Balikpapan, Setelah Hampir 20 Tahun Lewat

This post is about Indonesia

Butuh waktu berbulan-bulan bagi saya sebelum akhirnya bisa menulis tentang perjalanan saya ke kota tempat saya sempat dibesarkan dulu ini.

Bukan apa-apa, tetapi perjalanan kali ini memang sangat emosional untuk saya.  Setelah nyaris 20 tahun berlalu, saya kembali ke Balikapapan, untuk menjenguk nenek saya, yang kini sudah sangat tua sehingga pikun dan nyaris tidak bisa melakukan apa-apa.  Bukan pengalaman baru yang menyenangkan untuk ditumpukkan di atas kenangan saya tentang saat beliau masih sehat-walafiat, sibuk membuat kue nastar dengan oven model lama di dapur rumahnya di Balikapapan.

Toh akhirnya jadi juga saya terbang ke Balikpapan dengan Citilink dari Jakarta.  Hari sudah gelap ketika saya tiba, dan saya disambut oleh Bandara Sepinggan yang rasa-rasanya tak banyak berubah, masih seperti dulu.  Hei, tapi… tunggu dulu.  Ada bangunan terminal baru yang terlihat modern, baru digunakan oleh satu maskapai saja.  Selain terminal baru itu, Sepinggan juga sedang menjalani renovasi menyeluruh.  Saya hanya berharap bentuk bandara yang baru tidak sekadar modern namun generik, melainkan tetap menampilkan unsur-unsur budaya setempat yang khas.

(Oh ya, namanya juga di bandara Kalimantan, di Sepinggan ada sejumlah peringatan bahwa penumpang yang membawa mandau – senjata tajam khas Kalimantan – diharapkan menitipkannya ke pilot, demi keamanan penerbangan.)

Saya dijemput oleh paman dan sepupu saya, dan diajak ke Boncafe untuk makan malam.  Ini restoran yang sudah berusia cukup tua, banyak menyajikan hidangan Barat atau fusi, dan sepertinya punya kalangan penggemar tersendiri.  Saya melihat setidaknya satu kelompok ekspat yang sedang makan malam di situ bersama kami.  Dan para pelanggan ini bisa membawa pulang pecah-belah yang dibuat khusus untuk peringatan – kalau saya tidak salah – tiga dasawarsa Boncafe.

Sedari awal, paman saya jelas-jelas menunjukkan kebanggaan pada kotanya.  Ia heran kepada saudara-saudara yang memutuskan pergi menuju Tanah Jawa demi mencari penghidupan.  “Di sini pekerjaan ada, uang banyak.  Mau apa-apa juga ada.  Mall saja banyak.”

Ah, iya.  Betul.  Ingatan saya tentang Balikpapan memang tidak banyak, tapi jelas tidak melibatkan pusat-pusat perbelanjaan dan hotel-hotel besar yang kini tumbuh menjamur di kota tepi pantai itu.  Pasar Rapak tempat saya kerap dibawa ayah saya berbelanja sewaktu kecil dulu pun telah berubah menjadi ‘trade center’.  Bangunan-bangunan modern sebelah-menyebelah dengan deretan ruko-ruko lama kecil yang masih terpelihara.  Saya bahkan masih mengenali sejumlah toko yang sering saya singgahi sewaktu anak-anak.  Dan meskipun sudah mulai ada ‘taksi’ seperti yang biasa kita kenal di Jakarta, angkutan umum yang disebut ‘taksi’ – kalau di Jakarta kita sebut omprengan – juga masih berkeliaran.

Sejak lama memang Balikpapan, meskipun bukan ibukota provinsi, menjadi gerbang masuk ke Kalimantan Timur.  Kota ini adalah salah satu pangkalan pengolahan Pertamina: perusahaan minyak negara tersebut adalah salah satu faktor yang berpengaruh paling besar dalam pembentukan kota ini.  Kini pun Balikpapan merupakan kota yang banyak dikunjungi pebisnis: untuk merekalah sedemikian banyak hotel-hotel itu dibangun.

Balikpapan memang bukan tempat tujuan wisata utama, bila tempat wisata yang ada dalam benak kita adalah sebuah daerah dengan pemandangan alam luar biasa dan/atau berbagai produk budaya yang menunjukkan adat-istiadat yang kuat.  Namun, dari Balikpapan, kita bisa menuju tempat-tempat seperti itu di Kalimantan Timur, sementara kota itu sendiri berjaya sebagai daerah bisnis dan industri.  Terlepas dari itu, Balikpapan punya daya tarik tersendiri – mungkin bukan sebagai tempat berwisata, melainkan sebagai tempat tinggal.

Bukan hanya masalah pekerjaan dan uang seperti yang disebutkan paman saya.  Namun kota ini masih mempertahankan pesonanya sebagai kota kecil yang nyaman dan bersahabat bagi penghuni.  Kelengkapan sarana berbelanja dan bersenang-senang, termasuk bioskop Blitz Megaplex yang akan segera buka, bukan segalanya.  Balikpapan juga punya taman-taman yang menyenangkan, lapangan-lapangan luas yang siap menampung aktivitas warga, dan trotoar-trotoar yang enak ditelusuri.  Di akhir minggu ketika saya ke sana, sedang ada ramai-ramai berupa senam dan jalan kaki bersama yang diikuti orang dewasa maupun anak-anak.  Bayangkan menyenangkannya melakukan itu semua di bawah langit biru yang bersih, dinaungi pepohonan rindang, dan diterpa angin pantai yang segar.

Ingatan saya yang bolong-bolong tentang Balikpapan juga gagal mengingat kalau kota ini berbukit-bukit.  Ingat, sih, dulu saya pernah tinggal di ‘Gunung Polisi’, dan juga di ‘Panorama’ yang juga berwujud ‘gunung’.  Tapi ternyata ada juga ‘gunung-gunung’ lain, termasuk salah satunya di mana rumah keluarga paman saya berdiri.  Ketika pagi hari tiba dan saya melangkah ke halaman belakang, saya disambut matahari yang masih malu-malu timbul, udara yang sejuk, dan pemandangan menuruni lereng bukit.

Saya juga lupa bahwa kompleks Pertamina dan Stadion Persiba sebenarnya terletak agak jauh dari pusat keramaian kota.  Menyusuri jalanan tepat di samping laut, melewati Pelabuhan Semayang, melalui jalan yang diapit pepohonan yang tak terusik, kami pun tiba juga di kompleks Pertamina yang masih dihiasi rumah-rumah lama, seperti yang dulu keluarga saya huni bertahun-tahun lalu.  Rumah di Parikesit dan Panorama yang pernah kami tinggali sama-sama masih ada.  Sebagian rumah Pertamina tampak masih atau bahkan bertambah bagus, namun sebagian justru tampak tidak terawat.  Gedung Banua Patra dan Gelora Patra yang kerap menjadi tempat penyelenggaraan berbagai acara, terlihat mulai reyot.  Dan saya lupa, apakah dulu kompleks Pertamina sesepi ini?  Ataukah memang dulu penghuninya lebih banyak?

Paman saya mengajak sarapan nasi kuning di Karangjati, di sebuah warung sederhana yang ia klaim dulu tempat merupakan favorit ayah dan ibu saya.  Hidangan sederhana, berupa teh hangat dan nasi kuning di atas kertas pelapis yang dengan repot-repot dibuat berbentuk bunga, dengan lauk pendamping yang bisa kita pilih sendiri, menjadi pengganjal perut yang menyenangkan.  Orang-orang bergantian datang, mengejar rasa yang telah mereka akrabi berpuluh-puluh tahun.   Saya juga sempat mencicipi untuk-untuk, penganan yang dulu hampir setiap hari bisa mampir ke perut saya.

Di depan deretan toko-toko tempat kedai nasi kuning ini terdapat, berjajar sejumlah rumah panggung kuno milik Pertamina yang telah dijadikan cagar budaya.  Ah, kota ini memang seperti ‘berwajah dua’.  Di sana-sini, ditunjukkan tanda-tanda kemakmuran modern yang belum lama hinggap, namun masih banyak pula sudut kota yang seolah tak pernah berubah meski jangka waktu 20 tahun memisahkan saya saat terakhir melihat mereka dulu dan saya yang sekarang.   Di sejumlah tempat waktu seperti berjalan cepat sekali, menyongsong status Balikpapan sebagai ‘kota modern’ – seperti yang tampak di ‘Balikpapan Baru’ yang dibangun dengan keseragaman gaya dan bentuk, membuatnya tak jauh beda dari ‘kota-kota baru’ lain di Indonesia, Serpong misalnya.  Akan tetapi di sejumlah bagian lain kota, waktu seolah berjalan demikian lambat, enggan bergerak maju.

Sebelum saya ke bandara untuk pulang ke Jakarta, Paman membawa saya ke restoran kepiting saos favoritnya, Kenari, yang menyajikan aneka macam masakan seafood dan ayam, tentu saja dengan kepiting sebagai bintangnya.  Para pelayan dengan sigap akan membungkus-khusus kepiting bila kita memberi tahu bahwa pesanan kita itu akan dibawa terbang ke kota lain.  Tak heran hidangan kepiting ini menjadi salah satu oleh-oleh yang dinanti dari Balikpapan.  Paman saya bahkan membawakannya untuk dokter langganan atasannya di Singapura setiap kali ia menemani sang bos berobat ke sana.

Terminal keberangkatan yang digunakan maskapai saya masih sama dengan yang dulu – berlangit-langit rendah, dengan berderet-deret tempat duduk tanpa pemisah khusus untuk setiap gate.  Tapi sebuah kedai Starbucks tampak mencolok dengan warna logonya yang hijau dan putih, sementara di sudut lain kini ada tempat khusus untuk mengisi ulang baterai telepon genggam.  Ah, perubahan memang tidak terhindarkan.  Akan tetapi, dengan perasaan lega karena akhirnya bisa juga mencolokkan charger telepon genggam saya, diam-diam saya berharap, semoga kali lain saya mengunjungi Balikpapan, kota ini masih bisa saya kenali…

6 Comments (+add yours?)

  1. sakuryan
    Sep 12, 2012 @ 02:43:38

    wah, aku belum pernah ke Kalimantan, jadi kepengen juga… thanks for sharing Kak~😀

    Reply

    • lompatlompat
      Sep 12, 2012 @ 03:44:50

      Kapan-kapan yuk…😀 Aku udah lama ga ke Kalimantan Selatan. Dan pengen ke Pontianak dan Singkawang…

      Reply

      • sakuryan
        Sep 12, 2012 @ 04:07:06

        iya nih, pengennya udah ke luar negeri aja (jepang jepang jepang XDD), padahal dipikir-pikir di dalam negeri juga banyak tempat yg pengen didatangi…

      • lompatlompat
        Sep 12, 2012 @ 05:36:19

        Dunia ini terlalu penuh tempat untuk dikunjungi.. hehehe… Nggak papa sih kalau mau ke Jepang juga, kalau ‘harus selesai Indonesia dulu’ kapan kita ke sananya… :3

  2. h0tchocolate
    Sep 19, 2012 @ 13:04:18

    Deskripsi yang sangat bagus🙂. Dulu saya pikir Balikpapan itu ibukota Kalimantan Timur, gara-gara dia lebih terkenal dari ibukotanya, Samarinda. Saya sendiri pendatang di kota ini. Dan memang Balikpapan lebih teratur menurut saya. Kata orang sini, itu karena lebih banyak orang pendatang di Balikpapan, makanya kotanya lebih maju… Entah apa pun alasannya, yg jelas Balikpapan so far so good lah😀. Salam ngeblog dari Balikpapan🙂.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: