Dua Hari, Semalam di Semarang – Februari 2013 (bagian II)

This post is about Indonesia

Usai Maghrib, saya turun ke lobi dan bertanya ke resepsionis, bagaimana cara menuju ke Simpang Lima.  Jauhkah?  Bisakah berjalan kaki, atau naik bis?

“Wah, lumayan jauh.  Bis (Trans Semarang) sudah tidak jalan jam segini.  Sebaiknya naik taksi,” jawab sang resepsionis.

semarang24

Saya akhirnya mengambil alternatif: berjalan kaki ke depan Lawang Sewu, dan mengambil angkot ke arah Simpang Lima dari situ.  Kebetulan malam Minggu.  Simpang Lima, dengan lapangan luas yang dikelilingi oleh berbagai pusat perbelanjaan dan masjid agung, diramaikan oleh warga Semarang yang menghabiskan malam.  Menyenangkan sekali melihatnya.  Tua, muda, bapak, ibu, anak, nongkrong di warung-warung di tepi jalan atau di tembok-tembok rendah di trotoar, asyik mengobrol dan bercanda.  Ada juga yang menyewa sepeda berhiaskan lampu warna-warni untuk mengelilingi Lapangan Simpang Lima.  Ada yang asyik bermain, berkejar-kejaran di lapangan.

semarang22

Saya tiba-tiba kembali merasakan ‘spirit’, ‘ruh’ sebuah kota, yang seharusnya betul-betul merupakan sebuah ‘tempat tinggal’ bagi warganya.  ‘Tinggal’ yang merupakan sesuatu yang melampaui totalitas kegiatan-kegiatan yang bisa kita lakukan di sebuah kota seperti bekerja, makan, dan tidur.  Hubungan antarmanusia, suasana nyaman yang memanusiakan, seharusnya juga jadi unsur sebuah kota.

semarang21

Saya memilih sebuah warung di tepi jalan yang menjual – sebutannya apa ya?  Istilah yang biasa saya pakai sih ‘nasi kucing’.  Sedikit nasi, dibungkus dengan sejumput lauk atau sesendok-dua sendok sayur, dibungkus kecil-kecil, dijual dengan harga murah.  Yang punya uang hanya sedikit masih bisalah membeli sebungkus untuk diri sendiri.  Yang tidak kenyang hanya memakan satu atau ingin kombinasi beberapa lauk/sayur, bisa membeli beberapa bungkus, masih ditambah gorengan kalau perlu.  Bersama secangkir teh hangat manis, malam yang agak gerimis pun terasa lengkap sempurna!

semarang23

Usai makan, saya mengarah ke Istana Brilian, pusat oleh-oleh yang masih buka.  Saya membeli sejumlah penganan khas Semarang sebelum kembali pulang ke hotel dengan angkot.  Atau tepatnya, sampai ke dekat Lawang Sewu, dan dari situ berjalan kaki lagi ke hotel.  Itu, kisah di bagian sebelumnya, sewaktu saya nyaris tertimpa cabang pohon.  Lawang Sewu masih terlihat agak ramai oleh para pengunjung yang berwisata malam.

semarang25

Keesokan paginya, karena masih ada beberapa jam sebelum waktu check-out dari hotel dan menghadiri pesta pernikahan, saya kembali menggerakkan kaki.  Pertama-tama saya mencoba menengok Museum Perjuangan Mandala Bhakti, yang terletak di seberang Lawang Sewu.  Untuk mencapainya saya harus melewati Tugu Pemuda beserta taman yang mengelilinginya.  Museum terlihat sepi, hanya ada beberapa orang pria dan wanita yang sedang berkumpul di sampingnya.  Melihat saya, salah seorang ibu-ibu menggerakkan tangan memanggil saya mendekat.  Meskipun kecurigaan otomatis timbul di hati saya yang bertahun-tahun ditempa ibukota, saya menurut.  Ah, ternyata ibu-ibu itu bukan bermaksud apa-apa.  Hanya menanyakan kepada saya mau apa, dan apakah saya salah seorang yang hendak mengikuti acara di museum itu (entah apa) hari ini.  Sambil diam-diam kesal kepada diri saya sendiri yang begitu pencuriga sekarang, saya mengobrol sedikit dengan sang ibu dan rekan-rekannya.  Dari mereka saya tahu museum tidak selalu buka.  Akhirnya saya hanya menikmati bagian luarnya saja.  Teringat seloroh si pemandu Lawang Sewu teriring tawa kemarin, “Museum di depan itu iri pada Lawang Sewu.  Dia yang museum, tapi Lawang Sewu-lah yang banyak dikunjungi orang.”

semarang26

Setelah itu, saya pun meneruskan perjalanan ke arah Pandanaran, di mana berjejer toko-toko dan kedai-kedai yang menjual jajanan basah khas Semarang seperti lumpia, bandeng presto, wingko.  Sebetulnya ingin juga membeli untuk dibawa pulang ke Tangerang, tapi mengingat bawaan saya sudah lumayan merepotkan dengan segala oleh-oleh yang saya beli semalam, niat itu saya urungkan.  Saya cukup membeli satu untuk dinikmati sendiri.

Saya pun berjalan balik ke hotel, menikmati Minggu pagi yang damai dengan matahari yang masih malu-malu (ah, memang seharusnya begini Minggu pagi!).  Melihat sebuah bis menuju Ambarawa melintas, saya jadi bertekad dalam hati, lain kali kalau ke Semarang harus lebih lama lagi, dan menyempatkan diri ke kota-kota lain di sekitarnya!

semarang27

Depan Lawang Sewu telah kembali ramai, kini oleh gerobak-gerobak penjaja makanan.  Saya membeli dawet dicampur durian.  Hmm, segar sekali menutup acara jalan-jalan pagi dengan minuman dingin ini!

Hal berikutnya yang saya lakukan adalah membeli bacaan untuk menemani kala menunggu pesawat nanti di Gramedia yang baru buka, lantas mandi dan berbenah-benah.  Saya pun siap untuk check-out.  Resepsionis menelepon memanggil taksi untuk mengantar saya ke Masjid Agung Jawa Tengah, tempat pesta pernikahan digelar.  Tak saya duga, jauh juga letaknya dari pusat kota Semarang, dan jalan menuju kompleks yang sangat luas itu ternyata kecil-kecil.

semarang29

Mengenai masjidnya sendiri, yang paling membuat terpukau memang ukurannya yang luar biasa.  Namun kesan yang saya tangkap mengenai arsitekturnya agak membingungkan.  Sepertinya menggabungkan lagam Jawa dan Turki, namun terkesan agak gagap, dengan deretan tiang dan lengkungan ala Romawi yang mengelilingi pelataran air mancur.  Sayang saat itu payung-payung raksasa yang biasa dipakai menaungi jemaah saat masjid sedang ramai sedang tidak dibuka.  Ingin saja melihat seperti apa jadinya.

semarang28

Meski waktu saya di Semarang semakin sempit, saya juga mencoba naik ke atas menara di mana kita bisa menyaksikan pemandangan Semarang dan sekitarnya dari ketinggian lumayan.  Kota, laut, sawah, pedesaan – semua terlihat.  Di menara ini juga terdapat museum sejarah Islami, yang sayangnya tidak sempat saya kunjungi.  Saya lebih memilih bersantap siang mengisi perut yang sudah keroncongan lagi di restoran berputar yang berada selantai tepat di bawah anjungan untuk melihat pemandangan.  Cukup murah dan lezat, namun sayangnya kondisi restoran seperti kurang terurus.

semarang30

Saya lantas menelepon pusat taksi Blue Bird, meminta dijemput untuk diantar ke bandara.  Tak menunggu berapa lama, taksi datang.  Belum bergerak jauh dari masjid, kami terperangkap kemacetan.  Duh, jalan-jalan kecil dengan populasi yang semakin membludak, bagaimana tidak macet, ya?  Supir taksi pun menawarkan alternatif, lewat jalan tol menuju bandara.  Lebih mahal, tapi tidak macet.  Saya setuju.  Dan ternyata memang jauh, melewati perbukitan yang hijau.  Ah, yang penting tidak sampai terlambat naik pesawat!

semarang31

Pesawat AirAsia yang membawa saya pulang ke Tangerang lepas landas sore itu, meninggalkan bandara Semarang yang tidak terlalu besar.  Menjauh dari kota yang menyajikan percampuran budaya hasil pertemuan dan dialog berabad-abad: cerminan nyata Indonesia.

2 Comments (+add yours?)

  1. gingerbreadandtea
    Apr 21, 2013 @ 05:45:26

    wahh, padahal saya selalu kepingin jalan-jalan ke semarang tapi sampai sekarang belum juga kesampaian.. padahal ga begitu jauh😦 baca postingan mbak tyas ini jadi kepingin merancang trip ke sana nih!😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: