Fukuoka, Februari 2014

This post is about Japan

Ini dia satu lagi kisah yang sangat tercecer: perjalanan saya tahun lalu ke Fukuoka. Sebagai catatan awal, saya cukup kaget mendapati begitu sedikitnya foto-foto dari Fukuoka di kamera maupun di telepon genggam saya. Saya ngapain saja ya, kok foto-fotonya tidak banyak? Ah, kemudian saya ingat, sewaktu saya berjalan-jalan di sana, beberapa kali turun hujan, membuat saya tidak bisa mengeluarkan kamera maupun telepon untuk mengambil foto. Semoga saja foto-foto yang saya sajikan di sini bisa cukup membantu visualisasi cerita saya, ya.

fukuoka-26

Saya sangat menyukai Tokyo, namun kadang-kadang perasaan bosan menghinggapi juga, apalagi kalau sedang libur panjang antarsemester. Rasanya ingin pergi ke tempat yang jauh, yang belum pernah saya datangi sebelumnya, yang jauh dari hiruk-pikuk Tokyo. Akhirnya di bulan Februari 2014 saya memutuskan membeli tiket pesawat Jetstar ke Fukuoka. Saya tidak benar-benar tahu Fukuoka itu di mana (selain tahu bahwa letaknya di Pulau Kyushu, berbeda dari pulau tempat Tokyo berada), tidak tahu benar di sana ada apa. Pokoknya saya lihat ada rute pesawat ke sana, cukup murah pula, dan saya belum pernah pergi sampai sejauh itu dari Tokyo, jadi ya sudahlah, berangkat!

Dari Narita, ada beberapa kali penerbangan ke Fukuoka dalam sehari. Untunglah saya tidak memilih penerbangan yang terlalu pagi. Sebenarnya sih pertimbangan saya sederhana saja: Narita cukup jauh dari tempat saya tinggal, dan kalaupun saya berangkat pagi-pagi sekali ke Fukuoka, toh saya baru pukul 3 sore bisa ­check-in ke penginapan pilihan saya (Khaosan). Namun ternyata ada berkah tersendiri dalam memilih penerbangan siang: hari itu berbagai jalur kereta Tokyo mengalami keterlambatan akibat salju lebat yang sempat turun. Tahun 2014 itu memang Jepang mengalami salah satu musim dingin terburuk dalam beberapa puluh tahun terakhir. Dan seandainya saja saya memilih penerbangan yang lebih pagi, bisa-bisa saya terlambat hari itu sehingga tidak bisa ikut terbang!

fukuoka-28

Tiba di Fukuoka, langit musim dingin kelabu menyambut saya. Sebenarnya saya mengharapkan di selatan sini langit sudah lebih cerah, tapi apa boleh buat lah, saya pasrah.

Bandara Fukuoka tidak terlalu besar, sederhana, namun segala sesuatunya tampak nyaman, lengkap, terawat baik, dan berjalan dengan semestinya. Foto ruang keberangkatan terminal 1 bandara ini bisa dilihat di atas. Lucu ya, warna-warna kursinya?

Tanpa banyak kesulitan, meski saya berada di tempat yang sama sekali asing bagi saya, saya menemukan stasiun kereta bandara yang akan membawa saya ke Hakata.

Menurut petunjuk jalan di situs penginapan, saya cukup naik kereta dua stasiun saja untuk tiba di Stasiun Hakata, yang letaknya paling dekat dengan penginapan. Sebenarnya sewaktu membaca tulisan itu, dan bahkan ketika sudah melihat peta, saya agak sangsi. Beneran nih, bandaranya sedekat itu ke pusat kota? Dua stasiun saja?

fukuoka-21

Eh, ternyata betul lho. Memang dekat. Saya lantas turun dan berjalan kaki ke arah penginapan. Jaraknya sih… ya, kalau kita terbiasa berjalan kaki, tidak terlalu jauh sebenarnya. Dalam perjalanan ke sana, saya juga melewati beberapa kombini, jadi amanlah urusan perut kalau kepepet! Yang menyenangkan juga, di kota Fukuoka kartu Pasmo bisa digunakan, baik untuk menggunakan kereta maupun berbelanja. Saya yang sempat kekurangan uang tunai akhirnya belanja makanan di kombini dengan menggunakan kartu Pasmo saya.

Saya memilih menginap di Khaosan Fukuoka (bukan yang Annex) – yang punya beberapa cabang di sejumlah kota – selain karena cukup murah, juga karena menyediakan kamar privat untuk satu orang. Sekarang kalau bepergian, saya selalu berusaha mencari kamar semacam ini, dan selalu berusaha menghindari kamar model dorm di mana saya bercampur dengan orang-orang yang tidak saya kenal, kecuali kalau terpaksa sekali. Mungkin lain kali saya akan beberkan kenapa, tapi intinya sekarang saya merasa lebih aman tidur sendirian, kecuali memang bersama teman sehingga kami bisa memesan kamar untuk berdua/beramai-ramai. Dan kamar di Khaosan ini cukup nyaman. Meski kecil, segala kebutuhan pribadi ada, termasuk sandal kamar dan mantel mandi/tidur serta kulkas.

fukuoka-25

Setelah beristirahat sebentar, saya memutuskan untuk meninggalkan penginapan dan mulai menjelajah daerah sekitar stasiun Hakata. Kebetulan di Hakata terdapat sejumlah tempat menarik yang terjangkau dengan berjalan kaki dari stasiun keretanya. Saya pun mulai menyusuri jalan-jalan Fukuoka yang baru kali ini saya singgahi. Udara terasa lebih dingin, namun lebih bersih dan lebih mengalir daripada di Tokyo.

Setibanya lagi di stasiun Hakata, saya meneruskan perjalanan ke arah timur (Khaosan Fukuoka terletak di sebelah barat stasiun) sampai saya tiba di Canal City Hakata. Ini adalah pusat perbelanjaan bergaya modern yang terletak di pinggiran Sungai Naka, satu di antara dua sungai yang mengapit daerah ini. (Sungai yang satunya lagi bernama Sungai Mikasa.)

fukuoka-29

Namanya pusat perbelanjaan modern, ya toko-toko dan benda-benda yang ditawarkan mirip-mirip dengan pusat-pusat perbelanjaan serupa di mana pun. Mau kopi dari kafe waralaba internasional? Ya tentu adalah… Toko oleh-oleh khas Fukuoka juga ada, sehingga tak heran banyak turis asing yang berbelanja di sini, terutama dari Korea. Fukuoka memang tidak begitu jauh letaknya dari Korea Selatan – Busan bisa tercapai dengan feri – sehingga menjadi salah satu gerbang penghubung dengan negara tetangga Jepang itu.

Salah satu daya tarik terbesar Canal City Hakata adalah Ramen Stadium, tempat kita bisa menemukan sejumlah restoran ramen terpilih dari berbagai penjuru Jepang. Kalau kita memang suka ramen (dan tidak punya pantangan), bisa tuh mencicipi ramen berbagai rasa dan gaya, cukup di satu tempat ini. Kalaupun tidak bisa atau tidak suka makan ramen, kita bisa mencicipi penganan-penganan khas Fukuoka dari berbagai restoran atau toko kue yang ada di mall tersebut. Yang saya coba adalah kue sweet potato (ubi maksudnya) dan omochi pie dari Musée.

fukuoka-24

Saya juga sempat beristirahat di Cafe Otto Cyclo, yang tempatnya nyaman dan menawarkan pemandangan cukup menyenangkan ke luar jendela. Disediakan pula buku sketsa dan spidol untuk mencorat-coret dan meninggalkan pesan kala iseng (hal yang saya lakukan sambil menyesap coconut latte hangat pesanan saya yang cocok benar dengan suhu yang dingin). Dan yang juga penting bagi seorang pelancong: di kafe ini ada colokan listrik, lumayan untuk mengisi ulang baterai gawai. Percaya atau tidak, perkara mencari colokan di tempat makan di Jepang bisa jadi masalah sulit lho.

fukuoka-18

(Tambahan sedikit: saya agak kaget ketika melihat papan pengumuman di Canal City bahwa keesokan harinya akan ada instore event dengan salah satu band visual kei kesukaan saya, UNiTE, di pelataran depan air mancur tengah. Maka itulah saya kembali lagi esoknya ke Canal City untuk menghadiri acara tersebut, tapi itu cerita lain lagi, hehehe.)

Saya meninggalkan Canal City untuk melihat-lihat daerah sekitar lebih jauh. Harapannya sih, menemukan gerobak-gerobak penjaja makanan di kaki lima yang  dikenal sebagai yatai. Entah apakah karena hari yang mulai gerimis ataukah belum cukup malam atau alasan lain, namun saya hanya melihat satu-dua yatai yang buka, itu pun hanya menjajakan ramen. Saya lebih memilih mampir di sebuah restoran udon, West Udon, yang terletak di salah satu jalan pertokoan. Saya memesan maruten udon yang dilengkapi fishcake seharga 410 yen per mangkuk. Uh, enak sekali menyantap udon hangat-hangat  seperti ini!

fukuoka-15

Sedikit catatan soal mi ala Jepang. Bagi orang Jepang sendiri, ‘ramen’ bukanlah mi asli Jepang, melainkan dari Cina (dan namanya pun kerap dituliskan dalam katakana, silabari yang digunakan untuk menulis kata-kata serapan dari bahasa asing). Ramen pun selalu dihidangkan di mangkuk yang khas, yang menunjukkan pengaruh negara asalnya. Sementara yang dianggap mi ‘yang lebih asli’ Jepang adalah udon dan soba (beserta beberapa variasi lokal). Udon dan soba bisa dijual berbarengan, namun ramen dijual di restoran tersendiri.

Antara Jepang Barat dan Timur pun ada sedikit perbedaan antara udon dan soba. Di daerah Kanto, misalnya, soba lebih ‘utama’, dan restoran mi lebih lazim disebut ‘soba-ya’. Sementara di sejumlah daerah Jepang lain, terutama di sebelah barat, udon lebih ‘utama’ dan restoran mi disebut ‘udon-ya’. Kuahnya pun berbeda. Kalau kata dosen saya, “Kami di Kanto sini tergila-gila shoyu—kecap. Makanya kuah udon dan soba kami gelap.” Sementara di Jepang Barat, misalnya Osaka, kuahnya jernih karena tidak didominasi oleh shoyu. Kuah udon/soba tergelap yang pernah saya temui adalah sewaktu saya singgah di salah satu stasiun di daerah Chubu (Jepang Tengah).

Baiklah, perut saya sudah kenyang terisi udon. Hari juga sudah semakin gelap, dan langit belum juga berbelas kasihan menghentikan gerimis. Saya memutuskan pulang ke penginapan, namun dengan mengambil jalan berbeda dari yang saya tempuh sewaktu berangkat. Lumayan, bisa melihat-lihat lebih banyak, meski suasananya temaram dan sepi. Padahal Fukuoka bukan kota yang kecil-kecil amat lho, namun memang barangkali tidak ada yang begitu berminat keluar di malam yang basah dan dingin seperti itu.

fukuoka-03

Keesokan harinya, pagi-pagi saya bertolak menuju kastil Fukuoka. Saya memperhatikan bahwa peta rute kereta api di Fukuoka tampak menarik dan informatif, dengan simbol tersendiri untuk setiap stasiun, menggambarkan tetenger atau hal khas yang bisa ditemui di masing-masing stasiun. Untuk menuju kastil Fukuoka, kita bisa turun di stasiun Akasaka ataupun Ohorikoen. Saya turun di stasiun yang namanya saya sebutkan terakhir itu, lalu menyambung dengan berjalan kaki.

fukuoka-01

Jalanannya lebar-lebar dan lengang, dengan lajur-lajur tersendiri tidak hanya untuk kendaraan bermotor dan pejalan kaki melainkan juga untuk pesepeda. Dalam hati saya membatin, ah coba jalan-jalan di Tokyo begini juga: tidak akan ada ceritanya saya disalip dengan kasar oleh pesepeda ngebut yang tidak memberi tanda saat mau lewat. Ya tapi apa boleh buat, jalan-jalan di Tokyo sudah terlanjur terlalu sempit untuk dibuat lajur-lajur seperti ini.

fukuoka-02

fukuoka-06

Dari situ, saya berjalan menuju kastil Fukuoka—atau tepatnya reruntuhannya. Memang, beberapa bangunan gerbang masih utuh, namun tidak banyak yang tersisa dari kastilnya sendiri. Namun, bila kita memanjat sampai ke tempat di mana dulu menara utama kastil berdiri, kita bisa paham mengapa bangunan sepenting itu didirikan di lokasi ini. Luas sekali pemandangan yang terlihat ketika kita memandang berkeliling.

fukuoka-08

fukuoka-07

‘Bonus’ dari mengunjungi kastil Fukuoka di bulan Februari adalah bunga ume (plum) yang sedang semarak mekar, menghadirkan warna putih pucat, merah muda, dan merah yang agak lebih tua.

fukuoka-02

Iya… bebungaan merah muda yang terlihat di foto-foto ini bukanlah sakura—saat itu belum musimnya—melainkan plum yang biasa mekar sebelum sakura.

fukuoka-09

Puas melihat-lihat dan berfoto-foto di reruntuhan kastil (berkat bantuan seorang lokal yang membuat saya agak bengong karena saya tidak menangkap logatnya, dan sepertinya ia juga mengkonjugasi kata kerjanya dengan agak berbeda dari orang-orang Kanto), saya melangkahkan kaki ke arah Taman Ohori, alias Ohori kouen.

fukuoka-04

Saya melintasi lapangan luas yang berada di samping kompleks sekolah. Lapangan ini tampaknya biasa dipakai anak-anak sekolah dan penduduk setempat untuk beraktivitas. Menyenangkan sekali rasanya ada tempat seperti ini, dan seluas ini, di tengah-tengah kota!

fukuoka-10

Taman Ohori konon diilhami oleh sebuah taman terkenal di Cina – saya hanya bisa menduga-duga, mungkin maksudnya Summer Palace. Beberapa jembatan dan gazebo di taman ini memang menampilkan suasana yang lebih kecina-cinaan, bukan kejepang-jepangan.

fukuoka-11

Meski judulnya ‘taman’, yang menjadi fitur utama Taman Ohori sebenarnya adalah kolam besar (atau danau?) yang airnya dialirkan ke Sungai Kuromon. Mengelilingi kolam ini, terdapat jogging track yang nyaman, selain jalur yang bisa dilewati dengan sekadar berjalan kaki atau naik sepeda. Tampak warga, baik tua maupun muda, yang hari itu memanfaatkan taman untuk berjalan santai ataupun berolahraga. Kalau lelah, banyak tempat duduk tersedia.

fukuoka-12

fukuoka-05

Hal lain yang membuat saya takjub dan senang adalah begitu banyaknya burung yang tampak tenang beristirahat di taman ini. Lihat saja, ada berapa spesies burung yang bertengger di tonggak-tonggak di kolam ini – sebagian di antaranya adalah burung laut, mengingat posisi Fukuoka yang berada di tepi laut.

fukuoka-06

Puas menghirup udara segar di Taman Ohori, saya melanjutkan perjalanan – tetap dengan mengandalkan kedua kaki – ke Fukuoka Kokusai Center. Iseng saja, karena hari itu boyband Kpop kesukaan saya, TEEN TOP, dijadwalkan manggung di situ. Cukup jauh memang jarak dari Taman Ohori ke Fukuoka Kokusai Center, tapi udara yang dingin dan bersih membuat saya tidak cepat lelah, bahkan tidak berkeringat. Setelah puas melihat-lihat para penggemar yang mengantri sambil sedikit mencuri dengar rehearsal, dan meyakinkan bahwa harga tiket memang sepuluh ribu yen tanpa harapan didiskon di hari H seperti di Indonesia, saya pun beranjak ke daerah Tenjin.

fukuoka-20

Tidak ada hal khusus yang saya ingin lihat di sini, hanya saja memang enak sekali berjalan kaki di Fukuoka. Trotoarnya lebar-lebar, di sana-sini terselip bangunan tua atau tempat ibadah, dan kebetulan memang musimnya lagi enak. (Saya pribadi lebih suka Jepang di bulan-bulan bersuhu dingin daripada yang bersuhu panas.) Salah satu bangunan yang sempat saya tengok adalah Fukuoka City Akarenga Cultural Center. Bangunan bergaya Britania yang dibangun di abad ke-19 dengan bata merah (‘akarenga’) ini gratis dimasuki, namun hanya lantai pertama saja, yang kini berfungsi sebagai Literature Hall. Tempat ini bisa jadi menarik bagi penggemar karya sastra Jepang. Saya sendiri lebih menikmati arsitektur bangunannya saja.

fukuoka-19

Memang hanya tiga hari saja saya di Fukuoka, itu pun kurang maksimal. Saya hanya berpikir untuk ‘kabur’ sejenak dari Tokyo dengan uang pas-pasan. Saya baru agak menyesal ketika diberitahu oleh teman satu asrama yang kok ya kebetulan sedang berlibur ke Fukuoka juga dan menginap di tempat yang sama, bahwa dari Fukuoka kita bisa ke daerah-daerah lain dengan mudah seperti Kumamoto dan Nagasaki. Ah, sayang, kali ini tidak ada waktu untuk menjelajahi Kyushu lebih jauh lagi. Saya pun memendam tekad untuk kembali lain kali untuk menjelajahi Kyushu sampai habis.

fukuoka-31

Tempat lain yang sempat saya kunjungi adalah masjid Fukuoka (nama resminya adalah Al-Nour, yang saya yakin semestinya dibaca An-nuur), yang terletak dekat Stasiun Hakozaki di JR Hakata Minami Line – hanya dua stasiun jauhnya dari Stasiun Hakata. Saya menunaikan salat sementara teman saya yang berasal dari Hong Kong menanti di sebuah restoran tak jauh dari masjid.

fukuoka-23

Setelahnya kami bersantap di restoran itu. Teman saya memesan chanpon, mi campur macam-macam seafood, khas Nagasaki yang sayangnya dicampur babi sehingga tidak bisa saya ikut nikmati. Namun kami memesan juga takoyaki dan cumi goreng, yang terasa segar benar, hasil tangkapan lokal. Terlebih lagi, harganya murah, bila dibandingkan dengan di Tokyo!

fukuoka-16

Daaaan, meskipun dingin, makan siang kami tutup dengan es krim, yang dijanjikan tidak akan jatuh meskipun wadahnya kami balik. Terbukti lho kata-kata ini.

fukuoka-27

Oya, beberapa oleh-oleh yang bisa dibawa dari Fukuoka adalah Kitkat rasa ubi ungu dan si imut Piyoko, yang membuat saya merasa agak tidak tega ketika hendak memakannya.

fukuoka-22

fukuoka-17

Kesimpulan saya dari lawatan singkat ke Fukuoka? Yang namanya daerah di Jepang, meskipun kita pikir “Ah ini daerah apaan sih, paling enggak ada apa-apanya juga”, terbukti selalu punya macam-macam hal yang bisa dilihat. Perjalanan spontan memang asyik, tapi dalam kasus Fukuoka, saya berharap saya telah merencanakannya dengan lebih baik sehingga bisa mengunjungi lebih banyak tempat.

fukuoka-03

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: