Pameran Tintin, cheongsam, dan Raden Saleh

This post is about Singapore This post is about Indonesia

Pada bulan Mei dan Juni 2012 saya menghadiri dua pameran khusus – Tintin di Singapura dan Raden Saleh di Jakarta.  Oya, juga pameran busana cheongsam di Museum Nasional Singapura.  Bagaimana kalau kita tengok pameran-pameran tersebut, sekaligus juga museum-museumnya?

Yang pertama, pameran komik legendaris Belgia, Tintin, yang dilangsungkan di Museum Filateli Singapura.  Museum dengan bangunan bergaya Eropa ini bisa tercapai dengan berjalan kaki dari stasiun MRT City Hall ataupun Dhoby Ghaut.  Museum ini sebenarnya tidak seberapa besar, namun tertata dengan sangat baik dan memikat.

Taktik memajang memorabilia Tintin – yang sebenarnya jumlahnya hanya memenuhi satu ruangan saja – di museum ini merupakan strategi yang cerdas untuk menarik minat pengunjung.  Penggemar Tintin yang kebetulan sedang berada di Singapura tentu tidak ingin melewatkan kesempatan melihat pameran tersebut.  Malah ada saja yang jauh-jauh datang ke Singapura demi Tintin.  Tak heran jumlah pengunjung ke museum tersebut meningkat.  Namun memang kekuatan museum itu bukan hanya pameran Tintin yang bersifat sementara.  Saya mendengar sepasang suami-istri bule berbicara kepada penjaga museum, memuji museum yang ternyata bagusnya di luar dugaan mereka.

Sebelum mendatangi ruang pamer Tintin di lantai dua, terlebih dahulu kami memasuki ruangan-ruangan lain di lantai bawah, di mana kita bisa mempelajari sejarah dan rupa-rupa prangko dan pengiriman surat.  Tampilan dan alat peraga yang ada sungguh menarik.  Misalnya, kita dapat membuka laci-laci di dinding dan menemukan berbagai informasi tentang prangko di balik pintunya.

Sayang kami tidak boleh mengambil gambar tepat di dalam ruang pamer Tintin.  Kami pun berkonsentrasi mengamati berbagai memorabilia – mulai dari sketsa sampai prangko – yang dipajang di ruangan tersebut.  Yang paling saya senangi sebenarnya adalah berbagai figur dan diorama yang sesuai dengan adegan-adegan dalam komik.

Puas melihat-lihat, kami membeli suvenir Tintin di lantai bawah.  Ada kartu pos, gantungan kunci, dan figur.  Toko suvenir kecil di bagian depan juga menyediakan berbagai pernik yang berhubungan dengan dunia filateli.

Saat ini, pameran Tintin sudah selesai.  Tapi bila Anda berminat kepada filateli, museum ini selalu siap menyambut Anda.  Khusus untuk tahun naga ini, ada pameran khusus sepanjang tahun dari serba-serbi naga.  (Banyak sekali prangko bergambar naga yang sungguh indah di dunia ini!)  Atau, bila Tintin-lah yang Anda rindukan, Anda bisa mendatangi toko cenderamatanya di Chinatown (dekat Exit A).

Hari itu kami sekalian berjalan kaki menuju Museum Nasional Singapura.  Ini salah satu museum favorit saya.  Bertempat di bangunan yang mulai dibangun tahun 1887 berdasarkan rancangan Henry McCallum, Museum Nasional memuat berbagai pajangan yang merekam jejak perkembangan Singapura jauh sebelum pulau tersebut dikembangkan oleh Britania.  Eh, kok ya kebetulan, ternyata hari itu pengunjung tidak dikenai biaya sama sekali!  Semua galeri bebas dimasuki!  Ini juga taktik bagus untuk menarik lebih banyak orang ke museum, bukan?

Di museum yang terbagi dalam ruang-ruang pamer permanen dan tidak permanen ini, ruangan favorit saya adalah yang menampilkan keanekaragaman makanan Singapura.  Yang dipajang mungkin bisa memancing komentar ‘ada-ada saja’.  Mulai dari gerobak sate, cangkir milik berbagai kopitiam, cetakan kue, sampai kaleng kerupuk.

Namun justru pameran ini menawan karena kesan bersahajanya itu.  Kita jadi disadarkan betapa urusan lidah pun sebenarnya menunjukkan jejak bangsa pula.  Ragam makanan yang disantap orang-orang Singapura menunjukkan keanekaragaman latar belakang mereka.  Bahkan berbagai bumbu – yang dipajang secara menarik dalam toples kaca aneka warna – membawa kisah sendiri-sendiri.  Ada beberapa contoh bumbu yang bisa kita tes baunya dengan menekan tombol yang menyemprotkan aroma ke hidung kita.  Tidak hanya mata dan hidung, telinga kita pun dimanjakan suara-suara yang menghadirkan suasana orang memasak dan bertransaksi makanan di pasar.

Galeri utama yang menghadirkan sejarah Singapura secara kronologis juga wajib dikunjungi.  Setelah menuruni jalur spiral dari lantai dua, kita pun bebas menjelajahi lorong demi lorong yang gelap, bertemankan pemandu elektronik yang kita kalungkan di leher.  Setiap berjumpa bagian pameran tertentu, tinggal cek nomor kode panduan yang ditunjukkan di lantai dan masukkan ke alat pemandu, dan kita pun bisa mendengarkan rekaman penjelasan bagian tersebut.  Di satu titik, kita akan menemui percabangan: kita bisa menempuh ‘jalur peristiwa’ ataupun ‘jalur personal’.  Kita dapat mempelajari sejarah Singapura secara umum, ataupun melihatnya dari kacamata figur-figur penting.  Jangan khawatir, kita bisa kok berpindah dari satu jalur ke jalur lain di titik-titik tertentu.  Dan selalu rasanya ada bagian yang ‘tertinggal’, yang tak terlihat pada kunjungan-kunjungan sebelumnya.

Bagaimana dengan pameran cheongsam?  Nah, ini adalah pameran tidak permanen yang sedang berlangsung saat kami ke Museum Nasional dalam kesempatan itu.  Yang dijadikan fokus kali ini adalah perkembangan model, corak, dan bahan cheongsam dalam hubungannya dengan perkembangan sejarah dan perempuan di Singapura.  Sungguh menarik betapa zaman meninggalkan ciri-ciri nyata pada pakaian, termasuk si cheongsam ini.  Potongan sederhana di kala perang, digantikan potongan glamor zaman kemakmuran.  Potongan bagi perempuan yang bekerja di rumah, dan potongan berbeda ketika perempuan mulai memasuki lapangan kerja.  Sejumlah cheongsam figur masyarakat juga turut dipajang, lengkap dengan riwayat hidup para pemiliknya dahulu—lengkap dengan foto-foto dan bahkan lukisan potret Christina Loke buatan Basuki Abdullah.

Harga tiket normal adalah 10 SGD.  Di museum ini juga terdapat toko suvenir (dua buah, di depan dan di sebelah tengah) dan kafe.

Dari Singapura, mari loncat ke Jakarta.  Tepatnya di Galeri Nasional, sampai 17 Juni lalu juga berlangsung pameran (tidak permanen) terkurasi yang menampilkan sejumlah karya maestro (pra-)Indonesia, Raden Saleh.

Kami datang di hari terakhir, dan untunglah saat hari masih cukup pagi.  Saat siang sampai sore, wiih!  Panjang sekali antriannya, bahkan sampai ke gerbang depan.  Antusiasme ini mungkin tidak hanya disebabkan oleh rasa penasaran yang berhasil ditimbulkan promosi ‘dari mulut ke mulut’.  Sinisnya, pameran tersebut telah menjadi ajang membuktikan diri sebagai ‘anak gaul’.  Alasan satu lagi yang mungkin turut membuat pengunjung menyemut adalah… pameran ini gratis.

Bila melihat daftar nama yang dipajang, tampaknya panitia yang menyiapkan pameran ini masih didominasi orang asing, mulai dari kurator sampai arsiteknya.  Pameran ini memang disponsori oleh Goethe Institut, dengan koleksi yang berasal dari seluruh dunia, termasuk milik istana (Indonesia) dan para kolektor pribadi.  Mau tak mau harus diakui kerja keras mereka telah mewujudkan sebuah pameran yang tak hanya enak dinikmati namun juga informatif, yang bisa jadi bahan pelajaran bagi para calon penyelenggara pameran lainnya di Indonesia.

Kita jadi bisa menikmati berbagai lukisan, sketsa, dan litograf karya Raden Saleh, yang banyak di antaranya biasanya tersembunyi jauh dari pandangan awam.  Ini mulai dari lukisan-lukisan monumental seperti yang menggambarkan penangkapan Pangeran Diponegoro dan perburuan singa, sampai ilustrasi-ilustrasi contoh untuk pelajaran menggambar yang menggambarkan kepiawaian Raden Saleh menangkap dan menggoreskan detail.

Kalau soal pameran ini jadi ajang gaul, kiranya terbukti dengan sedemikian banyaknya pengunjung yang lebih sibuk berfoto-foto di depan lukisan tanpa benar-benar memperhatikan isi pameran, sampai-sampai mengganggu kenyamanan pengunjung lain.  Yah, mungkin ini bagian dari proses pembelajaran bagi rakyat Indonesia agar mereka menyadari betapa asyiknya mendatangi pameran dan museum.  Semoga saja ada yang akhirnya ‘nyantol’ di benak dan hati mereka selain kebanggaan bahwa mereka pernah menghadiri pameran ‘ngehits’ di ibukota.  Semoga mereka jadi betul-betul menyukai museum dan seni.

Dan yah, sedikit catatan lagi sebagai penutup.  Sungguh, menjadi ‘berbudaya’ bukan sekadar ‘telah datang menonton pameran seni’, namun juga terwujud dalam hal-hal seperti tidak menyerobot antrian, tidak melanggar aturan seperti melangkahi batas jarak minimum dengan lukisan, dan lain sebagainya.  Kalau semua taat, semua pasti sama-sama senang, kok!

 

6 Comments (+add yours?)

  1. bruziati
    Jul 01, 2012 @ 02:54:27

    Harapannya selalu sama, semoga suatu hari nanti Indonesia punya museum yang dirancang sedemikian elok supaya makin banyak yang jatuh hati dengan museum🙂

    Reply

    • lompatlompat
      Jul 01, 2012 @ 03:12:05

      Betul Mbak. Aku senang sekarang di Indonesia juga bermunculan museum2 menarik meski masih didominasi swasta. Semoga dunia permuseuman Indonesia makin cerah🙂

      Reply

  2. Harun Harahap
    Jul 02, 2012 @ 05:18:04

    Sepertinya memang kebanyakan museum yang dikelola oleh pihak swasta lebih bagus dalam segala hal dibandingkan dengan yang dikelola pemerintah (pusat ataupun daerah). Eh kita keliling museum di TMII yuuukkk..😀

    Reply

  3. Harun Harahap
    Jul 02, 2012 @ 06:14:58

    Aku tanggal 14 juli ini rencana pergi sama Echa sih mbak. Hayuk kalau mau ikutan..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: