Orang Indonesia di Kyoto

This post is about Japan

Bukan, judul ini bukan tentang kami.  Meski, ya, benar sih.  Kami memang bepergian ke Kyoto.  Melainkan tentang seseorang yang tanpa kami duga-duga bertemu dengan kami di bekas ibukota kekaisaran Jepang tersebut.

Kami tiba di Kyoto pagi-pagi sekali.  Bis malam yang kami tumpangi dari Tokyo tiba tepat waktu sesuai perkiraan yang diberikan kepada kami.  Bis yang nyaman, jalanan yang mulus, dan cara mengemudi yang meyakinkan membuat kami tidak terlalu lelah meski telah menghabiskan waktu semalaman di bis.  Agak pegal sedikit sih iya, namanya juga naik kendaraan berjam-jam.

Kami diturunkan di seberang stasiun pusat Kyoto.  Di sini jalur-jalur kereta antarkota dan dalam kota bertemu.  Bangunannya besar dan modern.  Kami pun melangkah ke stasiun tersebut guna membersihkan diri sejenak di kamar mandi.  Hmmm… ternyata kamar mandinya biasa-biasa saja.  Jangankan washlet, tisu pun tidak gratis.  Selain kami, sejumlah penumpang lain juga tampak mencuci muka, menyikat gigi, dan berdandan di kamar mandi.

Satu per satu orang mulai bermunculan di stasiun yang masih sepi, meski tetap belum banyak kegiatan berarti.  Orang-orang belum lagi berangkat kerja atau sekolah.  Kami mampir ke McD’s cabang stasiun itu untuk sarapan.  Mata menjadi melek penuh ‘dihajar’ kopi panas yang disajikan.  Setelah perut terganjal, kami pun mencari-cari loker untuk meletakkan tas-tas kami yang berukuran besar.  Apa boleh buat, seperti juga di penginapan-penginapan lain, baru di atas pukul dua siang nanti kami boleh check-in.  Lagipula, malas juga ya rasanya bolak-balik pakai ke penginapan dulu untuk menitipkan tas sebelum cabut lagi.

Salah satu stasiun kereta di Kyoto.

Apalagi kami ini sedang di Kyoto.  Segala persiapan harus direncanakan betul-betul.  Pasalnya, biaya transportasi di Kyoto lebih mahal daripada di Tokyo.  Cuma berjarak satu stasiun pun bisa 200 yen-an naik kereta.  Tiba-tiba Tokyo yang biaya transportasinya mahal kalau dirupiahkan, terasa murah dibandingkan Kyoto.  Mau tak mau mulut kami mengomel-ngomel pelan juga karenanya.  Kalau ada sepeda sih lumayan, banyak tempat bisa terjangkau sambil olahraga.

Nah, pertanyaan berikutnya, mau ke mana sepagi ini?  Biasanya bila kita ke Kyoto, orang-orang akan menyarankan kepada kita untuk mengunjungi tempat-tempat seperti Gion, daerah geisha yang kebetulan juga sedang merayakan festival (Gion Matsuri) ketika kami di sana; Kinkakuji alias ‘Kuil Paviliun Emas’; ataupun Kiyomizu-dera.  Selain nama-nama kesohor itu, juga banyak sekali tempat-tempat menarik di Kyoto, membuat kami beberapa lama kebingungan untuk memutuskan mau ke mana saat matahari masih rendah di ufuk.

Akhirnya kami memutuskan untuk menyambangi Fushimi Inari Taisha, kuil (shrine) Shinto pusat dari jejaring kuil rubah.  Kami naik kereta JR dan turun di stasiun Fushimi-Inari.  Dari situ, hanya tinggal berjalan kaki saja – kuil tersebut dekat sekali dengan stasiun, praktis hanya menyeberang jalan.  Di kuil ini, telah cukup banyak orang berkegiatan.  Dengan khusyuk orang-orang berdoa, termasuk seorang bapak yang kelihatannya merupakan direktur perusahaan atau orang penting sejenisnya, didampingi seorang ajudan yang setia mengikuti si bos mendaki undak-undakan kuil demi menuju tempat bersembahyang.

Dari agak jauh pun, warna merah kuil yang khas telah menarik mata.  Biasanya kuil-kuil rubah memang menggunakan warna ini.  Arca-arca rubah juga tegak mengawasi.  Di depan pintu gerbang kuil, terdapat chi no wa (茅の輪), lingkaran besar dari jalinan tanaman yang bila dilangkahi dipercaya akan mengenyahkan nasib buruk ataupun kesalahan kita di masa lalu.

Salah satu arca rubah di Fushimi Inari Taisha.

Di sebelah depan foto adalah chinowa.

Entah karena pagi hari yang masih dingin dan suasana yang sunyi atau bagaimana, tapi Fushimi Inari Taisha ini memiliki aura yang… mistis sekali.  Apalagi ketika semakin jauh kami mendaki undak-undakan menuju bagian-bagian kompleks kuil yang terletak lebih ke atas bukit.  Kami terpecah menjadi dua kelompok, dan saya yang berjalan bersama Anis terdiam ketika kami sampai di aras kompleks kuil di mana terdapat banyak sekali torii – gerbang berwarna merah menyala – berdiri rapat membentuk lorong.  Duh.  Suasana semakin ‘berat’ saja di sini.  Mengambil foto di depan terowongan torii itu pun kami agak ragu-ragu.

Pada awalnya, masih renggang…

Kami memutuskan untuk menyusuri lorong mendaki tersebut.  Lama-kelamaan, jejeran torii yang bertuliskan nama (perusahaan) penyumbang dan tanggal torii tersebut dipasang semakin rapat.  Dan ketika terowongan bercabang menjadi dua, saya dan Anis hanya ‘sanggup’ meneruskan beberapa puluh meter lagi sebelum menemukan percabangan lagi dan memutuskan untuk memutar.  Kami turun lagi ke bawah, dan lebih memilih untuk menyaksikan upacara pagi yang sedang berlangsung di bagian depan kompleks, dan juga melihat-lihat toko yang menjual jimat asli keluaran kuil dan juga toko-toko lain yang menjual cenderamata.

Lama-lama, kok semakin rapat, yaaa?

Air untuk ‘berwudu’ bagi yang ingin bersembahyang. Biasanya ada papan yang menunjukkan langkah-langkah untuk membersihkan diri dengan air ini.

Oya, bila mengunjungi kuil-kuil semacam ini, memotret miko atau para gadis kuil terlarang sifatnya.  Mereka juga akan cepat mengibaskan tangan meminta jangan dipotret bila ada orang yang sudah mengangkat tustel siap menjepret mereka.  Sebaiknya sih kita hormati ini.  Kalau ternyata mereka terpotret juga dari jauh saat kita mengambil foto-foto di kuil, yah anggaplah rejeki saja.

Puas melihat-lihat di Fushimi Inari Taisha, kami menaiki kereta kembali ke arah pusat kota Kyoto, namun kali ini turun di stasiun Imadegawa, dekat dengan Istana Kekaisaran Kyoto.  Kompleks bersejarah ini tidak lagi menjadi kediaman utama kaisar, namun tidak berarti bebas dikunjungi sekarang.  Kita harus mengikuti tur (gratis) berpemandu yang disediakan oleh badan pengelola, yang hanya dijadwalkan dua kali dalam sehari (pukul 10 pagi dan 2 siang), sehingga jangan sampai ketinggalan!  Cek juga di hari apa saja tur berbahasa Inggris diselenggarakan, karena di hari Sabtu hanya ada tur berbahasa Jepang.  Oh ya, kita juga harus mendaftar terlebih dahulu ke kantor pengelola istana, lengkap dengan menunjukkan paspor.  Sepertinya agak repot, ya, tapi yang bisa kita lihat di dalam istana nanti benar-benar tak akan membuat menyesal!

Ruang tunggu di Istana Kekaisaran Kyoto.

Sambil menunggu tur dimulai, kami dipersilakan menunggu di ruangan yang dilengkapi bangku-bangku panjang yang tetap nyaman meski tidak bersenderan, dilengkapi televisi yang memutar dokumenter mengenai istana.  Di dalam ruangan itu juga ada toko cenderamata yang menjual berbagai suvenir khas istana.  Harganya cukup terjangkau kok.

Pemandu kami, seorang wanita yang tampak gesit, mengumpulkan kelompok wisatawan yang akan bersama-sama menilik istana pagi itu.  Ia bahkan repot-repot mencarikan payung untuk para wisatawan yang tidak membawa payung untuk melindungi diri dari rintik hujan.  Kami pun dibawanya menyusuri sudut demi sudut istana kekaisaran.  Ya, tidak semua sih, karena memang hanya bagian-bagian tertentu yang boleh kami kunjungi.

Dari mulut pemandu kami meluncur lancar berbagai cerita mengenai kehidupan di istana.  Misalnya, tentang bagaimana di zaman dahulu kaisar tidak pernah sekalipun menginjak tanah.  Jembatan-jembatan kecil dibuat menghubungkan berbagai bangunan yang berada di dalam kompleks istana.  Sementara kaisar hanya boleh melewati jalan-jalan khusus untuknya itu, para pelayan menjadi bayang-bayang yang berkeliaran di lorong-lorong di bawah panggung istana.  Keberadaan mereka tidak boleh mencolok, namun harus selalu siap muncul di sisi istana mana pun mereka dibutuhkan untuk melaksanakan tugas mereka.

Halaman istana tampak kosong dengan berlapiskan batu. Namun sebenarnya halaman bebatuan itu adalah desain Zen.

Kaisar dahulu menerima tamu-tamunya di sini. Itu pun tidak boleh sembarangan.

Pemandu kami juga menjelaskan bahwa hingga kini, atap istana kekaisaran dibuat dari kulit pohon sipres.  Namun karena sekarang sulit membuat atap sipres karena pohonnya juga sulit diperoleh, penggantian atap seluruh bangunan, yang harus dilakukan berkala, memakan waktu lama. Akibatnya ketika akhirnya bangunan terakhir selesai diganti atapnya, atap bangunan pertama sudah perlu diganti lagi!

Contoh atap kulit sipres yang sedang dalam pembuatan. Yang berdiri di sampingnya adalah pemandu kami yang cekatan.

Satu kejadian lucu dalam kunjungan itu adalah ketika sepasang suami-istri Amerika mengobrol bersama sekelompok mahasiswa Taiwan.  Mencoba ramah, sang suami berkata kepada para pemuda Taiwan itu:  “Nanti kapan-kapan kami kunjungi negara kalian juga ya.  Kami akan lihat-lihat istana kaisar kalian.”  Sunyi sejurus, sebelum kemudian salah seorang mahasiswa itu menyahut: “Tapi, kami tidak punya kaisar.”  Sang pria Amerika langsung terdiam kaget.  “Oh.”  Sementara seorang turis Indonesia yang nantinya menulis apa yang sedang Anda baca ini melewati mereka sambil menahan tawa.  Aduh, rupanya si oom Amerika tidak tahu apa-apa soal Taiwan.

Taman Istana Kekaisaran.

Tempat kaum bangsawan dulu piknik sambil bermain dan merangkai syair.

Setelah tur berpemandu berakhir, kami pun menyantap makan siang di kafetaria yang masih menjadi bagian dari kompleks istana.  Hmmm… enak sekali rasanya menyantap udon dan soba dengan kuah hangat setelah beberapa puluh menit tertimpa gerimis.

Eh, lho.  Lalu di mana kami bertemu orang Indonesia yang kami maksudkan di judul tulisan ini?  Kami bertemu dia di Museum Manga, yang kami datangi setelah tur berpemandu di Istana Kekaisaran berakhir.  Kami kembali naik kereta, kali ini turun di Karasuma-Oike, dan berjalan kaki beberapa menit menuju museum tersebut.

Berjalan kaki di Kyoto lebih nyaman daripada di Tokyo.  Trotoar-trotoarnya sangat lebar, orang yang berlalu-lalang tidak terlalu banyak. Jalan-jalannya (setidaknya di pusat kota) pun tersusun dalam blok-blok rapi. Bangunan-bangunan di Kyoto juga tidak setinggi-tinggi di Tokyo.  Secara umum kesan kota ini yang saya tangkap adalah datar, namun dikelilingi oleh pegunungan yang menghijau.

Museum Manga yang menempati sebuah bangunan bekas SD menampung banyak sekali koleksi komik Jepang, baik yang masih dalam bahasa aslinya ataupun yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia. Semua disusun dalam rak demi rak, diurutkan berdasarkan abjad dan juga berdasarkan dasawarsa terbitnya.  Kita bisa menemukan edisi-edisi asli karya-karya klasik semacam Rose of Versailles, dan juga yang berusia lebih tua.  Selain pajangan permanen, ada pula pajangan khusus sesuai acara yang sedang berlangsung.  Juga ada toko yang menjual pernak-pernik menarik berkenaan dengan manga yang langsung membuat kami jelalatan dan rada kalap.  (Tapi maaf… di dalam museum ini tidak boleh mengambil foto.)

Ketika petugas yang meminta kami mengisi buku tamu bertanya kami dari mana dan kami menjawab Indonesia, sambil tertawa ia menunjuk salah seorang rekannya, seorang laki-laki.  Ah, ternyata si Mas ini dari Indonesia juga, mahasiswa dari Padang.  Waduh, langsung senang sekali rasanya bertemu rekan senegara yang dengan sigap bisa membantu kami, termasuk mengajarkan cara menukar uang kertas menjadi koin di mesin pembelian tiket.  Koinnya hendak kami pakai bermain gashapon, hehe.  Semangat terus yah Mas kuliah dan kerjanya!

Pintu masuk Museum Manga.

Setelah cukup puas melihat-lihat Kyoto, kami pun segera menuju guest house pilihan kami, Yahata Inn, yang terletak beberapa ratus meter dari Stasiun Gojo.  Guest house ini aslinya adalah rumah tradisional yang diubah menjadi penginapan untuk tamu-tamu seperti kami yang mencari kesederhanaan.  Maksudnya, mencari penginapan murah yang pas dengan kantong.  Pemilik penginapan adalah sepasang suami-istri yang sangat ramah, dibantu oleh dua orang asisten mereka (kami kurang yakin apakah di antara kedua orang itu ada anak mereka atau tidak).  Penginapannya sih bersih dan nyaman sekali.  Harga juga sudah termasuk sarapan yang boleh kami siapkan sendiri, serta kopi dan teh yang tidak terbatas.  Penginapan juga menyediakan berbagai informasi mengenai Kyoto seperti peta dan buku-buku panduan bagi para wisatawan.  Tapi…. ada tapinya.

Berhubung penginapan ini terletak di sebuah kawasan pemukiman, maka berbagai peraturan ketat diberlakukan.  Di sinilah kita melihat semacam paradoks pada masyarakat Jepang: mereka adalah orang-orang yang ramah, namun juga cepat marah apabila tetangga mereka membuat suara atau tindakan sedikit saja yang mereka anggap mengganggu ketenangan mereka.  Tak heran di berbagai sudut Yahata, tertempel kertas putih yang berisikan larangan dan aturan (yang dinyatakan dengan sopan, sebenarnya, tapi cukup mengganggu karena jumlahnya yang banyak): Tolong buka pintunya pelan-pelan.  Mandi hanya boleh antara pukul 5 pagi sampai 11 malam.  Jangan tutup jendela kamar mandi ini (eh… kenapa ya?)  Sampai yang cukup ajaib… Tolong jangan sampai salah berdiri di depan rumah tetangga. Kami pernah diprotes karena ada tamu yang salah berdiri.  Waduhhh..

Sampai-sampai saya lupa mengambil foto penginapan ini!  Tapi bila Anda tertarik, silakan tengok situs mereka di sini.

Malam harinya, sayang betul, kaki saya yang rupanya sudah beberapa hari dipakai berjalan kaki, rewel minta istirahat.  Kulit kaki saya ada yang copot ketika saya melepas sepatu dan kaus kaki!  Waduh.  Saya pun memilih tinggal di penginapan, menanti teman-teman saya pulang.  Toh yang sempat bertandang ke Gion berkomentar, daerah itu ternyata cepat sekali sepinya saat malam menjelang.  Keramaian sepertinya telah berpindah ke bangunan-bangunan yang lebih privat, bagi para geisha dan tamu-tamu mereka.  Ya, memang kalau ke Gion, ada faktor untung-untungan juga.  Geisha sebenarnya bukan tontonan yang memajang diri di tepi jalan.  Bisa bertemu mereka yang sedang berangkat ke tempat kerja adalah kesempatan yang tidak setiap orang dapatkan.

Hmmm… sehari saja tidak cukup untuk melihat semua atraksi yang ada di Kyoto.  Tapi malam ini memang saatnya beristirahat.  Keesokan hari, kami akan mengunjungi Nara.

3 Comments (+add yours?)

  1. Rita
    Aug 20, 2014 @ 08:07:09

    Saya sampai di Osaka jam 13.00, pertanyaan saya dari Airport Osaka Kansai menuju Kyoto naik apa ya ? tks

    Reply

  2. htetsuko
    Jun 08, 2016 @ 06:51:38

    Fushimi Inari emang mistis. Aku waktu ke sana malah udah mau maghrib, jadinya nggak berani nyusuri lorong lebih jauh (gelap dan takut kesasar trus ga bisa balik). Hahahahaha..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: