Matsumoto Mendekati Pergantian Tahun 2014-2015 (1)

matsumoto14

Yak, mari terlontar kembali ke lebih dari setahun lalu, menjelang masa pergantian tahun 2014 menjadi 2015. Ketika asrama kampus saya menjadi sepi karena banyak mahasiswa yang pulang ke kampung halaman masing-masing, atau pada cabut semua memanfaatkan liburan ekstra di tengah semester itu. Saya juga tidak mau kalah. Tepatnya, ih malas juga di asrama yang sepi melulu. Lebih baik main ke kota-kota lain di Jepang dengan biaya hemat. Apalagi di masa liburan akhir tahun, kita bisa menggunakan tiket Seishun 18! Untuk yang belum pernah mendengar tentang tiket istimewa ini, saya pernah menuliskannya di sini.

This post is about JapanDua kota menjadi pilihan saya, yaitu Matsumoto di prefektur Nagano dan Kofu di prefektur Yamanashi. Kedua prefektur ini bersebelahan, dan bisa tercapai dengan kereta lokal di Jalur Chuo. Kebetulan stasiun terdekat dengan asrama saya adalah Musashi-Koganei yang berada di jalur yang sama. Tinggal naik kereta ke arah luar Tokyo! Sebenarnya ada sih kereta cepat Azusa dan Kaiji yang menuju ke Matsumoto, namun harus bayar ekstra. Ah, pikir saya. Tidak perlu lah. Dengan kereta lokal ke Matsumoto paling-paling 5 jam. Pokoknya, dinikmati saja! Pasti banyak hal yang bisa dilihat dalam perjalanan.

Incaran saya di Kofu sebenarnya bukan kotanya sendiri, melainkan Ngarai (gorge) Shosenkyo. Jadwal perjalanan pun saya susun. Hari pertama, saya akan menuju Shosenkyo, hiking di sana, lalu berpindah ke Matsumoto untuk menginap di sana. Esok harinya rencananya akan saya gunakan untuk menjelajahi Matsumoto, sebelum kemudian pulang ke Tokyo. Dua hari saja? Yes, dua hari cukup untuk break sebentar dari kehidupan di asrama yang sunyi.

Eladalah, di hari keberangkatan, cuaca tidak mau berkompromi. Langit gelap seolah siap menurunkan hujan atau bahkan salju. Sebetulnya saya berharap ramalan cuaca yang saya periksa sejak dua hari sebelumnya akan berubah. Ternyata tidak. Maaf, kata Accuweather, perkiraan kami akurat kok.

Nah, enaknya bepergian sendiri adalah saya tidak perlu berdiskusi dengan siapa-siapa untuk mengganti jadwal perjalanan. Langsung saja saya berganti keputusan: saya akan pergi ke Matsumoto dulu untuk berjalan-jalan di dalam kota, toh saya akan menginap di sana. Baru esok harinya, yang diramalkan cerah, saya akan menuju Shosenkyo.

matsumoto04

Dengan berbekal barang-barang dalam satu tas ransel, saya pun berangkat lah. Oleh karena di hotel Jepang biasanya disediakan piyama, saya pun tidak membawa baju tidur. Lumayan, meringankan isi ransel!

Fase pertama perjalanan saya adalah menuju Kofu. Nah, di jalur Chuo ini, kita untung-untungan. Terkadang ada kereta yang langsung menuju ke Kofu atau Matsumoto. Kalau tidak dapat, ya terpaksa harus berganti kereta beberapa kali. Masih di jalur yang sama, hanya saja layanan kereta di jalur yang luar biasa panjang ini memang terpenggal-penggal. Dari arah Shinjuku, ada kereta Chuo yang hanya sampai Tachikawa, lalu kalau mau terus kita harus menunggu kereta lain yang menuju destinasi kita, atau setidaknya yang semakin mendekatinya. Ada kereta yang hanya sampai Takao. Ada yang hanya sampai Kofu. Ada juga yang teruuuuusssss menempuh perjalanan langsung sampai ke Matsumoto. Jadi kita memang harus memperhatikan baik-baik kereta mana yang kita naiki. Kali ini, saya berganti kereta ke Matsumoto di Kofu. Langit kelabu seolah mengikuti ke mana pun.

Sewaktu kereta masih melaju di rel yang berada di wilayah Tokyo, lalu kemudian Yamanashi, tidak ada salju meskipun saat itu sudah akhir Desember. Namun ketika kereta semakin merambat naik ke daerah tinggi yang merupakan bagian prefektur Nagano, salju tebal terlihat di mana-mana! Saya kesenangan sendiri menyaksikannya, meskipun kadang gentar, khawatir ada tumpukan salju yang mungkin menghalangi perjalanan kereta.

Perhatikan deh foto di bawah ini. Menurut Anda kira-kira foto yang saya ambil dari jendela kereta ini, menampakkan apa?

matsumoto01

Sebenarnya itu adalah peron salah satu stasiun yang disinggahi kereta saya! Salju begitu tebal sampai lantai peron tidak lagi terlihat. Seorang petugas tampak sedang berupaya membersihkan peron itu sebisanya agar setidaknya ada tempat berdiri untuk penumpang yang turun ataupun naik kereta di stasiun itu. Semangat ya Pak…

Setiba di Matsumoto, terlebih dahulu saya mencari kamar kecil, dan dengan cukup kaget mendapati bahwa dibandingkan stasiun-stasiun di Tokyo, kamar kecil stasiun utama kota ini justru bersih sekali. Bila stasiun-stasiun JR di Tokyo umumnya hanya menyediakan WC jongkok ala jepang, stasiun Matsumoto justru menawarkan kenyamanan washlet. (Nantinya saya tahu bahwa banyak stasiun utama kota-kota kecil yang memang bagus-bagus begini.)

matsumoto-udon

Dan berhubung matahari sudah naik tinggi sekali, saya memutuskan untuk makan dulu di salah satu restoran yang menawarkan udon berkuah jernih di stasiun tersebut. Ufh, segar dan hangat sekali rasanya. Saya belum letih sih meski barusan menempuh perjalanan beberapa jam dari Musashi-koganei, tapi hidangan siang itu berhasil membuat saya semakin bersemangat.

matsumoto03

Saya melangkah keluar dari stasiun dan mendapati sebuah kota yang senyap. Tidak banyak terlihat orang di jalanan. Salju tidak lagi banyak tersisa, karena sebagian besar sudah mencair atau dibersihkan. Di sana-sini terlihat berbagai hiasan tahun baru terpasang menyambut hari besar itu, termasuk bendera Jepang.

matsumoto06

Oleh karena hotel saya—Ace Inn Matsumoto—hanya selemparan batu dari stasiun, saya memutuskan ke sana dulu untuk check-in dan menitipkan sejumlah barang. Setelahnya saya melangkahkan kaki menuju Kastil Matsumoto, rencananya sambil melewati daerah perbelanjaan yang disebut Kaerumachi dan mengunjungi setidaknya satu museum.

Namun, alamak! Ternyata museum-museum di seantero kota tutup, karena menjelang tahun baru. Ufh, sayang sekali! Saya benar-benar lupa pada faktor ‘libur tutup tahun’. Padahal di Matsumoto ada sejumlah museum menarik, di antaranya museum jam (timepiece). Jadi ini satu catatan bagi Anda yang ingin berlibur ke Jepang di sekitar tahun baru: banyak tempat publik yang tutup di sekitar waktu pergantian tahun. Saya pun hanya bisa memandang kepengen kepada dua koleksi museum yang dipamerkan di jendela kaca di sebelah depan. Padahal saya sangat menyukai jam-jam kuno…

matsumoto05

Ah, ya sudah, tidak apa-apalah. Toh sekadar jalan-jalan berkeliling kota ini pun bisa melihat banyak hal indah. Sungai Metoba membelah kota ini, dan terdapat sejumlah bangunan menarik di kiri-kanannya, dari yang bergaya arsitektur modern sampai kuno. Saya memperhatikan ada sejumlah mobil era Showa yang diparkir di jembatan-jembatan yang agak jauh dari tempat saya berdiri.

Yang menyenangkan, di beberapa tempat terdapat air mancur yang mengalirkan air yang jernih. Ada yang airnya bisa diminum langsung, ada yang tidak. Tandanya, kalau ada ciduk yang disediakan di air mancur tersebut, maka Anda dipersilakan untuk meminum airnya, tentunya secara cuma-cuma.

matsumoto18

Perhentian pertama saya adalah kawasan Kaerumachi alias ‘jalan kodok’, yang diresmikan pada tahun 1972 sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali Jalan Nawate dan mendorong kebersihan sungai Metoba. Atmosfer lama Jalan Nawate dipertahankan – banyak bangunan tua kini berfungsi sebagai toko atau restoran yang tampak mengundang. Lebih asyik lagi, kendaraan tidak boleh masuk ke jalan ini, sehingga pejalan kaki pun bebas berjalan santai tanpa takut tertabrak mobil saat perhatian sedang teralih ke sana kemari.

matsumoto07

Kaeru memang berarti kodok, dan tidak heran di sana-sini, termasuk di sudut-sudut yang mungkin tidak terduga, kita bisa menemukan berbagai patung dan pernak-pernik kodok. Bahkan di mulut Kaerumachi kita bisa jumpai patung kodok berukuran raksasa. Konon, dulu memang di daerah ini kita bisa mendengar riuhnya suara kodok kajika yang merupakan hewan endemik Jepang. Namun kaeru juga bisa ditulis secara berbeda dan memiliki sejumlah arti lain, misalnya 買える (‘bisa membeli’) dan  帰る (‘pulang’).

matsumoto08

Kalau saya tidak sendirian, ingin deh mampir ke salah satu restoran atau kafe lucu yang ada di jalan ini. Namun kok rasanya agak ‘garing’ ya kalau tidak ada pendampingnya. Akhirnya saya hanya berjalan melihat-lihat, dan sempat bimbang menimbang-nimbang haruskah saya membeli suvenir kodok atau tidak. (Keputusan akhir saya: Nggak dulu, deh.)

matsumoto09

Hop, hop, hop, baiklah. Setelah puas melompat-lompat di Jalan Kodok, saya pun mengarah ke tujuan berikutnya: Kastil Matsumoto!

Nantikan ceritanya di bagian kedua tulisan ini, ya.

2 Comments (+add yours?)

  1. totoryan
    May 10, 2016 @ 08:41:41

    “melompat-lompat di jalan kodok” ahahahaha
    wihh, suasananya bikin agak merinding, selain karena lihat salju, juga karena banyak suasana di foto yang sepi banget ya… kayak di manaaa gitu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: