Kisah Tercecer tentang Manila

This post is about The Philippines

Saat sedang terkapar sakit di rumah dan tidak melakukan apa-apa, saya teringat bahwa saya belum menyelesaikan rangkaian cerita saya mengenai Manila.  Ah, ya.  Lama betul tertunda.  Baiklah sebelum terlupa dari ingatan, saya ceritakan di sini.  Selain Intramuros, ini beberapa tempat lain yang saya kunjungi.

Manila senja hari terlihat dari gedung tinggi.

Rizal Park

Taman ini terletak tidak jauh dari Intramuros.  Teman-teman saya mengajak saya menaiki jeepneyke taman yang menyandang nama salah satu pahlawan terbesar, bila bukan yang terbesar, Filipina.  Bentuk jeepney – angkot ala Filipina – yang cukup panjang sanggup memuat lebih banyak orang daripada angkot ala Jakarta.  “Hati-hati tasmu,” bisik teman saya.  Ya, Manila memang bukan kota seaman Singapura, misalnya.  Lebih mirip Jakarta.  Kehati-hatian yang biasa saya terapkan di Jakarta juga harus saya terapkan di kota ini.

Turun-turun dari angkot, saya diajak makan ‘dirty ice cream’.  Nah lho!  Kok tamunya malah diajak makan makanan kotor?  Teman saya tertawa.  “Itu julukan saja, soalnya esnya dijual di pinggir jalan.  Sebenarnya sih bersih.”  Oalaaah… es krim-es kriman semacam yang dijual abang-abang di dekat sekolah-sekolah dasar.  Gerobak penjualnya juga mirip.  Oleh karena penasaran, saya cicipi juga.  Lagipula enak juga panas-panas dapat hidangan dingin.

Si ‘dirty ice cream’ ini terdiri atas es krim dengan tiga rasa berbeda – salah satunya keju – yang ditumpuk-tumpuk mengisi sebuah cone kecil.  Menurut teman saya, sebetulnya rasa es krimnya bisa bermacam-macam.  Namun penjaja jalanan paling-paling hanya membawa tiga rasa.

Setelah menghabiskan es yang kami beli, kami pun menyeberangi jalan menuju bagian utama Rizal Park.  Di taman yang cukup luas ini terdapat kolam lengkap dengan air mancur, Chinese Garden, jalan setapak yang lega dan bisa dilewati kereta-keretaan yang menarik minat banyak anak, rumah tradisional Filipina, dan tentunya bebungaan yang ditata indah.  Sebagian bunga membentuk jam bunga raksasa.  Di Minggu siang yang terik itu, banyak keluarga mengisi waktu berkumpul mereka dengan piknik di Rizal Park.  Mereka terlihat gembira.  Selain untuk bersantai, mereka juga bisa mengajari anak-anak mereka sejarah Filipina, karena di taman tersebut dipajang patung sejumlah pahlawan Filipina yang berasal dari berbagai latar suku dan agama, lengkap dengan keterangan.

Panas ataupun hujan, para penjaga ini harus bergeming.

Ah, memang kota memerlukan taman.  Selain fungsinya menjaga lingkungan, juga untuk menjaga para penghuni kota tetap sehat, senang, dan waras.

Pasar dan restoran makanan laut di Macapagal

Dengan taksi – moda transportasi paling nyaman di Manila, asal kita tahu cara memilih taksi yang aman – saya diajak ke pasar dan restoran makanan laut di daerah Macapagal.  Di bagian depan, berderet-deret restoran yang menawarkan beraneka cara memasak hidangan laut.  Cara memasak?  Ya, soalnya kita dipersilakan memilih dan membeli sendiri hewan-hewan laut yang hendak kita santap di pasar di belakang jejeran restoran tersebut.  Mirip ya dengan di Muara Karang.

Kami memasuki salah satu restoran.  Meja-meja yang ada panjang dan diapit banyak kursi, siap menyambut rombongan besar atau keluarga yang hendak bersantap.  Sepertinya memang rata-rata yang berkunjung tidak ada yang sendirian.  Dari ruang makan, ada pintu yang tembus ke pasar ikan.

Pasar ikan yang dimaksud bersih dan rapi.  Memang agak becek, mengingat betapa banyak es (yang lantas meleleh) dan air yang digunakan untuk mempertahankan kesegaran hasil tangkapan para nelayan, namun tidak kotor.  Tawar-menawar juga berlaku, dan saya hanya bisa menyaksikan saja teman saya yang tampak cukup ganas ‘menawar’ dan memilih-milih ikan yang segar.  Beberapa kali kami berpindah kios demi mendapatkan ikan seperti yang ia inginkan.

Tunggu, apa? ….ya, saya juga tidak mengerti.

Hasil belanjaan kami yang berkilo-kilo beratnya (membuat saya berpikir apa betul rombongan kami bisa menghabiskan itu semua) diserahkan kepada pelayan restoran yang menunggu di bagian restoran yang menghadap pasar.  Dengan teliti dicatatnya semua jenis dan berat belanjaan kami, dan cara masak apa yang kami pilih.  Setelahnya, kami tinggal menunggu di dalam.

Rasa masakannya?  Segar dan sedap!  Apalagi didampingi nasi putih yang masih panas, hmmm!  Tanpa sadar, beberapa kilo hidangan laut itu lenyap juga masuk ke perut kami.

Seandainya saja ada sambal Indonesia, akan lebih lezat…

Pusat perbelanjaan: Greenbelt dan Mall of Asia

Terdapat sejumlah pusat perbelanjaan mewah dan raksasa di Manila.  Kalau Anda doyan belanja, sehari mungkin tak cukup untuk menjelajahi pusat perbelanjaan yang sebesar Mall of Asia.  Saking besarnya, waktu itu di MOA ada sejumlah acara diselenggarakan berbarengan tanpa saling mengganggu: pagelaran busana yang antara lain menghadirkan bintang Thailand Mario Maurer sebagai modelnya, dan panggung musik gratis anti-perdagangan manusia dari MTV yang menghadirkan bintang-bintang dari dalam maupun luar negeri, termasuk Jay Park dari Korea.  Mulai tahun ini MOA pun memiliki gedung pertunjukan sendiri, Arena, yang sanggup menampung 16 ribu penonton.  Benar-benar sudah seperti kota mini.

Jay Park pamer bodi di Mall of Asia.

Sementara Greenbelt di Makati yang sengaja dirancang dengan konsep ‘hijau’ lebih tenang dan anggun.  Toko-toko yang hadir di pusat perbelanjaan yang satu ini pun lebih ‘berkelas’, memajang banyak merk-merk papan atas kaliber dunia.  Di tengah-tengah salah satu tamannya, terdapat sebuah kapel.  Ada nuansa berbeda yang hadir bila ibadah sedang berlangsung di kapel tersebut.  Sayang saya tak punya terlalu banyak waktu menjelajahi Greenbelt karena tujuan utama saya ke situ adalah menghadiri jumpa penggemar dengan novelis Nicholas Sparks di salah satu toko buku di mall tersebut.

Manila memang bisa menjadi salah satu kota tujuan pariwisata baru di Asia Tenggara, menyaingi Singapura atau Bangkok.  Hanya saja, seperti juga Jakarta, kota ini harus membereskan sejumlah PR besar seperti mengatasi kemacetan dan banjir yang rutin terjadi.

1 Comment (+add yours?)

  1. Harun Harahap
    Jun 01, 2012 @ 00:55:18

    Baru tau ada kepiting yang gay..mwahahahaha…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: