Takarazuka: Tempat Asal sang Empu Manga

This post is about Japan

Di sekitar Osaka, ada sejumlah kota lain yang menarik untuk dikunjungi.  Oleh karena tahun sebelumnya saya telah mengunjungi Kyoto dan Nara, tahun 2012 lalu saya memutuskan untuk melangkahkan kaki ke Takarazuka dan Kobe.  Eh, tidak tepat juga sih dibilang melangkahkan kaki.  Sebenarnya saya naik kereta, hehehe.

Oleh karena berniat menyambangi kedua kota itu dalam sehari, pagi-pagi saya sudah berangkat meninggalkan penginapan di Momodani menuju Takarazuka.  Niat utama saya adalah mengunjungi museum empu manga, Tezuka Osamu, sekaligus melihat-lihat teater Takarazuka Revue, kelompok drama kenamaan yang seluruh pemainnya berjenis kelamin perempuan.

Ada situs web yang mengatakan, paling enak ke Takarazuka naik kereta Hankyu karena stasiunnya lebih dekat ke Teater Takarazuka Revue.  Tapi untuk menaiki kereta itu saya harus meninggalkan jalur JR Loop Osaka.  Tidak mau ambil pusing, saya ambil saja kereta JR dari stasiun Osaka langsung ke Takarazuka, dengan membayar tiket sebesar 320 yen.

Image

Perjalanan ke Takarazuka cepat dan nyaman, ditemani pemandangan musim dingin dari jendela, meski ada saja yang membuat saya heran.  Ketika kereta yang saya tumpangi—kereta biasa, bukan kereta cepat (rapid)— tinggal dua stasiun lagi dari Takarazuka, kereta terlebih dahulu memasuki sebuah stasiun untuk berhenti sejenak.  Di rel sebelah, ada kereta rapid yang juga mengarah ke Takarazuka sedang berhenti, dan memperoleh prioritas lebih dulu diberangkatkan.  Nyaris semua penumpang di kereta saya buru-buru berpindah ke kereta di rel sebelah itu!  Di gerbong saya hanya tersisa dua orang lain selain saya.  Astaga!  Apakah bagi orang-orang Jepang memang setiap menit sedemikian berharga, sehingga mereka tidak sabar menunggu kereta ‘lamban’ saya melanjutkan perjalanan yang tinggal tersisa dua stasiun lagi?  Ataukah sebetulnya kereta cepat itu akan membawa mereka ke stasiun tujuan lain yang tidak disambangi kereta saya?  Entah.  Yang jelas, ketika tiba di Takarazuka, kereta saya memang telah sepi penumpang.

Dan ternyata… stasiun JR dan Hankyu di Takarazuka berseberangan saja begitu.  Memang sih, stasiun Hankyu berada di sisi yang lebih dekat dengan Teater Takarazuka Revue, tapi ya pada dasarnya keduanya hanya dipisahkan jalanan yang cukup lebar, itu pun bisa dengan mudah diseberangi dengan sebuah jembatan yang tersedia.  Saya pun melangkah mengikuti petunjuk jalan menuju Teater Takarazuka Revue.  Jalanan dan trotoar lebar-lebar, namun tidak terlihat banyak mobil berlalu-lalang di kota yang di sekitarnya terdapat perbukitan ini.

Image

Saya melewati restoran Long Fang yang cukup ternama, termasuk karena soal harganya yang mahal.  Padahal luarnya sih cukup menarik, terletak di taman yang pastinya cantik dan asri di musim bunga.  Hmmm… kali ini saya hanya bisa melihat dari luar saja.

Ketika berhasil menemukan Teater Takarazuka Revue, saya tercengang, karena ukurannya yang sungguh-sungguh tidak saya sangka.  Besaaar!  Bagaikan istana sungguhan dengan dinding abu-abu dan jendela-jendela tinggi.  Daerah sekitarnya pun ditata dengan cantik, dengan taman kecil memanjang di mana terdapat bangku-bangku dan sejumlah patung yang menggambarkan karakter-karakter dari drama-drama paling terkenal yang pernah dipentaskan Takarazuka, antara lain Rose of Versailles.  Sayang, karena masih pagi, tidak banyak kesibukan berarti terlihat di teater tersebut.  Paling-paling hanya beberapa penjaga dan petugas bersih-bersih yang terlihat.

Image

Image

Saya pun meneruskan berjalan kaki ke arah Museum Tezuka Osamu.  Dari jauh telah terlihat bangunannya yang seperti campuran antara kastil zaman dahulu dan gedung futuristik.  Di taman mungil di depannya, tegak sejumlah patung karakter yang lahir dari tangan sang empu.  Sambil menunggu lampu hijau menyala agar saya boleh menyeberang ke museum tersebut, saya memotret-motret bagian luar bangunan.  Eh, tahu-tahu saya dihampiri seorang polwan!

Sang polwan dengan sopan dalam bahasa Jepang meminta saya menghapus sejumlah foto yang barusan saya ambil.  Lho, apa pasal?  Ternyata, ada sejumlah anak TK yang di seberang sana sedang menunggu lampu lalulintas berganti tanpa sengaja ikut masuk ke dalam foto-foto saya.  Saya sungguh-sungguh tidak memperhatikan mereka karena berfokus pada bangunan museum.  Mereka masuk frame juga saya tidak sadar.  Tapi ternyata memotret mereka itu tidak boleh!  Oleh karena merasa tidak ada gunanya berdebat, saya menurut dan menghapus foto-foto itu.  Toh, masih bisa saya ambil lagi setelah anak-anak itu lewat.  Tak dinyana, sang polwan dan rekannya yang berdiri menjaga anak-anak itu di seberang sana, mengucapkan terima kasih keras-keras sambil membungkuk segala!  Waduh, sopan sekali ya.  Mau kesal atau marah ya jadi merasa tidak ada alasan.

Image

Saya melangkah masuk ke dalam museum dan membayar tiket sebesar 700 yen di aula depan, yang berhias tiang-tiang berukir dan panel-panel kaca.  Aula depan adalah satu di antara dua tempat di dalam museum di mana kita dibolehkan mengambil foto.  Tak heran di aula ini dipajang patung Sapphire, salah satu figur ikonik rekaan Tezuka, yang sangat memikat untuk dijadikan teman berfoto bareng.  Di berbagai pojok bangunan, kita juga bisa melihat detail-detail atau tiruan latar yang muncul dalam manga-manga Tezuka.

Pertama-tama saya menelusuri ruang pameran yang menuturkan tentang kehidupan Tezuka, dari masa kecilnya sampai menjadi sosok yang barangkali paling berpengaruh dalam sejarah manga dan animasi Jepang.  Dari situ, saya menuju ke lantai dua.  Kebetulan, ketika saya datang, ada pameran istimewa karya-karya Nagai Goh.  Hmmm… saya memang menikmati sejumlah animasi yang diangkat dari karyanya seperti Mazinger – versi jaman dahulu yang merupakan hasil tonedown berkali-kali lipat dari komiknya.  Kalau manga-manga Nagai Goh sendiri, misalnya Devilman, terus terang tidak nyambung dengan selera saya.  Namun seru juga melihat bagaimana Mazinger disandingkan dengan Atom Boy, si robot kecil buah karya Tezuka, yang sama-sama merupakan impian futuristik Jepang beberapa dasawarsa lalu.

Image

Di lantai dua juga ada sebuah toko cenderamata serba Tezuka (bahaya! Bahaya bagi kantong Anda!), area aktivitas untuk anak-anak maupun remaja, dan sejumlah koleksi lagi.  Dari lantai ini, dengan menumpangi lift saya turun ke lantai bawah tanah.  Di sini kita bisa belajar dasar-dasar membuat animasi.  Sayang, karena diburu-buru jadwal yang telah saya tetapkan untuk ke Kobe, saya terpaksa menolak tawaran ramah kedua petugas di area tersebut.  Saya kembali ke aula lantai satu, meminta tolong petugas untuk memfotokan saya bersama patung Sapphire (inilah risiko bepergian sendirian: bingung mencari orang yang mau membantu memotret kita!), kemudian meninggalkan museum tersebut di bawah rintik hujan, balik ke stasiun JR untuk mengambil kereta ke Kobe sebelum hari terlanjur terlalu sore.

Berikutnya: Kobe, kota bangunan tua bergaya Eropa dan tempat percampuran budaya

4 Comments (+add yours?)

  1. omnduut
    Feb 05, 2013 @ 23:27:19

    Sepertinya kota itu tak banyak gedung bertingkat ya? beda dengan image Jepang yang penuh bangunan tinggi yang canggih🙂

    Reply

    • lompatlompat
      Feb 06, 2013 @ 03:52:01

      Iya, kita memang seringnya membayangkan Jepang seperti Tokyo yang penuh gedung-gedung tinggi, padahal di kota-kota kecil, tidak banyak gedung yang tinggi apalagi yang masuk kelas pencakar langit🙂

      Reply

  2. Panda
    Feb 06, 2013 @ 01:15:13

    Itu restoran Long Fang bangunannya sungguh kereeeen *hearts*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: