghibli!  Nama besar di kalangan pencinta animasi, apalagi animasi Jepang.

Miyazaki Hayao, otak di balik studio tersebut, punya impian mengenai sebuah museum yang tak hanya menampung berbagai memorabilia namun juga menunjukkan proses pembuatan film animasi.  Tempat bersenang-senang memuaskan imajinasi sekaligus belajar.

Sebenarnya, jujur, saya tidak tahu banyak mengenai Ghibli.  Hanya dua film buatan mereka yang pernah saya tonton.  Namun teman-teman yang sangat menyenangi Ghibli sangat bersemangat untuk mengunjungi museum tersebut, membuat saya ikut bergairah juga.  Dan ternyata… suka ataupun tidak kepada Ghibli, museum ini pasti memincut hati Anda!

Museum Ghibli, dilihat dari samping. Hmmm… kepala siapa itu yang menyembul di atap bangunan?

More

Museum si Pangeran Kecil di Hakone

This post is about Japan

Hakone.  Kota kecil, sekitar 115 menit naik kereta biasa ke sebelah barat daya Tokyo, terkenal karena pemandian air panasnya.  Sepi, dibangun mengikuti kontur gunung.  Pukul delapan malam saja toko-toko sudah tutup, dan nyaris tak ada yang berkeliaran selain turis-turis bertampang bingung seperti kami yang mengira kota itu akan sama hiruk-pikuk sampai jauh malam seperti Tokyo.

Namun siapa sangka di kota kecil itu, terletak sejumlah museum yang menyimpan warisan seni dunia dari berbagai penjuru.  Ada POLA Museum of Art; Hakone Glass Forest Venetian Glass Museum; Lalique Museum; Open-Air Museum; dan yang membuat kami penasaran… museum Le Petit Prince dan Saint-Exupéry.  Terus terang, sampai tiba di Hakone, saya tak tahu keberadaan museum ini.  Sewaktu menemukannya di peta wisata, hati saya pun tergelitik, terkenang akan buku yang saya baca bertahun-tahun lalu.  Mengapa museumnya bisa ada di kota yang mungkin namanya saja kalah kesohor dari kota-kota lain di Jepang?

More

Rumah komunal di Ikebukuro

This post is about Japan

Ikebukuro, Tokyo.

Setiap pagi, saya jadi rutin terbangun oleh bunyi gedebak-gedebuk langkah kaki para penghuni rumah yang tergopoh-gopoh bersiap-siap berangkat kerja.  Mengherankan memang.  Sudah tahu setiap hari harus berangkat cepat, namun sepertinya mereka lebih memilih bangun siang dan terburu-buru melaksanakan ritual pagi ketimbang bangun lebih awal.  Dan bunyi kegiatan mereka pun semakin terdengar heboh akibat dinding dan lantai rumah Jepang yang tipis.

Suasana jalanan yang tenang di Ikebukuro, di mana rumah tempat kami menginap berada.

More

Next Newer Entries

Lompat hari

January 2022
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Arsip Lompat-lompat