Owara tamaten: kenikmatan bersahaja di Takayama

This post is about Japan

Yuk, kita kembali membahas Jepang. Kali ini, saya akan membahas satu makanan yang, bisa dibilang secara tidak sengaja, saya jumpai dalam perjalanan saya di Jepang. Kebetulan, foodpanda, jasa hantaran makanan Indonesia, sedang mengadakan kompetisi Summer Travel Blogger Contest, yang meminta kita menceritakan tentang makanan terenak yang pernah kita temui sewaktu melawat.

Oleh karenanya, marilah kita buka Lompat-lompat kita kali ini dengan sebuah pertanyaan: Di manakah kita bisa memperoleh santapan terlezat sedunia?

Di restoran mewah bertempat di gedung pencakar langit, yang mempekerjakan chef ternama yang telah banyak disorot oleh majalah dan tampil di acara TV sendiri?

Bisa jadi, bisa jadi.

Tapi bisa juga santapan lezat itu kita temukan di warung sederhana yang jauh dari glamor di tepi jalan. Itulah yang saya temukan di Takayama.

owara-tamaten-01

Takayama adalah sebuah kota di pelosok pegunungan di prefektur Gifu, Jepang. Banyak yang menjadikan Takayama sebagai sekadar ‘batu loncatan’ untuk menuju desa Shirakawa-go, yang terkenal karena rumah-rumah tradisionalnya yang jauh dari bayangan umum mengenai rumah Jepang. Banyak orang yang hanya singgah sebentar di Takayama, yang dihubungkan dengan kota-kota besar seperti Nagoya, Tokyo, dan Osaka oleh jaringan bis dan kereta api, untuk menaiki bis khusus ke Shirakawa-go. (Saya sendiri tiba di Takayama dengan kereta dari Nagoya, lalu kembali ke Tokyo menggunakan bis.) Padahal kota Takayama juga bisa membanggakan banyak hal, mulai dari bangunan-bangunan kuno, museum Teddy Bear, dan jajanan sederhana namun tak terkira lezatnya bernama owara tamaten.

owara-tamaten-02

Hari itu, saya sengaja bangun pagi-pagi dan meninggalkan penginapan saya, cabang K’s House di Takayama, untuk menelusuri kota kecil itu. Tujuan utama saya adalah pasar pagi Miyagawa, yang juga merupakan salah satu kekhasan kota ini. Namun, pagi itu, salju yang awalnya tipis turun dari langit, lalu semakin lebat, menghambat geliat kota itu untuk bangun dari tidur malam. Saat itu memang sudah bulan Maret, namun di sini, di daerah pegunungan, musim semi belum ada tanda-tanda menghampiri.

owara-tamaten-04

Baru beberapa kios yang buka di sepanjang tepi sungai, tempat diselenggarakannya pasar pagi. Para pedagang tampak agak kewalahan menahan terjangan salju hanya dengan atap dan dinding plastik, namun mereka bertahan dengan gigih. Beberapa pedagang yang mempunyai tempat berdagang permanen lebih beruntung, karena setidaknya mereka lebih terlindung.

Tampak beberapa tempat jajanan sudah buka, termasuk sebuah warung yang menawarkan makanan berbentuk kubus yang sepintas terlihat seperti tahu goreng. Para pelayan toko menyapa ramah, mencoba menarik pembeli. Saya hanya tersenyum sebagai balasan, karena saya memutuskan untuk berkeliling dulu sebelum jajan. Lagipula, kan belum beberapa lama lalu saya mengisi perut dengan sarapan.

owara-tamaten-05

Puas berkeliling – nanti kapan-kapan saya ceritakan secara lebih terperinci mengenai Takayama ini, ya! – saya pun kembali ke kawasan pasar pagi. Penjaja dan pembeli sudah semakin banyak, termasuk beberapa rombongan turis. Beraneka jajanan telah mulai laris manis, apalagi yang bisa membantu melawan hawa dingin yang masih betah bergelayut. Terdorong rasa penasaran, saya kembali ke warung yang menawarkan apa yang saya kira semacam ‘tahu goreng’ itu. Inilah si owara tamaten, makanan yang baru kali ini sosoknya saya jumpai. Diiringi senyum lebar, wanita tua yang berjaga di balik jendela layan menyerahkan pesanan saya yang ditukar dengan beberapa keping uang logam. Bila tidak salah ingat, harganya 110 yen/butir.

owara-tamaten-03

Saya memang membeli satu saja, untuk mencoba. Ukurannya lumayan juga. Bagian luarnya tampak kuning keemasan, dan di tengah udara dingin, uap hangat tampak menguar dari owara tamaten yang saya pegang. Sampai detik saya mengangkat penganan itu ke mulut, saya masih mengira rasanya gurih karena bentuknya yang serupa benar dengan tahu goreng ala Sumedang. Saya juga mengira kekerasan kulit owara tamaten kira-kira sama dengan kulit tahu goreng.

Ternyata saya salah.

Saya agak kaget ketika gigi yang saya hujamkan dengan cukup keras, dengan mudahnya menembus lapisan luar owara tamaten, membuat lidah saya langsung bersentuhan dengan bagian dalam yang ternyata sedemikian lembut dan… manis! Saya sampai cepat-cepat menarik bagian owara tamaten yang belum saya gigit menjauhi mulut agar bisa saya amati baik-baik. Dengan rasa tidak percaya saya perhatikan lagi si kubus keemasan ini. Seperti juga tahu, bagian dalamnya berwarna putih, namun lebih lunak. Bila diletakkan di dalam mulut, dengan cepatnya owara tamaten lumer, menghamburkan rasa manis-legit yang tersisa cukup lama di lidah meskipun wujud makanannya sendiri sudah lenyap. Manis sekali memang, namun tidak memuakkan. Benda apa ini sebenarnya?

owara-tamaten-06

Ternyata bahannya sederhana saja, sesederhana penampilannya: putih telur yang dikocok bersama gula dan agar, lalu dicetak menjadi kubus. Sebelum digoreng, kubus-kubus tersebut direndam lagi dalam campuran telur kocok dan madu – juga sedikit sake. Tidak heran rasanya seperti itu! Posisi kudapan ini langsung melejit ke puncak daftar makanan yang paling berkesan yang pernah saya cicipi di Jepang.

Dan apa yang membuat hidangan sederhana itu terasa semakin nikmat? Udara Takayama yang bersih dan segar, serta perilaku ramah sang penjual. Dengan bahasa Inggris yang terasah oleh interaksi dengan para turis asing, dan senyum hangat yang terasa tulus, ia menanyakan kepada saya dari mana saya berasal, dan mengucapkan selamat datang ke Takayama. Omongan yang standar dan sederhana saja, mungkin, tapi seperti juga yang ditunjukkan oleh owara tamaten, justru kerap kali di balik apa yang sederhana itu, ada keindahan tak terduga yang bisa dicecap tidak saja oleh panca indera melainkan juga oleh sukma.

2 Comments (+add yours?)

  1. ogawakaori
    Aug 11, 2015 @ 16:21:01

    Tulisan kakak bagus banget sih?? ♥ Ngomongin makanan aja bahasanya indah sampe bikin terharu hehehe… (dan tentunya jd ngiler pengen nyobain xD)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: