Kebun Binatang Tama Mei 2014

This post is about Japan

Ya ampun.

Sewaktu saya membuka kumpulan foto saya, dengan maksud untuk (akhirnya) melanjutkan menulis pengalaman saya di blog ini, terperanjat saya menyadari bahwa sudah setahun berlalu sejak saya mengunjungi Kebun Binatang Tama – alias Tama Zoo, alias Tama Doubutsuen. Sedemikian banyakkah waktu saya yang tersisa oleh kehidupan sehari-hari sampai-sampai foto-foto ini menanti sampai setahun sebelum saya tengok lagi?

Baiklah, memang pada dasarnya tidak akan ada tulisan yang jadi bila saya tidak menggerakkan jari-jari saya untuk menulis – atau tepatnya, mengetik. Jadi, sambil meminum Lipton Royal Tea Latte di sebuah apartemen di Tokyo, marilah saya bercerita tentang kebun binatang yang satu ini.

tamazoo-03

Banyak orang yang menyarankan agar kita berkunjung ke kebun binatang Ueno bila kebetulan bertandang ke Tokyo. Untuk melihat panda. Untuk mencari sedikit udara segar di tengah Tokyo. Sekalian jalan melihat museum-museum yang ada di daerah tersebut. Letaknya yang memang strategis – stasiun Ueno adalah salah satu stasiun di jalur Yamanote yang melingkari Tokyo – menjadikan kebun binatang ini berada dalam jangkauan mudah para turis.

Saya sendiri malah belum pernah berkunjung ke kebun binatang tersebut, meski ke museum-museum di Ueno ya sudah pernah. Aneh tidak, ya? Mungkin sama anehnya dengan fakta bahwa saya tidak pernah ke Tokyo Sky Tree ataupun memakan Tokyo Banana selama satu setengah tahun bermukim di Jepang?

Tapi, sejumlah orang mengatakan bahwa bila kita sudah pernah berkunjung ke kebun binatang di Tama, tidak perlu-perlu amat pergi ke kebun binatang di Ueno. Tama Zoo jauh lebih besar (52 hektar) dan menarik daripada kembarannya di Ueno (yang berluas 14 hektar). Oleh karena saya belum pernah mengunjungi yang di Ueno, tentu tidak sah untuk membuat pembandingan semacam ini. Yang jelas sih, saya sangat terkesan oleh Tama Zoo, sehingga saya berpikir jangan-jangan benar kata-kata orang kepada saya bahwa sudah cukuplah Tama Zoo saja.

Letak Tama Zoo sebenarnya tidak begitu jauh dari Tokyo, tapi memang butuh usaha ekstra, lebih daripada sekadar menaiki kereta Yamanote, untuk mencapainya. Dari stasiun Tokyo atau Shinjuku – atau stasiun mana saja yang ada di sepanjang Chuo Line – terlebih dahulu kita harus naik kereta ke Tachikawa, daerah yang juga sebenarnya menarik seperti yang pernah saya bahas sebelumnya. Namun kali ini karena kita mau ke Tama Zoo, baiklah kita lanjutkan perjalanan dengan Tama Monorail menuju stasiun Tama Doubutsuen. Dari Shinjuku, kira-kira makan waktu satu jam lah.

Udara segar perbukitan langsung menyapa kita ketika tiba di kebun binatang ini. Beginilah rupa gerbang depan kebun binatang tersebut, beserta jejeran koinobori yang menjadi bukti bahwa saya berkunjung di bulan Mei (tahun lalu).

tamazoo-01

Tama Zoo buka mulai pukul 9 sampai 17.30, dan penjualan tiket diakhiri pukul 16.00. Tapi beneran deh, jangan datang ke kebun binatang ini ngepas pukul empat sore. Mana cukup waktu setengah jam saja mengelilinginya?

tamazoo-02

Tiket dibeli melalui sejumlah mesin seperti yang ada dalam foto di atas. Ada bermacam-macam desain tiket, berhiaskan gambar hewan yang berbeda-beda. Hari itu saya dapat gambar semut. Iya, semut. Agak kecewa sih, karena saya berharap mendapatkan gambar harimau… serigala… burung kakatua… apalah yang gagah atau cantik, tapi memang luck saya sedang berkata ‘semut’.

Harga tiket orang dewasa – dalam hal ini diartikan berusia 16 sampai 64 tahun – adalah 600 yen sekali masuk. Lansia 65 tahun ke atas cukup membayar 300 yen saja, sementara murid sekolah berusia 13-15 tahun hanya ditarik 200 yen (dengan catatan, mereka bersekolah di Tokyo). Anak-anak berusia di bawah 12 tahun? Gratis! Nah, keluarga yang memiliki anak kecil benar-benar dimanjakan, bukan?

Saya juga perhatikan bahwa kebun binatang ini dibuat se-family friendly mungkin, dan family di sini tidak berarti melulu bapak-ibu-anak. Karena mereka pun menyediakan ruang perawatan bayi untuk bapak-bapak. Lho, iya kan? Di dunia ini kan tidak hanya ada keluarga lengkap, dan tidak hanya ada single mother, melainkan juga ada single father. Mungkin juga memang kedua orang tua berbagi peran, dan kali ini sang ayahlah yang ingin mengganti popok si bayi!

Eh iya, ngomong-ngomong, toilet umum di kebun binatang ini, di tempat-tempat terpencil yang jauh dari gerbang utama sekali pun, berupa washlet dan bersih lho… Membuat pengalaman di kebun binatang ini makin menyenangkan saja. Padahal saya sudah pasrah kalau toilet di tempat seperti ini ‘seadanya saja’.

Secara garis besar, kebun binatang ini dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona Asia, Afrika, dan Australia, ditambah bagian serangga (Insektarium). Denahnya bisa dilihat di situs resmi kebun binatang Tama (tersedia juga dalam bahasa Indonesia). Kebun binatang ini dibangun mengikuti kontur perbukitan, agak mengingatkan saya kepada kebun binatang di Chiang Mai. Jadi sudah luas, medannya naik-turun pula. Mungkin ini perlu jadi bahan pertimbangan bila Anda punya masalah kesehatan atau gampang lelah. Tapi sungguh, saya rasa udara segar dan kesempatan berolahraga jalan kaki di kebun binatang ini sungguh menyehatkan!

Di kebun binatang ini, kita bisa melihat bermacam-macam binatang dari ketiga zona di dunia tersebut, termasuk tentu saja binatang-binatang dari Jepang sendiri. Di antaranya, monyet makaka Jepang yang mungkin sudah sering Anda lihat di televisi.

tamazoo-21

Beberapa hewan lain yang bisa dilihat di kebun binatang ini, dalam kandang yang didesain semirip mungkin dengan tempat hidup asli mereka, adalah:

tamazoo-10

Panda merah, dikenal juga sebagai lesser panda, kerap memancing orang berseru “Apanya yang panda? Kok nggak mirip?”

Apa? Pantatnya lucu?

Baiklah, kita lihat lagi, secara lebih dekat.

tamazoo-09

Indonesia diwakili antara lain oleh orang utan. Saya sampai trenyuh melihat ibu dan anak ini bermain-main dari balik kaca. Saya berpikir, di negara yang jauh dari hutan rimba tropis tempat asal mereka ini, apakah mereka lebih bahagia daripada di tanah air mereka, di mana mereka disia-siakan, dikejar-kejar, dan dibunuh tanpa belas kasihan? Apa betul lebih enak hujan batu di negeri sendiri? Kalau menurut saya sih tidak, ya. Entahlah, setidaknya di sini mereka ini disayang, dijaga, diberi perawatan, dikagumi.

tamazoo-15

Serius deh, kok ada sih yang tega membunuh makhluk selucu ini? Lihat, mereka juga tersenyum dan tertawa!

tamazoo-14

Salah satu bagian yang paling membuat saya kegirangan sendiri adalah walk-in aviary – di mana kita memasuki kubah-kubah berisikan burung-burung yang dilepas bebas, termasuk merak. Rasanya takjub saja saya bisa berada sedekat itu dengan berbagai burung. Inilah akibat dari belum pernah ke Taman Burung TMII.

tamazoo-04

tamazoo-06

tamazoo-05

Saya juga menyukai zona Afrika, terutama kandang singa. Kita dapat menumpang bis khusus untuk mengitari kandang singa dari sebelah dalam dan melihat raja-ratu sabana ini dari dekat, atau berjalan mengamati mereka dari sebelah atas tembok yang mengelilingi kandang yang luas. Oleh karena saat itu kantong saya agak cekak, saya lebih memilih opsi kedua.

tamazoo-19

Gagah, ya!

Kalau yang ini sih… serigala. Harapan saya melihat serigala-serigala ganteng bermata tajam yang berdiri gagah menentang angin pupus karena saat saya tiba di sana, serigala-serigala ini sedang tertidur kekenyangan. Ah. Ya sudahlah.

tamazoo-13

Sebodo amat ada kuda-kuda gemuk di sebelah sana, wong kekenyangan kok…

tamazoo-12

Kangguru-kangguru juga kebanyakan sedang leyeh-leyeh tiduran bareng-bareng. Melihat kaki belakang mereka, saya agak ngeri mengingat cerita bagaimana mereka bisa menendang manusia dengan kuatnya sampai orang yang bersangkutan ‘lewat’.

tamazoo-16

Insektarium juga sangat menyenangkan. Ada kubah berisikan macam-macam kupu-kupu. Ada serangga-serangga hidup dari wujud larva sampai dewasa, juga ruangan-ruangan khusus di mana disimpan spesimen-spesimen awetan yang saya rasa bakal membuat teman-teman saya penggemar serangga melonjak-lonjak bersemangat.

tamazoo-20

Hewan memamah-biak juga cukup banyak terdapat di kebun binatang ini. Yang satu ini tidak sedang sakit, lho. Ia sedang menggugurkan bulu musim dinginnya, bersiap menghadapi musim panas yang di Jepang bisa mencapai empat puluh derajat Celsius.

tamazoo-08

tamazoo-07

Sayang, tidak cukup waktu bagi saya untuk menjelajahi seluruh bagian kebun binatang ini saking luasnya. Yang penting bagi saya saat itu adalah saya sudah melihat semua hewan utama yang ingin saya lihat. Itu pun kaki saya dua-duanya sudah terasa mau copot, padahal selama di Jepang saya terbiasa berjalan kaki untuk jarak yang cukup jauh. Hufh!

tamazoo-11

Oh ya, ada kejadian kecil namun menggugah.

Saya rupa-rupanya berkunjung di hari yang sama dengan serombongan (bahkan mungkin bukan hanya satu rombongan?) murid taman kanak-kanak. Mereka berlari-lari, berkeliaran ke sana-kemari dengan bersemangat, ditemani bapak-ibu guru yang tampak sabar.

Salah satu anak tampaknya kelelahan dan mulai menangis, tidak mau berjalan lagi. Ibu guru sibuk membujuk di kaki tangga batu yang seharusnya mereka naiki.

Teman-teman anak itu, yang sudah naik beberapa anak tangga, memutar badan menghadap ke si gadis cilik dan melambai-lambai sambil memberinya semangat, “Ayo, Yuu-chan! Ganbatte Yuu-chan! Ganbatte!”

Saya terperangah. Anak-anak TK pun sudah mengerti yang namanya ganbaru, dan bahkan menyemangati teman mereka seperti itu. Di benak saya kontan berkelebat pertanyaan, “Ini bagaimana cara mendidiknya, sih?”

tamazoo-18

tamazoo-17

Saya pun meninggalkan kebun binatang ini dengan iri di dalam hati, ingin kita juga memiliki kebun binatang yang cantik, bersih, memenuhi standar-standar pemeliharaan hewan, dan edukatif. Bukankah kebun binatang semacam ini juga dapat menjadi tempat mendidik anak-anak agar peduli hewan dan alam, serta juga belajar ber-ganbaru?

Yah, tentunya juga kita sebagai orang dewasa tidak boleh malah mencontohkan hal yang salah kepada anak-anak di kebun binatang, seperti misalnya melemparkan makanan ke dalam kandang padahal sudah jelas-jelas terlarang! (*)

tamazoo-22

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: