Hannou, Februari 2015: Yang turut mekar berkat bunga Edo

This post is about Japan

Halo, apa kabar? Selamat tahun baru 2017! Lama tidak bersua. Sudah lama juga ya saya tidak menulis di blog ini. Selain karena tingkat kesibukan pekerjaan yang lumayan tinggi dalam beberapa bulan terakhir di tahun 2016, saya juga barusan kembali dari Jepang setelah berkeliaran di sejumlah daerah di Pulau Kyushu dan Pulau Shikoku. Nanti tentunya saya juga akan bercerita tentang perjalanan terbaru saya itu, tapi sekarang saya akan berbagi cerita tentang perjalanan-perjalanan saya sebelumnya, ya. Kali ini saya ingin bercerita tentang Hannou.

hannou11

Nama Hannou, saya kira, belum popular di mata wisatawan asing. Di kota ini tidak ada objek yang cukup besar ataupun megah untuk membuatnya menempati posisi khusus di peta pariwisata—taruhlah, seperti Buddha raksasa di Kamakura. Hannou tidak pernah menjadi ibukota kekaisaran Jepang seperti Kyoto, tidak juga memiliki kijang-kijang separo-jinak yang berkeliaran bebas di jalan-jalan seperti Nara. Sekilas, Hannou adalah kota kecil biasa, dengan berbagai bangunan pentingnya berada di sekitar stasiun kereta api utamanya—hal yang umum bagi kota-kota di seluruh Jepang. Namun bila kita amati peta perkeretaapian Tokyo dan sekitarnya, mungkin tebersit rasa heran mendapati ada jalur-jalur kereta Seibu yang menghubungkan Hannou dan daerah sekitarnya langsung ke wilayah-wilayah penting di Tokyo, seperti Shinjuku dan Ikebukuro. Oleh karena jalur-jalur ini bukan dibangun baru lima atau sepuluh tahun lalu, mungkinkah ada petunjuk-petunjuk tentang masa silam Hannou yang tersembunyi di situ?

hannou14

“Jalur-jalur kereta lain biasanya dibangun dari Tokyo, ke arah luar menuju daerah-daerah di sekitarnya. Tapi jalur-jalur ini dibangun dari Hannou untuk menghubungkan Hannou dengan Tokyo,” papar laki-laki tua berambut kelabu yang masih tampak sehat dan ceria itu. Seperti juga banyak orang lanjut usia lainnya di Jepang, langkah-langkahnya masih sigap, cepat, senyumnya riang, dan beliau menguasai bahasa Inggris dengan cukup baik. Marilah kita sebut beliau Tanaka-san saja, nama keluarga yang banyak ditemukan di Jepang. Sebagai perwakilan balai kota, ia menemani kami yang hari itu melihat-lihat Hannou.

hannou10

Saya menatap berkeliling tempat kami berdiri, ke deret demi deret bangunan yang rata-rata hanya berlantai satu atau dua. Sebagian bangunan tampak kuno, termasuk toko antik Sanyasou, yang pelataran depannya menjadi tempat kami berdiri saat itu. Tidak nyata benar bahwa kota yang namanya juga ditransliterasi sebagai Hanno (tanpa ‘u’ di belakang yang merupakan penanda bacaan panjang) ini pernah berlimpah uang. Ada beberapa bangunan tempat hiburan di mana dulu orang-orang kaya Hannou menghabiskan uang mereka dengan bersenang-senang, namun mereka pun mudah terluput dari mata seandainya tidak dengan sengaja ditunjukkan kepada kami. Kami hanya melihat tiga yang masih tersisa; sebagian tempat hiburan lain sudah beralih fungsi menjadi tempat usaha lain atau bahkan rumah tinggal. Baru setelah melihat sendiri tempat-tempat hiburan itu, mulai terbayang betapa Hannou yang kini sepi pernah semarak.

hannou12

Ada pula jejak lain masa kejayaan Hannou pada arsitektur bangunan-bangunannya: dinding yang berwarna hitam dan dua tembok pendek tepat di bawah atap di bagian depan lantai kedua merupakan penanda kekayaan pemiliknya. Tapi apa sebenarnya sumber kemakmuran Hannou di masa lalu, dan apa yang menyebabkan pudarnya masa keemasan kota tersebut?

hannou16

Bila kita telusuri kemakmuran silam Hannou, jejak lain bisa ditemukan di daerah Naguri, empat puluh menit jauhnya dengan bis dari stasiun utama Hannou. Tidak ada kereta ke daerah yang baru dimasukkan ke dalam wilayah administrasi Hannou pada tahun 2005 ini; stasiun kereta terdekat adalah stasiun utama Hannou. Dipikir-pikir, wilayah ini hanya selemparan batu dari Tokyo. Namun di sini transportasi umum terbilang jarang—pada jam-jam tertentu bis hanya lewat sejam sekali, sehingga kalau kita sampai ketinggalan, terpaksa kita harus membuang waktu lama untuk menunggu bis berikutnya. Maka itu jangan lekas percaya bila ada yang berkata bahwa transportasi umum Jepang sangat efektif dan mudah tersedia. Kerap kali hal itu hanya berlaku di kota-kota besar, dan lebih spesifik lagi di Tokyo.

hannou19

Di Naguri yang sambungan internet Softbank-nya hanya 3G (padahal di Tokyo 4G), kami mengunjungi sebuah rumah bersejarah yang berusia lebih daripada seabad. Rumah yang telah ditetapkan sebagai warisan daerah yang dilindungi ini dibangun di daerah pegunungan, namun herannya menampilkan ciri-ciri rumah di daerah perkotaan Edo pada zamannya. Yang bisa membangun rumah semacam ini di Naguri pada waktu itu tentu merupakan orang yang berkantung tebal.

hannou02

Naguri tadinya tidak kaya, dengan bisnis utama berupa batu bara. Lalu bisnis baru berkembang ketika mereka mulai menjual kayu gelondongan dan uang mulai mengalir masuk. Ya, itulah kunci kekayaan wilayah ini: kayu. Bisnis kayu di Hannou bertumbuh pesat karena di Edo—nama Tokyo zaman dahulu—kerap sekali terjadi kebakaran. Begitu seringnya kebakaran terjadi di Edo dulu, sehingga ada nama ‘indah’ untuk kebakaran: ‘bunga-bunga Edo’. Bayangkan, dalam waktu dua ratus tahun saja di masa pemerintahan Tokugawa, daerah perniagaan Tokyo mengalami kebakaran sampai 31 kali! Api cepat merembet karena di masa itu pun bahan utama pembuatan bangunan adalah kayu, dan sebagian wilayah Edo sudah sangat ramai sehingga bangunan didirikan berdempet-dempetan. Tentu saja untuk pembangunan kembali berbagai gedung dan rumah yang terbakar, diperlukan kayu, banyak sekali kayu. “Kami tidak seharusnya merasa senang karena demikian banyaknya kebakaran yang terjadi, namun kebakaran-kebakaran itu membantu Hannou menjadi makmur,” Tanaka-san tak bisa menahan diri untuk tidak cekikikan sedikit.

hannou09

Edo butuh kayu, dan Hannou punya banyak: ini hubungan yang saling menguntungkan. Foto-foto hitam putih dari zaman Edo memperlihatkan tumpukan-tumpukan kayu gelondongan yang siap dikirim ke Edo—awalnya melalui sungai, lalu dengan kereta api. Beberapa keluarga di Hannou dan Naguri menjadi kaya karena bisnis ini, termasuk keluarga Hiranuma. Seratus dua puluh tahun lalu, generasi pertama Hiranuma membangun rumah keluarga mereka yang bergaya perkotaan di pedalaman Naguri.

hannou04

Sampai saat ini, semua dinding, pintu geser, lantai, dan langit-langit rumah keluarga Hiranuma masih asli, sama tuanya dengan rumah itu sendiri. Beberapa bagian rumah memang mengalami perbaikan ataupun penambahan—tentunya seabad yang lalu belum ada yang namanya washlet. Namun selain itu, sebagian besar rumah yang didominasi kayu berwarna cokelat gelap ini belum berubah. Kini, rumah tersebut bisa dikatakan telah menjadi semacam museum yang masih ditinggali, yaitu oleh generasi ketiga keluarga Hiranuma.

hannou08

“Putra-putra kami sekarang tinggal di Australia bersama keluarga mereka sendiri,” Suami-istri Hiranuma yang sudah berusia sepuh menjelaskan. “Entahlah, apakah mereka akan mau tinggal di sini lagi nantinya.” Pak Hiranuma dan istrinya tertawa ringan saat menjelaskan hal itu, tidak tampak terbebani oleh pikiran bahwa setelah mereka tiada, mungkin rumah warisan keluarga itu akan diurus oleh pemerintah, bukan oleh darah-daging mereka sendiri. Entahlah apakah sebenarnya mereka diam-diam merasa sedih karenanya.

hannou05

Memang, kini rumah mereka jarang sepi. Ada saja pengunjung yang datang hendak melihat-lihat, apalagi di masa hina-matsuri seperti sekarang ini. Hina-matsuri sendiri adalah festival boneka untuk anak-anak perempuan yang berpuncak pada tanggal 3 Maret di sebagian besar daerah di Jepang. Puncak perayaan mungkin diselenggarakan belakangan di daerah-daerah di mana musim semi datang lebih lambat, misalnya di daerah pegunungan. Sebelum puncak perayaan, biasanya sejak Februari, di rumah keluarga-keluarga yang memiliki anak perempuan dipajang perangkat boneka hina yang ditata pada undak-undakan khusus. Boneka-boneka itu menggambarkan kehidupan di istana, dengan raja dan ratu diletakkan di paling atas, diikuti oleh boneka-boneka lain yang menggambarkan para menteri, musisi, dan penghuni istana lainnya di jenjang-jenjang yang lebih rendah. Boneka-boneka itu akan diwariskan kepada anak perempuan pertama, dan perangkatnya bisa dicicil sejenjang demi sejenjang. Sekiranya perempuan atau laki-laki yang tidak mewarisi boneka memiliki anak perempuan sendiri, mereka bisa mulai membeli perangkat boneka baru. Oleh karena harga boneka yang mahal dan rumah-rumah Jepang yang semakin sempit, semakin jarang keluarga yang memiliki perangkat lengkap, paling-paling hanya pasangan boneka raja dan ratu.

hannou13

Di Hannou, pameran boneka-boneka hina-matsuri dilangsungkan besar-besaran di sejumlah lokasi, baik di tengah kota maupun di pinggiran, seperti di rumah keluarga Hiranuma. Hannou mencoba menggenjot pariwisata mereka di awal tahun dengan pameran boneka-boneka ini—festival budaya besar-besaran mereka sendiri sebenarnya berlangsung di bulan November, berupa arak-arakan dashi (tandu raksasa berhiasan).

hannou15

Di rumah Hiranuma, dipajang berbagai perangkat boneka hina-matsuri, dari yang sangat tua sampai yang terhitung masih baru. Salah satu cara melihat tua-tidaknya boneka-boneka itu adalah dengan melihat bentuk wajah mereka: boneka-boneka lama berwajah cenderung runcing, sementara wajah boneka-boneka yang baru bundar. Sebagian di antara boneka-boneka yang dipamerkan adalah milik anggota-anggota perempuan keluarga itu sendiri.

hannou07

Selain pameran boneka hina-matsuri, arsitektur rumah itu sendiri menarik untuk diamati. Pintu-pintu geser di sebelah samping dan belakang tidak saja menampakkan taman yang tidak luas namun tertata rapi, melainkan juga tiga patung raksasa berwarna putih yang tegak di perbukitan belakang rumah. Ketiganya menjulang dalam kompleks kuil kannon yang mulai dibangun oleh Hiranuma Yatarou pada dasawarsa 1940-an. Patung utama, Guze Dai-kannon, bertinggi mencapai tiga puluh tiga meter, tampak agung dengan mata tertunduk teduh ke pemandangan di hadapannya.

hannou06

Beberapa sudut rumah dihiasi kaca berwarna-warni yang dulu merupakan barang mewah; satu lagi tanda kekayaan keluarga Hiranuma dahulu. Selain itu, beberapa bagian di pintu geser yang menghadap ke taman bukan terbuat dari kertas, melainkan kaca. Bila kita seiza—duduk bersimpuh ala Jepang—kaca itu berada pada ketinggian yang kira-kira sama dengan mata kita, sehingga kita bisa menikmati keindahan di luar sambil duduk-duduk di dalam ruangan. Ini memang bukan rumah orang yang harus bekerja keras sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga tidak ada kesempatan bersantai menikmati hijaunya tanaman dan semaraknya bebungaan.

hannou03

Selain melihat-lihat pameran dan berbelanja buah tangan lokal, di rumah keluarga Hiranuma pun kita bisa menikmati makanan, kopi, maupun teh di rumah tersebut. Kami beruntung karena Ibu Hiranuma menghidangkan teh hijau bagi kami dalam upacara teh sederhana, menggunakan perangkat minum teh yang sebenarnya dibuat untuk dibawa-bawa orang yang menempuh perjalanan. Upacara minum teh dengan segala kerumitannya memang menarik, namun hari itu yang lebih menarik bagi saya adalah makanan yang dihidangkan, karena dalam santapan itu juga terdapat jejak sejarah Naguri.

hannou22

Untuk makan siang, kami disuguhi seporsi udon berkuah bening bersama ikan makerel yang telah diawetkan, bonito (semacam abon ikan), dan sedikit sayuran, dengan hidangan penutup berupa aprikot yang direndam dalam teh. Sebenarnya hidangan ini dahulu merupakan ‘makanan darurat’, namun kini menjadi makanan khas daerah ini. Tidak ada sawah untuk bertanam padi di daerah ini, karena tanahnya yang tidak bisa menampung air terlalu lama. Mereka hanya bisa bertanam gandum dan sayur-mayur. Ketika belum ada transportasi darat yang baik di wilayah tersebut dan hujan salju tebal memutus hubungan Naguri dengan dunia luar, ketersediaan cadangan makanan yang tahan lama pun menjadi persoalan hidup dan mati. Udon kering dapat disimpan untuk waktu yang lama, demikian pula halnya makerel yang diawetkan. Agak lucu memikirkan betapa bangunan-bangunan tua di Hannou melestarikan sisa-sisa kekayaan wilayah tersebut di masa lalu, namun justru kulinernya melestarikan jejak kesulitannya.

hannou21

***

Selain kayu, ada satu lagi industri yang turut andil membesarkan nama Hannou: tekstil. Mesin-mesin pintal raksasa pernah menghiasi foto-foto yang dibuat sebagai rekaman kesibukan di Hannou. Kini, meski masih ada pabrik yang beroperasi, skalanya tidak lagi sebesar dulu. Namun tekstil yang indah masih menjadi kebanggaan Hannou. Mungkin Tokyo sudah tidak lagi membutuhkan kayu Hannou, namun sekarang, seragam staf Sky Tree, menara raksasa kebanggaan Tokyo, dibuat menggunakan tekstil Hannou.

hannou20

Dan setiap hari, kereta-kereta masih bergemuruh bergerak bolak-balik di jalur Seibu, menghubungkan Hannou dan Ikebukuro.

hannou18

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: