Matsumoto Mendekati Pergantian Tahun 2014-2015 (2)

Yak, ini dia lanjutan cerita saya berjalan-jalan di akhir tahun di Matsumoto.

matsumoto16

Menempuh jalan-jalan kecil yang permai di tengah udara dingin dan segar, akhirnya saya tiba juga di Kastil Matsumoto. Pekarangan di sekelilingnya tidak begitu luas, dan bangunan-bangunan hunian hanya berjarak selemparan batu saja dari kastil. Kalau dibandingkan dengan kastil lain, misalnya Kastil Himeji yang dikelilingi pekarangan yang luas sekali, Kastil Matsumoto nyaris tak berjarak dengan sekitarnya. Hanya saja ada parit yang cukup lebar mengelilingi kastil tersebut, membuat fungsinya sebagai benteng yang sulit ditembus tetap terjaga.

matsumoto17

This post is about JapanMenurut catatan sejarah, kastil ini berasal dari masa Sengoku, dan aslinya bernama Kastil Fukashi ketika dibangun pada tahun 1504. Kastil ini berpindah-pindah tangan, dari trah Ogasawara, ke trah Takeda, dan akhirnya ke sang pemimpin besar Tokugawa Ieyasu. Dengan didirikannya Domain Matsumoto di masa keshogunan Tokugawa, kastil tersebut pun menjadi tempat bernaung penguasa Matsumoto, total sebanyak 23 orang dari enam keluarga berbeda.

matsumoto02

Kastil Matsumoto dari kejauhan tampak berdiri gagah, dengan atapnya yang membentang laksana sayap dan dinding-dindingnya yang berwarna hitam, muasal julukan ‘Karasu-jo’ (烏城) alias ‘Kastil Gagak’. Sebuah jembatan berwarna merah menghubungkan kastil dengan taman yang dipisahkan oleh parit. Warna jembatan itu terlihat sangat mencolok berlatarkan dinding kastil, tembok batu yang gelap, dan air parit yang memantulkan langit kelabu. Di dalam parit pertahanan, terlihat ikan sebesar-besar paha berenang-renang; beberapa yang berwarna terang lebih cepat tertangkap mata.

matsumoto13

Suasana tidak begitu ramai, mungkin ya karena sedang liburan tahun baru itu. Hanya ada serombongan turis yang sepertinya dari Cina, beberapa turis Jepang, dan… sepasang orang Indonesia yang sedang seru berfoto-foto. Melihat mereka sedang asyik sendiri, saya urung menyapa, dan lebih memilih membantu mengambilkan foto satu keluarga Jepang. Lantas salah satu anggota keluarga itu gantian memotret saya dengan latar belakang kastil Matsumoto yang megah.

matsumoto15

Puas melihat-lihat bagian luar kastil, saya kembali mengayunkan kaki, kali ini mengarah ke Taman Agatanomori. Saya menyusuri jalan-jalan yang banyak diapit bangunan kuno yang apik. Trotoar yang rapi membuat langkah saya enak saja, tidak terhalang apa pun, baik di jalan kecil maupun di jalan besar.

matsumoto19

Ketika tiba di Jalan Agatonomori, saya tinggal lurus saja ke arah timur untuk mencapai taman. Saya melewati Matsumoto City Museum of Art, yang sayangnya juga tidak buka. Padahal, kalau menurut informasi di Internet, museum ini menyimpan koleksi seni modern Jepang dengan penekanan pada artis-artis setempat. Yang senang karya seni kontemporer Jepang, tentu kenal Kusama Yayoi. Nah, museum ini juga menyimpan sebagian karyanya. Saya hanya bisa menikmati satu di antaranya, Visionary Flowers, yang memang dipajang di halaman depan museum.

matsumoto21

Setibanya di Taman Agatanomori, walah, tak diduga, jalanan taman agak becek. Sepatu saya kotor jadinya. Sewaktu saya sedang berusaha melepaskan lumpur yang menempel dengan cara menggesekkan sepatu saya ke ujung batu jalanan, seorang warga lewat menyapa saya sambil tertawa, melihat kondisi sepatu saya yang seperti itu. Saya hanya balas tertawa. Setelah seharian nyaris tidak ada yang saya ajak bicara, senang juga dapat sapaan random seperti itu.

matsumoto20

Di taman ini ada beberapa bangunan kuno bergaya Eropa. Awalnya, bangunan-bangunan itu adalah Sekolah Menengah Matsumoto, yang didirikan pada tahun 1919. Setelah Perang Dunia II, karena reformasi sistem pendidikan di Jepang, sekolah tersebut ditutup. Sempat menjadi Universitas Shinshu, bangunan sekolah dari kayu itu lantas dilestarikan sebagai Museum Kebudayaan Agatanomori.

matsumoto22

Tepat di belakang Museum Kebudayaan Agatanomori tersebut, terdapat Museum Sekolah Menengah Bersejarah Matsumoto. Sepertinya isi museum ini cukup seru, mengajak kita mengenang kehidupan murid-murid Jepang di masa lalu, dengan seragam gakuran dan serafuku mereka. Tapi ya… apa boleh buat, lagi-lagi saya hanya bisa gigit jari karena museum itu juga tutup.

matsumoto23

Saya mengelilingi sisi luar bangunan sekolah tua itu dan juga taman yang dihiasi sejumlah patung. Bahkan di kota yang dapat dikatakan kecil ini, rupanya banyak sekali karya seni yang tersimpan dan dipajang, termasuk di tamannya yang satu ini. Beberapa sudut taman sedang dalam perbaikan sehingga sedikit mengurangi keindahan.

matsumoto24

Berhubung kaki sudah mulai terasa mau copot dan matahari sudah semakin tergelincir ke Barat, saya kembali ke hotel. Kamar di Ace Inn Matsumoto ini saya peroleh dengan tarif 5.500 yen/semalam, harga yang pantas mengingat fasilitas yang diberikan seperti tempat tidur yang nyaman, kamar mandi pribadi, dan juga sarapan. Lagipula, saya memang pencinta hotel bisnis Jepang, hehehe…

Oya, hotel ini lokasinya juga sangat strategis: selain dekat dengan stasiun kereta, juga berseberangan dengan terminal bis antarkota yang bisa membawa kita langsung ke kota-kota seperti Tokyo, Osaka, Nagoya, dan lain sebagainya.

Seperti inilah tampilan kamar yang saya tempati beserta kamar mandinya:

matsumoto25

matsumoto26

matsumoto27

Ketika malam sudah turun, saya keluar sebentar untuk berkeliling-keliling melihat kota dengan berjalan kaki. Saya menyusuri sungai, menikmati pemandangan yang terasa berbeda di malam hari dibandingkan di siang hari. Lampu-lampu iluminasi masih semarak menghiasi sungai di beberapa tempat, baik di tepinya maupun dipasang melintasinya. Saya masuk ke sebuah toko yang menawarkan berbagai perlengkapan rumah yang lucu dan ekslusif, mulai dari handuk sampai piring makan. Namun saya hanya melihat-lihat saja, tidak ada yang cukup nyantol di hati sekaligus cocok di kantong.

matsumoto11

Tadinya saya berniat mencoba takoyaki di depan stasiun, namun ternyata kedai itu sudah tutup. Saya pun memilih untuk makan di sebuah restoran di gedung yang menempel dengan stasiun kereta. Saya lupa nama restorannya, sepertinya ada hubungannya dengan ayam. Yang jelas tempat tersebut menawarkan paket hidangan semacamloco moco dari ayam yang sungguh lezat dan mengenyangkan! Di Jepang, memang makanan dari kombini atau restoran gyudon sangat membantu kita menghemat sewaktu sedang melakukan perjalanan, tapi sempatkan juga mencicipi paket hidangan-hidangan yang seperti ini.

matsumoto-locomoco

Tidak banyak lagi yang bisa dilakukan di kota yang semakin senyap. Saya pun pulang ke hotel untuk berendam air panas dan kemudian beristirahat sepanjang sisa malam, menyiapkan diri untuk tujuan berikutnya: Ngarai Shosenkyo, Yamanashi!

matsumoto12

1 Comment (+add yours?)

  1. nyonyasepatu
    May 09, 2016 @ 12:58:29

    Bersih, sepi dan keliatannya nyaman bgt disana

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: