Kofu Akhir Desember 2014 (2): Menengok Gunung Fuji dari Panorama-dai

Setelah berpisah dengan teman baru saya di halte bis di depan Museum Kage-ei no mori, saya menyeberangi sungai lagi, kembali ke jalan yang dijuluki ‘Crystal Road’. Di jalan yang diapit oleh berbagai toko yang menawarkan produk batu dan kristal ini, saya melangkahkan kaki ke utara. Banyak toko yang tidak buka, karena akhir tahun. Toh sedang tidak banyak pengunjung juga. Saya hanya berpapasan dengan mungkin empat-lima orang.

kofu27

Pandangan saya tertumbuk ke salah satu toko yang berukuran lebih besar dibandingkan rata-rata toko lain. CRYSTAL SOUND, demikian nama yang terpampang. Rupa-rupanya toko itu merangkap sebagai museum gratis. Saya jadi teringat toko-toko batu/kristal di Thailand yang menawarkan atraksi semisal pameran diorama penambangan dan pengolahan batu. Kira-kira sama tidak, ya? Hmmm, nanti deh kalau masih ada waktu saya akan coba masuk. Sekarang saya bergegas untuk naik ropeway ke Panorama-dai.

kofu31

Ketika saya tiba di Stasiun Sengataki yang khusus melayani Shosenkyo Ropeway, saya berpapasan dengan sejumlah orang yang sedang meninggalkan stasiun tersebut. Wah, rupanya kereta gantung tesebut baru saja tiba dan menurunkan penumpang—dan mungkin sudah berangkat lagi. Saya pun masuk ke dalam stasiun yang dihiasi maskot burung hantu itu dan membeli tiket. Harganya 1200 yen pergi-pulang untuk orang dewasa, separuh harga untuk anak-anak.

kofu32

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya saya dan beberapa orang lain yang juga menunggu keberangkatan kereta berikutnya pun dipanggil. Dengan tertib kami pun memasuki kereta gantung yang hanya bisa menampung beberapa orang duduk dan berdiri. Sepasang kekasih lekas-lekas berdiri menawarkan tempat duduk mereka kepada sepasang kakek-nenek yang masuk belakangan.

kofu33

Setelah memastikan kami semua telah berada dengan aman di dalam, petugas menutup pintu dan kereta pun mulai bergerak. Gerakannya mulus, nyaris tidak ada guncangan yang terasa, sehingga berdiri pun tidak mengapa. Oleh karena sedang musim dingin, hutan di bawah kami memang tidak tampak terlalu istimewa. Namun di kejauhan, kami bisa melihat Waduk Arakawa yang tampak biru dikelilingi pegunungan yang hanya menyisakan sedikit warna hijau dari pepohonan malarhijau (evergreen).

kofu34

Di ujung atas ropeway, di Stasiun Panorama-dai, kami disambut oleh sebuah restoran merangkap toko suvenir. Namun tentu saja semua lebih memilih bergegas keluar dari stasiun kecil itu untuk menikmati pemandangan di luar. Saya sendiri langsung menuju pelataran dari kayu yang tersedia. Dari situ, kita bisa menebarkan pandangan berkeliling ke dua pegunungan sekaligus – Pegunungan Chichibu di sebelah timur, dan Pegunungan Akaishi (Minami Alps/Alps Selatan) di sebelah barat.

kofu35

Saya menatap langit. Ups, bulan sudah kelihatan lho di langit! Saya belum salat sejak zuhur. Saya pun mencari-cari tempat yang bisa digunakan salat, mengelilingi puncak Gunung Rakanji itu. Ada altar kecil, dan saya sempat bertanya-tanya apakah tidak apa-apa bila saya berdoa di samping atau di belakang altar tersebut. Tapi kok, saya tidak enak. Itu kan tempat ibadahnya orang lain.

kofu36

Karena tidak juga menemukan tempat yang cocok, saya pun mendekati salah seorang penjaga. Saya menerangkan kepadanya bahwa saya orang Islam dan ingin berdoa, dan bertanya apakah ada tempat yang bisa saya gunakan. Mungkin kamar kosong?

Dia berpikir keras. “Kalau kamar tidak ada, tapi coba jalan ke sana, turun sedikit. Di sana ada tempat sepi yang bisa dipakai salat.”

Saya diberi tahu begitu saja sudah senang, lho. Si mbak sampai memikirkan di mana di atas gunung sini ada tempat yang tenang, tidak terganggu pengunjung lain. Saya pun menuju arah yang ditunjukkan oleh sang penjaga. Ternyata benar, ada sebuah tebing yang agak tersembunyi. Kalau tidak iseng benar, barangkali orang tidak akan ke situ. Tempatnya aman kok, hanya saja memang angin yang bertiup agak kencang. Saya menggelar sajadah yang lekas-lekas saya tahan dengan ransel dan sepatu agar tidak terbang. Setelah bertayamum, saya pun salat di situ. Rasanya luar biasa, lho. Tidak setiap hari, kan, salat dengan pemandangan seperti ini?

kofu39

Seusai salat saya kembali ke atas. Eh, ternyata bertemu lagi dengan keluarga yang tadi membawa anjing dan meminta tolong kami memotret mereka. Saya dan mereka bertegur sapa, dan saya menanyakan di mana si wanchan, sebutan kesayangan bagi anjing dalam bahasa Jepang. Sang ayah menjawab bahwa si gukguk ditinggal di dalam mobil.

Keluarga tersebut tampaknya akan segera beranjak pergi. Salah seorang anak laki-laki berkata kepada saya, “Nanti kapan-kapan kalau kamu ke Kyoto (kota asal mereka), aku antar keliling-keliling ya.”

Saya tersenyum saja dan berterima kasih. Biasa, ini mah basa-basi khas Jepang. Lho, wong kami tidak bertukar nomor telepon atau alamat surat elektronik, bagaimana caranya mau bertemu dan mengantar saya kapan-kapan? Saya sudah biasa sih menghadapi ‘sopan-santun’ ala Jepang ini. Mereka juga mudah memuji, tapi kitanya saja jangan keburu ge-er dan mengharap lebih dari mereka. Dibawa santai saja…

kofu38

Keluarga tersebut kembali ke peron stasiun kereta gantung, sementara saya membeli es krim—seingat saya rasa anggur, salah satu buah kebanggaan prefektur Yamanashi—di restoran/toko kecil yang menempel ke stasiun dan sekali lagi menikmati pemandangan dari pelataran kayu. (Iya, ini sedang musim dingin. Tapi sekali lagi saya tekankan—es krim di musim dingin tetap enak, kok!)

Gunung Fuji juga tampak dari Panorama-dai ini, meskipun agak samar tertutup entah awan entah kabut. Hmmm… sebenarnya kalau saya lebih jago memotret, tentu foto Gunung Fuji ini bisa tampak lebih mengesankan. Tapi saat itu kemampuan memotret saya hanya segini… maaf, ya.

kofu37

Hari sudah semakin sore. Agar tidak sampai ketinggalan kereta gantung terakhir (bagaimana pula caranya turun dari puncak gunung ini kalau tidak ada kereta!), saya bergegas kembali ke stasiun. Tak lama, saya kembali menikmati perjalanan kereta gantung yang meski tidak terlalu lama namun entah mengapa membuat senang saja. Tetap rasanya takjub bisa memandang sekeliling dari ketinggian.

kofu40

Setibanya di bawah, saya sempat melihat-lihat toko suvenir di Stasiun Sengataki, namun tidak ada yang menyangkut di hati. Saya akhirnya keluar lagi, disambut langit yang sudah lumayan menggelap karena Matahari musim dingin menggelincir cepat di langit. Untunglah, CRYSTAL SOUND masih buka. Tanpa mengharapkan apa-apa, saya masuk begitu saja. Agak seram juga, karena nyaris tidak ada orang, termasuk penjaga sekalipun. Lagi-lagi terlintas dalam pikiran saya, orang Jepang kok santai banget ya, segala sesuatu seperti tidak dijaga begini… Iya sih, ada kamera CCTV, tapi mereka sepertinya yakin betul tidak akan ada, misalnya, pengunjung iseng yang memegang-megang barang pameran.

kofu42

Museum merangkap toko itu sepi; pengunjung selain saya bisa dihitung dengan jari. Saya menelusuri galeri demi galeri nyaris tanpa teman, dibuai kesunyian dan keremangan yang memang disengaja di sebagian ruangan. Sebenarnya isi museum itu sangat menarik! Selain menampilkan beragam jenis batuan dan kristal dalam bentuk mentah atau sudah dipoles, museum tersebut juga memamerkan sejumlah karya seni yang dibuat dari bebatuan/kristal. Patung seukuran asli ini contohnya.

kofu41

Sebentar lagi museum tutup, dan napas wisata di lembah kecil ini pun segera berhenti untuk hari ini. Bis terakhir juga akan segera datang! Saya meninggalkan CRYSTALSOUND dan menyusuri jalan yang sunyi kembali ke arah halte Museum Kage-ei no mori. Hanya sekilas saya melayangkan pandangan ke sebuah kuil yang terletak agak ke belakang jalan utama. Tak ada niat saya berkunjung sendirian ke kuil saat hari sudah menggelap.

kofu43

Saya sempat berpapasan dengan dua orang turis Cina laki-laki yang menanyakan di mana seharusnya menunggu bis. “Di seberang jembatan,” saya menunjuk. Mereka berterima kasih dan segera mendahului saya menyeberangi sungai.

kofu28

Hari semakin gelap saja. Halte bis yang tadi siang dijadikan tempat kawan saya menunggu ternyata sama sekali tidak ada lampunya. Walhasil, para wisatawan yang menunggu bis lebih memilih menanti di teras Museum Kage-ei no mori yang diterangi sinar lampu. Melalui pintu kaca, bisa terlihat para petugas juga sedang bersiap-siap menutup museum.

Suhu semakin dingin. Tangan-tangan terbenam dalam saku jaket. Akibat tidak ada kerjaan, saya jadi memperhatikan orang-orang lain. Salah seorang laki-laki yang menunggu menyulut rokoknya. Mereka-mereka yang datang bersama teman atau pacar berbincang-bincang halus. Salah seorang perempuan tertawa-tawa centil dengan suara ditinggi-tinggikan di hadapan kekasihnya. Ketika ia kaget, ia berseru dengan kasar dan suara yang jauh lebih berat. Entah apakah orang-orang lain juga menahan tawa seperti saya.

kofu30

Akhirnya bis terakhir tiba juga. Dan meskipun jelas-jelas kami semua menunggu di teras museum, bis itu tetap berhenti di halte yang tidak diterangi lampu. Kami pun naik dengan tertib. Bis lantas meninggalkan Shosenkyo, menelusuri jalan-jalan gelap kembali ke Kofu. Setibanya di Kofu, hari sudah terlalu malam. Saya hanya sempat melihat-lihat patung Takeda Shingen di dekat stasiun kereta api Kofu dan mencoba berjalan sendirian ke reruntuhan Kastil Kofu. Hanya ada tiga orang termasuk saya di reruntuhan yang lumayan seram juga kalau malam hari itu. Akhirnya saya memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran cepat saji di stasiun, lalu melompat ke atas kereta Jalur Chuo yang membawa saya pulang ke Musashi-Koganei. Dan demikianlah saya menghabiskan dua hari di dua prefektur berbeda di akhir tahun 2014. Hari libur yang sungguh tidak tersia-siakan!

kofu29

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: