125.660 Spesimen Sejarah Alam, Jakarta

This post is about Indonesia

Lagi-lagi, kita break dulu yah dari rangkaian tulisan saya mengenai Jepang. Soalnya, saya gatal ingin menulis soal pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam yang dilangsungkan sampai 15 September 2015 di Komunitas Salihara, Jakarta. Bukan gatal karena ada hal yang membuat kesal, melainkan karena senang ada pameran semacam ini dilangsungkan di Indonesia. Meski sebenarnya sih memang sudah ‘seharusnya’ pameran tersebut digelar di sini, mengingat di Kepulauan Nusantara-lah naturalis Inggris Alfred Russel Wallace melakukan pengumpulan spesimen dan memperoleh ilham untuk teori evolusi tentang seleksi alam. Ini juga, saya kira, salah satu alasan mengapa Wallace popular di Indonesia. Saya yakin Anda pasti pernah mendengar namanya (dalam istilah ‘Garis Wallace’) disebutkan dalam buku pelajaran sekolah ketika membahas perbedaan flora dan fauna Indonesia Timur dan Barat.

sejarahalam-salihara06

Kalau membicarakan soal teori evolusi tentang seleksi alam, tak bisa tidak pikiran pasti melayang ke Charles Darwin. Bila ada dua orang yang, secara terpisah, membidani lahirnya teori evolusi tentang seleksi alam, mengapa nama Wallace kalah kesohor daripada Darwin? Pertanyaan yang menggugat itu beberapa tahun belakangan marak lagi diajukan, dan banyak upaya untuk kembali mengangkat nama Wallace. 125.660 Spesimen Sejarah Alam adalah salah satu usaha mengenang kecemerlangan saintis yang lahir dalam keluarga biasa-biasa saja di Monmouthshire, 14 tahun sesudah kelahiran Darwin. (Latar belakang keluarga Wallace ini kerap dikontraskan dengan Darwin yang lahir di ‘kalangan borjuis’. Alih-alih menghubung-hubungkan dengan perbedaan popularitas keduanya nantinya, sejarawan sains John Gribbin berpendapat fakta ini justru menunjukkan bahwa di Britania zaman Victoria, sains tidak lagi menjadi bidang yang didominasi orang-orang kaya saja.)

sejarahalam-salihara01

Maka pada hari Selasa 8 September 2015, saya pun menuju Salihara 16. Sudah lama sekali saya tidak mendatangi Salihara, dan kondisi lalu-lintas jalan belakangan ini membuat saya memutuskan untuk menaiki kereta sampai ke Pasar Minggu. Dari situ, saya memutuskan untuk berjalan kaki ke Salihara 16, yang menurut perhitungan saya tidak seberapa jauh bila dilihat di peta. Ya, sebenarnya memang tidak jauh, hanya saja jalan yang saya lalui minim trotoar dan diramaikan oleh kendaraan bermotor, belum lagi terik matahari yang memanggang. Apa boleh buat, hidup di negara dua musim pilihannya kalau tidak kepanasan ya kehujanan. Meski lumayan juga kulit saya gosong hari itu, paling tidak saya tidak basah lah.

Pameran Sejarah Alam digelar di Galeri Salihara di lantai dua. Begitu melangkah masuk ke ruangan besar melingkar yang berpendingin udara kencang itu (thank God!) mata kita langsung disambut oleh berbagai karya seni, koleksi spesimen Museum Zoologi Bogor (MZB), dan foto-foto spesimen yang dikoleksi oleh ataupun untuk Wallace. Tersedia pula panel-panel informasi tertulis tentang riwayat hidup Wallace dan nukilan dari karya-karyanya.

sejarahalam-salihara02

Pameran ini memang menghadirkan (secuil) kekayaan hayati Nusantara, namun mau tidak mau saya bergidik juga menyadari bahwa spesimen-spesimen itu sudah mati. Mungkin terasa agak ironis bahwa kami yang berkecimpung di dunia ilmu hayat—biologi—mengelilingi diri dengan awetan-awetan mati seperti ini. Apa boleh buat, itu semua dalam rangka mempelajari dan mendokumentasikan makhluk hidup. Tetap saja, tak pelak saya merasakan iba ketika melihat awetan kulit harimau dan orang utan yang turut dipajang dalam pameran kali ini. Foto-foto hitam-putih yang menunjukkan perlakuan keji kepada harimau di masa lalu turut menambah pedih hati saya. Semakin pedih memikirkan bahwa hingga kini pun harimau—dan banyak spesies hewan lainnya—masih menjadi korban kebuasan manusia.

sejarahalam-salihara07

Tidak hanya keanekaragaman hayati seperti yang memukau Wallace di masa lalu,  pameran pun mencoba mengingatkan lagi mengenai ancaman-ancaman yang dihadapi oleh alam Indonesia di masa kini. Perkebunan kelapa sawit adalah salah satu penyebab kerusakan terbesar, dan saya sendiri pun kaget mengetahui dari pameran ini produk-produk apa saja yang memanfaatkan minyak yang dihasilkan dari kelapa sawit. Bisakah kita meloloskan diri dari jeratan industri kelapa sawit yang memasok produknya ke sedemikian banyak industri lain?

sejarahalam-salihara05

Kembali ke koleksi spesimen Wallace. Seingat saya, koleksinya itu dihadirkan dalam pameran dalam rupa foto-foto saja—saya tidak ingat melihat label spesimen yang dipamerkan langsung yang memajang nama Wallace sebagai kolektornya. Namun dari foto-foto yang diambil dengan artistik dan tajam itu, kita bisa bayangkan betapa indah keseluruhan koleksi Wallace dengan berbagai hewan Nusantara yang berwarna-warni. Ngomong-ngomong, Wallace ini juga sempat jadi pengimpor hewan awetan untuk Darwin, yang tertarik dengan makalah Wallace tentang variabilitas kupu-kupu di cekungan Amazon.

Saya pikir, untuk orang awam, koleksi kebanggaan Wallace memang pasti tampak lebih menarik daripada koleksi kebanggaan Darwin, yang kebanyakan berupa fosil dan teritip. Meskipun demikian, nama Darwin terangkat menjadi biolog peringkat atas berkat kerja kerasnya yang amat teliti dan gigih dalam mendeskripsikan spesies-spesies teritip koleksinya. Sebelumnya Darwin bahkan justru lebih terkenal sebagai seorang geolog. Orang salah-sangka bila mengira Darwin baru mendapat nama setelah makalahnya tentang seleksi alam dibacakan bersama-sama hasil pemikiran Wallace dan setelah ia menerbitkan Origin of Species. Darwin, seperti juga Wallace, adalah kolektor dan pengamat alam yang tekun, yang telah menulis banyak makalah sebelum menelurkan teori evolusi tentang seleksi alam. Kenyataan bahwa teori seleksi alam lahir dari hasil pengalaman dan pengamatan mereka di dua wilayah dunia yang terpisah jauh–Wallace di Nusantara dan Darwin di Amerika Selatan—justru semakin menambah bobot kepada teori tersebut.

sejarahalam-salihara04

Pameran Sejarah Alam menegaskan bahwa Wallace memang naturalis yang hebat dan cemerlang. Petualangannya mengasyikkan, tidak hanya dari segi sejarah alam, namun juga dari segi sosial dan budaya. Namun mungkin masih tersisa pertanyaan mengapa Wallace seolah terlupakan, dibandingkan Darwin, padahal kedua-duanya terus berkarya setelah menelurkan teori seleksi alam?

Ada perihal yang merusak reputasi Wallace sebagai saintis: kegandrungannya akan spiritualisme, yang di masa Victoria memiliki makna yang agak berbeda dengan sekarang. Wallace kerap menghadiri upacara pemanggilan arwah, bahkan menulis karya yang membela spiritualisme dan menyerang orang-orang yang skeptis. Wallace juga menjadi penggerak anti-vaksinasi, dan mencerca kedokteran konvensional yang ia nilai gagal menyelamatkan putranya yang sakit parah. Inilah mengapa nama Wallace tenggelam di kalangan para saintis abad ke-19 dan sesudahnya. Bahkan ketika Darwin berjuang agar rekannya yang mengalami kesulitan keuangan itu memperoleh pensiun dari negara, banyak saintis yang menolak karena merasa Wallace tidak pantas mendapatkannya.

sejarahalam-salihara03

Hidup Wallace memang berwarna-warni, semarak seperti warna burung dan serangga tropis yang dikumpulkannya. Dan di sini, di Salihara 16, spesimen-spesimen awetan menjadi saksi bisu kehidupan sang naturalis yang (sempat) terlupakan.

6 Comments (+add yours?)

  1. edoochsan
    Sep 09, 2015 @ 14:42:23

    Keren! Ga ngerti bgt sih.. Tapi bener-bener ngasih pengetahuan baru. Nice shared btw🙂

    Reply

  2. nyonyasepatu
    Sep 09, 2015 @ 16:34:52

    Keren bgt, sayang gak ke Medan 😰

    Reply

  3. siti fata
    Oct 12, 2015 @ 09:31:16

    pamerannya bagus banget ya. kalau ada museum semenarik ini di jogja, sepertinya aku gak mau pulang. soal Wallace, aku juga sempat baca soal keyakinannya terhadap spiritualisme para suku-suku bangsa😀

    terima kasih sudah diposting kak😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: