Sejarah Bangsa di Intramuros

This post is about The Philippines

“Maaf, saya terlalu banyak berbicara ya?”

Saya hanya tertawa mendengar pertanyaan supir taksi ramah yang nyaris tanpa putus mengajak saya mengobrol sedari bandara.  Berbagai hal ia tanyakan, mulai dari wajah saya yang menurutnya mirip wajah orang Filipina, sampai agama mayoritas di Indonesia.  Sebagai balasan, ia juga memberi tahu saya mengenai berbagai hal yang bagi saya baru sama sekali di Manila, misalnya bagaimana menumpangi jeepney, angkot ala Filipina yang menjadi salah satu ‘trademark’ negara tersebut.

Padahal sewaktu akan berangkat ke Filipina, saya sempat was-was juga.  Saya datang ke Manila untuk suatu urusan, namun ternyata acara tersebut batal, sementara tiket pesawat dan hotel tidak bisa saya gugurkan.  Akhirnya saya memutuskan tetap berangkat, sendirian, karena sayang betul kalau semua pesanan saya hangus.  Lagipula, tidak ada salahnya menapaki negara yang belum pernah saya kunjungi, kan?

Sedikit pemandangan Manila – tepatnya di Pasay City.

Teman saya yang saya ajak ke Manila menolak karena sejumlah alasan, salah satunya karena menurut adiknya, negara itu tidak aman.  Hmm, iya sih.  Salah satu yang cepat melintas di benak orang saat mendengar nama Filipina adalah gelombang kekerasan yang kerap terjadi terutama di selatan Filipina.  Namun saya membesarkan hati saja.  Kota tempat saya bekerja, Jakarta, juga bukan kota yang aman.  Dan di negara saya pun kerap terjadi kekerasan di sana-sini, tapi  ternyata tidak berpengaruh ke bagian-bagian lain negara, kan?  Lagipula di Manila, telah menanti teman-teman saya yang dengan baik hati menawarkan ‘mengadopsi’ saya selama dua hari.

Saya berangkat ke Filipina dengan pesawat Cebu Pacific yang meninggalkan tanah air selepas tengah malam, lengkap dengan keterlambatan satu jam.  Pesawat tiba sekitar pukul 7 pagi di Terminal 3 Ninoy Aquino.  Ini bandara Manila yang dekat dengan ibukota Filipina tersebut.  Bila menggunakan AirAsia, Anda akan diantarkan sampai Bandara Clark, yang letaknya lebih jauh dari kota tersebut.

Salah satu hal yang kerap diwanti-wantikan kepada para wisatawan yang mengunjungi Filipina adalah berhati-hatilah dengan taksi.  Wujud mobilnya seringkali sudah tua dan tidak terawat, ditambah supirnya ogah menggunakan argo.  Namun, sekarang dari bandara sudah ada jasa taksi yang diawasi ketat dengan armada yang seluruhnya baru.  Di T3 Ninoy Aquino, ikuti saja papan penunjuk untuk mencapai tempat mengantri taksi.  Petugas akan membantu kita memperoleh salah satu taksi berwarna kuning.  Selain taksi kuning yang berargometer, ada pula taksi sewaan dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya.  Taksi model seperti ini tidak hanya berupa sedan, melainkan juga minivan, sehingga lebih pas untuk rombongan agak besar yang ingin tetap bersama-sama.

Selain taksi bandara yang berwarna kuning, taksi di Manila rata-rata berwarna putih polos, atau paling banter  dihiasi sedikit hiasan warna lain, hijau misalnya.  Sebagian mobil yang dioperasikan memang sudah butut – secara umum taksi-taksi di Jakarta masih jauh lebih bagus.  Untunglah selama di sana, saya tidak memperoleh pengalaman buruk dengan taksi.   Barangkali sih karena saya selalu disertai teman-teman saya yang asli Filipina ke mana-mana sehingga saya ‘aman’, tidak kena tipu.  Portir hotel juga membantu mencek apakah argometer sudah berjalan sebelum taksi saya meninggalkan hotel.

Namun kesan terkuat yang saya peroleh dari para bapak supir adalah mereka ramah-ramah dan gemar mengobrol.  Mungkin berkat penguasaan bahasa Inggris mereka yang juga cukup bagus, mereka juga tidak segan mengobrol dengan tamu asing sekali pun, seperti supir taksi yang saya kisahkan di awal tulisan ini.  Tawa mereka mewarnai perjalanan saya, menipiskan rasa ciut di hati karena berada di tempat yang asing bagi saya.

Taksi jugalah yang kami gunakan menuju salah satu daya tarik utama wisata di Manila, Intramuros, yang hanya berjarak beberapa menit dari hotel saya.  Intramuros yang dibangun Spanyol adalah kawasan kota tua Manila yang dikelilingi kubu-kubu pertahanan, seperti tercermin oleh namanya yang berarti ‘dilingkungi tembok’.

Salah satu bangunan bergaya Eropa di Intramuros.

Bangunan-bangunan yang masih ada di dalam Intramuros sangat bercirikan Eropa.  Kebanyakan sekolah tadinya juga berada dalam Intramuros, sebelum akhirnya Manila mengembang ke segala arah keluar dari kota berbenteng tersebut.  Sekarang ada beberapa universitas di dalam kawasan itu,  dan sejumlah bangunan kuno yang ada dialihkan menjadi asrama atau kantin bagi para mahasiswa.

Setiba di Intramuros, terlebih dahulu kami menyantap sarapan di salah satu cabang Chow King yang terletak di seberang basilika Manila.  Jaringan restoran Chow King ini juga ada di Jakarta, namun menu yang dijual banyak sekali perbedaannya.  Yang jelas, sebagian hidangan tersebut tidak halal.  Di Manila memang sulit kalau mau mencari restoran yang menjamin hidangannya disiapkan memenuhi persyaratan agama Islam.  Bahkan sepertinya di Vietnam masih lebih mudah menemukan restoran yang (setidaknya) memajang label ‘halal’.  Teman saya bahkan berkata sampai ragu mengajak teman lain dari Malaysia untuk bertandang ke Manila gara-gara hal itu.  “Mungkin sebaiknya kuajak ke Filipina Selatan saja,” katanya, menyebutkan bagian Filipina di mana banyak terdapat umat Muslim.

Beef tapa dan siomay daging sapi yang dijual di Chow King cabang Filipina.

Orang Filipina tidak memadukan ayam goreng ala restoran cepat saji Amerika dengan sambal seperti kebiasaan kita, melainkan dengan gravy (semacam saus kaldu kental).  Teman saya sampai berseloroh, makan ayam goreng tidak lengkap rasanya tanpa gravy.  Menurut mereka, di KFC boleh mengambil gravy sepuasnya, sehingga bisa saja kita hanya pesan nasi tok, lalu mengambil gravy sebanyak-banyaknya sampai jadi sup.  Tapi saya tidak sempat mencoba saran ini, sih, hehehe.

Dan kalau melihat paket ‘super sulit’ dijual di restoran, jangan cemas, karena itu sebenarnya berarti ‘super hemat’.  Sementara ‘sarap’ berarti ‘lezat’!

Katedral Manila.

Setelah mengisi perut, kami menyeberang jalan dan melintasi sebuah taman menuju Katedral Manila yang berstatus sebagai ‘basilika’.  Bangunannya sungguh megah dan menggetarkan hati, namun konon pasangan yang menikah di situ justru tidak akan memperoleh pernikahan yang awet.  Legenda ini lahir dari banyaknya pasangan selebritis yang mengikat janji di basilika tersebut namun berujung pada perceraian.  Entah benar atau tidak.  Yang jelas, basilika tersebut tetap laris sebagai tempat melangsungkan pernikahan, dan harus dipesan jauh-jauh hari sebelumnya.

Hari itu pun saat kami berada di sana, sedang berlangsung upacara pernikahan yang khidmat.  Pengunjung tetap boleh masuk, namun tidak boleh memasuki dan memotret ruang utama katedral demi menghormati pasangan yang sedang berbahagia.  Akhirnya, saya pun harus cukup puas dengan memasuki ruang-ruang samping yang dihiasi jendela-jendela mosaik indah.  Sejumlah karya seni religius dan berbagai pajangan yang menerangkan berbagai hal tentang agama Katolik dipajang di ruang-ruang itu.

Setelah bertamu ke basilika, kami menuju bekas benteng Spanyol yang menghadap Sungai Pasig, Fort Santiago.  Sebagian bangunan di dalam kompleks itu sudah tinggal reruntuhan, namun masih banyak juga yang terawat baik.  Kami membayar tiket masuk sebesar 75 PHP untuk orang dewasa (50 PHP untuk pelajar), lantas melangkahkan kaki memasuki area pertama Fort Santiago, sebuah taman luas yang dihiasi sejumlah air mancur dan bangku yang nyaman.  Tak heran cukup banyak orang yang memanfaatkan taman ini untuk bercengkerama.

Kios tiket Fort Santiago.

Sudut taman di sebelah depan Fort Santiago.

Salah satu alasan Fort Santiago begitu spesial adalah di sinilah kita bisa mempelajari sejarah Filipina sebagai sebuah bangsa, karena di sinilah tempat salah seorang pahlawan terbesar mereka, Jose Rizal, ditahan sebelum kemudian dihukum mati.  Sebuah museum untuk mengenang beliau berdiri di salah satu pojok taman, sementara di jalan, kita dapat melihat tapak-tapak dari logam yang menjadi penanda rute yang ditempuh Jose Rizal dengan berjalan kaki dari selnya menuju Rizal Park tempat ia dieksekusi.

Di balik gerbang ini, berbagai kenangan akan Jose Rizal tersimpan.

Kenangan akan sang dokter sekaligus penyair itu terpancar begitu kuat di area tersebut.  Suasana khidmat, namun tidak suram: kematian Jose Rizal membuka jalan bagi kebangkitan sebuah bangsa.  Museum memorial Jose Rizal ditata sederhana, namun meninggalkan kesan kuat.  Syair-syair karya beliau dalam berbagai bahasa dipajang di dinding-dinding museum.  Kutipan-kutipan beliau yang membakar semangat kebangsaan disusun dalam pajangan lampu, menghiasi sel beliau yang dibiarkan polos tanpa hiasan seperti saat masih digunakan.  Para perancang museum rupanya sadar benar bahwa keagungan Jose Rizal justru memang sungguh terasa dalam kesederhanaan ini.

Patung Jose Rizal seukuran aslinya. Dari sini tapak-tapak kaki logam yang menapak tilas perjalanannya menjemput ajal bermula.

Museum kenangan untuk Jose Rizal, tak tampak mencolok di pojokan.

Sel Jose Rizal.

Senjata Jose Rizal adalah kata-kata: maka museum untuk mengenang beliau pun didominasi kata-kata.

Salah satu terjemahan puisi Jose Rizal dalam bahasa asing.

(O ya, sebagai catatan, di dalam museum, tidak boleh memotret menggunakan blitz.)

Keluar melalui pintu belakang museum, kami menyusuri bagian atas benteng, menuju sebuah museum lain, yang menyimpan perabotan, pakaian, foto-foto, dan silsilah Jose Rizal.  Untuk memasuki tempat ini, harus membayar ekstra 10 PHP.  Yang menyedihkan, di dalam museum ini, saya melihat seorang wisatawan lokal dengan seenaknya memanjat pagar pembatas demi bisa berfoto duduk di salah satu kursi yang dipamerkan.  Duh!

Ini adalah koridor di atas tembok benteng.

Museum yang menyimpan barang-barang Jose Rizal.

Sekeluarnya dari museum kecil tersebut, kami menuju bagian benteng yang menghadap Sungai Pasig, ‘Chao Phraya’-nya Manila.  Dari bagian atas benteng itu, kami bisa melihat jejeran sel tahanan yang membuat bergidik.  Sel-sel itu bisa kami lihat karena atapnya sudah hilang.  Terlihatlah ruangan-ruangan sempit berkalang batu jauh di bawah sana, yang bisa dicapai hanya dengan tangga curam atau lorong yang entah berujung di mana… atau jangan-jangan ada juga tahanan yang didorong begitu saja sampai jatuh ke bawah sana?

Puas dibuai angin dari Sungai Pasig, kami kembali ke depan Fort Santiago.  Setelah tawar-menawar sedikit (kami membayar 500 PHP untuk naik satu kereta berlima, umumnya satu kereta hanya untuk bertiga dengan tarif 350 PHP), kami pun menumpangi sebuah casela (kereta kuda) mengelilingi Intramuros.  Seperti juga supir-supir taksi, sang kusir sangat ramah dan banyak bicara, hanya saja ia lebih banyak mengobrol dalam bahasa Tagalog.  Dan rupa-rupanya, ia mengira saya dari Korea sehingga memperkenalkan kelapa dan mangga kepada saya.  Aduh Pak, itu sih di negara saya juga banyak, hehehe…

Casela yang kami tumpangi, beserta kusirnya yang ramah.

Saya duduk samping Pak Kusir yang sedang bekerja mengendali kuda supaya baik jalannya

Kapan saja mau berhenti untuk melihat-lihat dan memotret,  kusir akan menunggu dengan sabar.  Ia juga menjadi pemandu yang memperkenalkan berbagai bangunan kepada kami.  Tanpa terasa, perjalanan kami mengelilingi Intramuros pun usai.  Ia mengantarkan kami sampai kembali ke depan katedral, dan kami pun menuju Rizal Park dengan naik jeepney.  Apa yang bisa ditemui di sana?  Tunggu kelanjutan tulisan ini, ya!

5 Comments (+add yours?)

  1. Ifa
    Nov 16, 2011 @ 01:53:32

    ‘Super Sarap’ berarti sangat enak hihihihi

    ditunggu cerita selanjutnya🙂

    Reply

  2. Fahrie Sadah
    Dec 18, 2011 @ 06:03:18

    Intramuros? Hmm…

    Reply

  3. mikhafam
    Jul 14, 2012 @ 05:00:47

    gimana sih caranya biar bisa dapet tiket promo dari pesawat cebu yang murah gitu?

    Reply

    • lompatlompat
      Jul 16, 2012 @ 02:05:40

      Ikuti saja twitter Cebu Pacific Mas… Kalau ada promo mereka pasti akan pengumuman di situ. Tinggal cek dan sesuaikan dengan jadwal kita… Semoga sukses ya…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: