Otaru, winter wonder-port (1) Maret 2015

otaru-47

Mengapa orang-orang berkunjung ke Hokkaido?

Jawaban yang umum diberikan adalah: salju di musim dingin, dan lavender di musim panas.

This post is about JapanPrefektur paling utara di Jepang ini meliputi sebuah pulau besar dan pulau-pulau lebih kecil di sekelilingnya, yang masih membanggakan alam liar dan kekhasan budaya. Dibandingkan sebagian besar Jepang lainnya, Hokkaido dikuasai musim dingin untuk waktu yang lebih lama. Salju selalu turun lebih dulu, menumpuk lebih tebal, dan pergi lebih belakangan dari Hokkaido. Tak heran, Hokkaido adalah salah satu tempat tujuan utama bagi orang-orang yang ingin menikmati olahraga musim dingin di Jepang.

Festival salju Sapporo, ibukota Hokkaido, juga merupakan salah satu daya tarik wisata utama prefektur tersebut. Pada puncak perayaan, mencari penginapan di Sapporo bisa sulit. Transportasi ke sana pun bisa jadi harus dipesan jauh-jauh hari. Adik saya dan istrinya beruntung bisa pergi ke sana pada festival salju tahun ini, namun saya tidak bisa ikut antara lain karena bulan Februari adalah saatnya saya menyelesaikan dan mempresentasikan tugas akhir di kampus saya di Tokyo.

Oleh karena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan (‘mumpung di Jepang’), saya menyempatkan diri mengunjungi Hokkaido di awal Maret. Saya memilih untuk terbang dengan Jetstar ke Sapporo, namun bukan dari Tokyo, melainkan dari bandara Kansai di Osaka. Pasalnya, saya dapat undangan untuk menonton konser LUNA SEA di Osaka Jou Hall yang merupakan penutup rangkaian tur mereka yang digelar sejak 2014. Tentu saja saya tak mau melewatkan kesempatan tersebut.

otaru-03

Keesokan harinya setelah konser tersebut, pagi-pagi saya meninggalkan Hotel Taiyo tempat saya menginap dan langsung menuju bandara yang terkenal dengan kodenya, KIX. Ngomong-ngomong soal Hotel Taiyo, ini hotel lumayan murah yang bisa jadi pilihan bila hendak menginap di Osaka.

Pesawat Jetstar membawa kami, para penumpang, terbang di atas Pulau Honshu dan pegunungan-pegunungannya yang masih berliput salju. Namun dari atas pun kelihatan bahwa salju sudah menghilang dari sebagian besar dataran rendah di Honshu. Musim dingin 2014-2015 memang cenderung hangat dibandingkan musim dingin 2013-2014 yang dihiasi badai salju hebat beberapa kali.

newchitose-01

Ketika kami mendarat di bandara terdekat dengan Sapporo, New Chitose, kami langsung disambut pemandangan bersalju yang langsung membuat riang hati saya sebagai penduduk Tokyo yang musim dingin itu hanya kebagian tiga-empat hari bersalju setengah hati.

Awalnya, saya ingin menginap di Sapporo dua malam, dan hanya daytrip ke Otaru. Namun berdasarkan saran dari adik saya dan istrinya, saya mengubah jadwal menjadi menginap semalam di Otaru sebelum kemudian berpindah ke Sapporo. Kata mereka, Otaru cantik sekali, dan bahkan lebih menarik daripada Sapporo. Tanpa benar-benar tahu apa yang bisa saya temukan di kota itu, saya menuruti saran mereka.

otaru-02

Kereta melaju membelah alam yang didominasi warna putih, baik itu berupa padang luas ataupun jejeran pepohonan yang sebagian besarnya telah lama meranggas, meninggalkan batang-batang kelabu telanjang yang seolah tertancap di salju. Suasana hening dan bagian dalam kereta yang hangat membuat saya agak terkantuk-kantuk. Namun saya membuka mata lebar-lebar, hendak mencecap keindahan Hokkaido sebisa mungkin. Saya pikir, padang-padang luas putih di luar sana, dengan beberapa bangunan yang tampaknya merupakan lumbung atau kandang di kejauhan, adalah tempat menggembala sapi di musim panas.

Bangunan buatan manusia baru terlihat banyak ketika kereta memasuki wilayah Sapporo. Kereta berhenti sejenak untuk menaik-turunkan penumpang di stasiun utama kota tersebut, sebelum kembali melaju. Bila tadi membelah dataran, kini rel kereta meliuk mengikuti bentuk pesisir. Ya, laut! Bila Sapporo terletak agak lebih jauh ke sebelah dalam daratan, Otaru memang sebuah kota pelabuhan, terletak langsung di samping laut. Tak heran kota ini dalam sejarahnya berkembang sebagai kawasan bongkar-muat dan pergudangan barang-barang yang dibawa dengan kapal.

otaru-01

Setiba di stasiun kereta Otaru yang dibangun pada 1934, saya mencek peta dan mendapati bahwa hotel tempat saya akan menginap terletak separo jalan antara stasiun dan kawasan tepi laut yang terkenal karena kanal-kanalnya. Bagus lah, berarti saya bisa mampir dulu untuk menitipkan barang, karena belum waktunya check in.

Saya pun mulai berjalan kaki ke arah Smile Otaru, hotel yang telah saya pesan sebelumnya lewat booking.com. Meskipun sebagian besar jalan mobil telah dibersihkan, salju masih menumpuk di pinggir jalan, halaman rumah dan bangunan, serta di atas sebagian trotoar. Udara terasa segar, meski lumayan menggigit.

Hotel Smile Otaru (tadinya dikenal sebagai Hotel Otaru Green) menempati dua buah bangunan yang berseberangan jalan. Saya melapor diri ke resepsionis yang terletak di bangunan utama, dan ternyata saya mendapatkan kamar di bangunan tambahan alias annex. Saya menitipkan bawaan ke resepsionis, lalu minta izin menggunakan toilet sebelum melanjutkan jalan-jalan. Dengan kaget saya mendapati bahwa toilet umum di lantai satu itu masih berupa toilet jongkok! Rasa-rasanya, selama pengalaman saya menginap di berbagai hotel dan penginapan di Jepang, dari yang ada di kota besar sampai kota kecil, baru kali ini saya menemukan yang toilet umumnya berupa WC jongkok. Yah, tidak apa lah, selama yang di kamar nanti tetap berupa washlet.

otaru-04

Sekeluar lagi dari hotel, saya melangkahkan kaki ke arah tepi laut, tinggal lurus di atas jalan yang sama dengan yang saya tempuh dari stasiun tadi. Tak beberapa lama, saya sudah tiba di Canal Plaza, salah satu dari bangunan bekas gudang yang telah beralih fungsi.

otaru-05

Kini, gudang itu merupakan pusat informasi bagi wisatawan, dilengkapi dengan kafe, toko cenderamata khas Otaru khususnya dan Hokkaido pada umumnya, toilet, dan pameran foto-foto yang memuat sejarah Otaru. Wi-Fi juga tersedia bagi yang memerlukan. Kalau sekadar kedinginan dan butuh tempat hangat untuk beristirahat dan berlindung sejenak, kita bebas-bebas saja kok memasuki pusat informasi ini.

otaru-06

Saya memasuki plaza ini dari pintu samping, dan keluar melalui pintu depan yang menghadap langsung ke kanal Otaru. Dari depan plaza, mau ke kiri ataupun ke kanan, kita dapat menemukan banyak tempat menarik. Saya terlebih dahulu menuju ke kiri, mengamat-amati sejumlah bangunan tua lain yang dibangun dari batu tebal dan kini digunakan sebagai museum, restoran, atau toko. Beberapa toko menawarkan produk-produk berbahan gelas/kaca, salah satu kriya kebanggaan Otaru.

otaru-07

Saya menyeberang jalan agar bisa mengamati kanal dengan lebih baik. Bagian kanal yang ini sebenarnya bukan bagian yang paling terkenal, dan tampaknya lebih bersifat fungsional daripada sebagai daya tarik wisata. Beberapa kapal dan perahu tampak bersandar di atas air kelam yang tenang, sementara kiri-kanan kanal tertutup salju tebal yang sebagian tampak belum pernah disentuh manusia sejak lama. Mungkin siapa juga yang mau iseng membelah salju hanya untuk bermain-main di bagian kanal sebelah sini. Ada yang berpendapat bahwa kanal-kanal Otaru ini overrated, alias biasa saja. Entahlah kalau di musim lain, tapi kanal-kanal itu tampak indah di mata saya di saat musim dingin.

otaru-08

Sebetulnya bila saya meneruskan berjalan ke arah kiri, saya bisa sampai ke Museum Otaru. Namun karena merasa sudah kesorean, saya memutuskan untuk balik badan dan melangkah ke arah Jembatan Asakusa, tempat berfoto paling terkenal di sepanjang kanal.

otaru-11

Dalam perjalanan ke sana, saya melewati lebih banyak lagi gudang-gudang tua yang telah beralih fungsi, mulai dari kedai bir (salah satu produk andalan Hokkaido lainnya) sampai family restaurant.

otaru-12

Ada pula sebuah tempat ibadah, yaitu Feliz Church, meski saya tidak sempat mencek apakah betul gereja itu masih digunakan oleh jemaat atau tidak.

otaru-09

Di bagian Otaru yang ini, terlihat cukup banyak turis. Kami berjalan sedikit terpeleset-terpeleset di atas trotoar yang sebenarnya menjadi licin karena salju yang menutupinya mulai mencair. Kami juga harus berhati-hati agar tidak berjalan terlalu dekat dengan atap, karena ada kemungkinan salju meluncur jatuh dari atas menimpa kami.

otaru-10

Turis lebih banyak lagi terlihat di Jembatan Asakusa, asyik berfoto-foto. Sebuah perahu yang membawa rombongan turis tampak membelah kanal—seru juga untuk mencicipi sendiri pentingnya kanal-kanal itu dengan cara menyusurinya.

otaru-20

Selain tempat berfoto, di sekitar jembatan ini pun ada kantor pariwisata, dengan staf yang selalu bersedia bertutur mengenai Otaru kepada para wisatawan sekaligus menyediakan layanan tongbro alias tolong bro, membantu memfoto pengunjung yang tidak punya tongsis.

otaru-19

Petunjuk suhu di samping kantor tersebut menunjukkan 5 derajat Celsius. Cukup rendah (ataukah menurut Anda sangat rendah?), namun tidak menyurutkan langkah para penjual es krim menjajakan dagangan mereka. Yap, es krim. Hokkaido memang terkenal dengan produk-produk susunya, antara lain ya es krim itu.

otaru-18

Dan suhu dingin bukan penghalang bagi mereka yang ingin menikmatinya. Salju boleh setinggi lutut, tapi kedai-kedai es krim tetap buka.

Namun oleh karena saya belum sempat makan siang, saya memilih untuk mencari pengisi perut yang lain terlebih dahulu.

otaru-21

Sebenarnya sih, saya ngiler ingin mencicipi hidangan laut yang ditawarkan banyak restoran, mulai dari sushi sampai ramen berisikan hasil laut. Kata orang, kalau ke Hokkaido memang wajib mencicipi seafood-nya yang rasanya lebih enak dan segar dibandingkan di bagian Jepang mana pun. Anda pikir makan sushi di Tsukiji sudah asyik? Harus cicipi yang di Hokkaido dulu, apalagi kepitingnya. Tapi, nah ini tapinya… harga hidangan laut di Hokkaido mahal gilak!

otaru-14

Saya terdiam di depan salah satu restoran yang menawarkan beraneka kombinasi nasi dengan hidangan laut yang bertempat di Denukikoji, sekelompok tempat makan yang mengelilingi sebuah menara jam tua. Sepiring, atau tepatnya semangkuk nasi, dengan lauk-pauk harganya 3.000 sampai 4.000 yen! Waduuuh, masa hari pertama kantong langsung jebol, sih.

otaru-13

Saya akhirnya memilih untuk jajan tapi yang berukuran lumayan besar saja. Di kedai lain di Denukikoji, saya membeli bakudanyaki. Makanan ini bentuknya seperti takoyaki, namun ukurannya sekepala bayi dan isinya lebih macam-macam, seperti jagung, kerang, dan lain sebagainya. Dengan 450 yen, saya memperoleh satu bakudanyaki hangat dengan rasa cheese mix. Lumayan juga sebagai pengganjal perut. Saya menghabiskannya sambil berdiri di depan kedai, soalnya 1) ada tempat sampah di depan kedai, 2) saya ngeri juga terpeleset kalau berjalan sambil sibuk mengurusi si ‘bola meriam’ ini.

otaru-15

Usai makan, saya kembali menyusuri jalan ke arah dalam kota, menjauhi kanal. Perhentian saya berikutnya adalah Otaru Bine, satu lagi bangunan kuno bergaya Eropa yang kini difungsikan sebagai terminal bis, toko cendera mata, dan kafe. Ada beberapa kafe yang menawarkan beraneka makanan dan minuman di dalam Otaru Bine, tapi pilihan saya jatuh kepada penjual panju, yang ditawarkan sebagai jajanan khas Otaru.

otaru-17

Setiap butir panju berukuran kira-kira sebesar onde-onde, dengan bentuk yang membulat di sebelah atas. Isinya bermacam-macam, namun karena saya memilih untuk membeli set seharga 550 yen, saya hanya bisa memperoleh tiga butir panju yang ditemani oleh secangkir kopi hangat (atau teh, bila Anda lebih suka). Saya pun memilih panju dengan rasa cokelat, macha, dan milk caramel. Kalau harus dicari perbandingannya, mungkin teksturnya agak mirip kue cubit, dengan isi melimpah. Bahan-bahan segar dari Hokkaido membuatnya istimewa.

otaru-16

Dari tadi saya memang belum makan siang dengan benar, tapi dipikir-pikir lumayan banyak juga jajanan yang sudah masuk ke perut saya. Meski sudah terlanjur pewe di dalam Otaru Bine yang hangat, saya kembali menerjang udara dingin di luar, hendak mengambil uang di ATM kantor pos yang letaknya di dekat situ, lalu kembali ke hotel untuk check in. Saya melewati sejumlah museum yang tutup sehingga hanya bisa saya pandangi bagian luarnya.

otaru-24

Saya juga menyeberangi rel kereta tua yang dibiarkan tetap di tempatnya meskipun tak lagi berfungsi. Dulunya, rel ini melayani jalur Temiya, jalur kereta paling tua di Hokkaido. Walaupun tidak lagi digunakan, rel itu tampak masih terawat baik—setidaknya dari yang saya bisa lihat dari bagian-bagiannya yang tidak terkubur salju. Potongan sejarah ini tidak disingkirkan, melainkan dibiarkan tertidur tanpa diusik.

otaru-23

Sekembalinya ke hotel, saya mengambil tas yang saya titipkan di resepsionis dan juga kunci kamar. Saya lantas menyeberang ke bangunan hotel yang satu lagi, disambut oleh lobi dan ruang makan yang dihiasi gambar-gambar bergaya klasik.

otaru-45

Diantar oleh lift, saya pun tiba di kamar tidur single dengan kamar mandi dalam, dan sebotol susu gratis yang sudah menanti. Dasar Hokkaido, freebie hotel pun berupa susu segar (yang memang enak sekali rasanya)!

otaru-48

Hotel Smile adalah salah satu hotel bisnis yang banyak tersebar di seantero Jepang, ditemukan di kota-kota kecil maupun besar. Saran saya sih, bila hendak bepergian ke kota-kota kecil, tidak perlu buru-buru mencari hostel atau guest house karena ingin harga murah. Di kota-kota kecil, harga kamar hotel bisnis dengan fasilitas lengkap, kamar mandi pribadi, dan sarapan sering kali sangat murah, bersaing dengan hostel dan guest house. Untuk saya yang sering bepergian sendirian pun biasanya ada pilihan kamar hotel untuk 1 orang. Kamar di Hotel Smile ini, misalnya, berharga 3700 yen (sekitar Rp 400.000) untuk satu malam. Harga yang sangat pantas untuk fasilitasnya, dan juga privasinya, kan? Tentunya kalau di kota besar macam Tokyo, sulit memperoleh kamar sebagus ini dengan harga semurah itu. Jadi tiap kali bepergian ke kota kecil, saya puas-puaskan menginap di hotel yang nyaman, bukan di dorm. Lihat, sampai sandal kamar pun ada.

otaru-42

Malam musim dingin turun dengan cepat. Sungguh rasanya malas keluar lagi, kalau tidak ingat bahwa sepanjang hari saya belum makan ‘yang betul’. Walhasil saya separuh menyeret badan kembali ke jalan. Saya sempat berkeliling agak jauh mencari tempat makan. Namun sebagian besar restoran (dan juga toko) sudah tutup, hanya menyisakan beberapa tempat minum-minum. Tempat makan, kalaupun ada yang buka, tergolong yang mahal. Saya akhirnya mendatangi kombini di dekat hotel yang seingat saya tak pernah saya lihat punya cabang di Tokyo. Bersama paket nasi dan camilan, saya pulang ke hotel untuk beristirahat.

otaru-25

Hari pertama di Otaru sangat menyenangkan. Tak sabar menanti hari kedua, namun melingkar di bawah selimut hangat adalah kenikmatan tersendiri juga!

13 Comments (+add yours?)

  1. Titisari
    Dec 13, 2015 @ 08:30:35

    Always enjoy reading about Japan. Mam Tyas always writes about places she visited. I enjoy your writing…

    Reply

  2. gingerbreadandtea
    Dec 13, 2015 @ 14:49:53

    Keren mbak! Semua tempat di jepang kayaknya menarik yaaa… hokkaido ini kalo baca di blog2 orang termasuk yg must visit emang..tp kok aku masih pengen explore kansai tokyo dulu ya hahaha masih berasa banyak yg belom diliat..pengen khatam in dulu hehehe

    Reply

    • lompatlompat
      Dec 14, 2015 @ 10:07:34

      Iyaaa Kansai aja banyaaaaak banget kok yang bisa dilihat! Aku aja yang belum banyak nulis soal Kansai, hehehe. Di Kansai aja kan kita bisa main ke Osaka, Kyoto, Himeji, Kobe… banyak!

      Memang masalahnya Hokkaido jauh banget di utara, jadi agak susah memasukkannya ke itinerary kita, kalau jadwal kita singkat. Tapi kalau ada waktu, dicoba ya!

      Reply

      • gingerbreadandtea
        Dec 14, 2015 @ 12:30:44

        Kalo ada waktu (dan uang) mauuuuu banget mbak! Hehehe.. kalo bisa dari ujung ke ujung hahhaa..noted mbak, winter or spring di hokkaido kayaknya seru 😍😍

      • lompatlompat
        Dec 16, 2015 @ 07:52:30

        Hokkaido malah disarankan pas musim panas sih, pas lavender mekar… kalau spring lebih semarak di prefektur-prefektur sebelah Selatan yang lebih hangat…

      • gingerbreadandtea
        Dec 16, 2015 @ 09:22:11

        Oooo i see.. selain itu summernya ga sepanas kota2 lain yaa hehehe.. noted mbakkkk! Semoga aku bisa kesana juga amiiin 😊

      • lompatlompat
        Dec 20, 2015 @ 02:40:03

        Amiiin!!
        Iya, teman yang berasal dari Hokkaido selalu nyuruh-nyuruh aku ke Hokkaido aja pas musim panas. Katanya musim panas diHokkaido enak, nggak sumuk kayak di Tokyo.

  3. totoryan
    Dec 13, 2015 @ 15:45:23

    ke…kepala bayi!!! #salahfokus
    Aaaaah ka tyas…. klo cuma setengah daytrip ga bakal puas ya?? itinerary kami sementara ini naroh di otaru cuma beberapa jam saja… oh noooooo…
    menanti part II nya, baidewei hehehe… thanks for sharing ka tyas!

    Reply

    • lompatlompat
      Dec 14, 2015 @ 10:09:24

      Sayang foto si kepala bayi kurang bagus, nggak kelihatan banget wujud aslinya kayak apa… hehehe…

      Beberapa jam? Hmmm, sebenarnya bisa aja sih, kalau nggak merencanakan main-main lama di museum atau semacamnya. Secara teori, Otaru memang bisa kok untuk daytrip saja dari Sapporo. Tapi aku orangnya memang suka bermalam di satu tempat biar ngerasain malam dan paginya sekaligus.

      Part II segera meluncuuurrr!!

      Terima kasih juga sudah membaca!

      Reply

  4. htetsuko
    Jun 08, 2016 @ 06:21:42

    aku salah fokus gara2 ngeliatin tulisan shiroi koibito di atas menara di Denukikoji.. pernah liat ada yang nge-review di Youtube sih. Shiroi koibito itu minuman coklat kalengan yang terkenal banget di daerah utara. Katanya sih enak banget kalo diminum anget :3

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: