Museum si Pangeran Kecil di Hakone

This post is about Japan

Hakone.  Kota kecil, sekitar 115 menit naik kereta biasa ke sebelah barat daya Tokyo, terkenal karena pemandian air panasnya.  Sepi, dibangun mengikuti kontur gunung.  Pukul delapan malam saja toko-toko sudah tutup, dan nyaris tak ada yang berkeliaran selain turis-turis bertampang bingung seperti kami yang mengira kota itu akan sama hiruk-pikuk sampai jauh malam seperti Tokyo.

Namun siapa sangka di kota kecil itu, terletak sejumlah museum yang menyimpan warisan seni dunia dari berbagai penjuru.  Ada POLA Museum of Art; Hakone Glass Forest Venetian Glass Museum; Lalique Museum; Open-Air Museum; dan yang membuat kami penasaran… museum Le Petit Prince dan Saint-Exupéry.  Terus terang, sampai tiba di Hakone, saya tak tahu keberadaan museum ini.  Sewaktu menemukannya di peta wisata, hati saya pun tergelitik, terkenang akan buku yang saya baca bertahun-tahun lalu.  Mengapa museumnya bisa ada di kota yang mungkin namanya saja kalah kesohor dari kota-kota lain di Jepang?

Baiklah, sebelumnya, mari bicara tentang cara mencapai Hakone.  Kami naik kereta lokal Odakyu Line dari Shinjuku, setelah sebelumnya membeli freepass untuk 2 hari seharga 5000 yen di Shinjuku. (Freepass ini, ada juga yang berlaku untuk 3 hari seharga 5500 yen, bisa dibeli di semua stasiun Odakyu Line.)  Sebenarnya, dengan menambah 870 yen/orang, kami bisa mencicipi Romance Car yang lebih cepat dan nyaman, namun saat itu kami memutuskan untuk berhemat.

Freepass Hakone. Dan jempol tangan kiri saya. (Siapa tahu Anda bertanya-tanya.)

Dengan freepass ini, kami tak perlu lagi repot-repot memikirkan transportasi bolak-balik Shinjuku-Hakone.  Kami juga bebas menggunakan berbagai transportasi di dalam Hakone, mulai dari bis, kereta Tozan, cablecar Tozan, ropeway, sampai kapal pariwisata Danau Ashi.  Di 50 fasilitas Hakone kita juga bisa memperoleh diskon, cukup dengan menunjukkan freepass di tempat-tempat yang memajang lambang burung pelatuk biru-merah.

Baiklah, mari berfokus kepada Museum Le Petit Prince.  Terpaksa segala sesuatu saya cepatkan dulu.  Kami telah tiba di stasiun Gora, tempat pertemuan beberapa moda transportasi umum di Hakone. Di halte depan stasiun kami menunggu bis S, yang rutenya digambarkan berwarna ungu tua di peta-peta pariwisata.  Mengingat bis S melintasi halte ini dua kali dalam perjalanan bolak-balik menempuh rutenya, pastikan kita menaiki bis dengan arah yang benar – yang menuju Shisseikan-mae.  Tanyakan saja pada supir, “Hoshi no Oujisama e?”, dan bila ia menjawab ya, monggo naik ke bisnya.

Bis S, yang supirnya pasti sudah sering mendengar kata-kata “Hoshi no Oujisama…”

Bis pun menempuh jalanan di gunung yang berkelok-kelok.  Sebelah kiri dan kanan jalanan pemandangan masih sangat asri, dengan pepohonan besar yang menaungi.  Rumah atau bangunan di tepi jalan tak selalu ada.  Saya jadi berpikir: mungkin memang pas juga, ya, museum Le Petit Prince dibangun di tempat seperti ini.  Senyap, rindang, langit terbuka luas, dengan pegunungan di latar belakang.

Sewaktu turun di depan Museum Le Petit Prince, saya terperangah.  Tentu saya sudah menduga bahwa bangunan museum akan bergaya Eropa.  Namun tetap saja rasanya terkejut ketika museum tersebut benar-benar mewujud di depan mata.  Pagar putih memisahkan area museum dari sekelilingnya, namun sekaligus tampak hangat dan mengundang.  Bendera tricolore Prancis berhiaskan ilustrasi si pangeran kecil karya Saint-Exupéry melambai pelan.

Seperti anak kecil lagi rasanya ketika memasuki area museum.  Kami disambut kolam dengan patung planet sang pangeran kecil dan fasad bangunan yang bergaya pedesaan Prancis.  Setelah membeli tiket dewasa, kami menuju pintu masuk museum dan disambut wangi mawar.  Dekorasi tambahan museum berubah-ubah sepanjang tahun, seturut hari besar atau musim yang sedang dirayakan.  Kali ini temanya adalah mawar – bunga yang juga berperan penting dalam cerita Le Petit Prince.  Brosur museum pun dibuat berbentuk mawar.

Loket karcis.

Pintu masuk setelah loket. Perhatikan mawar-mawar segar yang dipajang di sebelah kanan.

Oya, sebelum melangkah melewati pintu masuk, terlebih dahulu kami mengambil denah museum yang digunakan untuk permainan mengumpulkan cap.  Permainan ini, yang kerap ditemui di objek-objek wisata Jepang, kelihatan sepele, namun seru juga.  Kita dibuat mencari-cari cap yang tersedia, terkadang di pojok-pojok yang belum tentu kita datangi kalau tidak melaksanakan permainan ini.

Taman dan desa tiruan Prancis, lengkap dengan sebuah kapel kecil, sudah membuat kami kegirangan, padahal kami belum lagi masuk ke bangunan utama museum.  Sedikit lupa kami ada di Jepang; rasanya seperti terlontar ke benua lain, ke waktu yang lain.  Di taman dipajang sejumlah patung karakter yang muncul dalam buku Le Petit Prince.  Semakin sureal rasanya.  (Sedikit petunjuk: salah satu cap museum bisa Anda temukan di kapel yang seolah tersembunyi di sudut…)

Terlihatkah si pangeran kecil?

Kapel kecil yang sendu dan agak tersembunyi.

Kenalkah Anda siapa dia?

(Saya sengaja kefoto, kok.)

Bagian luar bangunan museum memang dibuat meniru Prancis di masa hidup Saint-Exupéry, namun bagian dalamnya lebih spektakular lagi: kami dibawa menyusuri tiruan tempat-tempat yang pernah ditinggali ataupun dikunjungi sang penulis semasa hidupnya, sesuai urut-urutan waktu.  Jadi dari Prancis yang nyaman dan damai, kami dibawa ke Afrika Utara, lantas ke Paris yang luluh-lantak akibat perang, terus ke Amerika, sampai adegan penutupan yang menyentuh dan bisa membuat pengunjung menitikkan air mata karena terharu.  Tidak hanya visual, kami juga memperoleh rangsangan berbagai latar suara yang membuat tempat-tempat tiruan itu semakin meyakinkan.  Sayangnya, di bagian museum ini, kami tak boleh memotret, sehingga tak ada foto yang bisa saya pamerkan di sini.

Di bangunan utama museum, kita juga bisa menyaksikan koleksi foto keluarga Saint-Exupéry, pemutaran film Le Petit Prince, memorabilia, dan pameran berbagai edisi Le Petit Prince yang diterbitkan dalam berbagai bahasa di sejumlah negara (tapi rasanya saya tidak melihat edisi Indonesia…).  Keluar dari bangunan utama, kami masih dimanjakan pemandangan yang membuat kami seolah berada di taman sebuah wastu ribuan kilometer jauhnya dari Hakone.

Bila di-zoom in beberapa puluh kali, Anda bisa melihat saya di balkon…

Sayang waktu yang mendesak membuat kami tak sempat bersantai di restoran atau kafe yang ada.  Padahal mereka menawarkan menu khusus yang diilhami isi buku Le Petit Prince.  Meskipun demikian, kami mau tak mau memasuki toko suvenir, karena pintu keluar memang sengaja diletakkan di toko tersebut.  Taktik dagang yang bagus.  Yang ada, kami tersangkut beberapa lama karena melihat berbagai cenderamata khas Le Petit Prince, dari tas, magnet kulkas, stiker, alat tulis, sampai peralatan makan, yang sungguh menggoda kami untuk merogoh kocek.  Pembenarannya, apa lagi kalau bukan, “Mumpung ada di sini kan?  Mau beli di mana lagi?”

Jalan menuju toko sekaligus pintu keluar… Uang di dompet Anda bersiap-siap mengepak pergi.

Ketika melangkah keluar melewati gerbang museum, kami bersepakat bahwa museum ini memang betul-betul asyik.  Tak rugi sama sekali menuruti kata hati sehingga agak memaksakan diri mengunjungi museum yang sebenarnya tidak ada dalam rencana awal kami.  Akan tetapi hal-hal seperti inilah yang membuat perjalanan semakin menarik, bukan?

Ingin oleh-oleh dari museum ini?  Jangan lupa berkomentar di artikel-artikel kami tentang Jepang!  Baca selengkapnya di sini.

Informasi penting Museum Le Petit Prince

909 Sengokuhara, Hakone-machi, Ashigarashimo-gun, Prefektur Kanagawa, 250-0631

Telepon 0460-86-3700

http://www.tbs.co.jp/l-prince

Buka setiap hari dalam setahun, pukul 9.00-17.30, restoran buka dari pukul 10 , kafe dari pukul 9.30

Harga tiket dewasa 1500 yen

Pelajar dan lansia 1100 yen

Anak-anak 700 yen

18 Comments (+add yours?)

  1. indri juwono
    Aug 22, 2011 @ 00:38:03

    little prince salah satu buku mentertawakan orang dewasa yang saya suka.
    eh, adakah di sini dirimu disuruh menggambar domba??

    Reply

  2. Iyut GRI
    Aug 22, 2011 @ 01:46:30

    keren sekali museumnyaaaa.. perlu alokasi waktu seharian untuk bisa berpuas-puas menjelajahinya yah.. btw, adakah sejarahnya bagaimana bisa museum ini dibangun di Hakone? sepertinya belum dijelaskan di tulisan di atas..

    Reply

    • lompatlompat
      Aug 22, 2011 @ 01:50:28

      Sepertinya sih karena popularitas Little Prince di Jepang luar biasa, mbak. Buku itu sudah diterbitkan berulang-ulang dengan beberapa edisi berbeda di sana.

      Setengah hari saja barangkali cukup, kecuali bila kita memang ingin lama-lama bersantai di sana, sambil makan dan mengobrol di kafe, misalnya. Tapi di Hakone banyak tempat menarik lain untuk dikunjungi🙂

      Reply

  3. Santy Sans
    Aug 22, 2011 @ 06:07:46

    “Bila di-zoom in beberapa puluh kali, Anda bisa melihat saya di balkon…”

    ROTFL!! *ampe sakit perut* maaf yaaaaaa, abs request-nya kan mau keambil taman na XDDD

    Reply

  4. Ira
    Sep 01, 2011 @ 15:04:04

    Sayang dulu saya belum sempat mengunjungi Hakone. Rasanya tempat ini bakal masuk daftar wajib kunjung berikutnya.

    Reply

  5. Anis
    Dec 28, 2011 @ 09:48:15

    Salam kenal.
    Mau nanya. Jika saya hanya punya waktu 1 hari bebas dari paket tuour saya, apakah saya bisa mengunjungi 2 museum: Little Prince di Hakone dan Museum Ghibli di Mitaka? Kalo harus pilih salah satu, mana yg lebih berkesan?
    Makasih🙂

    Reply

    • lompatlompat
      Dec 28, 2011 @ 10:08:32

      Halo! Kalau kami lebih menyarankan ke Little Prince karena bisa sambil ekskursi ke Hakone yang juga merupakan kota yang menyenangkan. Seharian penuh bisa kok asal nggak keberatan bolak-balik naik kereta agak jauh dalam sehari. Kalau keuntungan Museum Ghibli adalah masih di kawasan Tokyo sehingga tidak perlu pergi terlalu jauh untuk menikmati museum tersebut.

      Reply

  6. Anis
    Dec 28, 2011 @ 10:59:02

    Sebenarnya ada 2 hari free, tapi tadinya yg 1 harinya mau ke Yokohama. Kalo sebelum ke Yokohama, saya ke Ghibli dulu, sempat gak ya? Maaf banyak nanya🙂

    Reply

    • lompatlompat
      Dec 28, 2011 @ 11:04:16

      Nggak apa2 mbak. Selama kami bisa bantu, kami lakukan dengan senang hati🙂 Kalau itu Insya Allah sempat Mbak. Usahakan saja dapat tiket Ghibli paling pagi atau paling telat yang masuk jam 10. Yokohama nggak begitu jauh kok dari Tokyo, semestinya bisa.

      Reply

  7. Anis
    Jan 09, 2012 @ 10:20:47

    Nanya lagi ah.. Tiket ke Hakone kan mahal tuh. Kata temen saya, kalo dengan tiket semahal itu, cuma liat 1 museum kok sayang. Apakah ada obyek lain yg bisa dilihat di Hakone? Klo tidak keberatan, saya minta dikirim ke email saya: itinerary perjalanan ke Hakone, Kamakura dan Ghibli, termasuk biaya yg dikeluarkan + perkiraan waktu di sananya. Terima kasih banyak…

    Reply

    • lompatlompat
      Jan 10, 2012 @ 23:50:11

      Halo mbak. Hakone banyak kok yang bisa dilihat, dan buat saya menghadirkan pengalaman asyik🙂 oke nanti saya coba penuhi permintaan mbak ya. Mohon tunggu, karena catatan-catatan saya ada di rumah.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: