Mengurus paspor dengan aplikasi ‘Antrian Paspor’

Kali ini saya bukan menulis tentang tempat-tempat yang saya kunjungi, melainkan pengalaman baru-baru ini mengurus paspor menggunakan aplikasi ‘Antrian Paspor’. Sebelumnya saya sempat menuangkan pengalaman saya sebagai rangkaian kicauan langsung di Twitter, namun saya pikir sebaiknya semuanya itu saya rangkum menjadi satu tulisan utuh.

Kebetulan saya memang harus memperpanjang paspor yang akan habis di awal tahun depan. Sewaktu sedang berpikir-pikir kapan sebaiknya memperbarui paspor, saya mendapatkan informasi dari akun Twitter Direktorat Jenderal Imigrasi mengenai dua hal:

  • Mulai 9 Mei 2017, ada kebijakan bahwa perpanjangan paspor hanya membutuhkan paspor lama dan KTP.
  • Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, salah satu kantor imigrasi paling sibuk, tidak lagi menerima pembuatan ataupun perpanjangan paspor dengan datang langsung tanpa mendaftar terlebih dahulu melalui aplikasi.

(Info-info di Twitter sangat membantu, sehingga terima kasih, Imigrasi!)

Sebelumnya, saya juga memperpanjang paspor di Kanim Jaksel, dan saat itu saya butuh waktu seharian penuh hanya untuk mendaftarkan perpanjangan, ditambah beberapa jam di hari lain untuk mengambil paspor yang sudah jadi. Oleh karena itu saya penasaran, apakah kondisi semrawut itu masih terjadi atau tidak dengan sistem baru ini. Maka saya pun mengunduh aplikasi ‘Antrian Paspor’ untuk Android yang tersedia di Google Playstore.

Oke, aplikasinya sudah terpasang di telepon genggam saya. Setelahnya, tentu saja saya harus mendaftar terlebih dahulu sebagai pengguna baru. Selain meminta ‘username’ dan ‘password’, kita juga dimintai NIK (nomor induk kependudukan alias ‘nomor KTP’), nomor telepon, alamat surat elektronik, dan alamat rumah.

Sudah beres? Berikutnya, tinggal pilih kantor imigrasi yang tersedia di daftar. Sewaktu saya mendaftar, yang tersedia hanya ketiga kantor imigrasi yang ada di Jakarta Selatan (Pondok Pinang, Warung Buncit, dan Lebak Bulus). Sekali lagi ya, ini catatannya… layanan dengan aplikasi ini baru tersedia di Jakarta Selatan. Jadi nggak perlu ke Playstore, memberi satu bintang sambil marah-marah “Kok baru bisa di Jakarta?”

Saya memilih yang di Warung Buncit. Langsung keluar pilihan tanggal dan periode pagi/siang (berikut kuota yang masih tersisa untuk waktu yang kita pilih), jumlah pemohon, beserta formulir data-data pemohon. Herannya, setiap kali saya sampai di bagian pengisian data, aplikasi di telepon saya crash. Saya akhirnya meminjam telepon teman, log in menggunakan akun saya, dan mendaftar lewat aplikasinya (ini bisa dilakukan karena log in untuk aplikasi ini berbasis username/password, bukan nomor telepon tempat aplikasi terpasang). Setelah beres mengisi data, saya pun mendapatkan QR code yang harus ditunjukkan ke petugas saat mengajukan perpanjangan paspor nantinya. (Jadwal dan QR code saya juga otomatis muncul di aplikasi di telepon genggam saya, sehingga saya tidak perlu membawa-bawa telepon teman saya.) Saya memperoleh giliran antara jam 9-10 pagi. Saat itu saya sempat berpikir kurang yakin, Wah bahkan jamnya saja sudah ditentukan sejak mendaftar lewat aplikasi? Bisa terlaksana tidak ya ini? Selain itu, meskipun di aplikasi juga tertera bahwa saya hanya perlu membawa paspor lama dan KTP, saya tetap menyiapkan fotokopi kartu keluarga dan akte kelahiran, untuk berjaga-jaga kalau-kalau saya dimintai dokumen-dokumen lain itu.

(Oh ya, kalau menurut notifikasi di aplikasi, harusnya sih setelah mendapatkan jadwal, kita juga akan dapat surat elektronik… tapi ternyata saya tidak dapat. Jadi saya hanya mengandalkan QR code yang saya dapatkan di aplikasi.)

Akhirnya tibalah hari yang saya pilih saat mendaftar lewat aplikasi. Meskipun saya mendapatkan jadwal jam 9 pagi, saya tetap datang pagi-pagi, lagi-lagi karena masih belum yakin bahwa pelaksanaan pengajuan paspor bisa lancar. Saya tiba sekitar pukul tujuh di kantor imigrasi Warung Buncit. Tempat parkir yang dulu biasa penuh kini sepi, dan tidak terlihat pula orang ramai. Hanya ada beberapa satpam di sebelah depan. Salah seorang di antaranya sepertinya sedang menerangkan tentang aplikasi di telepon genggam kepada dua orang perempuan yang naga-naganya datang tanpa mendaftar terlebih dahulu. Satpam lain bertanya kepada saya yang mendekat, “Sudah mendaftar, Mbak?” Saya jawab “sudah” sambil menunjukkan QR code di telepon genggam saya. Dengan gerakan tangan ia mempersilakan saya masuk. “Silakan ke ruang tunggu di sana ya Mbak, nanti pukul setengah delapan akan ada satpam yang mengarahkan.”

Saya pun masuk ke ruang tunggu yang berpendingin udara. Sudah ada sejumlah orang lain, namun jumlahnya tidak sampai memenuhi seluruh kursi di ruangan itu. Belum lama saya duduk, sekitar pukul 7.15, seorang satpam datang dan menanyakan apakah ada pelamar paspor yang berusia di atas 60 tahun, dan kalau ada, ia minta mereka mengikutinya. Sejumlah penunggu pun berdiri dan mengikuti satpam tersebut. Rupanya mereka didahulukan. Sekitar sepuluh menit kemudian, satpam yang sama datang lagi. Kali ini ia menanyakan siapa yang dapat giliran pukul 8 dan mempersilakan mereka mengikutinya. Sebagian besar orang di ruang tunggu itu berdiri. Rupa-rupanya hanya saya dan beberapa orang lain yang datang terlalu cepat. “Giliran saya jam 11, lho!” Saya mendengar salah seorang yang duduk di belakang saya menceletuk.

Beberapa lama kemudian, seorang satpam berbeda datang. “Ada yang gilirannya jam 8 lagi?” Tidak ada. “Kalau begitu silakan semuanya mengambil nomor di lantai dua.” Kami pun berpindah ke lantai dua. Di depan tangga (ada lift juga, ngomong-ngomong, siapa tahu Anda memerlukan bantuan lift), ada meja petugas yang harus kita datangi terlebih dahulu dan menunjukkan QR code di telepon kita. Petugas tersebut memindai QR code tersebut dan menanyakan apakah kita akan membuat paspor baru atau memperpanjang. Kita diminta menunjukkan paspor asli, yang datanya dicocokkan dengan data yang kita masukkan ke aplikasi saat mendaftar. Petugas lantas menyerahkan kepada kita secarik kertas dengan nomor antrian dan nama kita tercetak di atasnya. Saya mulai terkagum-kagum, wah, sampai nomor antrian pun seterperinci ini. Ia juga berpesan agar menyiapkan paspor lama dan fotokopi KTP (kalau Anda lupa, di lantai dua ini ada kios fotokopi).

Saya mengarah ke tempat menunggu yang dipisahkan oleh dinding kaca dari deretan meja-meja petugas pengurus pembuatan/perpanjangan paspor. Kalau saya tidak salah hitung, ada 14 meja petugas. Semua tampak dilengkapi nomor yang jelas, komputer, dan kamera. Layar-layar besar menunjukkan kepada pengantri, nomor berapa yang sudah dipanggil untuk mendapatkan giliran dan meja mana yang harus didatangi pemegang nomor bersangkutan. Oleh karena berpikir mungkin saya harus menunggu agak lama, saya membuka netbook dan berpikir untuk meneruskan pekerjaan…

Eh, tahu-tahu nomor dan nama saya sudah muncul di layar, diminta datang ke meja 12! Agak kalang kabut saya membereskan bawaan dan bergegas ke meja 12. Petugas meminta nomor antrian saya, juga paspor lama, selembar fotokopi paspor, dan selembar fotokopi KTP. Data-data saya langsung muncul di komputer begitu nomor antrian saya dipindai oleh petugas. Ia membandingkan sebentar data di komputer dengan data paspor saya. Tidak lama petugas berkata, “Mau rapikan rambut dulu?” Rupanya saya memang akan langsung difoto saat itu juga, tidak seperti dulu ketika saya harus melalui beberapa tahap sebelum dapat giliran difoto di tempat terpisah dari meja penerima dokumen. Lucunya, mbak di meja 12 ini bahkan menyediakan cermin kecil agar kita bisa merapikan diri! Rambut saya sih… yah, masih rapi lah. Eh, tapi kok ada jerawat satu… Ini ga bisa di-photoshop biar hilang, Mbak? (Ngelunjak.)

Si Mbak lantas memotret saya, dan kemudian memindai kesepuluh sidik jari saya. Foto dan sidik jari saya langsung masuk ke data di sistem dan terlihat di layar komputer. Si Mbak juga menanyakan jenis paspor apa yang saya inginkan (elektronik atau biasa), wawancara singkat (“Membuat paspor karena mau ke mana?”), dan apakah data-data saya sudah betul. Setelah semua dipastikan beres, ia mencetakkan bukti pengantar pembayaran.

“Bayar secepatnya aja ya Mbak. Di bawah juga bisa, di BRI, tunai.”

Saya bengong. “Sudah, Mbak? Nanti saya kembali lagi ke Mbak untuk menyerahkan ini?”

“Nggak, nanti pas ambil paspor, cukup bawa bukti pembayaran.”

Masih tidak percaya, saya berterima kasih dan meninggalkan meja 12. Saya kembali ke lantai 1, di mana terdapat sebuah cabang BRI kecil. Di depan saya hanya ada satu orang sehingga saya juga tidak perlu lama-lama mengantri. Bukti pengantar pembayaran dipindai, saya membayar, lalu bukti sebelah atas disimpan oleh pihak bank, bukti sebelah bawah diserahkan kepada saya kembali.

Selesai.

HAH, SELESAI??

Saya menatap jam di telepon genggam dengan tidak percaya. Baru pukul 8.25! Proses yang dulu memakan waktu berjam-jam sudah selesai! Gila! Saya pun meninggalkan kantor imigrasi, kembali ke kantor. Pukul 9 saya sudah berada di meja kerja. Tidak perlu bolos seharian!

Saya masih bertanya-tanya, kalau pengambilan paspornya lancar juga tidak, ya? Pembuatan paspor biasanya butuh waktu 3 hari kerja, tapi saya datang di hari keempat. Pengambilan paspor dibuka pukul 9 sampai pukul 4 sore, namun saya memilih datang saat jam makan siang dan tiba pukul setengah satu lewat sedikit. Saya langsung menuju lantai 2. Di sini terlihat ada antrian di depan petugas yang menyerahkan nomor antrian pengambilan paspor. Oh, ternyata komputernya sedang di-restart, mungkin tadi ada gangguan sedikit. Tidak berapa lama kami menunggu, komputer kembali bekerja, dan petugas pun kembali menerima pengambilan nomor antrian. Hanya butuh waktu sebentar sampai tiba giliran saya. Dipikir-pikir kalau komputer tidak sempat di-restart, berarti kami bahkan tidak perlu mengantri lagi!

Bukti pembayaran saya dipindai, dan lagi-lagi saya mendapatkan nomor antrian yang dilengkapi nama. Saya lantas menuju loket pengambilan paspor dan duduk di salah satu kursi yang tersedia. Hanya dalam waktu sepuluh menit, nomor dan nama saya telah muncul di layar. Saya bergegas menuju loket, dan petugas langsung menyerahkan paspor lama dan paspor baru saya, serta meminta saya menuliskan nama dan nomor telepon serta membubuhkan tanda tangan di sebuah buku catatan pengambil paspor.

Sudah!

Lah, sewaktu tiba di loket, paspor saya sudah tersedia, berarti paspor saya diambilnya sebelum itu kan? Berarti ketika bukti pembayaran saya dipindai, petugas di bagian pengambilan paspor juga langsung memperoleh informasi tentang saya sehingga langsung bisa mencarikan paspor saya dan menyerahkannya begitu nomor saya dipanggil. Hebat!

Akhirnya, saya menghabiskan tidak sampai setengah jam saat pengambilan paspor. Saya lebih lama menghabiskan waktu di jalanan untuk bolak-balik ke kantor gara-gara macet.

Saya benar-benar salut dengan sistem baru yang diterapkan Imigrasi dalam pembuatan paspor ini. Moga-moga, sistem ini bisa segera digunakan juga di kantor-kantor imigrasi lain, agar proses pembuatan paspor di mana pun menjadi efektif dan efisien, tidak membuang-buang waktu.

Advertisements

29 Comments (+add yours?)

  1. indrijuwono
    Jun 26, 2017 @ 15:27:29

    wiihhh, ternyata cepat banget ya. dulu masih terkagum karena waktu saya bikin SIM pun nggak sampai menamatkan 1 komik, ternyata bikin paspor di jakarta bisa cepat juga yaaa.
    selama ini sih aku di Depok dengan alasan.. dekat rumah, dan ada di jalan otw kantor… cepat juga sih emang kalau datang jam 6.

    Reply

  2. Lian
    Jul 11, 2017 @ 06:35:17

    hai ka tyas. wah blog ini yg ak cari drtd. stlh 2x bolak balik imigrasi bandara dan zonk terus (pdhl yg kedua udah dr jam 6 lwt sikiittt, tetep ga dpt) ak akhirnya dftr online deh. dpt jam 13-15. mdh2an cpt jg ky ceritamu ini hehe.. ada tips lain ga? ak buat baru.

    Reply

    • lompatlompat
      Jul 11, 2017 @ 07:06:07

      Wuaduuuuuh jam 6 sudah nggak dapat ya? Moga-moga nanti semuanya lancar ya… Wah, kalau buat baru aku tidak punya tips apa-apa lagi selain melengkapi semua dokumennya… hehehe.

      Reply

  3. rkruangkami
    Jul 17, 2017 @ 03:11:27

    hallo admin, aplikaisnya apa cm support dibeberapa hp ya? sy udh donlod dan coba beberapa kali apply ke apps tersbut gagal terus. bnr2 udh g bs y kl walk in bikin passportnya? *agak mumet =))

    thx btw

    Reply

  4. Jon
    Jul 17, 2017 @ 07:03:40

    tetap 2x datang ya?

    Reply

  5. Maria Browning
    Jul 18, 2017 @ 09:31:04

    Makasih banget infonya. Berarti mau buat E-paspor juga bisa ya Mba daftar di aplikasi Antrian Paspor? Aku kebetulan sudah daftar, cuma di web Imigrasi maupun blog2 Nga dibilang kalau bisa untuk antri buat E-Paspor, aku jadi ragu.

    Salam kenal 🙂

    Reply

  6. Maria Browning
    Jul 18, 2017 @ 09:42:57

    maaf satu lagi kelewat, kalau kita mau paspor lama dikembalikan apakah harus buat surat pernyataan?

    thanks.

    Reply

  7. mellykaayubie
    Jul 19, 2017 @ 03:07:31

    Haloo mba, kalo aku mau perpanjang paspor dari yg sebelumnya paspor biasa terus aku mau perpanjang jadi e-passpor berarti bisa pake aplikasi ini juga kah?

    Reply

  8. Heny
    Aug 07, 2017 @ 09:01:10

    Mbak mau nanya dong, mbaknya di antrian online kan dapet jam 09.00. Tapi jam 08.25 mbaknya udah selesai ya? Berarti kalau yang antrian jam 08.00 dipanggil sudah tidak ada, yang jam 09.00 bisa maju ya? Nggak tetap berpatokan sama jam di jadwal?

    Reply

  9. Ana
    Sep 04, 2017 @ 13:24:27

    Terima kasih atas infonya ya mba…kalau perpanjang paspor hanya diminta fotokopi ktp dan paspor saja ya? Tidak perlu menunjukkan ktp aslinya?

    Reply

    • lompatlompat
      Sep 05, 2017 @ 04:55:17

      Sama2 mbak…
      Saya tidak ingat diminta menunjukkan KTP asli atau tidak, tapi sebaiknya bawa saja Mbak (dan memang seharusnya kita bawa ke mana2 kan ya? Hehehe..)

      Reply

  10. Putri Sihombing
    Sep 12, 2017 @ 06:43:21

    berapa hari stelah untuk pengambilan paspor barunya Mba?

    Reply

    • lompatlompat
      Sep 13, 2017 @ 04:20:39

      Saya waktu itu karena menyesuaikan jadwal kantor saja sih Mbak, mengambilnya 4 hari kerja kemudian. Tapi ada yang menyarankan, tanya saja lewat WhatsApp ke kantor imigrasinya, karena sering kali sehari juga sudah jadi.

      Reply

  11. Noi Kertadiganda
    Sep 14, 2017 @ 08:41:47

    Saya sudah tiga kali apply di Android tetapi jadwal yang diajukan tidak muncul. Pernah apply sekali di notebook, sampai muncul barcode, tetapi pas dicek lagi, jadwalnya sudah hilang, padahal masih tanggal 25 September.

    Reply

  12. asri
    Sep 25, 2017 @ 05:37:58

    untuk satu akun antrian paspor bisa digunakan untuk berapa permohonan paspor ya?jadi saya mau perpanjang paspor nenek saya, apa harus dibuatkan akun tersendiri atau bisa melalui akun saya?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: