Gunung Takao: rumah para Tengu 2013

This post is about Japan

Terutama di akhir minggu, saya kerap menjumpai orang-orang yang berpenampilan siap mendaki gunung menaiki kereta Chuo Line ke arah luar Tokyo. Mereka adalah penduduk ibukota yang ingin menghabiskan hari libur dengan hiking di beberapa gunung yang mudah tercapai dari Tokyo – salah satunya adalah Takao-san, alias Gunung Takao. Gunung ini populer di kalangan orang Tokyo bukan hanya karena pemandangannya yang mengesankan, terutama di musim semi dan musim gugur, melainkan juga karena mudah dijangkau. Dari Tokyo atau Shinjuku, cukup naik Chuo Line menuju stasiun Takao. Gunungnya juga tidak terlalu tinggi, hanya 600 meter kurang semeter, sehingga seluruh kunjungan ke sana bisa dituntaskan dalam satu hari.

takaosan-02

Saya sendiri ke Takao karena tidak mau kalah. Ceritanya, asosiasi yang mempertemukan mahasiswa Jepang dan mahasiswa asing di kampus saya akan mengadakan acara jalan-jalan ke Takao beramai-ramai. Saya kok ya malas kalau perginya bersama rombongan besar, tapi saya juga tidak mau kalau hanya kebagian cerita saja. Akhirnya sebelum jadwal keberangkatan mereka, saya berangkat sendirian ke Takao!

Dari tempat tinggal saya, perjalanan ke Takao tidak memakan waktu lama (karena tempat tinggal saya sendiri terletak setengah jam ke luar Tokyo dari Shinjuku). Saat itu juga bukan akhir pekan – saya sengaja memilih tanggal ketika kami kuliah hanya setengah hari. Tiba di Takao, di depan stasiun pengunjung langsung berhadapan dengan papan besar yang menunjukkan sejumlah jalur alternatif untuk mendaki sampai ke puncak Takao. Hmmm… saya sih sedang tidak berminat jalan kaki sampai atas, dan memutuskan untuk mencoba funikular (semacam trem) yang mengantar penumpang sampai ke stasiun yang lebih dekat dengan puncak. Nah, dari stasiun itu, kita bisa meneruskan berjalan kaki sampai ke bagian teratas gunung yang bisa didaki.

takaosan-01

Belum-belum, perhatian saya tersita oleh Trick Art Museum yang terletak di seberang jalan dari stasiun kereta. Sebenarnya ini tidak ada di rencana saya. Malah sebenarnya saya berangkat ke Takao asal tancap saja, pokoknya tahu transportasinya. Selanjutnya ya lihat saja di tempat tujuan ada apa. Hal ini sering saya lakukan di Jepang, dan biasanya saya jadi kewalahan sendiri karena setiap daerah ternyata memiliki banyak sekali tempat yang pantas dilihat! Tapi cara seperti ini memang cukup seru karena kita jadi terkaget-kaget dan asyik sendiri sewaktu mengetahui lebih banyak tentang daerah yang kita kunjungi.

takaosan-03

Dari luar, Trick Art Museum terlihat seperti campuran arsitektur berbagai zaman dan wilayah, namun ada nuansa Mesir Kuno yang cukup kental. Dan memang di bagian dalam, sajian utamanya adalah ruang demi ruang tipuan mata yang ditata dengan tema Mesir Kuno. Ada piramida, singa, mumi… dan yah, saya mendadak menjadi merasa agak rugi ini ke museum sendirian. Soalnya, kalau di kebanyakan museum lain ada larangan memotret, museum ini justru disiapkan agar kita bisa asyik mengambil foto yang menyajikan ilusi mata. Tapi, siapa yang akan memotret saya yang datang sorangan saat hendak berjalan di atas papan yang membentang di atas lubang yang dalam ini?

takaosan-05

Selain tipuan-tipuan bertemakan Mesir Kuno, juga ada sejumlah tipuan yang lebih umum, misalnya ruangan di mana kita bisa terlihat besar bila berdiri di satu sisi, namun akan terlihat kecil bila berdiri di sisi yang lain. Atau lubang di lantai yang dilapisi kaca, menantang kita untuk berdiri di atasnya, menatap ke kegelapan yang seolah tak berujung di sebelah bawah.

Meskipun sudah berusaha berhati-hati, saya kecele juga satu kali. Di salah satu sudut museum, terlihat selembar 1.000 yen tergeletak di lantai. Karena berpikir itu uang yang jatuh dan hendak melaporkannya ke petugas museum, saya pun membungkuk untuk mengambilnya… hanya untuk mendapati bahwa uang itu ternyata hanya lukisan di lantai yang terlihat begitu riil. Sial!

takaosan-06

Oya, sewaktu membeli tiket di pintu masuk, kita juga akan memperoleh sekeping uang ‘1 FLAVIA’. Uang ini hanya bisa digunakan di mesin otomat di pintu keluar museum. Jadi, biaya tiket kita sudah termasuk satu minuman yang bisa dinikmati di teras atas museum sebelum beranjak meninggalkan bangunan tersebut. Saya tentu saja tidak menyia-nyiakan uang itu, dan memilih minuman susu cokelat pisang dingin yang saya habiskan sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.

Cukup lama juga saya menghabiskan waktu di museum itu. Saya harus bergegas berangkat sebelum matahari tenggelam. Untungnya, saat itu sedang peralihan dari musim panas ke musim gugur, sehingga lama siang hari masih cukup panjang.

takaosan-07

Saya berjalan kaki menyusuri jalanan yang cukup sepi, sambil mengagumi sungai jernih yang mengalir agak jauh di sebelah bawah. Saya mengikuti petunjuk jalan menuju stasiun funikular, melewati sejumlah toko dan restoran bergaya tradisional yang cukup menggoda. Tampak sejumlah toko menawarkan dango berukuran besar yang merupakan kekhasan daerah ini. Namun saya menguatkan hati untuk tidak mampir dulu, karena matahari sudah semakin menggelincir ke barat.

takaosan-10

Di stasiun, saya membeli tiket bolak-balik seharga 900 yen di mesin, lalu menuju peron, menanti funikular yang berwarna kuning dan hijau mencolok tiba. Karena sudah cukup sore, tidak banyak yang hendak menumpangi funikular ke arah atas. Bagus juga, jadi saya bisa dapat tempat duduk yang enak untuk melihat-lihat pemandangan di luar.

Funikular Gunung Takao dari sebelah luar.

Funikular Gunung Takao dari sebelah luar.

Sesampainya di stasiun atas, saya pun mulai menyusuri jalan setapak berlapis batu rapi ke arah atas. Yang namanya Jepang, daerah wisata populer seperti ini pasti sudah dibuat mudah semuanya. Biarpun judulnya di gunung, jalanannya mulus, tidak bolong-bolong, mempermudah orangtua sekalipun untuk menempuhnya. Cukup banyak lho, kakek-nenek yang saya lihat hiking hari itu. Bukan hanya orang lansia yang masih tampak tegap, dan segar-bugar, melainkan juga yang punggungnya sudah bungkuk! Gila juga, batin saya. Saya yang masih muda ini jangan-jangan kalah dengan mereka.

Di saat saya sedang bimbang memikirkan apakah tidak usah terus sampai ke paling atas karena hari mulai gelap, tiba-tiba muncullah seorang kakek. Menyadari saya orang asing, kakek yang bahasa Inggrisnya lumayan ini bertanya kepada saya, “Mau ke atas?”

Nah, kalau ini sebelah dalamnya funikular.

Nah, kalau ini sebelah dalamnya funikular.

Saya masih berpikir, belum menjawab, namun rupanya si kakek berpikir jawaban saya pasti ‘ya’. Mungkin dipikirnya, ngapain juga orang ke sini kalau tidak mau naik sampai ke puncak. “Ayo, sama-sama!” Dengan gagah ia mendahului, melanjutkan perjalanan. Entah mengapa, saya tidak tega menolak dan bilang “Nggak oom, saya mau pulang saja, cukup kok sampai sini.” Mungkin ada perasaan malu dan tidak mau kalah juga dari kakek-kakek yang masih bersemangat ’45 ini. Maka dengan agak terengah-engah saya ikuti beliau. Gilanya, meski menanjak, kakek ini cepat langkahnya, membuat saya terkadang harus berlari-lari kecil agar tidak ketinggalan. Lebih gila lagi ketika saya tahu bahwa ia mencapai ketinggian itu dengan berjalan kaki dari bawah, tidak naik funikular seperti saya. Sewaktu ia bertanya, ya saya dengan malu-malu mengakui bahwa saya ‘curang’ memotong jarak tempuh dengan funikular.

Deretan toko di kaki gunung Takao.

Deretan toko di kaki gunung Takao.

Ternyata kakek ini tinggal di daerah Hachioji—yang stasiunnya terletak di antara Takao dan tempat saya tinggal—dan setiap minggu mendatangi Takao, karena ia sangat menyenangi gunung ini. Pantas saja kakek ini masih bugar dan tampak terbiasa serta mantap sekali menapaki jalan mendaki Takao!

Separo terseret-seret, akhirnya saya sampai juga di atas, di belakang kakek. Ia dengan bangga menunjukkan lampu-lampu bergaya Jepang yang berjejer di sepanjang jalan, juga dengan bersemangat menyuruh saya memotret kuil-kuil yang kami lewati. Ia juga bertanya, apakah saya suka Jepang? Saya bilang, iya, saya suka. Ia tertawa, senang.

Gunung Takao sejak zaman dahulu terkenal sebagai tempat tinggal makhluk mitologi Jepang, tengu. Tidak heran di kuil-kuil di Gunung Takao terdapat patung-patung tengu yang bertubuh manusia namun berparuh dan bersayap burung, yang konon menghubungkan para dewata dan Buddha. Di Gunung Takao ini, kita bisa melihat dua perwujudan tengu: yang wajahnya memang masih sangat serupa burung lengkap dengan paruhnya, ataupun yang berwajah manusia hanya saja dengan hidung yang luar biasa panjang.

takaosan-14

Sebagai penggemar manga Yami no matsuei yang menghadirkan dua tokoh tengu kakak-beradik yang sangat saya sukai, dalam hati pun saya jadi kegirangan sendiri berada di tempat yang keramat bagi tengu ini.

Sewaktu kami turun lagi, kedai-kedai sudah tutup. Yah, saya tidak sempat mencicipi dango raksasa. Ya sudahlah, memang belum rejeki. Toh sebagai gantinya saya jadi naik ke puncak dan melihat pemandangan memesona dari sana, meskipun awalnya sih tidak niat.

takaosan-15

Kakek menanyakan apakah saya akan turun dengan funikular lagi. Saya jawab iya. Lha iya dong, sudah terlanjur beli tiket pulang-balik, masa tidak dimanfaatkan. Ia menjabat tangan saya, mengucapkan selamat tinggal dan menyatakan senang bertemu saya hari itu. Saya balas mengucapkan terima kasih, dan bertanya beliau akan pulang lewat mana.

“Jalan turun lagi, lewat situ,” jawabnya, menunjuk ke tangga yang mengarah ke bawah di antara pepohonan. “Sudah biasa kok,” katanya menenangkan, mungkin melihat tampang saya yang setengah tidak percaya karena jalur yang ia tunjuk itu tampak sudah gelap. Ia melambai, lalu tetap dengan semangat yang sama seperti saat naik itu, menghilang di antara dedaunan yang separo menutupi jalur tersebut.

takaosan-13

Sepeninggal beliau, dan sambil berjalan kembali ke stasun funikular, saya menggeleng-geleng sedikit dan bertanya-tanya, Kakek itu nyata tidak ya? Jangan-jangan beliau tengu menyamar, lagi. Saya benar-benar berterima kasih sih kepada beliau, karena kunjungan saya ke Takao yang hanya separo direncanakan ternyata jadi seru berkat beliau.

Beberapa hari kemudian, sepucuk surat elektronik dari kakek mampir ke inbox saya, melampirkan foto-foto yang kami ambil di Gunung Takao. Ah, rupanya beliau nyata adanya.

Eh, tapi siapa bilang tengu sekarang tidak bisa pakai komputer, ya?

takaosan-09

 

10 Comments (+add yours?)

  1. totoryan
    Jun 28, 2015 @ 11:17:43

    ahhh, seneng banget Ka baca cerita tentang kakek ituu… so sweet heheheeh… trus beliau bisa email pula, melek teknologi sekali ya hahaa

    Reply

  2. chie
    Jan 13, 2016 @ 04:54:09

    halo tyas , salam kenal😀
    mau tanya , untuk hiking ke takao-san ini kira2 butuh waktu berapa jam ya? saya rencana aki taun ini mau ke tokyo dan pengen banget ke takao-san .

    Reply

    • lompatlompat
      Jan 13, 2016 @ 06:00:30

      Halo Chie, salam kenal juga! Takao-san ini, jauhnya sekitar 45 menit dari Shinjuku dengan kereta Chuo Line. Untuk naik ke puncak, ada beberapa jalur. Kalau full berjalan kaki, rute terpendeknya bisa ditempuh dalam waktu kira-kira 1,5 jam sampai ke atas. Jalur-jalur yang lebih panjang juga ada🙂

      Reply

  3. chie
    Jan 13, 2016 @ 06:25:12

    Oh tergantung jalur yang kita ambil yah, rencananya sih mungkin naik pake funikular juga, tapi turunnya full jalan kaki. jadi ancer2 kasi waktu 4-5 jam lah ya total . Ok deh, makasih banget ya.. terbantu banget nih sama postingan2nya😀

    Reply

  4. namaewagiska
    Mar 15, 2016 @ 15:10:07

    Kalau pagi-pagi dari shinjuku, memungkinkan ga ya naik kesana jam 9 pagi? hehe, jadi ga usah naik funikular … lumayan 900 yen itu bisa buat apa aja yak xD

    Reply

    • lompatlompat
      Mar 15, 2016 @ 15:13:38

      Kalau kamu kuat hiking bisa bisa aja kok…

      Reply

      • namaewagiska
        Mar 15, 2016 @ 15:20:36

        Mba , mau sekalian tanya donk hihi *maaf agak ga nyambung ma judul*, saya agak bingung rute 5 danau di Gunung Fuji, kan saya pingin jamah 2 danau Lake Kawaguchiko dan Yamanakako, kalau dari shinjuku enaknya beli one way ke Kawaguchiko dulu baru ke Yamanakako, atau beli one way ke Yamanakako dulu baru ke Kawaguchiko? Makasih ^^

      • lompatlompat
        Mar 21, 2016 @ 00:46:25

        Ga papa mbak🙂 Hmmm sebenarnya terserah Mbak saja sih. Kalau dari tempat tinggal saya dulu lebih praktis naik kereta langsung ke Kawaguchiko jadi saya nggak pernah naik bis ke Yamanakako.

        Tapi mungkin Mbak sudah cek di sini?

        http://www.mountfuji.jp/en/access.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: