Ueno dan Pameran Buddha Tezuka Osamu

This post is about Japan

Kalau menilik kalimat terakhir pada tulisan saya sebelumnya, maka sekarang ini seharusnya saya membahas tentang Nara, ya?  Tetapi bolehlah saya tunda niat menulis tentang Nara sejenak, dan beralih ke Tokyo (yang, setelah dipikir-pikir, masih sedikit kami bahas).  Tepatnya ke Ueno, di mana terdapat sejumlah museum yang amat memikat, juga taman, kompleks pemakaman, dan kebun binatang.  Malah sebenarnya, Ueno-lah tempat pertama yang kami kunjungi begitu tiba di Jepang.

Begitu keluar dari Stasiun Ueno yang terletak di jalur Yamanote, Hibiya, dan Ginza, kami langsung disambut oleh rindangnya pepohonan.  Sejumlah bangunan – Museum Nasional Seni Barat dan Aula Festival Metropolitan Tokyo – langsung menggoda mata, mengundang masuk.  Namun berhubung lapar, kami malah melipir dulu ke Green Salon Cafe, dengan berbagai kare andalannya, untuk mengisi perut.  Setelah tenaga kembali tersedia, barulah kami kembali ke rencana awal: mengunjungi museum.  Tapi… museum yang mana?

Aula Festival Metropolitan Tokyo.

Kebun binatang sudah sedari awal kami coret dari daftar kunjungan karena keterbatasan waktu.  Kami terpaksa melewatkan yang berikut ini dan hanya melihat-lihat dari luar:

–          Museum Nasional Seni Barat (Kokuritsu Seiyo Bijutsukan) – yang banyak menyimpan karya-karya Rodin, termasuk satu dari sedikit cetakan perunggu Gates of Hell, El Greco, Monet, Renoir, dan lain-lain.

–          Museum Sains Museum, dengan model paus biru raksasa di sebelah luarnya.

Di kompleks Ueno ini juga ada Museum Seni Metropolitan Tokyo.

Cetakan perunggu ‘Gates of Hell’ karya Rodin.

Lokomotif tua di depan Museum Sains Nasional.

Kami langsung menuju Museum Nasional Tokyo, dan dengan suka cita melihat baliho di sebelah luar yang menyatakan bahwa sedang berlangsung pameran khusus Buddha karya Tezuka Osamu!  Sungguh kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan!  (Kita yang di Indonesia beruntung karena karya ini telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.  Sementara animasi yang didasarkan pada manga ini pun akan ditayangkan di bioskop-bioskop kita tahun 2012 ini.)  Dengan merelakan uang 800 yen, kami pun memperoleh tiket masuk ke Museum Nasional.

Bagi orang-orang yang sangat menyenangi museum tapi tinggal di negeri yang masih kekurangan museum yang bagus, melihat Museum Nasional Tokyo dari luar pun sudah cukup membuat hati bergetar karena merasa asyik dan… panik.  Lho, kok panik?  Ya, habisnya, apa sempat menjelajahi semuanya seharian?  Apa sempat kami tengok semua koleksinya?

Ada sejumlah gedung dalam kompleks Museum Nasional Tokyo, yang saling tersambung sehingga mudah untuk dikunjungi:

–          Honkan, bangunan utama, tempat koleksi permanen seni Jepang.

–          Houryuu-ji Houmotsukan, yang menyimpan galeri harta karun tak ternilai dari kuil Buddha Houryuu-ji di barat daya Nara.

–          Touyoukan, yang memamerkan seni dan artefak Asia.

–          Hyoukeikan tempat pameran khusus.

–          Heiseikan, galeri arkeologi Jepang.

Yang pertama kami datangi adalah Honkan, di mana pameran Buddha sedang dilangsungkan.  Tidak hanya kami berkesempatan melihat halaman-halaman asli manga Buddha hasil garapan tangan Tezuka Osamu, melainkan juga artefak-artefak yang mengilhami dan menjadi model Siddharta dalam manga tersebut.  Artefak-artefak Buddha yang menggambarkan Buddha dari berbagai usia dengan beraneka pose itu juga berasal dari tempat yang berbeda-beda, mulai dari India, Afganistan, Cina, sampai dari Jepang sendiri.  Sungguh mengingatkan betapa pernah sedemikian tersebar luas keyakinan ini.  Beribu maaf, kami tidak boleh mengambil foto di pameran ini.

Arca Buddha ini dipajang di luar pameran Tezuka Osamu, sehingga saya boleh memotretnya.

Di pintu keluar ruang pameran khusus itu, kami disambut pernak-pernik pameran Buddha tersebut, juga karya-karya Tezuka lain seperti Tetsuwan Atom, yang dijual dengan harga cukup menggoda.  Benak pun terombang-ambing antara  kesadaran bahwa barang-barang ini sulit diperoleh, dan rasa ngeri langsung membelanjakan banyak uang di hari pertama.  Tak ayal saya beli juga beberapa kartu pos.

Sebelum sempat kalap (apalagi kami tahu bahwa museum ini pun memiliki toko cenderamata tersendiri di luar kios khusus Buddha itu), kami pun mulai menelusuri ruang demi ruang di Honkan dan Heiseikan – hanya dua bangunan ini yang bisa kami jajal hari itu.

Oh ya, untuk catatan, di dalam museum boleh memotret, namun perhatikan tanda pada setiap pajangan karena ada sebagian pajangan yang tidak boleh dipotret.  Apa pun alasannya dilarang – mungkin karena barang yang dimaksud dianggap sangat berharga atau sangat suci – sebaiknya kita hormati larangan ini.

Honkan terbagi atas 9 ruangan.  Beginilah isi masing-masing ruangan, yang saya tuliskan dalam bahasa Inggris sesuai brosurnya.

–          1[1]: The Dawn of Japanese Art, yang menampilkan karya-karya dari zaman Jomon, Yayoi, dan Kofun.

–          1[2]: The Rise of Buddhism

–          2: National Treasure Gallery

–          3[1] dan 3[2]: Buddhist and Courtly Art

–          3[3]: Zen and Ink Paintings

–          4: The Art of Tea Ceremony

–          5 dan 6: Attire of the Military Elite, di mana kita bisa melihat baju zirah para ksatria zaman dahulu, juga pedang-pedang bersejarah.

–          7: Folding Screen and Sliding Door Paintings

–          8[1]: The Arts of Daily Life

–          8[2]: Developments in Painting and Calligraphy

–          9: Noh and Kabuki.  Kita bisa melihat berbagai kostum dan topeng yang dikenakan para aktor.

–          10: Fashion in the Edo Period, Ukiyo-e in the Edo Period

Heiseikan pun sangat menarik, dengan koleksi berbagai artefak arkeologi yang mendokumentasikan perkembangan Jepang dari zaman ke zaman.  Sebagian temuan dari masa lalu ini sekilas tidak terbayangkan merupakan karya para penduduk Jepang di zaman dahulu.  Sungguh jauh berbeda dengan apa yang lekat dengan bayangan kita tentang budaya Jepang sekarang.  Bahkan ada makam tua segala dipamerkan di sini.  Penataan yang memikat dan informasi pendamping yang tersaji membuat kami lupa akan waktu yang berlalu.  Di dalam museum kami berada di masa lalu, seolah tidak sejalan dengan perjalanan matahari di langit di luar.

Jendela kaca pada lorong yang menghubungkan Honkan dengan Heiseikan ini menampakkan taman di luar.

Di lorong pun, ada berbagai pajangan yang bisa dinikmati.

Peninggalan nenek-moyang orang Jepang dari zaman Jomon.

Uh… tak terasa hari sudah sore.  Sejam lagi museum akan ditutup, namun kami belum mengunjungi toko cenderamata yang terletak di bawah tanah.  Saya bergegas ke situ, dan, duh… Sejam sih juga mana cukup di toko ini?  Begitu banyak cenderamata yang seperti memekik minta dibawa pulang!

Ketika akhirnya kami melangkah keluar dari kompleks museum, kami pun menyegarkan diri dengan es krim lembut yang kami beli dari truk yang memang mangkal di dekat museum.  Kami duduk-duduk di depan Museum Sains Nasional dan bermain dengan beberapa ekor anjing yang dibawa berjalan-jalan oleh kakek pemilik mereka.  Hari pertama yang mengesankan di Jepang bersama kenangan dari masa lalu negara ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: