Kamakura: ‘Kyoto’-nya Jepang Timur

This post is about Japan

Fujisawa!

Pernah dengar nama ini?

Sebelumnya kami tidak.  Kami mampir ke kota ini pun sebenarnya dalam perjalanan menuju ke Kamakura.  Bukannya memilih kereta JR, kami memilih untuk naik kereta api swasta, Odakyu Line, untuk lantas berganti ke kereta legendaris Enoden.  Di stasiun Fujisawa ini kami sempat agak bingung juga, karena sempat harus mencari-cari jalur Enoden.

Tiket terusan ke Hakone dan ke Kamakura.

Bagian luar stasun Fujisawa, yang hanya kami singgahi sebentar saja. Stasiun ini terhubung dengan department store Odakyu, tempat kita bisa mencari oleh-oleh.

Apabila Odakyu Line dilayani oleh kereta yang baru, maka Enoden dilayani kereta klasik berwarna hijau, dengan lantai sebagian gerbong masih terbuat dari kayu.  Kereta Enoden berjalan tanpa pendingin udara, dan bekeretak cukup riuh.  Namun ke Kamakura memang harus mencicipi naik kereta ini – selain mudah menyambangi tempat-tempat pariwisata utama dengan menumpangi kereta tersebut, tentu juga karena nilai nostalgia dan pemandangan yang terpampang di luar jendela.  Saat kami datang di awal musim panas, pemandangan itu berarti bunga ajisai (hidrangea) yang bermekaran dan pantai yang mulai ramai dikunjungi orang.

Enoden yang baru tiba di Stasiun Fujisawa. Eh, ada pernak-pernik Hello Kitty edisi Enoden lho!

Kamakura memang sebuah kota di tepi laut, tidak seberapa jauh dari Tokyo.  Oleh karena itulah kami memutuskan untuk memanfaatkan waktu sehari untuk mengunjunginya (meski kemudian saya berharap seandainya saja saya bisa tinggal lebih lama di kota itu).  Kota kecil, nyaman, dan menyimpan sedemikian banyak peninggalan bersejarah berharga.  Untuk penggemar sejarah Jepang, kota ini punya kedudukan istimewa karena kaitannya yang mendalam dengan keluarga Minamoto.

Perhentian pertama kami adalah stasiun Hase.  Dari sini kami berjalan kaki menuju Kotoku-in, di mana terdapat patung Buddha raksasa (Daibutsu) yang merupakan salah satu daya tarik utama Kamakura.  Kami menyusuri jalan-jalan yang sempit namun ramai pengunjung dan diapit pertokoan yang menjual berbagai penganan dan suvenir khas Kamakura.  Bentuk sejumlah penganan cukup bikin kaget kami yang tak terbiasa: Buddha, baik kepalanya saja ataupun sekujur badan.  Aduh!  Ini nggak apa-apa nih, dimakan?  Kok rasanya agak gentar, ya, meski buat orang Jepang biasa saja.  Kue-kue Buddha itu kami lewatkan, namun kami tergoda juga untuk membeli es krim di salah sebuah toko kecil dekat Kotoku-in.  Es krim teh hijaunya benar-benar segar!

Es krim teh hijau/susu

Sambil masih memegang es krim, kami menuju tempat penjualan tiket masuk ke Kotoku-in.  Harga tiket masuk cukup murah, yaitu 200 yen untuk tiket normal (dewasa), ditambah 20 yen kalau mau memasuki  Daibutsu.  Bersama tiket, kami memperoleh denah kompleks tersebut dan sebuah nomor: 29.  Hmmm… apa maksudnya ya nomor ini?

Seorang petugas dengan santun meminta kami menghabiskan es krim terlebih dahulu sebelum masuk.  Wah, kami pun langsung ngebut menjilati es krim dan membuang sampah yang tersisa ke tempat yang disediakan, lantas melangkah melewati gerbang.  Dan di belakang gerbang… ah, sungguh, sulit saya menemukan kata-kata yang pas untuk menggambarkan kecantikan kompleks Kotoku-in dengan segenap bangunan dan tamannya.  Meskipun ada demikian banyak pengunjung, perasaan damai dan tenang tetap melingkupi segala sudut.  Taman yang ditata dengan cantik, berbagai bangunan dan arca yang terawat, pemandangan yang luas dari lereng bukit, orang-orang yang berdoa dengan khusyuk…  Saya harap sejumlah foto amatiran yang saya ambil berikut ini bisa sedikit menyampaikan keindahan Kotoku-in kepada Anda.

Ngomong-ngomong, mana Daibutsu-nya?  Jadi, setelah kami mendaki beberapa undak-undakan, kami tiba di sebuah pelataran di mana para pengunjung berjejer membentuk barisan mengular.  Lho ada apa ini ada apa ini?  Mata saya mengarah ke atas kepala mereka.  Ada sebuah papan di sana dengan nomor besar-besar tertera, dari 26 sampai 29.  29?  Astaga!  Jadi itu nomor urut kelompok untuk mendaki ke tempat Daibutsu berada!  Dan menurut papan pengumuman itu, jadwal naik kelompok 29 masih 60 menit lagi!

Efek suara saat kami melihat papan pengumuman ini adalah… ‘JEGEEER’

Kaki langsung terasa agak lemas.  Aduh, ingin sih melihat Daibutsu Kamakura, tapi kami tidak yakin bisa berlama-lama di tempat tersebut, karena kami masih ingin mendatangi tempat-tempat lain di Kamakura.  Akhirnya kami memuaskan diri dengan melihat-lihat sekeliling kompleks saja, termasuk ribuan patung Buddha kecil yang dijejerkan rapi, gua di mana terdapat ribuan patung Benzaiten mungil, dan patung-patung Buddha yang imut-imut.

Meskipun Kotoku-in adalah kompleks Buddha, namun torii ini merupakan pertanda bahwa ada tempat suci Shinto juga di kompleks tersebut.

(Ngomong-ngomong, perasaan penasaran kami pada Daibutsu ini nanti ‘terbayarkan’ di Nara, ketika kami melihat Daibutsu terbesar di Jepang.)

Kami kembali berjalan kaki ke stasiun, namun karena perut telah mengeluh lapar, kami membeli bento alias ‘nasi kotak’ (yang sebenarnya dijual dalam wadah berbentuk segi delapan yang dikemas cantik sekali) dari penjual yang mangkal di depan stasiun.  Ibu-ibu yang menjual nasi kotak itu sangat ramah, mengajak kami mengobrol meskipun bahasa Inggrisnya terbatas.  Penasaran, teman saya menanyakan lauk apa saja yang tersaji dalam bento tersebut.  Bukan apa-apa, ingin tahu saja, meskipun jelas lauk-pauk tersebut adalah telur dan makanan laut, mengingat letak Kamakura yang di tepi laut.  Eh, si ibu langsung menjawab semangat, “No pork, no pork!”  Eh?  Padahal kami tidak menunjukkan indikasi kami tidak makan babi, lho.  Namun mungkin si ibu sering ditanyai begitu, ya, sehingga sudah siap dengan jawabannya.

Mau buka bungkusnya agak sayang…

Hidangan khas Kamakura tentu saja adalah makanan laut.

Persoalan berikut adalah mencari tempat makan yang santai.  Tetap dengan ramah, ibu itu menganjurkan agar kami pergi ke pantai saja untuk makan.  Pantai?  Hmm… boleh juga.  Maka kami pun menyusuri jalan yang mengarah ke Pantai Yuigahama, pantai utama kota Kamakura, sambil melihat-lihat lebih jauh kota yang tenang itu: rumah-rumah dan toko-toko mungil yang cantik, jalan-jalan yang sempit, udara yang segar… apa yang saya lihat dan rasakan membuat saya semakin jatuh cinta pada Kamakura, dan langsung menyimpan tekad untuk kembali lagi suatu hari nanti untuk menikmatinya lebih lama.

Hari itu, meskipun langit agak mendung dan laut terlihat kelabu, cukup banyak juga orang yang piknik di Yuigahama.  Nah, mereka rata-rata membawa tikar sendiri-sendiri.  Kami?  Tanpa persiapan.  Akhirnya kami mengurungkan niat makan-makan di pantai, lagipula alas kaki teman-teman saya bukan tipe yang enak dipakai di pantai.  Kami akhirnya nekad saja duduk di sebuah tembok rendah dan membuka bento kami serta mulai menyantapnya.  Preman sajalah gayanya… sebodo amat kalau ada yang memperhatikan.  Eh, ada seorang anak kecil lewat bersama ibunya, dan ia berhenti lalu memandangi kami, kemudian berkata dengan manis sekali, “Oishii... (enaknya…)”  Yang malu malah ibunya.  Sambil tertawa kepada kami, ia separuh menyeret anaknya pergi.  Hahaha… padahal kami malah berpikir anak itu lucu sekali kok, Tante…

Pantai Yuigahama

Kenyang makan siang, kami kembali ke stasiun dan menumpangi Enoden lagi menuju Stasiun Kamakura.  Sekeluar dari stasiun tersebut, kami menapaki jalan Komachi-dori, salah satu tempat perbelanjaan utama Kamakura.  Pssst… buat yang suka Ghibli, di sini ada lho toko khusus pernak-pernik Ghibli.  Sejumlah barang yang ditawarkan belum tentu dijual juga di toko di Museum Ghibli di Mitaka.

Hayo… siapa yang menanti Anda di sudut itu…

Kami memutuskan untuk menjajal menaiki jinrikisha (‘rickshaw’) ke Tsurugaoka Hachimangu jinjaJinrikisha Ebisu-ya ini terorganisasi dengan baik, dengan staf yang saling berhubungan dengan walkie talkie.  Karena kami memerlukan dua jinrikisha sementara yang tersedia baru satu, kami diminta menunggu terlebih dahulu.  Staf yang mengurusi kami – sayang saya lupa namanya – menanyakan apakah kami dari Thailand.  Bukan, jawab kami, dari Indonesia.  Dan tahu-tahu saja ia mengajak kami berbicara dengan beberapa frasa bahasa Indonesia dengan cukup lancar!  Woh!  Ternyata dia mengaku pernah menghabiskan waktu cukup lama di Bali.  Lumayan kan, kata-kata yang ia pelajari jadi modal membuat para turis dari Indonesia ini senang sekaligus agak ngeri (“Eh, tadi kita nggak ngomong yang aneh-aneh kan?  Dia ngerti nggak ya?”)

Akhirnya, setelah lengkap dua jinrikisha yang kami minta, dan kaki kami telah diselimuti, kami pun berangkat!  Kami memilih paket 3000 yen untuk berdua.  Tak lama memang, hanya berkeliling sebentar lalu diantar ke Tsurugaoka Hachimangu jinja.  Kami dapat bonus selembar stiker yaitu stiker musim panas, berhubung saat itu bulan Juni.  Kalau kita bisa mengumpulkan empat stiker musim berbeda, kita akan memperoleh kenang-kenangan dari Ebisu-ya.  Menumpang jinrikisha selama lebih dari 20 menit, lebih dari sejam, dan lebih dari tiga jam, juga akan mendapatkan hadiah tersendiri.

Turunan dan rel kereta api pun diterabas cepat. Kami yang menumpang yang agak ngeri…

Terima kasih, pak penarik jinrikisha!

Kami dibuat terkagum-kagum oleh para penarik jinrikisha, yang tidak saja kuat berlari-lari menarik kereta kecil beroda dua yang ditumpangi dua orang, melainkan juga tetap bisa mengobrol ramah dengan kami dan menjadi pemandu yang menerangkan berbagai hal yang kami lihat.  Sewaktu hampir tiba di Tsurugaoka Hachimangu, sempat pula ia mengetes pengetahuan kami.  “Hayo, apa bedanya temple dengan shrine?”

Ini contekannya buat Anda: yang disebut shrine alias jinja adalah tempat peribadahan umat Shinto, dengan ciri khas gerbang torii berwarna merah di bagian depan.  Di peta, biasanya shrine ditandai dengan sebentuk torii kecil, contohnya Tsurugaoka Hachimangu-jinja yang sedang kami singgahi.  Sementara, temple adalah tempat peribadahan umat Buddha, tanpa ada torii, dan di peta biasanya ditandai dengan swastika, misalnya Kotoku-in (tempat Daibutsu Kamakura bersemayam) dan Jyufuku-ji.

Kompleks Tsurugaoka Hachimangu jinja telah menjadi tempat peribadahan bahkan sebelum Minamoto no Yoritomo datang ke Kamakura… dan dia datang di tahun 1180.  Di kompleks ini, terdapat panggung di mana Shizuka Gozen menari, namun sayangnya tak sempat kami lihat.  Hari itu perhatian kami tersita oleh sebuah perhelatan yang kami anggap bagian dari keberuntungan kami sebagai tamu: pernikahan tradisional yang sedang berlangsung.  Tentu tidak kami sia-siakan kesempatan menjadi ‘tamu menonton doang’ yang ikut menikmati keindahan khidmat upacara itu.  Orang-orang, kenal ataupun tidak dengan pasangan pengantin, dengan wajah bahagia ikut mengucap omedetou (‘selamat’).  Maaf foto-foto pengantin tidak bisa kami pajang, meskipun mereka mengizinkan kami mengambil gambar mereka dari depan ketika melangkah keluar dari jinja.

Torii di depan Tsurugaoka Hachimangu-jinja.

Pemusik dalam upacara pernikahan tradisional yang kami saksikan.

Saat duduk-duduk beristirahat di samping bangunan utama, baru terasa kalau kami lelah.  Kaki belum mau diajak kompromi berdiri dan berjalan lagi, tapi hari semakin sore – sudah hampir waktunya kami meninggalkan Tsurugaoka Hachimangu yang akan segera tutup.  Kami pun kembali ke stasiun, kali ini berjalan kaki (berkat semangat yang mendadak muncul lagi) melewati rute berbeda dengan yang tadi ditempuh jinrikisha.  Bunga ajisai yang juga ditanam dalam pot-pot di stasiun seolah mengantarkan kepergian kami dari kota yang pernah menjadi ibukota Jepang di masa lalu itu.

Bagaimana kami mencapai Kamakura

Kami membeli Enoshima-Kamakura pass seharga 1430 yen (harga dewasa normal) yang berlaku untuk satu hari di Stasiun Shinjuku, Tokyo.   Dengan tiket ini kami bisa menumpang kereta Odakyu dari Shinjuku ke Fujisawa, lalu meneruskan perjalanan ke Kamakura dengan kereta Enoden, atau meneruskan naik Odakyu ke Enoshima.  Antara Shinjuku dan Fujisawa, kami tidak boleh turun kereta seenaknya.  Namun dari Fujisawa-Kamakura atau Fujisawa-Enoshima, kami bebas naik-turun di setiap stasiun karena kedua rute ini yang dihitung sebagai rute bebas.

4 Comments (+add yours?)

  1. Anis
    Jan 05, 2012 @ 07:07:35

    Wah ternyata tulisan tentang Jepangnya masih berlanjut. Tapi aku malah jadi bingung nih, mending ke Yokohama atau ke Kamakura ya?

    Reply

    • lompatlompat
      Jan 05, 2012 @ 07:13:47

      Halo mbak🙂 Iya masih berlanjut. Kami juga belum turunkan soal Kyoto, Nara dan ulasan lebih mendetail soal Tokyo.

      Hmmm kalau sempat mungkin ke Kamakura saja mbak. Karena dia berbeda sekali dari Tokyo (dan Hakone). Yokohama kota modern. Kecuali mbak memang punya tempat yang ingin sekali didatangi di Yokohama, entah itu Chinatown, museum ramen atau apa.

      Reply

      • Anis
        Jan 05, 2012 @ 07:34:28

        Oh jadi kalo suka yg modern, mending ke Yokohama. Kalo suka yg heritage, mending ke Kamakura gitu ya.
        Btw, bakal ada tulisan tentang Kobe nggak? Kayaknya saya bakal 1 hari di Kobe.

      • lompatlompat
        Jan 05, 2012 @ 07:37:18

        Kira2 begitu Mbak. Yokohama juga banyak peninggalan tradisionalnya tapi tidak ‘sekental’ Kamakura. Wah sayang kami nggak sempat ke Kobe waktu itu. Mungkin kapan-kapan. Kalau Mbak yang duluan ke sana nanti, cerita-cerita ke kami ya!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: