Kuil Cao Dai dan Komodifikasi Agama

This post is about Vietnam

Banyak sekali tujuan wisata yang hanya berjarak tempuh beberapa jam atau satu hari dari Ho Chi Minh City, Vietnam.  Banyak kafe turis atau biro wisata yang menawarkan paket-paket semacam itu.

Setelah berunding, kami memutuskan bahwa kami akan mengambil tur seharian ke Kuil Cao Dai (yang akan kami ceritakan di sini) dan Terowongan Cu Chi.  Kami memesan paket wisata itu dari Tropic Tour (195 Bui Vien Street, District 1). Harga paket ke Kuil Cao Dai dan Cu Chi hanya 8 USD per orang, namun tidak termasuk makan siang.

Keesokan pagi, sebelum pukul 8, kami sudah bersedia di depan kantor biro wisata tempat kami memesan tur.

Kami adalah rombongan pertama yang naik ke dalam bis berpenyejuk udara yang disediakan.  Tadinya malah kami kira hanya kami—dan 2 orang perempuan lain—yang menjadi peserta tur.  Ternyata bis lantas menjemput beberapa turis lain di sejumlah hotel berbeda, sehingga bis kami pun penuh ketika akhirnya mulai bergerak meninggalkan HCMC.

Pemandu kami sudah agak tua, namun masih lincah dan berbicara dengan bahasa Inggris yang bagus—meski dia tetap minta maaf kalau-kalau ucapannya sulit kami mengerti.  Mr Hai namanya.

Bis berkelok-kelok melewati jalan-jalan kecil HCMC, menuju ke luar kota.  Saya perhatikan, warung-warung tepi jalan jarang ada yang menyediakan bangku atau kursi.  Sebagai gantinya, mereka menyediakan deretan tempat tidur gantung alias hammock.  Wah, rasanya santai sekali, tidur-tiduran di hammock sambil menyeruput es kopi susu.  Sayang kami tak punya kesempatan mencicipi cara bersantai tepi jalan ala Vietnam itu.

Mr Hai menjelaskan bahwa kami akan berhenti satu kali untuk melihat-lihat bengkel kerja tempat para korban perang membuat barang kerajinan, wujud kepedulian pemerintah.  ”Kualitasnya paling bagus,” Ia berpromosi.  Selain itu, bengkel itu menyediakan toilet terakhir yang mudah kami kunjungi dalam perjalanan ke kuil Cao Dai.

”Dulu saya pernah membawa turis perempuan yang tidak ke toilet waktu diberi kesempatan,” Mr Hai menjelaskan.  ”Ternyata sewaktu di jalan, tidak ada WC, dia kebelet.  Terpaksa kami berhenti di tepi jalan agar dia bisa pipis di belakang bis.  Eh, anak-anak setempat ngelihatin.  Sebenarnya sih tidak apa-apa, tapi turis itu malu sekali.   Akhirnya ia saya pinjami jas hujan saya, jadi dia pipis jongkok pakai jas hujan biar tidak kelihatan.”

Suvenir Vietnam

Salah satu suvenir ‘aspal’ Tintin yang bisa Anda peroleh di Vietnam

Kisahnya itu membuat kami tertawa, tapi diam-diam ngeri juga.  Kalau sampai pengalaman itu menimpa kami, bagaimana?  Jadi sewaktu tiba di bengkel kerja para korban perang, sekitar setengah jam jauhnya dari HCMC, kami langsung mengantri toilet.  Setelahnya, kami melihat-lihat sekeliling bengkel yang juga dilengkapi toko besar dan nyaman yang memajang karya mereka, yang umumnya terbuat dari kulit telur, kerang, kayu, dan keramik.  Barangnya memang bagus-bagus, namun harganya juga gila-gilaan, sebagai pemasukan bagi para korban perang.  Panel bergambar Tintin berukuran sebesar halaman komik dihargai 24 dollar Amerika.

Saya tidak tahu apa ada anggota rombongan yang membeli sesuatu, namun saya hanya cukup melihat-lihat.  Setelah rombongan lengkap, bis beranjak menuju kuil Cao Dai yang menjadi tujuan utama kami yang pertama.  Mr Hai menjelaskan bahwa di Vietnam terdapat berbagai macam agama.  Bagi kita orang Indonesia yang selalu mengidentikkan komunisme dengan ateisme, barangkali rasanya agak aneh bahwa di negara komunis ini, kebebasan beragama dijunjung penuh.  Mayoritas orang Vietnam beragama Buddha, sementara agama terbesar kedua dari segi jumlah penganut adalah Katolik.  Ada sejumlah agama minoritas, antara lain Islam, dan termasuk juga yang rada ’nyeleneh’, yang disebut Mr Hai ’agama kelapa’. Menurutnya, penganut ’coconut religion’ beribadah dengan memakan kelapa, menyanyi, menari, pijat… ”dan kadang-kadang lebih,” ujarnya kalem.

Sementara Cao Dai (dibaca kao dai) bisa dibilang agama asli Vietnam, meskipun sebenarnya penggabungan dari 7 agama.  Para penganut Cao Dai terbatas di Vietnam Selatan, dan bangunan kuil mereka memiliki gaya yang khas. Tidak mirip kelenteng, malah mungkin dengan bentuk yang kotak memanjang dan dua menara, bentuk kuil Cao Dai lebih mirip gereja.  Meskipun demikian, arsitektur kuil Cao Dai yang umumnya berwarna salem atau merah muda tetap dihiasi atap bersusun dan berbagai ornamen Asia Timur.  Kuil Cao Dai terbesar yang hendak kami datangi terletak di dekat perbatasan dengan Kamboja, dan di kiri-kanan jalan menuju ke sana, kami bisa melihat sejumlah kuil yang lebih kecil.

Bagian luar Kuil Cao Dai dan turis

Bagian luar kuil Cao Dai, turis, dan salah seorang penganut agama yang datang hendak bersembahyang. Dapatkah Anda menemukan anggota Tim Lompat-lompat di foto ini?

Keunikan lain agama Cao Dai adalah setiap pukul 12 siang, para penganut bergegas menuju kuil untuk bersembahyang, mengenakan pakaian putih-putih.  Jadi teringat sholat Zuhur, ya?  Sewaktu kami tiba di kuil Cao Dai, terlihat mereka berbondong-bondong datang, melintasi halaman parkir dan pekarangan kuil yang luas sekali.  Sebagian di antara mereka mengenakan jubah berwarna di atas pakaian putih mereka.  Mereka adalah penganut agama lain yang juga ambil bagian dalam waktu sembahyang Cao Dai.  Misalnya, yang berjubah kuning adalah penganut Buddha, yang berjubah biru adalah penganut Taoisme, sementara yang berjubah merah adalah penganut Protestan.  Buat mereka, perbedaan keyakinan tak perlu dijadikan sumber perselisihan.

Kami diperbolehkan masuk ke kuil setelah mencopot sepatu.  Di bagian kiri dan kanan kuil, terdapat selasar yang cukup luas, dengan jendela-jendela besar berhiaskan mata raksasa yang meloloskan udara ke dalam.  Aliran udara yang baik dan langit-langit kuil yang tinggi menjadikan bagian dalam kuil terasa sejuk.  Lantai berhiaskan pola rumit, sementara dinding yang berwarna salem tenang di sebelah luar, di sebelah dalam justru berwarna kuning mencolok.  Langit-langit dilukisi gambar langit sungguhan, berwarna biru, dengan awan dan bintang, disangga oleh tiang-tiang yang dililit naga.  Berhubung ini adalah gabungan dari 7 agama, maka jangan heran melihat patung Yesus bersanding dengan patung Buddha, Kong Fu Zi, Lao Tse, Guanyin, Taishang Laojun, Guangong, dan Wenchang Di.

Bagian depan kuil Cao Dai

Bagian depan kuil Cao Dai, menunjukkan arsitektur campuran

Mr Hai telah memperingatkan bahwa tidak semua bagian kuil boleh dijejak orang luar, dan memang ada sejumlah petugas yang dengan sopan mengarahkan pengunjung agar lekas bergerak menuju balkon-balkon atas.  Maklum, upacara siang mereka sudah mau dimulai, dan lantai bawah harus bersih seluruhnya dari orang yang bukan penganut.  Dari situ sebenarnya saya sudah merasa kurang enak.  Orang mau beribadah kok kita malah asyik melihat-lihat begini, ya.

Di balkon atas pun ternyata ada sejumlah penganut yang beribadah dengan duduk bersila, juga musisi dan pendendang lagu peribadahan mereka.  Nah lho, saya jadi merasa makin tidak enak, soalnya kami kan jadi mondar-mandir di depan mereka.  Kalau buat orang Jawa, rasanya tidak sopan sekali berlalu-lalang di hadapan orang yang duduk di lantai, apalagi yang sedang beribadah!  Saya sih membungkukkan badan sedikit, kebiasaan Jawa, namun para wisatawan dari negara lain yang tidak punya tradisi semacam itu petantang-petenteng saja, bahkan berkali-kali menabrak tubuh jemaah.  Sedih saya melihatnya.  Saya sih membayangkan saja, kalau saya lagi sholat lalu ditabrak-tabrak orang begitu, jangan-jangan jadi tidak khusyuk.

Ketika upacara dimulai, para turis telah memenuhi tempat di sepanjang dinding kanan dan kiri balkon atas, memanjang-manjangkan leher agar bisa melihat ritual yang sungguh terasa asing bagi kami itu.  Diiringi musik dan lantunan doa, para penganut mulai memasuki lantai bawah, secara berurutan sesuai status mereka—apakah pendeta atau bukan.  Mereka turut bersila di lantai seperti jemaah di balkon atas, lantas rangkaian ritual sesungguhnya pun dimulai, ditingkahi alunan doa yang terasa sungguh magis.  Dan para wisatawan tetap saja berlalu-lalang, sibuk memotret.  Berulang kali ada petugas yang terpaksa memperingatkan mereka.  Saat itu saya sudah muak dan memilih untuk cabut ke balkon sebelah luar yang sepi saja.

Bagian dalam Cao Dai 4

Penganut agama memasuki aula utama untuk beribadah, sementara turis memadati balkon atas

Memandang pekarangan yang luas dari balkon luar, saya jadi merenung.  Terus-terang hati kecil saya miris melihat pemandangan di kuil tersebut: komodifikasi agama sebagai objek wisata.  Saya tidak ragu bahwa kuil Cao Dai juga memperoleh keuntungan dari banyaknya turis yang datang, dan mereka juga cukup rapi mengorganisasi kunjungan turis sehingga gangguan terhadap ritual mereka bisa diminimalisasi.  Kalau kunjungan seperti itu tidak diperbolehkan, tak mungkin juga saya ada di sini, meresapi pengalaman yang cukup langka.  Namun tetap rasanya ada kekhidmatan yang tergerus di situ.  Entahlah.

Kami tidak tinggal menyaksikan upacara sampai selesai.  Kata Mr Hai, ”Dari awal sampai akhir pada dasarnya mirip, kok.”  Kami sudah harus berpindah tempat lagi, kali ini untuk makan siang di sebuah restoran tepi jalan, yang dijanjikan Mr Hai sebagai penyedia hidangan yang sedap.

Apes, bis kami dihentikan polisi lalu-lintas, gara-gara melaju terlalu kencang di jalan kota kecil.  Penyelesaiannya?  Ya, miriplah dengan di Indonesia.  ”Korupsi,”  Mr Hai menyeringai.  Supir terpaksa membayar 300.000 dong kepada si polisi sebelum kami diperbolehkan pergi.  Sewaktu menunggu supir menuntaskan urusan itu, seorang penjual lotere naik ke bis, mencoba menjajakan karcis undiannya.  Tidak ada yang membeli, namun senyum lebar tetap terpampang di wajahnya.

Lompat hari

November 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Arsip Lompat-lompat