Tokyo: Dari Meiji-Jingu ke Tokyo Tower

This post is about Japan

Perhatikan baik-baik foto di bawah ini.  Kira-kira dalam bayangan Anda, foto ini saya ambil di kawasan pedesaan, ataukah di perkotaan?

Meski barangkali hal pertama yang terlintas di benak saat melihat foto ini adalah pedesaan yang jauh dari kota, namun sebenarnya foto ini saya ambil di Tokyo.  Ya, di tengah megapolitan yang dihuni puluhan juta orang, masih bisa kita temui hutan lebat dan sungai bersih yang mengalir.  Walaupun sebenarnya foto ini adalah foto taman di kompleks kuil Asakusa.  Tapi nanti di bawah akan saya tunjukkan tempat yang masih pantas kita sebut ‘hutan di tengah Tokyo’ itu.

Saya mungkin jadi terdengar klise seperti banyak orang bila membicarakan Jepang yang dengan enaknya ‘menubrukkan’ berbagai dunia yang tampak bertentangan.  Tapi seperti yang saya pernah katakan dalam tulisan saya mengenai Nara, memang begitulah adanya.  Dalam tulisan penutup dari deretan tulisan kami mengenai Jepang kali ini, saya akan mengajak Anda menengok beberapa lagi tempat menarik di Tokyo, kota mahaluas yang begitu penuh paradoks.

Saya kira salah satu pertanyaan yang paling kerap diajukan orang yang hendak berkunjung ke Jepang dengan anggaran tidak seberapa besar adalah “Bukankah Jepang mahal?”  Iya.  Itu tidak akan saya pungkiri.  Apalagi yen Jepang tampak enak-enak saja bercokol di posisi tukar yang tinggi terhadap rupiah.  Namun banyak cara mengakali pos pengeluaran selama di Jepang, antara lain: banyak-banyak berjalan kaki.  Dari Shibuya sampai Shinjuku, bisa kok ditempuh berjalan kaki, misalnya.  Lagipula, tak hanya menghemat, dengan berjalan kaki kita pun bisa melihat berbagai hal yang tak akan terlihat bila kita berada di atas kereta.

Detail Stasiun Shibuya, yang menuturkan kisah Hachiko si anjing setia.

Berjalan kaki juga memang seringkali menjadi satu-satunya cara untuk mendatangi pelosok-pelosok seperti Meiji Jingu yang ‘tersembunyi’ cukup jauh di dalam hutan seluas 175 ekar.  Memimpikan ada ojek yang selalu siap mengantar kita ke mana pun tentu saja… hanya mimpi.

Torii menuju Meiji Jingu.

Deretan gentong sake yang dipersembahkan ke Meiji Jingu.

Kenang-kenangan gratis dan unik: cap Meiji Jingu.

Mungkin kami cukup beruntung. Dua kali menyaksikan arak-arakan pernikahan tradisional. Sekali di Tokyo, sekali di Kyoto.

Berjalan kakilah membelah keramaian anak muda yang berkumpul di Harajuku, merayakan sedikit kebebasan terutama di akhir minggu dengan berpakaian sesuka-suka mereka, bebas dari kewajiban berpakaian rapi dan sopan dalam keseharian mereka.

Wajah khas Stasiun Harajuku.

Bagian dalam family resto yang cukup terkenal, Jonathan’s.

Sudut-sudut Harajuku.

Berjalanlah dari stasiun kereta bawah tanah Asakusa, melewati gerbang bernama Kanarimon; lantas menyusuri Nakamise-dori yang ramai oleh kios-kios kecil (dan bila hari panas, belilah es krim ubi kuning yang segar – tentu tak keberatan menyantapnya sambil berdiri?); lagi melewati gerbang lain yang kali ini disebut Hozomon, sampai akhirnya tiba di bagian utama kuil Asakusa Kannon (Sensoji).  Dan seperti juga banyak kuil Buddha lain di Jepang, tidak ada yang keberatan kuil ini berdiri masih satu kompleks dengan kuil Shinto – Asakusa Jinja.

Nakamise-dori.

Es krim ubi kuning? Enak. Percayalah.

Mensucikan diri sebelum beribadah.

Berjalanlah melewati perkantoran modern setelah turun di stasiun Hamamatsucho, menuju Tokyo Tower.  Tetap percaya diri meskipun pakaian kita jelas menunjukkan kita adalah pengelana yang berpakaian seadanya saja yang kita bawa, sungguh berbeda dari orang-orang kantoran Tokyo yang selalu berjas rapi dan tampak bersih. Sempatkan diri mampir di kuil keluarga Tokugawa, Zojoji.

Zojoji dengan Tokyo Tower di latar belakang.

Berjalanlah menelusuri jalan kecil di samping Zojoji, semakin dekat ke Tokyo Tower, dan resapi aura yang menusuk, mengharukan, melihat jejeran jizo yang dipersembahkan bagi anak-anak yang meninggal dalam kandungan ataupun saat dilahirkan.  Para orang tua yang datang masih sering mempersembahkan mainan di depan jizo-jizo itu, seolah berharap di dunia sana anak mereka bisa tetap bermain seperti seharusnya apabila mereka terus hidup.

Berjalan?  Ke puncak Tokyo Tower?  Wah, ya jangan.  Naik elevator dong, hehe.  Tapi… berhubung saya belum sempat naik ke Tokyo Tower, hanya nampang doang di bagian bawahnya, barangkali ada di antara yang telah mencobanya mau berbagi cerita lebih mendetail?

Kaki Tokyo Tower.

Jepang.  Saya menanti hari saya bisa kembali menapakkan kaki berjalan menyusuri trotoar-trotoarnya yang nyaman, dan jalan-jalannya yang meskipun ramai namun tetap bisa teratur.  Ramai tapi teratur – apakah itu paradoks lagi?  Lagi-lagi klisekah saya?  Ah, pentingkah sesuatu itu klise atau tidak – bila yang tersaji adalah harmoni?

6 Comments (+add yours?)

  1. Icha
    Mar 30, 2012 @ 02:45:33

    Foto terakhir pas banget dengan tema seluruh entri, hijaunya taman dengan patung Buddha berdampingan dengan pencakar langit super modern.🙂

    Reply

  2. vivi
    Jul 17, 2012 @ 08:21:54

    kl ke jepang lagi cari aktor namanya takuya kimura yahh…🙂

    Reply

  3. vivi
    Jul 23, 2012 @ 07:17:45

    iya… iya… Suka banget tante guru….!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: