Kofu Akhir Desember 2014 (1): Menelusuri Ngarai Shosenkyo

Pagi menjelang. Sambil menikmati sarapan di hotel, saya memikirkan betapa sayangnya harus meninggalkan prefektur Nagano yang bersalju, kembali ke prefektur Yamanashi yang tidak tampak seperti telah memasuki musim dingin. Namun keputusan saya kemarin untuk berganti haluan menuju Matsumoto terlebih dahulu ternyata merupakan pilihan tepat. Pasalnya, hari ini matahari bersinar cerah sekali dan tak ada tanda-tanda awan gelap. Cocok untuk hiking!

kofu02

Dari stasiun Matsumoto, saya menumpangi kereta Jalur Chuo menuju Kofu. Cukup banyak juga orang yang turun di stasiun utama Kofu, dan mereka semua merubung ke jalur yang sama dThis post is about Japani terminal bis, membuat saya yakin bahwa mereka semua juga hendak mendatangi Ngarai Shosenkyo seperti saya. Ada sedikit rasa ngeri bis berikutnya yang datang tidak akan bisa memuat kami semua, dan saya (yang berdiri agak di belakang barisan) mungkin ditinggal dan harus menunggu bis berikutnya. Bis menuju Shosenkyo tidak terlalu rapat jadwalnya, dan di musim libur akhir tahun ini, frekuensi bis juga dipangkas. Untunglah, kami semua masih terangkut oleh bis yang datang, dan saya juga masih mendapat tempat duduk.

Bis mulai menyusuri jalan-jalan kota Kofu, kota kecil yang tidak tampak menonjol, setidak-tidaknya bila saya boleh menilai hanya dari jalan-jalan yang dilewati bis tersebut. Pemandangan justru semakin menarik ketika bis telah meninggalkan kawasan perkotaan, ketika yang terhampar di depan mata lebih berupa pepohonan, sungai, dan rumah serta bangunan yang banyak masih bergaya tradisional.

kofu01

Orang-orang yang ingin berjalan-jalan di Ngarai Shosenkyo punya dua pilihan utama. Yang pertama, turun di halte dekat jembatan bernama Nagatorobashi, yang terletak di pintu masuk bawah ngarai. Dari sini, kita menempuh perjalanan mendaki. Pilihan kedua, turun di halte di depan Museum Kage-ei no mori, yang terletak di pintu masuk atas. Bila memilih yang kedua, perjalanan menyusuri ngarai akan lebih mudah karena kita kemudian akan berjalan menurun. Saya lebih memilih yang pertama, meskipun sekarang saya sudah lupa mengapa. Memang sih, berjalan kaki ke atas itu lebih sulit, namun ketika tiba di ujungnya, selain merasa sangat lega dan mendapatkan ganjaran berupa air terjun yang indah, saya bisa meneruskan naik ropeway menuju Panorama-dai yang menjanjikan pemandangan menakjubkan ke sekeliling Shosenkyo, termasuk ke arah Gunung Fuji. Seandainya saya memilih naik ropeway terlebih dahulu sebelum menuruni ngarai, mungkin saya justru akan kesorean sewaktu berada di ngarai. Selain itu, saya mungkin tidak akan bertemu dia.

kofu03

Saya terpaksa menyebutnya ‘dia’ saja. Saya lupa namanya. Tetapi dia menyapa saya yang belum lama turun dari bis di dekat Nagatorobashi dan sedang mengedarkan pandangan berkeliling dengan kagum. Ia minta tolong untuk difotokan berlatar belakang jembatan di pintu masuk ngarai. Saya melakukannya, lalu ia balas memfoto saya. Kami jadi mengobrol, dan ternyata ia juga orang asing seperti saya. Ia orang Malaysia namun bekerja di Inggris. Oleh karena merasa langsung nyambung, kami akhirnya memutuskan untuk menyusuri ngarai bersama-sama. Dan ternyata memang ketika ada teman, perjalanan rasanya menjadi lebih menyenangkan!

kofu04

Kami banyak mengobrol. Saya terkagum-kagum mendengarkan betapa banyak pengalamannya. Dibandingkan dia, saya belum apa-apa. Dia bahkan pernah ke Kepulauan Galapagos – impian saya! Saat itu ia sedang menghabiskan hari, menunggu adiknya yang akan datang dari Malaysia untuk berlibur bersama-sama di Jepang. Sebelum malam, ia sudah harus tiba lagi di Tokyo untuk menjemput sang adik.

Ia menyukai alam, karenanya ia memilih untuk mendatangi ngarai yang tenar karena formasi batu-batu besarnya itu. “Jaketmu itu cocok untuk hiking,” katanya, menunjuk jaket saya yang berwarna jingga mencolok. “Kalau ada apa-apa, mudah dicari. Jaketku ini… sebenarnya jaket jalan-jalan saja, bukan jaket untuk ke alam,” Ia menepuk jaketnya sendiri yang berwarna hitam. Kata-katanya memang benar, tapi saya tentu tidak mengharapkan saya sampai perlu dicari-cari orang karena tersesat di dalam ngarai, misalnya.

kofu05

Toh, Ngarai Shosenkyo sudah ‘dijinakkan’. Jalanan yang mengarah ke atas telah diaspal atau dilapisi bebatuan, memudahkan perjalanan. Kami jadi tertawa karena bukan seperti ini yang ada dalam pikiran kami ketika membayangkan ‘hiking di ngarai’. Rasanya lebih seperti berjalan-jalan di taman, meskipun tentunya lebih menguras tenaga. Namun kami tetap senang, melihat bebatuan besar dan sungai yang mengalir gagah yang merupakan ciri khas Ngarai Shosenkyo. Ngarai ini terbentuk dari erosi granit entah sejak kapan, menghasilkan bebatuan dengan berupa-rupa bentuk. Ada yang dinamai Saruiwa (batu monyet), Nekoishi (batu kucing), dan macam-macam lagi.

kofu09

Terkadang ada kolam-kolam batu yang berair tenang, ataupun air terjun kecil yang tercipta di sela-sela batu, mengundang keinginan untuk melepaskan sepatu dan merendam kaki. Sewaktu musim panas mungkin hal itu nyaman untuk dilakukan, namun tidak di musim dingin. Terkadang kami berhenti, menunjuk-nunjuk batu yang ini atau yang itu, sambil mengutarakan khayalan-khayalan kami. “Tuh! Yang itu mirip kepala naga ya?”

kofu06

Di beberapa tempat, kami menemukan sejumlah papan yang terpasang. Papan-papan itu memuat info tentang penampakan beruang di titik tersebut, sebagai peringatan bagi para pengunjung. Memang tanggal-tanggal yang tertera telah berlalu beberapa tahun, namun bagaimana ya kalau justru sekarang ada beruang yang memutuskan untuk muncul lagi? Kami jadi mengkhayal ngeri-ngeri sedap mengenai apa yang harus kami lakukan kalau tahu-tahu ada beruang nongol. Untungnya sih kami tidak harus sampai melakukan apa pun. Suasana aman terkendali.

Sungai dirintangi sejumlah jembatan, menuju hutan di seberang sana yang tampak lebih liar. Melihat jejak-jejak di seberang, tampaknya ada jalur-jalur yang bisa dilalui di dalam hutan. Seandainya waktu kami tidak terbatas, mungkin saya mau saja mencoba menelusuri salah satunya. Namun kali ini, tanpa bicara rupa-rupanya kami sepakat untuk tetap di jalan utama saja demi menghemat waktu.

kofu07

Salah satu jembatan itu, katanya sih, kalau diseberangi pasangan kekasih, bakal membuat hubungan mereka langgeng selamanya. “Kita lagi nggak bawa pacar, kan?” Kami tergelak, lalu dengan riang menyusuri jembatan tersebut sampai ke ujung satunya, melongok ke sungai di bawah, berfoto-foto, lalu kembali lagi ke jalan utama.

kofu08

Di beberapa sudut juga terdapat tempat perziarahan agama Buddha. Wah, seandainya datang dengan niat beribadah, pasti enak sekali rasanya bisa berdoa di alam bebas yang indah.

kofu15

Jalan semakin mendaki. Perut kami mulai lapar. Kami melirik jam. Memang sudah waktunya makan siang. Dan ternyata ya kebetulan, kami tiba di suatu bagian ngarai di mana terdapat sejumlah restoran. Rupa-rupanya, di dekat tempat itu—di atas tebing, tepatnya—ada satu lagi tempat perhentian bis dan tempat parkir kendaraan. Jadi pengunjung yang ingin langsung ke tengah-tengah ngarai, atau hanya ingin bersantap di restoran dengan pemandangan ngarai, bisa meninggalkan mobil atau turun di halte bis itu.

kofu11

Kami sebenarnya sempat ragu dan melewati saja restoran-restoran tersebut, tidak mengacuhkan salah seorang pelayan restoran yang menggoda kami dengan logat lokalnya untuk singgah makan dulu. Namun belum jauh kami melangkah, kami berubah pikiran. “Bagaimana kalau di atas nanti tidak ada restoran?” “Iya, kita makan saja lah ya, mumpung ada.”

kofu12

Seperti orang kalah perang, kami membalikkan badan dan kembali menuju restoran. Si pelayan nyengir. “Nah, kan memang lebih enak makan dulu!” ujarnya dengan nada jahil, hal yang rasa-rasanya tidak akan pernah saya dengar dari pelayan restoran di Tokyo.

Sebenarnya kami bisa memilih makan di teras luar yang menghadap langsung ke sungai, namun kami memutuskan untuk bersantap di dalam saja karena lebih hangat. Restoran itu lumayan besar lagi ramai. Meja-meja dan bangku-bangku kayu berjejer-jejer menanti pelayan, sementara sejumlah barang bergaya vintage atau tradisional meramaikan ruangan, baik dijual ataupun hanya dipamerkan.

kofu13

Saya menjatuhkan pilihan kepada houtou, sejenis mi Jepang yang tipis dan lebar, mirip kwetiau. Houtou memang kalah pamor di luar negeri dibandingkan ramen, udon, atau soba, namun rasanya sebenarnya tidak kalah. Saya pernah makan houtou campur daging kuda di Kawaguchiko (yang masih termasuk prefektur Yamanashi), namun houtou di sini dihidangkan bersama daging ayam dan sayur-sayuran kebanggaan setempat. Saya lupa teman baru saya memesan apa, namun yang jelas tidak sama dengan pesanan saya.

kofu14

Sambil menunggu pesanan kami, kami keluar ke teras belakang untuk menikmati pemandangan sungai di bawah sana. Barang bawaan sih ditinggalkan saja di meja kami. Tidak ada rasa khawatir meninggalkannya tanpa penjagaan.

Di pekarangan samping dan belakang restoran, terdapat sejumlah arca dewata yang tidak saya kenali. Sepertinya mereka melambangkan beberapa dari sekian banyak dewa-dewi agama Shinto.

kofu10

Hal agak lucu terjadi ketika kami kembali ke meja kami untuk mulai bersantap. Teman baru saya mengambil sepasang sumpit dan menggosok-gosokkan keduanya, kebiasaan di banyak negara sebelum mulai makan. Saya dengan kaget menghentikannya.

“Umm, di Jepang menggosok-gosokkan sumpit itu dianggap tidak sopan.”

“Hah! Kenapa?” Ia terbelalak, menghentikan gerakannya.

“Karena itu seperti bilang kepada pemilik restoran bahwa kualitas sumpit yang disediakannya jelek.”

“Oh! Pantas sewaktu di Shinkansen dan aku hendak makan bento lalu menggosok-gosokkan sumpitku, orang di sampingku menatapku dengan aneh.” Ia terbengong-bengong. “Di Inggris sekalipun, kalau makan makanan Cina, kami gosok-gosok sumpit dulu.”

Saya jadi tertawa melihatnya kelihatan cemas. “Iya, di negaraku juga kok, tapi di sini ya jangan dilakukan.”

kofu21

Kami menuntaskan makan siang kami sambil mengobrol santai, lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan energi yang sudah terisi ulang. Pepohonan semakin rapat, tebing batu tinggi semakin banyak. Akhirnya kami tiba juga di tebing paling terkenal di ngarai ini, Tebing Kakuenpo. Selain tebingnya sendiri indah untuk difoto ataupun dijadikan latar belakang saat berfoto, dedaunan musim gugur masih berserakan dengan warna cokelat keemasan yang mencolok, kontras berpadu dengan warna bebatuan yang kelabu pucat dan lumut hijau segar yang menempel di batang dan akar pohon di sekitar situ. Kami menghabiskan waktu agak lama di situ, sibuk menjepret sana-sini.

kofu17

Sebuah keluarga yang membawa seekor anjing mendekati kami. Beberapa anggota keluarga—yang semuanya sudah dewasa—bisa berbahasa Inggris. Mereka bertanya apakah kira-kira kami bisa memfotokan mereka bersama-sama. Teman saya, yang lebih jago fotografi daripada saya, menyanggupi. Keluarga itu senang sekali, dan kami juga senang karena kami bisa mengobrol-ngobrol sedikit dengan mereka yang ternyata berasal dari Kyoto.

kofu19

Oleh karena mereka masih ingin berada di tempat tersebut, saya dan teman saya pun minta diri. Kami melangkah lagi, menelusuri jalan yang semakin sempit. Di beberapa tempat, terlihat sisa-sisa salju dan bunga es—ataukah mereka sebenarnya perintis sebelum hujan salju yang lebih deras turun di bulan Januari dan Februari?

kofu20

Sejumlah air terjun dan kolam kecil turut menghiasi perjalanan kami. Keindahannya kerap membuat napas tercekat kagum. Terkadang mereka mengintip dari sela pepohonan, seolah rahasia tersembunyi yang hanya terkuak untuk kita yang telah lelah-lelah datang berkunjung ke tengah gunung.

kofu22

Kami tak lupa norak berfoto di salah satu titik paling terkenal di jalan setapak di ngarai itu, Ishimon (‘gerbang batu’) yaitu sebuah celah yang terbentuk secara alami dari tebing granit yang menjorok dan seolah tertahan oleh sebuah batu yang lebih kecil (padahal, kalau diperhatikan, kedua batu itu tidak benar-benar bersinggungan). Agak ngeri juga ya, melihat batu sebesar itu bergantung-gantung meskipun tampaknya penyangganya sih cukup kuat.

kofu23

Perjalanan kami pada akhirnya harus berakhir juga – yaitu di air terjun Sengataki di ujung atas jalur pendakian. Uaaah, rasanya lega! Ternyata berhasil juga kami menempuh perjalanan menanjak beberapa kilometer menyusuri ngarai! Beberapa lama kami diam, mengamati air terjun di hadapan kami.

kofu25

Selewat air terjun, kami menaiki anak-anak tangga terakhir yang membawa kami ke sederetan toko suvenir dan kedai ataupun restoran. Sebagian di antaranya sedang tutup akhir tahun, sedangkan yang buka menawarkan macam-macam bebatuan cantik, salah satu produksi khas kawasan tersebut. Wah, yang gemar mengoleksi batu cincin bisa-bisa senang, nih.

kofu27

Sayang, tak hanya pendakian kami yang berakhir, namun juga kebersamaan saya dan teman baru saya. Kami berpisah karena dia harus mengejar kereta ke Tokyo untuk menemui adiknya. Saya mengantarkan dia ke halte bis yang terletak di dekat Museum Kage-ei no mori. Kami berpelukan ketika ia akan naik ke bis yang membawanya kembali ke Kofu.

kofu16

Sampai sekarang dia belum menghubungi saya lagi, padahal sejumlah fotonya ada di kamera saya, dan sebaliknya. Mungkin kartu nama yang saya berikan kepadanya hilang. Saya masih berharap, suatu hari kami bisa bertemu atau sekadar berkomunikasi lagi. Saya sungguh berterima kasih kepadanya atas siang hari indah yang kami habiskan bersama-sama jauh di dalam ngarai. Bila ia tidak ada hari itu, mungkin tidak akan ada yang mengambilkan foto ini untuk saya:

kofu18

Dan untuk saya, petualangan kecil saya di Kofu belum berakhir. Masih ada gunung yang akan saya daki… dengan ropeway.

kofu24

9 Comments (+add yours?)

  1. nyonyasepatu
    May 23, 2016 @ 11:23:46

    oh baru tau kalau gak boleh gosok2 sumpit hehe, seringnya gitu kan ya, kayak kebiasaan

    Reply

  2. totoryan
    May 24, 2016 @ 02:36:31

    entah mengapa baca ini mata jadi berkaca-kaca ♥ menghangatkan jiwa (ceilaaah)
    Cakep bangeeet areanya…. huhuhuhuuu… T_T
    semoga ya ka, bisa melanjutkan komunikasi dgn si dia di masa yg akan datang…
    terima kasih atas ceritanya ♥

    Reply

    • lompatlompat
      May 24, 2016 @ 02:43:40

      Bagus yaaa. Kameraku pun nggak bisa menangkap keindahan aslinya. Yah, skill memotretku sih yang kurang 😁

      Moga2 teman perjalananku itu kesasar ke blog ini terus menghubungi aku, yah 😆

      Terima kasih sudah bacaaa~

      Reply

  3. htetsuko
    Jun 08, 2016 @ 04:11:00

    Kayaknya pelayan2 resto/penjaga toko souvenir di tempat2 wisata yang ‘pelosok’ rata2 pada begitu.. hahahaha.

    Semoga bisa ketemu lagi sama si dia ya. Huhuhu jadi pingin balik ke Jepun… masih banyak yang belum dijelajahi, terutama daerah utara nih..

    Reply

    • lompatlompat
      Jun 08, 2016 @ 04:20:58

      Pada ramah dan bocor, ga kayak di Tokyo hahaha…

      Iyaaaa, gue salah juga sih ga minta alamat mailnya si mbak sebagai balasannya.

      Ayuuuuk gue juga masih memendam keinginan menjelajahi utara….

      Reply

      • mfmfmf
        Nov 14, 2016 @ 14:40:49

        ka, aku lg nyari buku kaka yg the death to come. itu bisa didapetin dimana yaa? pengen bgt baca itu soalnya aku cuma punya buku yg kedua the grey labyrinth jadi pengen baca buku yg pertama 😔

  4. mfmfmf
    Nov 14, 2016 @ 14:45:15

    ka, buku the death to come bisa didapat dimana yaa? aku punya buku yg kedua jadi pengen baca buku pertamanyaa 😔

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: