Otaru, winter wonder-port (2) Maret 2015

This post is about Japan

Hari kedua di Otaru! (Kalau belum baca cerita hari pertamanya, ada di sini, ya.)

otaru-22

Setelah mandi pagi (dengan air panas tentunya), saya turun untuk menikmati sarapan di ruang makan bersama. Seperti juga di kebanyakan hotel lain yang menyediakan sarapan, kita bisa mengambil roti dengan berbagai olesan, juga beraneka minuman seperti kopi, teh, dan jus. Bedanya adalah, di hotel ini, setelah kita memperoleh tempat duduk, seorang pelayan akan menghampiri dan memberikan sebutir telur ceplok dan sosis untuk kita. Saya kaget karena tidak meminta, dan saya pikir memang di hotel ini tidak disediakan telur untuk sarapan, namun rupanya begitulah cara mereka melayani. Sosisnya… sosis apa ya? Saya mau bertanya juga tidak enak, menyisakan pun rasanya tidak sopan. Akhirnya saya bismillah saja…

otaru-43

Pagi ini tujuan saya adalah kawasan Sakaimachi, yang bisa didatangi dengan berjalan lurus lebih jauh lagi dari Denukikoji yang saya singgahi kemarin. Sakaimachi adalah kawasan toko dan kedai kecil yang merupakan salah satu daya tarik utama Otaru. Biasanya kunjungan ke Sakaimachi dirangkaikan dengan kunjungan ke Jembatan Asakusa.

otaru-47

Seperti juga di bagian-bagian Otaru lainnya, di beberapa tempat di Sakaimachi salju masih menggunung. Saya bahkan melihat sejumlah kendaraan, mulai dari sepeda sampai mobil, yang terendam salju. Para pemiliknya barangkali sudah pasrah dan memutuskan untuk membiarkan saja kendaraan mereka terkubur sampai nanti salju mencair sendiri.

otaru-28

Di lereng bukit, terlihat struktur-struktur serupa atap berpenyangga yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Sepertinya struktur-struktur itu dipasang untuk mencegah agar salju tidak langsung longsor menuruni lereng dan menimpa bangunan-bangunan di sebelah bawah.

otaru-27

Pagi itu, kawasan Sakaimachi sudah mulai ramai. Penjaga-penjaga kedai menawari kami untuk mampir, berupaya menggoda kami dengan beraneka ragam kue, cokelat, es krim, dan hidangan laut baik yang dimakan mentah, direbus, digoreng, maupun dibakar. Aduh, saya ingin coba semuanya! Seandainya satu harganya Rp 10.000 saja sih sudah saya sikat semuanya… Pokoknya ini catatan, ya: kalau berkunjung ke Hokkaido, siapkan dana khusus untuk jajan!

otaru-26

Saya sih hanya ingat menyantap ini saja:

  • Jagamaru, bola-bola kecil yang terbuat dari kentang dan susu. Harganya 250 yen untuk 5 bola hangat ini di kedai di Denukikoji. Sebenarnya ini sudah saya incar dari kemarin, sih.

otaru-49

Begini penampakan jagamaru dari lebih dekat lagi:

otaru-50

  • Petit don, semangkuk kecil nasi dengan potongan-potongan hidangan laut, disantap bersama kecap asin. Pas untuk yang ingin mencicipi hidangan laut Hokkaido tapi kantongnya… pas-pasan. Sebenarnya, harganya 300 yen, tapi karena penjaga kedai menawari saya untuk mengganti kepitingnya dengan kepiting asli Hokkaido, harganya pun melonjak menjadi 600 yen. Yah, tak apalah, demi bisa icip-icip kepiting yang terkenal itu. Dan memang… rasanya enak dan segar! O ya, tabung hitam di sebelah kanan itu adalah botol kecapnya. Kecap keluar dari bawah bila tombol di atasnya dipencet. Saya sempat bingung tidak mengerti cara pakainya sampai-sampai harus ditolong oleh pramusaji, hahaha..

otaru-46

  • Es krim! Biarpun suhu di bawah sepuluh derajat, ini jajanan wajib di Hokkaido! Sejumlah kedai menawarkan es krim yang tinggi macam menara, dengan 7 sampai 8 rasa. Saya tertarik sih, tapi rasanya saya tidak akan sanggup menghabiskan es krim setinggi itu sendirian. Akhirnya saya pilih yang enam rasa saja, seharga 380 yen. Dan, nggak bohong, memang es krim yang terbuat dari susu Hokkaido berbeda rasanya. Lebih segar! Masing-masing dari keenam rasa yang ada tetap terasa, namun tidak saling mengganggu rasa yang lain. Ngomong-ngomong, saya sampai lupa keenam rasa itu apa saja. Ada cokelat, susu, lavender, macha… lalu mungkin melon dan anggur. Mungkin. Saya lupa.

otaru-44

Beberapa toko menawarkan berbagai hasil kerajinan daerah setempat, termasuk yang khas Ainu, penduduk asli Hokkaido. Sebenarnya saya ingin mencari tahu lebih banyak tentang orang-orang Ainu secara langsung, namun sayangnya tidak sempat.

otaru-29

Dua ekor anjing di foto di bawah ini ‘menjaga’ salah satu toko kerajinan tersebut. Mereka sangat ramah dan manis, dan membiarkan para pengunjung yang lewat mengelus-elus mereka.

otaru-30

Di Sakaimachi banyak sekali toko kue dan cokelat, oleh-oleh paling popular dari Hokkaido. Ya habisnya bagaimana ya. Kan kita tidak bisa membawa pulang es krim. Yang jelas, kalau Anda memang suka manis-manis dan kue-kue, bisa pusing sendiri melihat betapa banyak ragam yang ditawarkan toko-toko di sini. Sebagian bisa Anda peroleh di tempat-tempat lain di Hokkaido ataupun kota-kota lain Jepang, sebagian lain hanya bisa dibeli di Otaru. Foto di bawah ini adalah tampak depan sebuah gudang yang telah disulap menjadi salah satu toko kue paling kenamaan di Otaru. Turis-turis bertangan kosong mengalir masuk, lalu keluar lagi dengan menenteng berkotak-kotak kue dan cokelat.

otaru-31

Nyaris di ujung Sakaimachi, terdapat Meruhen Kosaten alias ‘persimpangan dongeng’ (meruhen adalah serapan dari kata bahasa Jerman märchen). Banyak yang berfoto-foto di sini karena suasananya yang seperti di Eropa. Seperti dalam dongeng. Memang Otaru merupakan winter wonder-port!

otaru-32

Di persimpangan ini juga terletak museum dan toko kotak musik (alias ‘orgel’) Otaru, yang seperti juga museum-museum serupa di berbagai penjuru Jepang, memajang sejumlah otomaton.

otaru-33

Di samping salah satu pintu, terpasang sebuah ‘pohon Natal merangkap pohon Valentine’ yang daunnya terbuat dari pesan-pesan cinta yang digantungkan oleh para pengunjung. Kertas dan spidol untuk menulis bisa diperoleh di sebelah dalam. Saya tidak ingat sih, apakah gratis atau harus bayar.

otaru-38

Isi museum/toko kotak musik tersebut, yang ternyata berukuran cukup besar, memang terasa bagaikan dalam dongeng Eropa, dengan perabotan, tangga, dan pagar yang terbuat dari kayu yang tampak hangat.

otaru-36

Saya tidak membeli apa-apa, hanya melihat-lihat berbagai barang yang dijual atau semata dipamerkan. Ada berbagai alat pemutar musik antik dan orgel kuno. Sebagian sih mirip dengan yang pernah saya lihat di Music Forest di Kawaguchiko, namun tetap saja senang melihatnya.

otaru-39

Salah satu yang paling menarik bagi saya adalah diorama yang menampilkan sejarah kotak musik, disandingkan dengan peristiwa-peristiwa penting lainnya pada setiap periode. Selain melihat evolusi alat pemutar musik, kita pun bisa melihat perubahan fesyen dan momen-momen bersejarah dari masa ke masa.

otaru-37

Oya, toko-toko atau tempat-tempat umum yang terbuka untuk publik semacam ini biasanya menyediakan toilet yang bersih dengan washlet. Jadi saya selalu menyempatkan menggunakan fasilitas itu kalau kebetulan mampir. Daripada di luar susah lagi mencari toilet yang oke. Di Jepang toilet umumnya ya paling sering berupa WC jongkok, dan meskipun bersih, paling-paling hanya menyediakan tisu toilet.

otaru-35

Saya sebenarnya masih ingin berlama-lama di kota kecil yang cantik ini, namun sudah waktunya saya berangkat ke Sapporo. Saya mengambil barang-barang di hotel, lalu melangkah berlambat-lambat ke stasiun kereta api. Tapi kali ini tujuan saya bukan naik kereta, melainkan menumpangi bis ke Sapporo agar mendapatkan pemandangan yang berbeda selama perjalanan. Seingat saya, ada dua rute berbeda yang bisa membawa kita ke Sapporo. Saya mengandalkan gut feeling saja dan memilih salah satu rute. Tiket seharga 610 yen sekali jalan bisa dibeli dari mesin di halte bis.

otaru-34

Ketika bis tiba, saya dan beberapa orang lain pun langsung naik. Tak beberapa lama menunggu, bis pun mulai bergerak ke arah Sapporo. Saya memandang ke luar jendela, berusaha mengamati sebanyak mungkin sudut-sudut kota kecil yang menyenangkan itu. Selamat tinggal, Otaru, moga-moga di suatu musim dingin nanti kita bisa berjumpa lagi.

otaru-40

8 Comments (+add yours?)

  1. totoryan
    Dec 16, 2015 @ 01:25:39

    jagamaru! #cateeeet
    ya Allah seafooood aku mauu… mesti nyari yg petit petit ya biar pas dengan isi dompet huhuhuks…

    ka tyas bilang 7-8 rasa kebanyakan taunya beli yang 6 rasa hahahaha ga beda jauh xD

    senangnya baca ini pagi-pagi sebelum menyemplungkan diri dalam kepanikan dan kehebohan kantor hahahaa… makasi kaaa #chuu

    Reply

    • lompatlompat
      Dec 16, 2015 @ 06:18:29

      Oyeee sama-samaaa hahaha! Aku juga pagi2 tadai kayak perlu mood booster dulu, jadi ngepost blog dulu aja lah😄

      Tapi petitnya bener-bener petit loh, kalau pengen sekalian kenyang-puas ya beli yang gede. Oh, tapi di Sapporo ada deng tempat makan seafood yang harganya lebih bersahabat. Nanti aku bahas yaaa!

      Lumayanlah es krimnya dikurangi 2 rasa, tingginya berkurang beberapa sentimeter😄

      Reply

  2. gingerbreadandtea
    Dec 16, 2015 @ 15:34:37

    Jepang ga summer ga winter, soft cream nya all season yahhh hahaha..padahal kan dingin brrrr.. btw makanannya bikin laper mbak, kayaknya enakk

    Itu orang ainu, kayaknya ak pernah denger di pelajaran geografi smp apa sma gtu, suku ainu.. baru kali ini denger lagi hehehe

    Reply

    • lompatlompat
      Dec 20, 2015 @ 02:41:29

      Surprisingly ternyata nggak gimana-gimana banget lho, karena suhu es krimnya sendiri juga kalah sama udara luar sebenernya.

      Orang Ainu penduduk asli Hokkaido sebelum daerahnya direbut orang Jepang dari Honshu (orang-orang Yamato). Sampai sekarang juga hubungan di antara mereka masih sensitif sebenarnya…

      Reply

  3. htetsuko
    Jun 08, 2016 @ 06:31:11

    Es krim rasa lavender kayak apa rasanya? Kalo makanan banyak sih yang dibubuhi bunga sakura (padahal sakura nggak ada baunya), rasanya floral2 gitu.. tapi baru tahu lavender dijadiin es krim.. sassuga Hokkaido!

    Reply

    • lompatlompat
      Jun 08, 2016 @ 06:38:28

      Gimana yah, masih kerasa susu sebenarnya. Tapi ya kalau makan jadi ada wangi lavender di mulut (sepertinya itu yang memberikan ‘rasa lavender’). Di Nikko aku malah pernah makan es krim rasa kulit tahu hahaha

      Reply

      • htetsuko
        Jun 08, 2016 @ 07:00:24

        Naru hodo.. es krim kulit tahu iku opo maneeh ahahaha. Gitu lho kuliner Jepang itu. Kadang ada produk minuman/snack yang dibikin versi rasa yang aneh2.. ada yang enak ada yang fail sih.

      • lompatlompat
        Jun 08, 2016 @ 07:35:27

        Iyaaa XDD Setiap kali mau nyoba juga takut-takut, sebenarnya. Takut rasanya ga keruan😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: