Museum Ghibli, Mitaka, Jepang

This post is about Japan

Studio Ghibli!  Nama besar di kalangan pencinta animasi, apalagi animasi Jepang.

Miyazaki Hayao, otak di balik studio tersebut, punya impian mengenai sebuah museum yang tak hanya menampung berbagai memorabilia namun juga menunjukkan proses pembuatan film animasi.  Tempat bersenang-senang memuaskan imajinasi sekaligus belajar.

Sebenarnya, jujur, saya tidak tahu banyak mengenai Ghibli.  Hanya dua film buatan mereka yang pernah saya tonton.  Namun teman-teman yang sangat menyenangi Ghibli sangat bersemangat untuk mengunjungi museum tersebut, membuat saya ikut bergairah juga.  Dan ternyata… suka ataupun tidak kepada Ghibli, museum ini pasti memincut hati Anda!

Museum Ghibli, dilihat dari samping. Hmmm… kepala siapa itu yang menyembul di atap bangunan?

Sekarang mari kita mulai dari yang paling awal dulu… bagaimana membeli tiket ke Museum Ghibli?  Di beberapa negara ada perwakilan resmi penjualan tiket, namun berhubung di Indonesia belum ada, maka kita baru bisa membeli tiket setelah menjejakkan kaki ke Jepang.  Tiket dapat dibeli di mesin-mesin tiket di LAWSON Convenience Store.  Instruksinya bisa dibaca di sini.  Namun bila ternyata Anda tetap bingung juga, jangan ragu meminta tolong penjaga toko.  Harga tiket bervariasi sesuai usia – untuk 19 tahun ke atas, harganya adalah 1000 yen.

Yang perlu Anda perhatikan:

  1. Museum buka dari pukul 10 sampai 18, namun Anda tidak bisa masuk sembarang waktu.  Pintu gerbang dibuka hanya 4 kali sehari, dan Anda harus masuk sesuai tanggal dan jam yang telah Anda pilih dan tertera di tiket Anda.  Jadi, jangan sampai telat!  Namun setelah berada di dalam, Anda bebas kok menghabiskan waktu sampai museum tutup kalau perlu.
  2. Museum tutup setiap Selasa.

Karena kami memilih masuk pukul 10, pagi-pagi kami sudah berangkat meninggalkan Ikebukuro menuju Shinjuku, untuk menaiki kereta Chuo Line menuju Mitaka.  Sesampainya di Mitaka, ternyata pukul sepuluh pagi masih lama.  Kami memutuskan untuk sarapan dulu di sebuah kafe kecil namun apik bernama Shimore yang terletak dekat halte community bus yang ulang-alik dari stasiun ke Museum Ghibli.

Museum Ghibli memang kebanggaan Mitaka.  Kafe Shimore dihiasi pernak-pernik film-film Ghibli.  Kantor informasi pariwisata yang terletak tepat di samping Shimore pun memajang sebuah boneka totoro di depan etalase.  Hal ini membuat kami semakin tidak sabar saja rasanya untuk segera tiba di Museum Ghibli.  Tapi bersantai menikmati menu sarapan di Shimore juga ternyata amat menyenangkan!  Keakraban tampak di antara para pelanggan tetap dan satu-satunya pramusaji yang bertugas – seorang ibu-ibu yang amat ramah.

Dengan perut dan hati hangat, kami pun menuju halte community bus.  Tarif bis ini adalah 200 yen sekali jalan, atau 300 yen bila membeli tiket pulang-pergi.  Bila Anda punya banyak waktu dan ingin melihat-lihat, sebenarnya museum tercapai kok dengan berjalan kaki dari stasiun.  Berjalan di Mitaka membuat kita lupa bahwa pusat kota Tokyo yang hiruk-pikuk sebenarnya berjarak tidak jauh.

Sampai di museum, ternyata waktu belum menunjukkan pukul sepuluh.  Kami pun melihat-lihat dulu bagian samping museum yang terletak di sebuah taman dan hanya dipagari rendah ini.  Jeprat-jepret dulu, karena di dalam museum nanti tidak boleh mengambil foto sama sekali.  Di atap atau di halaman boleh, tapi tidak di sebelah dalam.

Karena itu maaf bila kami tidak bisa menyajikan foto-foto bagian dalam museum.  Biarlah itu menjadi misteri yang menggelayuti benak Anda sampai Anda berkesempatan melihatnya sendiri…

Pukul sepuluh, gerbang depan dibuka.  Pengunjung terlebih dahulu menuju kasir tiket untuk menukar bukti pembelian tiket di LAWSON.  Setelahnya, mereka antri dengan tertib untuk memasuki museum.  Mbak-mbak dan mas-mas penjaga yang senantiasa tersenyum ceria selalu siap membantu.

Eh, siapa tuh yang ngintip di balik kasir…

Akhirnya… pintu depan museum pun dibuka.  Pengunjung bergiliran masuk dan menukarkan tiket dengan tanda masuk yang berbentuk seperti potongan reel film.  Cenderamata yang unik!

Baru di ruangan pertama pun hati yang bergejolak seperti mau lepas kontrol.  Ada begitu banyak hal menarik yang dipajang di lantai bawah.  Dasar-dasar animasi dan pembuatan animasi diperkenalkan di sini.  Usia pun terlupa, ingin rasanya menempelkan wajah di kaca yang mengelilingi sebagian pajangan agar bisa melihat lebih jelas.

Belum lama kami menengok-nengok lantai bawah, para penjaga mengumumkan bahwa pemutaran animasi spesial – yang berlangsung satu kali setiap kali pintu museum dibuka – akan segera dilangsungkan di Teater Saturno.  Kami pun bergegas masuk untuk menemukan tempat duduk yang enak.  Selama beberapa menit pun kami menikmati sajian film pendek yang meski sederhana namun menyentuh – mengingatkan lagi akan ‘keajaiban’ animasi yang menghibur anak-anak maupun orang dewasa.

Setelahnya kami bebas menjelajahi museum luar-dalam atas-bawah.  Di lantai atas museum, tak hanya pemaparan seluk-beluk pembuatan film, kita juga bisa melihat ruang kerja Miyazaki, model-model bangunan yang muncul dalam film-film Ghibli (misalnya toko topi Sophie dalam Howl’s Moving Castle atau warung makan yang muncul dalam Spirited Away), dan merasakan duduk di dalam nekobus.  Ada dua nekobus, yang satu untuk dewasa dan satu lagi untuk anak-anak.  Sayang orang dewasa tidak boleh ikut merasakan nekobus anak-anak, hehehe…

Di lantai atas juga terdapat toko buku khusus buku-buku yang berkaitan dengan Ghibli dan toko cenderamata yang dijamin membuat pengunjung kalap mendadak.  Jadi siap-siap saja deh dengan metode pembayaran yang Anda miliki sebelum masuk ke toko-toko tersebut, apalagi bila Anda memang penggemar Ghibli.  Dalam beberapa menit saja, bisa-bisa Anda telah berdiri sambil memegangi berkantong-kantong belanjaan, dan menghibur diri sendiri dengan kata-kata “Habisnya kalau di Indonesia nggak mungkin kan beli ini semua…”

Museum ini benar-benar menyenangkan, bahkan sampai ke toilet-toiletnya sekali pun.  Dan bila naik ke atap, Anda akan menjumpai yang ada di foto-foto berikut ini.

Ini di atap, lho!

Keren kan?

Bila lapar atau haus, bisa segera menuju restoran Straw Hat yang ada di belakang bangunan museum.  Sayangnya, biasanya kita harus mengantri cukup lama untuk mendapatkan giliran bersantap di restoran ini.   Bila tidak punya cukup waktu atau memang sudah kelaparan, ada kios yang menjual hotdog, es krim, dan minuman dingin di samping restoran tersebut.  Sungguh nikmat rasanya mengisi perut sambil duduk di bangku-bangku taman yang menghadap ke arah rimbunan pepohonan, ditemani angin sepoi-sepoi.

Yang ini ayam isinya.

Jadi bila Anda ke Tokyo, sempatkan memanjakan fantasi Anda dengan mengunjungi museum ini.  Segarkan kembali ingatan akan masa kanak-kanak Anda.

2 Comments (+add yours?)

  1. O'o Murbiyanto  (@o2zone)
    Dec 23, 2012 @ 05:25:05

    Hallo, kalo boleh tau berapa lama durasinya ya muter muter di dalem? dari jam 10:00 selesai tuh jam berapa? apakah seharian? kira kira kalo masuk jam 12:00 puas ngga ya?

    Reply

    • lompatlompat
      Jan 03, 2013 @ 10:20:41

      Halo! Aduh maaf banget baru balas karena saya sendiri baru balik dari Jepang. Sekali masuk terserah sih kita mau berapa lama di dalam sampai tutup. Mungkin rata-rata orang di dalam selama dua-tiga jam. Jam 12 juga puas kok🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: