Pulang ke Sumatera Utara (2)

This post is about Indonesia

Kami meneruskan perjalanan ke Medan, dengan singgah di Brastagi untuk sekadar menengok pasar yang berhias warna-warni bunga dan buah-buahan, serta menyantap jagung bakar yang hangat dan meneguk air tebu yang manis.  Kota tetirah ini bersuhu sejuk dan sepertinya nyaris selalu berada dalam bayang-bayang hujan.  Atau mungkin kebetulan saja setiap kali ke kota ini saya selalu kebagian cuaca seperti itu.

Berbagai buah segar menanti pembeli di pasar Brastagi.

Jagung bakar dan air tebu yang nikmat disantap di udara dingin.

Sebenarnya di Brastagi ada sejumlah resor yang cukup terkenal, di antaranya Mikie Holiday yang pernah menjadi tempat fanmeeting dan konser band Korea U-KISS pada Maret 2011.  Seandainya ada waktu, ingin saya mampir… tapi rupanya kali ini tidak bisa.  Saya hanya lewat saja di depan Mikie yang tampak megah dan mengundang.  Selepas Brastagi, mobil menyusuri jalan berkelok-kelok yang membelah Hutan Raya.  Bila gampang mabuk darat, rute ini pasti cukup ‘meninggalkan kesan’.  Tidak heran salah satu hal yang paling teringat oleh anggota U-KISS adalah perjalanan yang harus mereka tempuh dari Medan ke Brastagi (dan tentunya balik lagi!)

Kami singgah lagi untuk mencicipi makan durian di salah satu pondok khusus penjual buah berduri itu di tepi jalan.  Harganya 25 ribu sebuah, terhitung mahal untuk ukuran Sumatera.  Namun ini dengan jaminan bahwa bila durian-nya tidak enak, bisa kita tukar tanpa menambah biaya.  Hanya saja…  kalau menurut saya kok rasa durian-nya kurang mantap.  Untuk memuaskan rasa penasaran saja sih, lumayanlah.

Jejeran durian. Tampang cukup menggoda… tapi yang ini kebetulan rasanya tidak terlalu istimewa.

Sepanjang perjalanan, terlihat rumah-rumah tua yang kelihatan termakan usia.  Sayang sekali, padahal bila diperbaiki dan dirawat, pasti rumah-rumah itu cantik dan bisa memikat hati wisatawan yang sekadar lewat sekali pun.  Umumnya pemilik rumah-rumah itu tidak lagi berdomisili di Sumatera Utara, melainkan pindah ke Jawa, barangkali ke Jakarta, tempat di mana sedemikian banyak uang berputar.  Generasi ‘muda’ yang meninggalkan kota asal setelah generasi ‘tua’ tiada itu rata-rata tidak ingin menjual rumah peninggalan orang tua, namun juga tak ingin meninggalinya.  Akhirnya banyak yang disewakan dengan murah, bahkan hanya dengan harga puluhan ribu per tahun, semata agar rumah-rumah itu tidak kosong dan ada yang merawat meski seadanya.

Saat tiba di Medan hari sudah petang.  Bukannya langsung hotel, kami terlebih dahulu mendatangi Merdeka Walk untuk mencari makan.  Ini adalah jejeran tempat makan yang menempel di salah satu sisi Lapangan Merdeka dengan konsep ruang terbuka.  Meskipun kita bisa bersantap di dalam bangunan utama masing-masing restoran, banyak yang lebih memilih duduk di meja-meja di luar, di bawah pepohonan yang memayungi pelataran memanjang yang diberi sebutan ‘walk’ itu.  Mulai dari restoran waralaba asing sampai jago-jago dalam negeri ada di sini.

Sepenggal Merdeka Walk.

Di Merdeka Walk, juga terdapat kantor informasi pariwisata.

Lapangan Merdeka sendiri menjadi salah satu tempat pilihan warga Medan untuk berolahraga dan bersantai, berkat fasilitasnya yang cukup memadai dan keteduhan yang ditawarkan sebagai penghilang lelah di tengah kota yang ramai.  Di sekeliling Lapangan Merdeka, selain Merdeka Walk, terdapat sejumlah bangunan menarik yang usianya sudah puluhan bahkan mungkin lebih dari seratus tahun, yang dibangun ketika Medan sedang bersinar terang sebagai kota utama di ‘sabuk perkebunan’ Sumatera. Contohnya adalah kantor pos pusat dan sejumlah bangunan yang masih difungsikan oleh Bank Mandiri.  Di salah satu sisi Lapangan Merdeka juga terdapat pasar buku, yang sayangnya sore itu telah tutup dan beralih fungsi sebagai tempat sejumlah orang berolahraga sore.

Gedung kantor pos tua Medan.

Aston City Hall yang menggabungkan gedung baru dengan gedung warisan masa lalu.

Suasana sore di Lapangan Merdeka.

Seusai makan, baru kami menuju Hotel Garuda, hotel berukuran cukup besar yang cukup terkenal di Medan.  Saat kami di sana, begitu banyak orang yang keluar-masuk hotel untuk berbagai urusan.  Papan di lobi menandakan bahwa sebagian besar ruang fungsi hotel sudah disewa untuk macam-macam acara, dari pesta kelulusan akademi sampai rapat kantor.  Kami mendapat kamar di bangunan hotel yang lama, namun bersih, lega, dan nyaman, serta berlantai parket – jenis lantai kesukaan saya.  Harga sewa kamar sudah mencakup sarapan.  Sarapan ala Medan memang agak terlalu berat untuk perut saya, namun juga tersedia menu gaya lain seperti roti dan bubur.

Di hotel ini ada layanan unik, yaitu ‘Arman’, seorang pria yang bisa Anda hubungi melalui telepon atau jumpai di lobi hotel antara pukul 8 pagi sampai 5 sore.  Ia adalah orang yang bisa Anda tanyai apa pun mengenai Medan.  Entah apakah si Arman ini hanya satu orang atau tidak, tapi saya pikir keberadaannya adalah gagasan yang bagus.  Kelebihan lain hotel ini adalah sejumlah biro perjalanan dan perwakilan maskapai yang berkantor di lantai bawah hotel, sehingga tak perlu jauh-jauh bila Anda membutuhkan bantuan mereka.  Posisinya juga cukup strategis di tengah kota Medan – dan tepat di seberang jalan toko Bolu Meranti, salah satu oleh-oleh paling terkenal dari Medan sekarang.

Bolu gulung dengan berbagai macam rasa, mulai dari cokelat, keju, moka, blueberry, dan lain-lain bisa dibeli di sini. Tapi rebutannya, waduhhh!

Malam itu, karena iseng kami pergi ke luar hotel dan tawar-menawar dengan seorang pengemudi ‘betor’, becak bermotor.  Akhirnya setelah tawarannya sempat kami tolak, ia mau mengantar kami berkeliling dengan biaya 30 ribu rupiah.  Yak, wisata malam di Medan!  Menyenangkan rasanya duduk di atas betor dengan wajah dihantam angin malam (yang tidak terlalu dingin) sambil menggali-gali ingatan tentang kota Medan yang saya kenal.  Terus terang, tak banyak yang saya ingat.  Lucunya, meskipun dulu lebih sering ke Medan daripada ke Danau Toba, ternyata saya lebih ingat Danau Toba.

Saat kami tengah mengagumi bangunan-bangunan tua Medan, si pengemudi berkata dengan serius, “Tapi rumah-rumah ini” (Ia menyebut semua bangunan itu rumah) “banyak yang tak bisa ditinggali.  Hantunya terlalu kuat.”  Mendadak kami jadi merinding dan bangunan-bangunan kuno di sekeliling kami jadi terasa agak mencekam.  Ia menunjukkan salah satu bangunan bercat biru yang tampak kosong.  Kegelapan mengintip dari sela palang-palang yang melintangi jendela-jendela.  Bangunan itu pasti pernah megah, namun sekarang… “Gelandangan yang tidur di situ, mati dicekik hantu. Kalau pintu dibuka, ada teriakan-teriakan minta tolong dari dalam.”

Entah benar entah tidak.  Namun lega juga rasanya ketika akhirnya betor kami melewati bangunan suram itu.  Mau tidak mau cerita si pengemudi memengaruhi kami juga.  Wah, lebih baik mengisi benak dengan pemandangan malam kota Medan yang lebih menarik, deh – misalnya jejeran lesehan yang menjajakan durian.  Duh, sepertinya durian yang dijual di warung-warung itu lebih mantap daripada yang kami cicipi tadi siang.  Sayang kami tak sempat mampir.

Pengemudi betor mengantarkan kami ke salah sebuah toko bika ambon.  Toko yang menjadi satu dengan rumah sekaligus pabrik kue berwarna kuning khas Medan itu sebenarnya sudah tutup.  Namun pemilik toko bersedia membuka lagi pintu tokonya agar kami bisa masuk.  “Nanti minta cicip ya, biar saya juga dapat,” bisik si pengemudi kepada kami yang hendak melangkah memasuki toko.  Oalah!  Yah, bonus lah ya, karena sudah bersedia mengantar kami mencari bika ambon malam-malam begini.

Pemilik toko dengan sigap menanyakan kapan kami akan pulang.  Esok, jawab kami.  Ia pun menawarkan untuk menyerahkan bika ambon baru yang segar esok hari di bandara.  Malam itu memang masih ada bika ambon tersisa, yang tahan tiga hari, namun tentunya lebih enak bila memperoleh yang baru dibuat keesokan hari. “Sudah biasa kok, misalnya janjian di Dunkin’ Donuts bandara,” katanya.  Namun kami khawatir esok hari malah terburu-buru atau entah apa sehingga tidak bisa menemui ia di bandara dan memilih untuk membawa bika ambon yang ada saja.  Dua kotak pun berpindah tangan.

Oleh-oleh dari Medan memang sudah menjadi bisnis yang digarap serius oleh toko-toko penyedia buah tangan.  Bila membeli Bolu Meranti, misalnya, mereka sudah memiliki kardus-kardus khusus untuk mengemas bolu dalam jumlah tertentu agar aman meskipun dimasukkan ke bagasi pesawat sekali pun.  Ingin membeli sirup markisa namun bingung membawa botol beling ke dalam pesawat karena takut pecah?  Cukup membeli voucher saja, yang nanti ditukarkan dengan sirup markisa di perwakilan di Jakarta.  Mudah!

Keesokan hari, sebelum menuju bandara kami mendatangi dua ikon kota Medan: Masjid Al-Mashun yang terletak di salah satu sudut Simpang Raya dan Istana Maimoon yang terletak tidak begitu jauh dari situ.

Masjid Al-Mashun dibangun di masa pemerintahan penguasa Deli kesembilan, Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam pada tahun 1906.  Arsitekturnya mengagumkan, penuh detail yang menyita perhatian, dengan langit-langit tinggi dan hiasan dalam kubah yang menggoda kita menatap terus-menerus.  Saya menyempat-nyempatkan ‘mengintip’ ke bagian jemaah laki-laki demi melihat mimbar imam.

Tempat mengambil wudu di masjid raya Medan ini dibangun terpisah dari bangunan salat utama, tetap dengan koordinasi warna yang sama.  Bagus sih memang, tapi kalau hujan, bagaimana ya, apa tidak merepotkan?

Masjid Al-Mashun yang menjadi salah satu ikon Medan.

Tempat mengambil wudu.

Di dalam kompleks masjid, juga terdapat pemakaman.

Simpang Raya.

Tujuan berikutnya adalah Istana Maimoon, tempat kedudukan Sultan Deli.  Sultan Deli yang sekarang masih remaja – ia naik tahta ketika ayahandanya tewas dalam kecelakaan pesawat beberapa tahun silam.  Kini ia masih bersekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya yang tidak berdomisili di Medan.  Duduk bersila di lantai, kami mendengarkan penjelasan dari pemandu resmi Istana Maimoon mengenai sejarah ringkas Kesultanan Deli dan Istana Maimoon.  Caranya bercerita asyik; beberapa kali diselingi pantun merayu yang seolah telah menjadi napas orang-orang Melayu.  Sambil mendengarkan sang pemandu, saya mengedarkan mata berkeliling ruangan, berusaha mencerap segala detail yang didominasi warna kuning keemasan dan hijau.

Suasana egaliter di istana ini mungkin cukup mengejutkan kita yang terbiasa membayangkan keluarga kerajaan sebagai sekelompok orang yang jauh dari rakyat.  Singgasana sultan dan permaisuri – yang ngomong-ngomong, sama tingginya – boleh-boleh saja diduduki oleh pengunjung yang notabene adalah ‘rakyat biasa’.  “Kata Sultan, singgasana itu hanya barang, kalau rusak bisa diganti.  Nilai kenangan itu yang penting ada di hati,” tutur pemandu, tanpa menjelaskan sultan mana yang dimaksud.  Tak heran pengunjung sering berlomba-lomba mencicipi duduk bagai sultan di singgasana tersebut.

Bukti lain ke-‘egaliter’-an itu adalah dihuninya sayap-sayap Istana Maimoon oleh sejumlah keluarga.  Risikonya memang bagian-bagian samping istana jadi terlihat ‘agak jorok’ – ini mungkin harus jadi perhatian lebih dari pihak-pihak yang berwenang.  Namun harus diakui keberadaaan keluarga-keluarga itu membuat istana lebih hidup.

Toko suvenir di Istana Maimoon.

Singgasana yang boleh diduduki pengunjung.

Sang pemandu juga mengutarakan mengenai betapa penduduk Medan tidak punya masalah dengan keberagaman.  Sejak lama memang kota ini terkenal sebagai sebuah melting pot, di mana hidup orang-orang dari berbagai kelompok etnik dan latar belakang kepercayaan.

“Saya kangen suasana di sini, yang tidak ada di Jakarta,” kata salah seorang ‘perantau’ dari Sumatera Utara yang serombongan dengan saya.  “Di sini, tidak masalah agama kita Kristen atau Islam atau apa.  Kalau bulan puasa dan Lebaran, kami yang Kristen ikut membantu acara buka puasa, ramai berkunjung ke yang merayakan Lebaran.  Sebaliknya kalau hari Natal.  Di Jakarta, mengucapkan selamat Natal saja tidak boleh…”  Senyum yang membiaskan kenangan dan rasa bangga akan Medan – kebanggaan yang jamak saya temui bila berbicara dengan penduduk di kota itu –  pun terulas di wajahnya.  Senyum harapan bahwa kedamaian di Medan itu juga menyebar ke kota-kota lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: