‘Rumah Burung Hantu’ di Penang Hill

This post is about Malaysia

Kali ini, kami masih bercerita tentang Penang.  Tapi sekarang kita pergi agak menjauh dari Georgetown.  Tepatnya ke Penang Hill, yang secara cukup mengherankan dalam bahasa Melayu dikenal sebagai Bukit Bendera.  Hal ini memang jamak terjadi di Penang: satu tempat dikenal dengan nama yang belum tentu sama dalam bahasa-bahasa berbeda yang digunakan penduduk majemuk pulau tersebut.

Stasiun di kaki Bukit Bendera, alias Penang Hill.

Resepsionis hotel memberi tahu kami agar menunggu bis Rapid Penang nomor 204 di depan 7 Eleven di Jalan Penang.  Kami sempat menunggu beberapa lama di depan salah satu cabang 7 Eleven sebelum sadar kami berdiri di depan cabang yang salah.  Seharusnya di cabang yang berada di tepi jalur yang mengarah ke selatan, bukan ke utara.  Ya maaf… habisnya banyak banget sih cabangnya, hehehe… (Anda juga bisa naiki bis 204 ini dari KOMTAR, kalau bingung harus menunggu di mana.)

Dari halte tempat kami naik, kami harus membayar 2 ringgit per orang, yang dimasukkan ke kotak uang di samping supir.  Setelah membayar, supir akan menyerahkan karcis dan mempersilakan kita mencari tempat duduk (bila masih ada).  Bis pun mulai berjalan, dengan kualitas menyupir yang bagi kami agak gila-gilaan, apalagi rute yang ditempuh banyak melewati jalan-jalan yang tidak seberapa besar.  Tapi sepertinya supir-supir bis di Penang tahu pasti apa yang mereka lakukan.  Lagipula kondisi bis yang bersih, nyaman, dan terawat membuat perasaan khawatir minimal.

Saya dengan enaknya nyaris ketiduran di dalam bis 204 ini.

Bis-bis Rapid Penang ini pun ramah terhadap pengguna kursi roda.  Pintu tengah bisa dibuka lebar-lebar, dan bis bisa dimiringkan sedikit agar kursi roda bisa didorong melewati titian naik-turun bis.  Supir juga tak segan repot-repot membantu menaik-turunkan kursi roda.

Bis yang kami tumpangi meluncur keluar dari Georgetown, menuju Air Itam.  Di kota ini kita bisa melihat kesibukan pasar tumpah yang cukup memacetkan jalan dari balik jendela bis yang berpendingin udara.  Wih, benar-benar berasa turis, tapi tanpa ikut paket tur.

Perhentian terakhir bis 204 tepat di halte kaki Penang Hill.  Di loket stasiun Penang Hill, dengan uang 30 ringgit per orang, karcis kereta pulang-pergi pun berpindah tangan.  Pemegang identitas Malaysia cukup membayar 4 RM saja.  Hus… jangan iri ya.

Tut tut tut… keretanya datang.

Kami pun mengantri dengan sabar, menanti sampai kereta yang akan mengangkut kami tiba.  Para penumpang naik dan turun tidak akan berpapasan karena pintu yang terbuka untuk mereka berbeda sisi, dan membuka-tutup bergantian.

Naik kereta Penang Hill ini memang pengalaman tersendiri.  Agak mirip sih dengan kereta serupa di Hong Kong, namun tentu saja pemandangan yang kita lihat di Penang adalah alam tropis.  Bukit yang harus didaki kereta ini sebenarnya curam sekali, tapi tak usah takut isi kereta bakalan ikut miring dan berjatuhan.  Kereta dirancang khusus sehingga lantainya selalu datar, dan penumpang bisa berdiri tegak tanpa khawatir terguling meskipun rel miring nyaris 45 derajat.

Begini nih, bagian dalam keretanya.

Kelihatan datar? Oho, jangan salah… Ini hanya masalah sudut pandang.

Setiba di puncak Penang Hill, kami langsung disambut udara yang sejuk dan segar.  Pemandangan nun jauh di bawah sana terbentang luas, menampakkan tak hanya Georgetown, namun juga lebih jauh lagi, bahkan ke arah laut dan jembatan menuju Butterworth.  Hanya saja, pemandangan dari Penang Hill kerap teradang kabut – entah itu alami atau akibat aktivitas manusia.

Di puncak Penang Hill ini, kita bisa berkeliling melihat bangunan-bangunan kuno menggunakan jasa buggy dengan tarif 30-60 RM.  Sayang, karena hari itu langit menunjukkan tanda-tanda akan hujan, kami memilih untuk menikmati apa yang ada di sekitar stasiun saja.  Pertama-tama kami menyambangi kuil Hindu yang bisa dicapai dengan mendaki sejumlah anak tangga.  Seperti juga banyak kuil Hindu India lain, yang satu ini pun semarak ornamen dan warna.  Lebih ke atas lagi dari kuil, ada sebuah masjid.

Meriam yang terletak sejajar dengan kuil Hindu ini konon tidak pernah ditembakkan.

Di kuil ini dijual pula susu. Tapi untuk persembahan. Jangan malah diminum…

Favorit saya: Ganesha…

…beserta keluarga lengkapnya.

Puas melihat-lihat di sana, kami pun mengarah ke Owl Museum yang belum lama dibuka.  Museum dengan tarif masuk 10 RM ini tidak seberapa besar, namun menyimpan koleksi yang unik: ribuan pernak-pernik burung hantu dari berbagai penjuru dunia.  Dari Indonesia juga ada, lho.  Kami jadi kegirangan sendiri menelusuri rak demi rak yang menyimpan berbagai perwujudan hewan perlambang Dewi Athena itu.  Sebelum pintu keluar museum yang juga menyediakan aktivitas bagi anak-anak ini, terdapat sebuah toko kecil yang menjual berbagai suvenir bertema burung hantu, dari kaus, kalung, anting-anting, tas, dan lain-lain.  Nyaris kami kalap di sini!

Tangga turun menuju Owl Museum.

Uhu! Uhu!

Awas kalap… banyak benda lucu-lucu di sini.

Di atas Owl Museum ini, terdapat sejumlah toko suvenir dan kedai makan yang cukup murah-meriah.  Asyik juga bersantai sejenak menikmati hidangan dan minuman sambil berpuas-puas menikmati kedamaian dan angin semilir di Penang Hill.  Keasyikan sudah selesai?  Belum dong!  Masih ada perjalanan meluncur menuruni bukit.  Woohoo!

Mengunjungi Penang Hill adalah kegiatan yang kami rekomendasikan bila kami bertandang ke pulau tersebut.  Di puncak bukit ini juga terdapat kantor pos, kalau-kalau Anda ingin mengirimkan kartu pos ke teman-teman atau kerabat.  Dari Penang Hill, Anda bisa langsung naik 204 kembali ke Georgetown, atau menaiki 201 menuju Kuil Kek Lok Si.  Sekadar catatan, karena banyaknya anak tangga yang harus didaki, Kuil Kek Lok Si kurang disarankan untuk yang kesehatannya kurang prima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: