Akhir Minggu di Banyumas

This post is about Indonesia

Waktu menunjukkan pukul 8 malam ketika akhirnya kami meninggalkan restoran padang di dekat pintu tol Cikampek.  Bulan setengah naik di atas sawah-sawah yang gelap.  Hampir tak ada tanda-tanda kehidupan, selain kafe-kafe Pantura bersponsor minuman keras yang justru baru saja buka dan mulai ramai.  Saat itu hari Jumat, dan seusai kerja kami bertolak dari Jakarta menuju Purwokerto, bersaing dengan berbagai truk dan bis besar yang meluncur kencang di Jalur Pantura.  Kami hendak menghadiri acara ‘ngunduh mantu’ seorang rekan yang sedianya akan dilangsungkan hari Sabtu keesokan harinya di Purbalingga.  Meskipun demikian, kami memutuskan untuk bermalam di Purwokerto, sekitar 45 menit jauhnya dari tempat penyelenggaraan acara.

Pukul dua, kami tiba di Purwokerto.  Jalanan telah sepi, namun di depan gedung RRI Purwokerto, masih ada kerumunan orang ramai.  Ah, ternyata sedang ada pagelaran wayang!  Seandainya belum lelah sekali, sebenarnya saya ingin sekali bergabung dengan mereka.  Apa mau dikata, tubuh sudah pegal-pegal dan mata sudah kriyep-kriyep.

Setelah agak ‘tersesat’ sedikit, kami berhasil menemukan Hotel Wisata Niaga.  Gedungnya megah juga, namun yang tak kami sangka adalah harga kamarnya yang tergolong murah untuk fasilitas yang dihargai setidaknya 500 ribu di Jakarta.  Harga kamar twin bed di akhir minggu itu adalah 275 ribu, ditambah biaya sarapan sepuasnya 25 ribu/orang.  Dua botol air minum, sabun, dan sampo disediakan gratis, tapi untuk fasilitas lainnya, harus membeli (ada drugstore di lantai dasar hotel ini) atau menyewa (misalnya ketel listrik untuk memanaskan air, bonus teh dan kopinya).

Setelah bebersih-bersih, kami pun berangkat tidur.  Hhhh, leganya akhirnya tubuh bisa lurus di kasur!  Ngomong-ngomong, selain Hotel Wisata Niaga ini, di Purwokerto juga sudah ada sebuah cabang Hotel Aston, yang menjulang dengan cukup mencolok di salah satu perempatan.  Perkembangan kota ini rupanya memang cukup pesat, sehingga membuat pangling anggota rombongan kami yang sebelumnya telah berkali-kali ke Purwokerto.

Pagi harinya, setelah sarapan mengenyangkan di ruang makan hotel, kami pun check out.  Saya baru perhatikan benar-benar bahwa seluruh fasad muka hotel ini tidak berdinding, mulai dari lobi sampai ruang makan.  Udara kota Purwokerto yang masih segar pun mengalir masuk dengan bebas.  Tidak dibutuhkan pendingin udara.

Kami tiba di tempat acara, dekat Lapangan Udara Wirasaba, sekitar pukul sepuluh.  Kami disambut dengan ramah, dan diberikan tempat duduk di salah satu meja.  Rupanya acara ngunduh mantu ini ‘all-seating’, tidak ada tamu yang berdiri, semuanya duduk seperti jamuan makan malam.

Seluruh acara, yang diiringi musik karawitan, dibawakan dalam bahasa Jawa, yang hanya saya mengerti sedikit-sedikit.  Dalam sambutannya, salah seorang tamu yang berwibawa – kepala desa, mungkin? – menyampaikan bahwa Lanud Wirasaba akan diubah menjadi bandara komersil tak beberapa lama lagi.  Suatu hari nanti, kita bisa terbang langsung ke Purwokerto!

Soto Sukaraja, yang kami santap di acara ngunduh mantu.

Kami berkesempatan juga menyaksikan acara adat Banyumasan, Begalan, yang diselenggarakan bila kedua pengantin sama-sama anak sulung atau anak bungsu, atau yang satunya sulung sementara satunya lagi bungsu.  Dua orang bertukar lawakan penuh petuah berumah tangga dan beragama.  Mereka menjabarkan simbolisasi berbagai barang rumah tangga yang diikat di sebuah pikulan.  Setelah usai, pikulan dibawa ke luar dari tempat acara.  Baru selangkah keluar dari pintu depan, pikulan langsung diserbu oleh hadirin yang menanti.  Mereka pun melangkah pergi dengan puas, membawa barang-barang yang sigap mereka renggut dari pikulan.

Setelah rangkaian acara usai, pasangan pengantin berdiri di dekat pintu keluar, dan undangan yang bukan merupakan kerabat dekat bersalaman dengan mereka sekaligus berangkat pulang.  Hanya kerabat dekat dan tamu undangan dari jauh yang masih tinggal untuk berfoto-foto.

Tujuan kami berkutnya adalah Baturraden yang tidak terlalu jauh dari Purbalingga.  Perjalanan menanjak membawa kami ke tempat yang berselimutkan suhu cukup dingin dan telah lama menjadi tempat tujuan wisata itu.  Biaya masuk per orang di akhir minggu adalah Rp 10.000 (di hari biasa Rp 8.000), masih ditambah dengan tarif masuk untuk kendaraan bermotor yang dibawa, sesuai ukurannya.

Sebelum masuk ke kawasan wisata Baturraden, anggota rombongan kami terlebih dahulu salat di masjid di seberang lapangan parkir.  Ada juga yang memanfaatkan WC umum yang bersih di samping masjid, cukup dengan Rp 1.000 saja per orang.

Beres semua, kami pun melangkahi gerbang masuk Baturraden, dan langsung disambut oleh taman yang ditata apik mengikuti kontur lereng.  Air mengalir di sela-sela bebatuan, dan jatuh membentuk air terjun alias ‘pancuran’.  Namun, berhubung musim kemarau, aliran air sedang tidak begitu deras ataupun dalam.  Sepintas, kalau kita tidak perhatikan aliran air ini, Baturraden sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda musim kering.  Semua tanaman masih menghijau, bunga-bunga bermekaran berwarna-warni.  Jembatan-jembatan melengkung indah, atau membentang lurus menantang, jauh dari permukaan tanah.

Selain sekadar berjalan-jalan dan menikmati pemandangan, cukup banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan di Baturraden.  Misalnya, menonton film di dalam badan pesawat asli yang dipajang di dekat gerbang masuk, menonton film 4D, berenang, mandi air panas, dipijat, main perahu bebek-bebekan, sampai di-‘terapi ikan’ yang geli-geli menyakitkan.  Enaknya di-‘terapi ikan’ di Baturraden, bukan hanya cukup murah (Rp 5.000 per 30 menit), melainkan juga bisa sambil duduk menikmati pemandangan di bawah langit terbuka, karena letak kolam-kolamnya yang cukup tinggi di lereng.  Jasa tukang foto juga ada.  Dengan harga mulai dari Rp 10.000/lembar untuk ukuran 4R, hasil cetak foto bisa kita ambil di kios fotografer Baturraden.

Makanan yang banyak dijajakan di sini adalah bakso, yang kuahnya tentu mujarab menghalau dingin, serta sate ayam dan kelinci.  Tak tega memakan kelinci, saya memilih sate ayam saja.  Yang membuat hidangan ini makin mantap adalah potongan-potongan bawang merahnya yang segar dan ‘nendang’ rasanya!  Beberapa kali makan di daerah ini, saya perhatikan memang bawang merahnya lezat sekali.  Mungkin berasal langsung dari sentra-sentra perkebunan bawang di sekitarnya.

Sayang kami tidak sempat mengitar-kitar terlalu jauh.  Kami tidak punya waktu untuk mencapai Pancuran 3 dan Pancuran 7, air terjun-air terjun yang katanya lebih menarik lagi daripada yang ada di bagian depan Baturraden.  Namun kami harus berjalan cukup jauh untuk mencapai kedua pancuran tersebut, padahal hari sudah beranjak sore.  Kami juga membatalkan niat menginap di Baturraden, meskipun di situ banyak tersedia hotel atau penginapan yang cukup murah, karena memutuskan untuk pulang malam itu juga ke Jakarta.

Kami turun ke Purwokerto, dan menumpang beristirahat serta mandi di rumah mertua salah seorang anggota rombongan.  Udara sejuk, dan saya tidak digigit nyamuk sekali pun.  Lepas Maghrib, kami pergi mencari oleh-oleh dan makan malam.  Sempat mencoba di pasar raya Rita, kami lantas dibawa ke toko penganan dan oleh-oleh Banyumas dan sekitarnya, Aneka Sari, yang terletak di jalan di belakang pusat perbelanjaan Moro.  Selain penganan kering seperti nopia, kerupuk tahu pong, dan lain-lain, Aneka Sari ini bersebelahan dengan kedai Aneka Sari 999 yang tidak hanya menjual mendoan matang, melainkan juga paket mendoan mentah.  Dengan harga Rp 30.000/paket, kita akan memperoleh 24 lembar tempe mendoan, lengkap dengan terigu, bumbu, dan kecap.  Oleh-oleh mendoan mentah ini tahan dua hari.

Tujuan kami berikutnya adalah Gelanggang Olahraga alias GOR.  Di trotoar depan GOR, berjajar warung-warung makan lesehan yang memikat selera.  Di malam minggu itu, GOR juga ramai bukan hanya karena para pengejar selera, melainkan para penonton dan pebalap motor.  Mereka berbondong-bondong memasuki kawasan GOR, dan bunyi berisik motor-motor yang dipacu pun menemani kami makan seafood di lesehan.

Saya makan ditemani segelas ‘black choco’ dingin dan nikmat dari Grék, penjual minuman cokelat asli Cilacap dan kopi yang membuka gerai mobil di samping warung seafood yang kami sambangi.  Belum puas mengisi perut, kami pun membeli jagung bakar yang sudah kami idam-idamkan sejak di Baturraden tadi.  Jagung yang segar, yang dipetik sendiri dari kebun oleh sang penjual di pagi hari sebelum kemudian dijual dalam kondisi terbakar, dengan tiga rasa yang bisa dipilih, manis, asin, atau pedas.

Sambil menunggu si bapak mengipasi jagung yang kami pesan di atas bara, kami pun mengobrol dengannya.  Menurutnya, adu balap motor di GOR  biasanya akan dibubarkan polisi sekitar pukul 9 atau 10 malam.  Sementara itu, ya, suara bising bersahut-sahutan dari mesin-mesin yang digeber pun menjadi penghangat malam minggu di Purwokerto.

Pukul setengah sebelas malam, kami telah kembali meluncur ke Jakarta.  Tak sampai 24 jam di Banyumas, tapi cukup banyak hal menarik yang kami lihat dan alami.  Semakin besar niat saya ‘bertualang’ menyusuri kota-kota di Jawa dengan mobil.

4 Comments (+add yours?)

  1. Harun Harahap
    Sep 10, 2012 @ 00:50:40

    Oalahhh..tadinya aku mau nanya kok nggak ada foto goa-nya. Ternyata ini BatuR Raden yah, bukannya Batu Raden..mwehehehe..

    Reply

    • lompatlompat
      Sep 10, 2012 @ 03:30:22

      Kayaknya sih sama deh Run, aku cuma pakai ejaan yang digunakan di sana. Cuma memang nggak sempat ke sejumlah air terjun dan gua gara-gara waktu yang terbatas… Namanya juga ikut rombongan, hehehe.

      Reply

  2. adi wahyu
    Sep 10, 2012 @ 09:58:16

    masuk cek list buat wisata bareng keluarga…🙂

    trims informasinya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: