Seminar ‘Local heroes’ bersama MyRepublic dan Deutsche Welle

Sabtu 19 September lalu saya berkesempatan menghadiri seminar bertajuk ‘Local Heroes’ yang diselenggarakan oleh MyRepublic dan Deutsche Welle (DW). Dan ternyata seminar itu malah membuat saya kangen dengan LiveJournal. Lho?

Jadi ceritanya, ada dua pembicara dalam seminar yang diselenggarakan di Pong Me!! di Gunawarman tersebut. (Ngomong-ngomong, saya norak deh. Waktu mencari tempat ini di Google Maps, temuan teratas adalah tempat bernama Pong Me!! di daerah bernama ‘Selong’. Saya pikir, Ah bukan yang ini kali, kayaknya Selong itu nama di Cina atau apalah. Eh padahal daerah sekitar jalan Gunawarman itu namanya Selong. Yak, maaf orang Tangerang Selatan. Lanjoooot.)

local-heroes02

Pembicara pertama adalah Bang Enda Nasution, bapak ‘blogger’ Indonesia. Bang Enda menuturkan sejarah (we)blog secara umum dan di Indonesia. Dari yang awalnya kurasi dunia maya, sampai menjadi ajang curcol dan ajang cari makan juga. Blog dan para blogger, yang kini merupakan prosumer (produsen sekaligus konsumen), sudah menjadi kekuatan tersendiri di dunia maya. Di luar situs-situs yang memang dikhususkan untuk menulis blog, banyak juga orang-orang yang menulis panjang-panjang di situs-situs seperti Path, Facebook, dan Instagram, sudah bagaikan blog.

Ngomong-ngomong Bang Enda sempat berseloroh, “Yah beginilah kalau bicara di depan blogger, semua pada nunduk ngelihatin gadget karena sibuk meng-update.” Hehehe ya maav yha.

local-heroes03

Tidak seperti media tradisional dengan kurasi kalangan profesional, ‘media baru’ seperti blog bisa dibuat oleh semua orang. Kalau menurut Mas Yuniman dari Deutsche Welle, di Jerman blog adalah pesaing sekaligus pendamping media massa tradisional. Bayangkan kasus hipotetis (tapi mungkin nyata) bahwa ada sebuah media massa yang dimiliki kelompok tertentu sehingga mengabdi pada kepentingan kelompok tersebut. Mereka menurunkan berita yang ternyata sumir atau dikontrol. Blogger bisa membeberkan tulisan tandingan, tentunya dengan investigasi dan data yang bisa dipertanggungjawabkan. Mereka bahkan bisa menjadi pahlawan bagi masyarakatnya.

Mas Yuniman sempat berucap, enakan jadi jurnalis daripada blogger. Jurnalis yang bernaung di bawah media akan mendapat perlindungan dari media tempatnya bekerja. Blogger, siapa yang melindungi, apalagi di negara-negara yang represif? Mungkin kalau di negara seperti Jerman yang melindungi kebebasan berpendapat, kalau pihak tertentu yang keberatan dengan tulisan blogger, paling-paling akan mengambil tindakan hukum melawan si blogger. Di negara-negara represif? Blogger ada yang dibunuh, dipenjarakan, dihilangkan.

local-heroes04

DW sebenarnya ingin mendorong agar lebih banyak blogger Indonesia yang memfokuskan diri menulis masalah politik, sosial, dan lain sebagainya. Blog soal fashion, makanan, wisata (termasuk punya saya ini) sih bagus-bagus saja, tapi memang Indonesia masih butuh blogger yang membahas hal-hal yang lebih ‘serius’ (tanda kutip).

Nah, di sini saya malah jadi ingat kepada LiveJournal. Di sana dulu saya dan teman-teman banyak dan bebas menulis macam-macam, dari soal hari ini ada kejadian apa, pendapat soal film yang ditonton akhir minggu lalu, fangirling cowok cantik dan cewek cakep baik yang keluaran domestik ataupun internasional, sampai masalah politik. Saya nggak pernah mencoba nulis di Blogspot, misalnya. Pernah bikin akun, sih, tapi buntut-buntutnya saya selalu kembali ke LJ karena banyak fitur-fitur yang memudahkan saya di LJ. Antara lain, saya tidak perlu mengunjungi LJ teman-teman satu per satu, cukup cek post-post mereka di tab Friends yang tersusun secara kronologis terbalik. Berkomentar mudah, bisa memakai beberapa foto profil sekaligus, bisa di-lock juga, pokoknya komplit lah. Beberapa masalah, dan juga lahirnya blog-mikro semacam Twitter, membuat saya perlahan-lahan meninggalkan LJ. Baru mulai menulis blog lagi di WordPress, tapi sekarang terukur. Mengkhususkan blog untuk kisah-kisah perjalanan wisata. Niatnya memang berbagi, tapi juga hendak menimbulkan citra: travel blogger.

local-heroes01

Tapi terus-terang, saya memang kangen menulis seperti di LJ lagi. Tidak peduli embel-embel status ‘blogger’. Menulis tentang apa saja, termasuk marah-marah soal politik, tanpa memikirkan apakah ada yang baca atau tidak. Meski saya tahu sih teman-teman saya pasti baca, seperti juga saya membaca post-post mereka. Eh, iya kan teman-teman? Teman-teman? …

Mungkin memang perlu niat dari saya saja untuk kembali menulis lebih luas. Saya lagi coba rintis lagi sih di akun saya yang satu lagi. Yah, bagaimana pun juga tebersit rasa sayang kalau ‘travel blog’ yang sudah sampai sejauh ini tercampur dengan macam-macam tulisan lain.

Tapi, apakah saya berani menjadi  blogger yang menulis isu-isu sosial dan politik seperti yang didorong oleh DW? Menggerakkan perubahan dengan tulisan saya? Mengungkap kebenaran? Ataukah saya sudah menjadi terlalu apatis atau malas dan sekadar menjadi penggerutu?

Entahlah. Mungkin suatu hari kelak, akan ada pemicu kuat yang mendorong saya melakukan itu. Saat ini, saya akan berbagi saja apa yang saya bisa.

local-heroes05

5 Comments (+add yours?)

  1. mysukmana
    Sep 28, 2015 @ 07:01:58

    Hehee..kurang minat kalau nulis tentang politik dkk..gmn gitu..

    Reply

  2. kresnoadidh
    Oct 14, 2015 @ 04:11:03

    Haloooo! Salam kenaal! Wah ternyata orang Tangerang Selatan juga dan sama-sama dateng di seminar kemarin. Hohoho. Semoga lain kali bisa ketemu lagi ya. Kalo aku sih belum lahir deh kayaknya pas jaman LJ *ngocol* huehehe. Mungkin asiknya gitu sih ya, nulisnya bebas mauu apa aja. \:D/

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: