Nikko, Juni 2014

This post is about Japan

Wisatawan yang baru pertama kali datang ke Jepang dan hanya bisa mengunjungi Tokyo, biasanya lebih memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kota. Betul, Tokyo memang punya banyak tempat menarik, tapi sebenarnya banyak lho tempat wisata yang terjangkau dalam half-day atau one-day trip dari Tokyo. Misalnya, saya sebelumnya pernah bahas Enoshima, Kawaguchiko, atau bahkan Ome. Saya sendiri sangat menyarankan untuk bertandang ke tempat-tempat ini, karena kalau bagi saya pribadi, ‘Jepang’ belum benar-benar terasa bila kita hanya berputar-putar di dalam Tokyo. Nah, sekarang saya akan bahas satu lagi tempat semacam itu: Nikko.

nikko-17

Untuk menuju Nikko, ada dua jalur kereta yang bisa Anda gunakan, yaitu kereta milik JR dan Tobu. Masing-masing perusahaan itu punya stasiun sendiri di Nikko (yang dimiliki Tobu dikenal sebagai Tobu-Nikko), sementara yang milik JR dikenal sebagai JR Nikko atau Nikko saja. Kedua stasiun itu terletak nyaris bersebelahan, jadi tidak begitu masalah sih mana yang Anda pilih. Tergantung hitung-hitungan biaya (mungkin Anda membawa JR Pass?) dan kemudahan bolak-balik ke tempat menginap saja. Sewaktu berangkat, saya mencoba naik kereta JR sampai Utsunomiya, lalu disambung dengan Nikko Line.

Stasiun JR Nikko

Stasiun JR Nikko

Ada yang menjuluki Nikko sebagai ‘kulkas’-nya Tokyo. Soalnya konon meskipun Tokyo sedang panas-panasnya, Nikko biasanya lebih sejuk, sehingga banyak orang Tokyo yang melarikan diri sebentar ke Tokyo untuk mencari angin. Tapi sewaktu saya berkunjung ke Nikko bulan Juni 2014, tetap saja panasnya luar biasa, meski hawanya sih memang lebih segar dan bersih daripada Tokyo.

nikko-02

Namun sebenarnya memang walaupun baru tiba di Nikko, mata ini langsung sejuk melihat pemandangan sekitar. Pegunungan terlihat begitu dekat, dan yang jelas, kota ini jauh lebih bersih daripada Tokyo! Iya, meskipun kala pertama datang Tokyo terlihat bersih dan rapi, lama-kelamaan terasa kotor dibandingkan kota-kota lain di Jepang.

Dan ya, langit Nikko terlihat biru sekali hari itu. Nyaris tanpa awan.

nikko-03

Dari stasiun, meski diterpa sinar matahari yang luar biasa terik, saya berjalan kaki menuju Toshogu, yang mungkin merupakan tempat tujuan utama para wisatawan yang mendatangi Nikko. Toshogu sebenarnya adalah sebutan untuk kuil Shinto mana pun yang dibangun untuk menghormati shogun Tokugawa Ieyasu. Di Ueno, Tokyo juga ada Toshogu, namun Toshogu di Nikko inilah yang paling terkenal.

nikko-05

Belum sampai Toshogu, perut saya sudah protes minta diisi. Saya pun melipir dulu, masuk ke salah satu restoran yang terletak tidak jauh dari Toshogu. Saya sih asal pilih saja, yang penting restorannya menyediakan paket hidangan yuba, alias kulit tahu. Dahulu, Nikko merupakan pusat pengajaran agama Buddha, dan banyak biksu yang berdiam di kota tersebut. Tidak heran banyak hidangan khas kota tersebut yang aman bagi vegetarian, dan juga bagi Muslim. Andalannya ya si yuba itu. Harga satu paket hidangan dengan bermacam-macam hasil olahan kulit tahu paling tidak 1000 yen.

Beginilah penampakan paket hidangan yuba yang disediakan oleh restoran yang saya masuki:

nikko-06

Seperti banyak paket hidangan khas Jepang lainnya, semua lauk dan sayur disediakan sejumput-sejumput saja. Rasanya memang jadi agak campur-aduk, dan ada beberapa hidangan yang rasanya tidak terduga untuk lidah Asia Tenggara saya. Sampai terpikir, “Ini buah? Dimakan bareng nasi? Kok rasanya begini ya dimakan juga?” Tapi seru lah untuk petualangan kuliner!

(Kalau lidah Anda tidak cocok dengan makanan Jepang, terdapat beberapa restoran bercitarasa internasional di Nikko, terutama di sekitar stasiun. Misalnya, yang sempat saya perhatikan, adalah restoran India dan restoran hidangan Eropa.)

Kelar makan, saya meneruskan perjalanan. Mata langsung terpikat oleh jembatan yang bernama Shinkyou, yang membentang di atas sungai yang seolah memisahkan kota Nikko tempat kebanyakan penduduk bermukim dengan kompleks kuil Toshogu. Jembatan ini tampak cantik, merah mencolok dengan latar belakang pepohonan hijau dan sungai biru-kehijauan yang bergejolak di bawahnya. Tapi saya hanya memandangnya dari kejauhan, dari atas jembatan baru yang juga bisa dilewati kendaraan bermotor. Soalnya, kalau mau berjalan di atas Shinkyou, harus beli tiket dulu, dan harganya lumayan… 350 yen. Ya, hanya untuk satu jembatan itu saja.

nikko-08

nikko-07

Saya menyeberangi jalan, menapaki tangga menuju kompleks Toshogu. Air jernih mengalir bergemericik di parit-parit yang terkadang tersembunyi.

nikko-09

nikko-10

Di kompleks Toshogu inilah terdapat mausoleum Tokugawa Ieyasu. Fotonya tidak saya tampilkan di sini, sih, tapi untuk menuju makamnya, kita harus mendaki tangga batu yang lumayan curam. Hari itu juga banyak sekali yang hendak menengok makam sang shogun, sehingga saya harus bersabar dengan kecepatan mendaki tangga yang tersendat-sendat.

nikko-11

Di dalam kompleks ini juga terdapat pagoda lima tingkat dengan warna mencolok, selain sejumlah bangunan menarik lainnya.

nikko-12

Barangkali, inilah patung yang paling terkenal di Nikko: patung tiga monyet yang berpesan hear no evil, speak no evil, see no evil. Beberapa kali saya pernah ditanya, “Sudah pernah ke Nikko? Lihat tiga monyet itu dong?” Jadi sepertinya karena betul-tidaknya kita pernah ke Nikko diukur dari sudah melihat ketiga monyet ini atau tidak, jangan sampai kelewatan melihat mereka. Mereka nangkring di sebelah atas istal kuda suci yang dipelihara oleh pihak Toshogu.

nikko-13

nikko-14

Patung nemuri neko alias kucing tidur ini juga terkenal, tapi letaknya agak lebih tersembunyi daripada ketiga monyet. Hayo coba, dicari. Kalau ketemu, cerita-cerita yah ke saya.

nikko-15

Satu hal lain yang juga sangat Nikko banggakan adalah air mereka, yang bisa diminum langsung tanpa perlu dijerang dulu. Di beberapa sudut kota, tersedia pipa-pipa seperti ini yang mencurahkan air yang boleh langsung diciduk atau ditampung dengan gayung untuk diminum. Mau mengisi botol minuman juga boleh. Dan memang sangat mengejutkan, di hari yang sepanas itu, ternyata air yang mengalir dari pipa-pipa tersebut masih sangat dingin!

Pipa air di foto di bawah ini terletak di kantor informasi pariwisata Nikko, di tepi jalan yang mengarah ke Toshogu.

nikko-16

Saya sempat mampir minum kopi sebentar di salah satu kedai yang dijaga oleh seorang perempuan separo baya. Ketika saya memesan salah satu varian minuman dan bertanya bisakah kopi yang dihidangkan itu diberi es, beliau menjelaskan bahwa varian yang itu paling bagus diminum panas-panas, hot, jadi dia tidak menyediakan versi ice. Beliau sangat mengutamakan rasa. Berbeda yah dari kedai kopi franchise yang selalu menyediakan versi panas dan dingin dari minuman mereka demi memenuhi selera tamu. Karena berminat, meskipun sebenarnya saya mengidamkan minuman dingin, tetap saya pesan kopi panas buatan beliau itu.

Dan manisnya, sewaktu saya beranjak pergi, beliau memberikan saya kenang-kenangan: bangau-bangau kecil dari kertas yang beliau lipat sendiri, beserta beberapa lembar kertas origami cantik khas Jepang.

nikko-18

Saya kembali berjalan kaki ke arah kedua stasiun kereta. Karena masih ada waktu sebelum hari gelap (waktu itu musim panas, sehingga Matahari tidak cepat turun), saya berjalan-jalan sebentar di sekeliling stasiun. Perhatian saya tertarik oleh satu jajanan yang ditawarkan beberapa toko di seberang stasiun Tobu-Nikko. Es krim, tapi bukan sembarang es krim… es krim yuba! Yuba juga dibuat menjadi es krim? Wah, ini sih harus dicicip. Saya pikir rasanya bakalan tidak karuan, ternyata enak kok! Dan yang jelas, dingin… terasa segar sekali di kerongkongan.

eskrim yuba

Waktunya kembali ke Tokyo. Saya memasuki stasiun Tobu-Nikko dan menuju ke peron. Wah, bagus nih keretanya, pikir saya, melihat rangkaian kereta dengan kursi berdua-dua dan dengan jendela besar-besar, pas untuk melihat pemandangan. Saya pun duduk di salah satu kursi, mengagumi peluit burung-burungan yang saya beli dari seorang kakek yang mangkal berjualan di Toshogu. Saya juga sempat mengobrol dengan sang kakek yang sangat ramah, dan bisa dalam sekali tebak mengetahui asal negara saya. Beliau juga bisa berbahasa Indonesia sedikit.

Ketika kereta sudah berjalan cukup jauh, lho, tiba-tiba muncul kondektur yang menanyakan tiket. Saya menunjukkan kartu transportasi saya ke kondektur. Bukan, katanya, tiket.

Tiket apa Pak? Saya bingung. Oalaaah, ternyata kereta ini khusus, yang butuh tiket khusus juga yang seharusnya dibeli terpisah. Ups, malunya. Saya main masuk dan duduk saja. Untunglah, di Jepang, kalau ada kesalahan begini, kita bisa membeli tiketnya langsung dari kondektur.

nikko-19

Untuk pertama kalinya setiap habis berjalan-jalan ke luar Tokyo, saya merasa benar-benar ingin cepat-cepat tiba di Tokyo. Bukan apa-apa… penyejuk udara kereta itu entah rusak, atau memang kalah menghadapi hawa di luar, atau memang buat orang Jepang suhu seperti itu normal-normal saja. Panassss luar biasa! Musim panas Jepang memang membuat orang Asia Tenggara sekalipun bertekuk lutut!

4 Comments (+add yours?)

  1. ste
    Dec 19, 2014 @ 08:50:29

    Waaah es krim rasa kulit tahu? Menarik sekali! Aku suka banget kulit tahu. :9

    Reply

  2. totoryan
    Dec 23, 2014 @ 14:28:53

    uwahhh, pernah lihat kompleks Toshogu itu di salah satu episode acara Arashi! Waktu itu shootingnya memang di musim panas, terus yg aku inget habis ngomongin tiga monyet itu, member2 Arashi pada makan es serut berbagai rasa hahaha~ Ada sesuatu pembicaraan mengenai “power spot” di kompleks toshogu itu, tapi aku lupa itu apa ya… *mesti nonton ulang* ahahaha

    thanks for sharing, ka tyas❤

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: