125.660 Spesimen Sejarah Alam, Jakarta

This post is about Indonesia

Lagi-lagi, kita break dulu yah dari rangkaian tulisan saya mengenai Jepang. Soalnya, saya gatal ingin menulis soal pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam yang dilangsungkan sampai 15 September 2015 di Komunitas Salihara, Jakarta. Bukan gatal karena ada hal yang membuat kesal, melainkan karena senang ada pameran semacam ini dilangsungkan di Indonesia. Meski sebenarnya sih memang sudah ‘seharusnya’ pameran tersebut digelar di sini, mengingat di Kepulauan Nusantara-lah naturalis Inggris Alfred Russel Wallace melakukan pengumpulan spesimen dan memperoleh ilham untuk teori evolusi tentang seleksi alam. Ini juga, saya kira, salah satu alasan mengapa Wallace popular di Indonesia. Saya yakin Anda pasti pernah mendengar namanya (dalam istilah ‘Garis Wallace’) disebutkan dalam buku pelajaran sekolah ketika membahas perbedaan flora dan fauna Indonesia Timur dan Barat.

sejarahalam-salihara06

More

Advertisements

Selasar Sunaryo, Bandung

This post is about Indonesia

Bandung memang telah lama menjadi kota favorit warga Jabodetabek untuk melarikan diri sejenak kala akhir minggu atau libur panjang.  Kini, berkat dibukanya sejumlah penerbangan dari dan ke bandara kota ini, Bandung semakin ramai saja dengan pelancong-pelancong yang berseliweran.  Namun selain menjelajahi factory outlet, toko-toko, dan berbagai tempat makan di kota Bandung, ada keasyikan tersendiri mencari tempat-tempat yang lebih tenang karena posisinya yang tersembunyi di sekitar Bandung.  Tempat-tempat semacam itu sering kali terletak di jalan-jalan yang sedemikian sempit sehingga bahkan tak bisa dilewati dua mobil berlawanan arah dengan leluasa.

Salah satunya adalah Selasar Sunaryo yang berlokasi di Bukit Pakar Timur no 100.  Tempat ini dimaksudkan sebagai semacam pusat berkesenian, namun tak dikehendaki menyandang nama galeri atau museum, melainkan ‘art space’.  Kedua ruang pamer yang tersedia menampilkan berbagai karya bergantian, tergantung tema atau acara khusus yang sedang berlangsung.  Bahkan saat kami sedang di sana, belum ada apa-apa yang bisa dilihat di ruang pamer, karena keduanya sedang dibereskan untuk pameran berikutnya.

Akhirnya, selain melihat-lihat arsitektur art space ini beserta taman-tamannya – yang tampaknya dipengaruhi ‘gaya’ Zen – kami pun memilih untuk bersantai di Kopi Selasar, kedai yang merupakan bagian dari Selasar Sunaryo.  Tempat makan ini tak hanya menjual makanan dan minuman, melainkan juga suasana dan pemandangan.  Di sini pengunjung juga bisa mengisi ulang baterai telepon genggam di rak-rak khusus yang tersedia.

Sayangnya karena perut saya waktu itu masih agak penuh, saya hanya ‘sanggup’ memesan secangkir kopi dan kentang goreng berbumbu pedas.  Dihidangkan hangat-hangat, keduanya pas betul jadi hidangan  pengusir dingin.

Ada sebuah toko kecil di art space ini, yang menjual buku-buku dan sejumlah cenderamata yang bisa dibeli.  Sebagian cenderamata adalah buatan tangan sejumlah seniman, sehingga tidak ada duanya.  Selasar juga menyediakan perpustakaan yang terbuka bagi umum.

Oya, Selasar Sunaryo juga menyediakan amfiteater dan pendopo untuk pertunjukan atau diskusi.  Silakan cek selalu pameran dan kegiatan yang sedang atau akan berlangsung di situs mereka ini.