Sekilas Osaka, Desember 2012

This post is about Japan

Kansai International Airport!

Ah, akhirnya.  Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang—karena pakai transit segala beberapa jam di Kuala Lumpur, maklumlah pakai AirAsia—akhirnya saya menginjakkan kaki juga di bandara yang punya kode nama KIX ini.

osaka01

Saat itu 21 Desember 2012.  Udara di dalam bandara yang sejuk tidak mempersiapkan saya untuk udara dingin menggigit di luar.  Ah, ternyata suhu dalam bandara tadi adalah produk mesin pengatur suhu udara.  Pikiran yang sempat meremehkan “Ah, apakah musim dingin hanya segini suhunya?” kontan terhapus.

Saya ke Jepang di bulan Desember sebenarnya bukan hendak mengejar suhu yang membuat gigi bergemeretak itu.  Saya berhasil memperoleh tiket untuk menyaksikan konser band kesayangan saya, LUNA SEA, pada tanggal 23 Desember di Osaka Jou Hall.  Akhirnya, mumpung akhir tahun, saya rencanakan saja perjalanan saya selama 12 hari, tidak hanya ke daerah Kansai, melainkan juga ke Tokyo.  Kebetulan, tahun 2011 saya belum ke Osaka.  Dan sekalianlah ikut mencicipi Natal dan Tahun Baru di Jepang.  Kebetulan, salah seorang adik saya sekarang bermukim di Tokyo.  Selain itu, saya juga berniat menghadiri pertunjukan musik band-band lain—tapi soal ini saya tulis di blog lain yang khusus mengenai konser.

Sarapan sejenak di KIX. Sederhana, tapi nikmat!

Sarapan sejenak di KIX. Sederhana, tapi nikmat!

Pergi di akhir tahun saat peak season sebenarnya memang suatu hal yang ‘nekad’, apalagi saya tidak bisa membeli tiket pesawat terlalu jauh-jauh hari.  Bukan apa-apa, saya menunggu kepastian memperoleh tiket LUNA SEA dulu.  Perasaan menggebu ingin menonton mereka lagi membuat saya pasrah.  Saya sudah bersiap-siap membayar harga tiket pesawat yang membumbung.  Apalagi setelah mencek situs sejumlah maskapai, harga tiket pulang-pergi ya rata-rata 12 juta.  Pening juga dibuatnya, tapi apa boleh buat.

Alhamdulillah, ketika suatu hari saya iseng membuka situs AirAsia dan memasukkan tanggal berangkat 20 Desember ke Osaka dan tanggal pulang 1 Januari dari Tokyo, saya ternyata masih bisa memperoleh tiket pulang-pergi dengan harga total 6 juta!  Tanpa pikir panjang saya langsung sambar tiket-tiket itu.  Saya rasa saya sudah cukup beruntung mendapat harga segitu, mengingat saya membeli tiket dalam waktu yang cukup mepet dan untuk peak season.

Stasiun kereta di KIX yang menghubungkan bandara tersebut dengan berbagai kota di Kansai.

Stasiun kereta di KIX yang menghubungkan bandara tersebut dengan berbagai kota di Kansai.

Terlebih lagi, jadwal terbang yang saya peroleh sangat menyenangkan.  Berangkat sore dari Jakarta, tiba di Osaka pagi.  Sementara pesawat pulang dari Tokyo (Bandara Haneda) berangkat saat waktu hampir tengah malam.  Berarti jadwal bisa dimaksimalkan!  Yes!  Jepang, saya datang kembali!

Dari KIX, tersedia berbagai macam moda transportasi, tidak hanya menuju Osaka melainkan juga kota-kota lain di sekitarnya seperti Kobe, Kyoto, dan lain sebagainya.  Saya menumpang Kansai Airport Rail dengan harga karcis 1030 yen untuk menuju tempat saya menginap, Bonsai Guest House.  Harga segitu rupanya sudah termasuk tiket JR Osaka Loop Line, kereta yang jalurnya melingkar di pusat Osaka dan menghubungkan berbagai tempat penting.

osaka04

Seperti juga di kota-kota lain di Jepang, kereta di Osaka bersih dan tepat waktu.

Seperti juga di kota-kota lain di Jepang, kereta di Osaka bersih dan tepat waktu.

Bonsai Guest House yang terletak hanya seratus langkah dari stasiun Loop Line yang bernama Momodani.  Pilihan saya jatuhkan ke guest house yang satu ini karena tarifnya murah, dan hanya berjarak empat stasiun dari Osaka Jou-Kouen, stasiun terdekat dengan Osaka Jou-Hall.  Dan ternyata tempatnya memang strategis: mereka tidak bohong ketika mengklaim guest house mereka dekat dengan stasiun, karena memang dekat!  Selain itu, hanya dalam hitungan langkah, ada kombini Lawson serta cabang McDonald’s, Yoshinoya,  dan Mister Donut.  Ada pula sebuah jalan pertokoan bernaung atap, di mana terdapat banyak toko dan restoran, mulai dari buku, oleh-oleh, sampai CD.  Intinya, mencari makan dan keperluan tidak susah.  Staf juga bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Ruang bersama Bonsai Guest House.

Ruang bersama Bonsai Guest House.

Yoshinoya: penyelamat perut.

Yoshinoya: penyelamat perut.

Seusai menitipkan bawaan ke guest house (karena belum bisa check-in), saya memutuskan berkeliaran saja di Osaka.  Bukannya ke Namba yang merupakan salah satu daerah Osaka paling ternama, saya malah memilih ke Tennouji.  Di sekitar stasiun Tennouji ada Kuil Shitennouji, kebun binatang, wilayah perbelanjaan Shinsekai lengkap dengan Menara Tsutenkaku yang ikonik.

Dari stasiun Tennouji, saya berjalan kaki menyusuri taman dan jalan-jalan setapak yang nyaman, namun cukup panjang juga.  Ternyata kebun binatang sepertinya sedang direnovasi.  Tidak ada tanda-tanda aktivitas pengunjung yang bisa saya lihat.  Museum Seni juga tidak tampak buka.  Waduh!

osaka08

Kebun binatang... lho kok sepi?

Kebun binatang… lho kok sepi?

Untunglah Shinsekai cukup ramai.  Wilayah perbelanjaan ini ‘didandani’ sehingga bernuansa Osaka tahun 1950-1960-an.  Meriah!  Banyak pula tempat permainan pachinko, tapi yang itu saya tidak ikut-ikutan deh, hehehe.  Di beberapa jalan kecil juga ada tempat-tempat hiburan malam yang tanpa malu-malu memajang poster perempuan telanjang di sebelah depan.  Padahal, saya pikir, anak-anak kecil bisa saja berlalu-lalang melewati lorong-lorong itu.  Apa tidak ada yang keberatan, ya.

Saya sempat mencicipi takoyaki yang dijual di pinggir jalan.  Hmmm, lezat sekali, panas-panas di tengah udara dingin.

Salah satu gerbang ke Shinsekai.

Salah satu gerbang ke Shinsekai.

osaka11

Shinsekai yang bergaya zaman Showa, dengan Menara Tsutenkaku di sebelah belakang.

Shinsekai yang bergaya zaman Showa, dengan Menara Tsutenkaku di sebelah belakang.

Takoyaki-nya enak, pake banget!

Takoyaki-nya enak, pake banget!

Dari Shinsekai, saya mencoba memaksakan diri berjalan lagi mencari Kuil Shitennouji.  Aduh, tapi ternyata saya yang belum sempat beristirahat setelah perjalanan panjang dari Jakarta, keburu merasa lelah.  Jalanannya menanjak pula.  Saya pun memutuskan kembali ke guest house saja untuk check-in dan menelusuri daerah sekitar penginapan.  Berhubung musim dingin, toko-toko cepat juga tutupnya.  Dan langit sudah luar biasa gelap sejak pukul 5 sore!

Keesokan harinya, saya pergi ke Takarazuka dan Kobe.  Kedua kota ini nanti akan saya ceritakan dalam post tersendiri.  Tanggal 23, saya pergi ke stasiun Osaka guna membeli tiket Shinkansen ke Tokyo untuk keesokan paginya.  Saya sengaja membeli tiket ‘non-reserved’, yang berarti saya boleh menaiki kereta Shinkansen kapan saja esok harinya selama masih ada kursi di gerbong non-reserved.  Shinkansen berangkat dari stasiun Shin-Osaka, tapi tiketnya bisa dibeli di stasiun Osaka.

Stasiun Osaka.

Stasiun Osaka.

Kemudian saya menghabiskan pagi berusaha pergi ke Dotombori, tapi malah rada ‘tersesat’ di pusat perbelanjaan bawah tanah di sekitar stasiun JR Namba/OCAT (Osaka City Air Terminal).  Akhirnya karena dikejar waktu untuk menonton konser, saya batalkan niat melihat-lihat Namba dan Dotombori lebih jauh.  Saya membeli makan di cook deli yang menjual berbagai macam bento siap makan ataupun lauk saja.  Lumayan kalau punya pantangan, kita jadi bisa pilih-pilih.  Saya pun bersiap-siap pergi ke Osaka Jou Hall untuk menonton konser yang berlangsung sampai malam.

Bagian depan stasiun JR Namba/OCAT.

Bagian depan stasiun JR Namba/OCAT.

osaka15

osaka16

Haha, yah, lumayan juga sih.  Memang jadinya sedikit sekali yang saya telah kunjungi di Osaka, dibandingkan dengan banyaknya atraksi yang ditawarkan kota tersebut.  Teman-teman saya yang sangat menyukai Osaka bisa-bisa protes nih karena sedikitnya waktu yang saya habiskan di kota tersebut.  Tapi, hei, ini bisa jadi alasan untuk kembali ke sana, bukan?

3 Comments (+add yours?)

  1. omnduut
    Jan 24, 2013 @ 12:51:39

    Kalo denger Osaka, aku ingetnya Heiji Hattori di Detektif Conan. Semoga suatu hari bisa ke sana🙂

    Reply

  2. Harun Harahap
    Jan 28, 2013 @ 00:26:06

    Keren kali lah mbak tyas ini.. Baru tau aku ada blog khusus konser sendiri. Emang dasar penulis yah..jejejeje..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: