Kiat Selamat: Jepang

This post is about Japan

Nah.  Kini kita telah berada di Jepang.  Bagaimana cara berkeliling di dalamkota, ya?  Bagaimana bila ingin bepergian ke kota-kota lain?  Makan sebaiknya di mana bila ingin yang murah, atau yang halal?  Berikut ini kami menjabarkan sejumlah ‘kiat selamat’ umum selama berada di Jepang.  Ini tentunya dari pengalaman kami sendiri – jadi kalau Anda punya kiat dan informasi lain yang bisa dibagi, silakan tuliskan sebagai komentar di halaman ini.

Keterangan lebih terperinci menyangkut tempat-tempat tertentu (misalnya, berlayar di Danau Ashi di Hakone) bisa dilihat di artikel-artikel khusus tentang daerah tersebut.

Angkutan umum dan taksi

Kereta adalah angkutan umum ‘favorit’ selama kami berada di Jepang.  Ke mana-mana kami menggunakan kereta ataupun subway, disambung jalan kaki bila perlu.  Bis dalamkota hanya kami gunakan sekali-sekali, itupun tidak diTokyo.   Kalau naik bis, perhatikan saja apakah masuk dari depan atau belakang, dan apakah membayar sewaktu naik atau turun.  Ini karena di kota yang berbeda, peraturan juga bisa berbeda.  Dan sebisa mungkin siapkan uang kecil untuk membayar bis kalau tidak memiliki kartu transportasi, agar proses keluar-masuk bis lancar.

Di sebagian bis, tarif terpampang di layar TV.

Sebagian orang biasanya pergi ke Jepang sudah berbekalkan tiket terusan (pass) yang hanya bisa dibeli di luar Jepang, khusus untuk turis.  (Di Indonesia, misalnya, Anda bisa memperoleh JR Rail pass di cabang Euro by Train Indonesia, telepon cabang Harmoni (021) 6305645; cabang Kemang (021) 70681681/682) Dengan pass semacam ini, dalam jangka waktu tertentu kita bebas menaiki kereta (plus bis) apa saja yang tercakup oleh tiket terusan tersebut.  Tapi hati-hati, cek juga perusahaan kereta yang mengoperasikan rute yang hendak kita ambil, karena belum tentu pass kita berlaku juga untuk kereta/rute itu.  Salah-salah malah jadinya boros, karena di luar tiket terusan yang mahal, kita masih harus membeli tiket lain-lain lagi.

Kami sendiri memilih tidak membeli tiket terusan macam itu karena memutuskan untuk menggunakan beberapa moda transportasi berbeda.  Sebagai gantinya, kami membeli tiket terusan khusus untuk kota-kota tertentu, sehingga mulai dari Tokyo, di dalam kota dimaksud, sampai balik lagi ke Tokyo, kami tak lagi mengeluarkan sepeser pun, meski berganti-ganti moda transportasi dari satu tempat tujuan pariwisata ke tempat lain.  Ini misalnya kami lakukan sewaktu pergi ke Hakone.

Ssshhh… di dalam kereta jangan ribut yah…

Baiklah, mari kita bicarakan mengenai kereta dahulu.  Tokyo dilayani oleh sejumlah rute yang dioperasikan beberapa perusahaan berbeda, namun jalur utama tengah kota adalah jalur melingkar Yamanote.  Banyak kawasan utamaTokyo mudah disambangi dengan menggunakan kereta Yamanote – beberapa di antaranya adalah Ikebukuro, Shinjuku, Shibuya, Harajuku, Shin-Okubo, Ueno, dan Akihabara.

Kalau melihat peta kereta Tokyountuk pertama kali, memang memusingkan saking banyaknya jumlah rute yang berpotongan di sana-sini.  Namun bila sudah biasa, tidak akan terasa sulit kok, malah terasa seru saat merencanakan perjalanan agar cepat dan hemat.  Telusuri saja dengan hati-hati rute dari stasiun asal ke stasiun tujuan, harus ganti jalur di mana.  Jalur-jalur berbeda diberi warna berbeda sehingga mudah dikenali.  Bawalah peta kereta yang juga menyertakan nama-nama tempat dalam kanji, karena tidak di semua stasiun mudah menemukan petunjuk rute dalam huruf Latin.

Harga tiket kereta diTokyomemang bikin ‘berat hati’ kalau dirupiahkan.  Dari Ikebukuro ke Shinjuku, selisih beberapa stasiun saja, dihargai 160 yen.  Akan tetapi dibandingkan moda transportasi lain di Tokyo, kereta tergolong murah, cepat dan tidak merepotkan.  Kereta di Kyoto bahkan lebih mahal – selisih satu stasiun saja kita harus merogoh kantong 220 yen.  Kalau menurut D-san, itu karena pendudukKyototidak sebanyakTokyo, sehingga otomatis pengguna kereta juga lebih sedikit dan tarif pun meningkat.

Oya, harap diingat bahwa di dalam kereta, tidak disarankanmenerima telepon.  Telepon genggam harus berada dalam kondisi ‘silent’ atau yang disebut ‘manner mode’ oleh orang Jepang.  Bahkan bila berada di sekitar tempat duduk yang diperuntukkan bagi penderita penyakit jantung, orang yang cedera, ibu hamil, dan lanjut usia, telepon genggam Anda harus dimatikan.  (Meski saya perhatikan aturan ini juga tidak selalu dipenuhi oleh warga Jepang sendiri.  Tapi kalau yang melakukan orang asing, pasti pandangan orang akan berbeda,kan?)

Pergi ke Jepang juga berarti siap-siap cukup sering (dan cukup jauh) berjalan kaki.  Namun menjadi pejalan kaki di Jepang sungguh dimanjakan oleh trotoar yang nyaman dan aman.  Hati-hati saja, karena trotoar juga digunakan oleh pengendara sepeda.  Dan perhatikan baik-baik lampu lalu-lintas bila hendak menyeberang.  Meski pernah juga saya (malam-malam sih) diajak menyeberang tidak di zebra cross dan saat lampu tidak hijau bagi penyeberang jalan.  Saya yang agak panik bertanya, “Memangnya boleh kita melakukan ini?”  D-san dan T-san menjawab dengan agak heran, “Ya, tentu saja.” Hmmm.. tapi rasanya lain kali, saya menaati aturan lalu-lintas saja deh!

Taksi, seperti telah kami sebutkan sebelumnya, sebaiknya memang hanya dijadikan pilihan bila kondisi benar-benar mendesak.  Tarif flag-fall alias buka-pintunya saja sudah mencekik – kalau dirupiahkan sekitar 50 ribu rupiah.  Untuk jarak ‘seimprit’ saja, bisa kena 600-700 yen.  Namun kita bakal dibuat kagum oleh kesopanan para supir yang jauh di atas supir taksi di sejumlah negara lain.

Nah, bagaimana kalau kita pergi ke luar kota?  Untuk pergi ke kotalain, bisa menggunakan kereta, baik yang jalur ekonomi, ekspres, romance car, ataupun shinkansen.  Banyak jalur-jalur kereta ke luarkota ini bersimpul di Shinjuku.

Bagian dalam salah satu bis malam Jepang. Selimut dan bahkan sandal kamar mandi pun tersedia.

Alternatif lain adalah menggunakan bis antarkota, baik bis siang maupun bis malam, yang rata-rata juga menaik-turunkan penumpang di kawasan Shinjuku.  Tiket bisa dibeli online, melalui telepon, agen perjalanan, ataupun loket perusahaan bis.

Akan tetapi, menemukan bis-bis antarkota ini susah-susah gampang.  Kerap kali tidak ada terminal khusus; bis hanya datang dan pergi di sekitar waktu kedatangan-keberangkatan.  Jadi apabila Anda memesan tiket, pastikan juga di mana Anda harus menunggu bis tersebut.  Bila Anda memesan online, dalamsurat elektronik konfirmasi yang Anda terima, akan dicantumkan juga alamat tempat menunggu beserta petanya.  Di Shinjuku, misalnya, Anda mungkin akan diminta menunggu di dekat Starbucks di depan L Tower. Di Kyoto diminta menunggu di dekat terminal bis pariwisata.

Nah, setengah jam sebelum waktu keberangkatan tiba, ‘tahu-tahu saja’ akan muncul petugas dari perusahaan bis, yang mengenakan rompi warna perusahaannya.  Daftar ulang diri Anda (mungkin Anda akan diminta menyebutkan nomor kode pemesanan), dan nanti bila bis tiba, petugas akan menggiring Anda menuju bis yang akan mengantar Anda menuju tempat tujuan.

Bila waktu perjalanan panjang, setiap 2-3 jam sekali bis akan berhenti di tempat istirahat (rest area) sehingga kita bisa turun untuk menggunakan toilet, melemaskan kaki, ataupun berbelanja camilan.  Sekadar peringatan, sopan-santun sangat dijaga di dalam bis-bis Jepang.  Tidak ada yang mengobrol dengan suara keras atau bersuara berisik.  Bila menonton TV yang tersedia ataupun mendengarkan musik, harap perhatikan volume suara.  Dan apabila hendak memundurkan senderan kursi, jangan lupa meminta izin kepada penumpang yang duduk di belakang Anda.

Kalau ada yang Anda tidak mengerti, atau Anda tidak bisa menemukan tempat yang Anda cari, jangan segan-segan bertanya.  Meskipun mungkin tidak lancar berbahasa Inggris, warga Jepang biasanya ringan tangan sekali membantu orang yang kebingungan.  Kami malah pernah mendapat bantuan dari tiga orang perempuan muda yang repot-repot menelepon, mencek peta online, dan membawa kami berkeliling demi menemukan tempat menunggu bis ke Kyoto.  Padahal kami hanya bertanya saja, lho!  Kalau tidak tahu ya tidak apa-apa juga, kankami bisa bertanya kepada orang lain.  Namun mereka sangat bersemangat membantu, sampai kami yang merasa tidak enak hati.  Yah, ada baiknya kita juga mempelajari percakapan dasar untuk menanyakan arah.

Makanan

Makanan!  Nah, ini salah satu pertanyaan paling krusial yang kerap diajukan orang yang hendak berkunjung ke Jepang.  Biasanya yang dipermasalahkan adalah

1)    rasa, kalau lidah memang agak sulit menerima makanan negara lain

2)    halal atau tidaknya, ataupun pantangan lain seperti daging sapi dan semacamnya; dan kalaupun diri tidak punya pantangan,

3)    harganya.

Kalau masalah Anda adalah nomor (1), maka cobalah cari hidangan ‘internasional’ seperti KFC yang mungkin lebih ‘nyambung’ dengan selera Anda.  Kalau masalah Anda adalah nomor (2), maka memang sebaiknya waspada dalam memilih makanan.  Sulit sekali menemukan makanan (berlabel) halal di Jepang.  Kalaupun ada, biasanya restoran India, Pakistan, atau Arab, yang harganya lebih mahal daripada makanan Jepang.  Jauhi ramen, kecuali Anda bisa memastikan kuahnya tidak dibuat dengan campuran babi.  Hati-hati juga dengan steak, hamburger, dan sosis – meskipun tulisannya daging sapi, kadang juga hidangan-hidangan tersebut bercampur daging babi.  Lebih baik cari hidangan berbasis seafood.  Soba, onigiri, karaage, juga boleh dicoba.

Nasi kari ala Jepang.

Mau yang murah?  Coba belilah hidangan siap saji di minimarket-minimarket (convenience store, ‘kombini’) yang menjamur di mana-mana.  Kedai-kedai murah yang biasanya didatangi karyawan atau anak sekolah di stasiun-stasiun juga ada, namun biasanya tempatnya tidak didesain untuk duduk-duduk lama dengan nyaman.  Sebagian tempat makan menggunakan sistem tiket yang harus Anda ambil di mesin yang ada di dekat pintu masuk.  Masukkan uang, pilih tombol hidangan yang Anda inginkan, ambil tiket dan kembalian bila ada, lalu serahkan tiket Anda ke pelayan.  Tinggal tunggu pesanan datang.  Banyak paket makanan yang dijual dengan sistem tiket berharga di bawah 500 yen.

Tapi jangan tanya saya ya, kalau makanan gorengan, digorengnya pakai minyak apa.

Hidangan dari restoran keluarga, Jonathan’s.

Beberapa catatan lain mengenai tata cara makan di kedai atau restoran Jepang:

–       Air putih biasanya gratis.  Mereka juga dapatnya dari keran, kok.  Tapi tidak di semuakota Jepang air putih bisa diminum langsung dari ledeng, jadi selalu cek terlebih dahulu.

–       Di sebagian restoran, terutama restoran cepat saji, peralatan makan bekas dan sisa-sisa hidangan harus dibereskan sendiri.  Bawa piring, gelas, dan sendok-garpu-pisau dengan baki ke meja atau lemari khusus untuk peralatan bekas pakai.  Pisah-pisahkan sampah – kertas, sedotan dan plastik, sisa makanan, dan minuman yang tidak habis – ke tempat pembuangan masing-masing.

Jangan heran ya kalau orang Jepang makan mi (ramen dll) dengan berisik, karena ini justru tandanya mereka menikmati santapan mereka!

Mesin otomat

Cara mudah memperoleh minuman (dan sekarang juga makanan) adalah melalui mesin otomat (vending machine) yang mudah ditemukan di mana-mana, bahkan di sudut-sudut jalan kawasan perumahan.  Modal Anda adalah uang logam saja.  Harga minuman berkisar dari 100 sampai 150-160 yen.  Tinggal cemplungkan uang, tekan tombol di bawah minuman yang Anda pilih, dan tunggu kaleng atau botol minuman menggelinding keluar, beserta kembalian kalau ada. Ada mesin otomat yang menjual minuman dengan harga seragam, 100 yen. Ada pula yang menyediakan minuman hangat.

You’ve just gotta love ’em.

Toilet

Toilet di Jepang bermacam-macam jenisnya.  Mulai dari WC jongkok dan WC duduk tanpa air, sampai tipe washlet yang canggih.  Pertama kali melihat washlet perhatian kita pasti akan langsung tertarik kepada jumlah tombol yang ada selain tentunya tombol atau tuas untuk flush.  Tombol ‘standar’ yang biasa ada di semua washlet adalah tombol air untuk membilas daerah kewanitaan dan setelah buang air besar (dua tombol berbeda) serta tombol stop.  Lalu mungkin ada tombol untuk pengering bokong (ya, tahu-tahu akan terasa angin sejuk dari bawah…), untuk menghangatkan dudukan WC, serta untuk mengatur kecepatan semburan air.

Tapi jangankan washlet, terkadang tisu saja tidak ada.  Di stasiun Kyoto, misalnya, jangankan air untuk membasuh, tisu sekalipun tidak disediakan gratis, melainkan harus dibeli di mesin otomat di bagian depan toilet.  Kalau Anda malas menggunakan WC yang seperti itu, cobalah cari toilet di pusat perbelanjaan yang bagus.  Selain bersih, banyak juga yang menyediakan washlet.  Dan dari beberapa kali pengalaman, toilet umum di tempat peristirahatan di sepanjang jalan Kyoto-Tokyo juga sangat bersih dan menyediakan washlet.  Toilet-toilet umum tempat peristirahatan bahkan dilengkapi pancuran mandi, ruang ganti baju, serta berbagai kebutuhan lain yang diperlukan para penumpang kendaraan yang hendak menyegarkan diri sejenak setelah berjam-jam menempuh perjalanan.

Tombol yang mana dulu yak…

Eskalator

Selama ukuran tangga berjalan memungkinkan, orang Jepang akan selalu mengosongkan satu sisi untuk mereka yang terburu-buru dan ingin melesat melewati orang-orang lain yang anteng-anteng saja berdiri di eskalator.  Hanya saja di masing-masing kota, sisi yang dikosongkan itu bisa berbeda-beda, sehingga jangan sampai salah, ya!  Di Tokyo, misalnya, yang dikosongkan adalah sisi kanan (jadi kita berdiri santai di kiri), sementara diNara, yang dikosongkan adalah sisi kiri (kita berdiri di kanan).

Loker

Adabeberapa jenis loker – untuk pengguna kartu transportasi berlangganan ataupun loker koin.  Carilah tulisan ‘コインロカー’ (coin locker).   Sediakan uang logam 100 yen-an, karena mesin kunci loker biasanya hanya mau menelan koin dengan nominal tersebut. Ada beberapa ukuran loker yang tersedia – tentunya semakin besar semakin mahal tarifnya – siap dipilih sesuai ukuran barang yang hendak Anda titipkan.  Loker besar yang beberapa kali kami pilih, misalnya, tarifnya adalah 400 yen untuk sekali tutup-buka pintu, atau seharian bila sepanjang hari itu pintu tak Anda buka lagi sama sekali.

Barang paling lama bisa Anda titipkan selama 3 hari, sebelum kemudian disita petugas.  Jadi kalau mau keluarkota1-2 hari tanpa membawa-bawa barang berat, koper bisa Anda titipkan di loker koin.  Untuk pertama, bayar sehari saja.  Nanti esok atau lusa sewaktu hendak membuka loker, terlebih dahulu masukkan uang logam untuk membayar kekurangan tarif.

Listrik

Tidak seperti di Indonesiayang menggunakan listrik bertegangan 220 V, di Jepang tegangan listrik adalah 110 V.  Jangan khawatir karena charger peralatan listrik sekarang biasanya bisa digunakan untuk 110/220 V sekaligus, tidak lagi perlu trafo.  Bawa saja adapter, karena stopkontak Jepang tidak berbentuk bulat, melainkan cagak.

Sip!  Siapkah untuk jalan-jalan di Jepang dengan aman dan nyaman di Jepang?

Tampang depan subway di Tokyo.

23 Comments (+add yours?)

  1. shunchan
    Aug 04, 2011 @ 09:28:21

    Mau nambah bbrp hal:
    – Tips: Kalo naik bis, biasa di dekat pak supir itu ada mesin buat nuker recehan. Jadi kalau pas engga punya recehan, tunggulah sampai semua penumpang yg mau turun sudah turun (krn sudah pasti makan waktu), anda bisa nuker recehan buat bayar bis.

    – Yg mematuhi “manner mode” biasanya orang2 Jepang Timur. Saya pernah melihat ibu2 di Osaka mengobrol panjang lebar dengan HP di kereta.
    *Tapi kalau yang melakukan orang asing, pasti pandangan orang akan berbeda,kan?* <- Sepertinya orang asing lebih dimaklumi. Kami biasa selalu dengan cuek menerima telpon dalam kereta.😛

    – Saya sering sekali melihat orang Jepang menyeberang sewaktu lampu merah atau bukan di zebra cross.

    – "Tapi jangan tanya saya ya, kalau makanan gorengan, digorengnya pakai minyak apa." <- Sepertinya minyak canola. Kecuali di restoran cina, biasanya jarang yang pakai minyak babi.

    – Biasanya toilet umum yg menyediakan washlet juga menyediakan cairan alkohol dan tisu khusus untuk mengelap dudukannya, dan saya juga pernah lihat mereka nyediain tisue berbentuk dudukannya yg bisa dipake buat ngelapisin.

    Reply

  2. shunchan
    Aug 04, 2011 @ 09:41:10

    Eskalator: rulenya adalah selalu berdiri di kiri. Pengecualian hanya pada Osaka dan daerah sekitarnya (Kyoto, Kobe dan Nara). Kalau tertarik mengapa bisa baca disini http://www.quirkyjapan.or.tv/saq.html (ctrl-F saja)

    Reply

    • lompatlompat
      Aug 06, 2011 @ 15:25:41

      Siiip… yang pengalamannya banyak bagi-bagi nih, berguna banget. Aaah, rupanya hanya di daerah Kansai saja ya. Soalnya waktu itu di Kyoto melihat orang yang berdiri di kiri juga, jadi agak ragu. Tapi mungkin itu orang Tokyo yang kebetulan barengan kami pergi ke Kyoto sih, hehehe.

      Reply

  3. Ira
    Aug 04, 2011 @ 10:46:24

    – Soal menyeberang jalan. Gak semua org Jepang mutlak patuh kok. Saya pernah diajak menyeberang bukan di zebra cross waktu di Yokohama. Alasannya toh jalan sedang sepi ^^”

    – Mesin otomat. Sumpah kangen habis baca bagian ini! Karena dulu pergi saat musim gugur, saya selalu cari mesin ini untuk beli minuman cokelat panas. Tapi pernah sekali krn terburu-buru salah tekan tombol, malah keluar sup jagung kaleng yg ada unsur babi-nya XDD

    Reply

  4. inggir
    Sep 28, 2011 @ 02:52:21

    saya belum mengerti apa itu tiket terusan antar kota, apakah bisa digunakan untuk seluruh sistem transportasi di japan, berapa lama jangka waktu pemakaiannya. Makasih ya.

    Reply

    • lompatlompat
      Sep 28, 2011 @ 03:06:04

      Tergantung Mbak, karena tiket itu ada bermacam-macam jenisnya. Ada yang bisa digunakan di seluruh kereta dan bis JR se-Jepang. Ada juga yang hanya untuk jalur Odakyu. Ada yang untuk semua jalur tapi di Tokyo saja. Ada yang harian, ada yang mingguan. Waktu ke Hakone, misalnya, kami membeli tiket terusan ke Hakone yang bisa dipakai bolak-balik dari Shinjuku, ke Hakone, sampai pulang ke Shinjuku lagi dalam waktu 2 hari, dan selama di Hakone kami bebas mempergunakan macam-macam moda transportasi di sana, mulai dari bis, kereta, sampai kapal.

      Kartu apa yang sebaiknya dipilih tergantung pada jadwal dan niat Mbak sendiri, hendak berkunjung ke mana saja dan berapa lama. Sebaiknya cek di situs-situs yang menyediakan informasi tentang daerah yang Mbak tuju.

      Reply

  5. imma_adri
    Dec 19, 2011 @ 04:04:58

    misii,,,,minta info dunk,,,tgl 12-18 juli 2012 sya b3 ada agenda dijepang (osaka,kobe,kyoto,nara),,kira2 sya perlu beli JR pass diJKT g???
    agak ragu ni,,coz kami cm 6 hari n ga ada rencana naik shinkansen smpe tokyo,,
    oya btw ada tiket terusan 2hari yg bisa dibeli di Indonesia utk dipake diOsaka-kyoto ga???
    teruz kira2 harga rata2 makanan n transport berkisar berapa ya??utk prepare badget juga ni,,hehehehehe,,,thx bgt ya utk infonya,,,,🙂

    Reply

    • lompatlompat
      Dec 19, 2011 @ 05:12:07

      Kalau soal harga tiket pass dan lain sebagainya, silakan coba hubungi Euro by Train yang nomornya kami cantumkan di atas yah? Takutnya sudah ada perubahan dari yang terakhir kami cek.

      Kalau saran saya, kalau hanya berkeliaran di wilayah Osaka dan sekitarnya, tidak perlu JR pass. Manfaatkan saja kereta biasa yang ekonomis, dan tetap nyaman kok. Kota-kota itu paling-paling berjarak 30-45 menit saja dari satu sama lain.

      Mengenai Kyoto dan Nara, nanti akan kami buatkan pos khususnya yah. Ini sedang dalam persiapan. Semoga nanti bisa membantu perjalanan ke sana, termasuk memperkirakan anggaran🙂

      Reply

  6. imma_adri
    Dec 19, 2011 @ 04:05:52

    oya sama tiket wisata juga aberkisar berapa ya???
    thenkyu bgt yaa,,,,,,
    hehehehe😀

    Reply

  7. T.R.Romi
    Dec 19, 2011 @ 04:55:37

    itinerary: 13 juli mendarat di osaka.naik nankai rapi;t turun nanba eki,nginap di dotonbori. 14-15 juli ke kyoto, ke obyek wisata/kuil,nginap di ryokan di shimogyo,16 juli pindah ke kobe,nginap di chisun. 17 juli balik ke osaka ke daerah umeda, nginap di rinku-orai kita. 18 pg balik ke jkt. pertnyaan,1). dr osaka ke kyoto naik KAnya dr mana? 2). dr kyoto ke kobe naik apa? dr kobe ke bandara lbh enak naik bus limo tp kami msh ingin jln2 di tenjinbashi st n umeda sky building. 3). pilihan transportasinya apa? 4). dr. umeda eki ke rinku-orai (htl kansai int’l washington) naik kerata apa? 5). anggaran utk transport darat selama 5 hr u b3 roku man en,ckp tdk? (tdk pke naik shinkansen lho). tetsudatte kure… doumo arigatou gozaimasu. ibunya imma.

    Reply

  8. Tante Labil
    Dec 20, 2011 @ 01:25:33

    Kalau boleh saya bantu jawab pertanyaan mamanya Imma:)

    1) Untuk mencapai Kyoto dari Osaka saran saya lebih enak menggunakan JR Rapid Service yang berhenti baik di stasiun Osaka maupun Shin-Osaka. Tapi saran saya lebih baik Anda ke Shin-Osaka saja karena lebih mudah. Dari Namba Anda bisa naik subway ke Shin-Osaka, lalu ganti kereta JR yang menuju Kyoto.

    2) Untuk menuju Kobe dari Kyoto Anda bisa naik kereta dari stasiun Kyoto ke stasiun Osaka kemudian menyambung ke Kobe dengan JR Rapid Service.

    3) Kalau dari Kobe masih ingin jalan-jalan ke Umeda dan sekitarnya, saya lebih memilih menggunakan kereta karena lebih cepat. Dari stasiun Sannomiya di Kobe bisa direct ke stasiun Umeda Osaka.

    4) Biasanya hotel atau hostel di Jepang di situsnya menyediakan rute acuan untuk membantu tamu mencapai hotel mereka dari stasiun terdekat. Saya kurang tahu lokasi hotel Ibu ada di mana, jadi tidak bisa membantu secara detil. Tapi coba dicek di situs hotel Ibu atau bisa mencari sendiri di situs http://www.hyperdia.com untuk rute kereta. Cara penggunaannya cukup mudah kok:) Untuk menjawab pertanyaan soal anggaran juga Ibu bisa cek di hyperdia karena sudah ada tarif keretanya di sana.
    Semoga bisa cukup membantu:)

    Reply

  9. eric baroroh
    Aug 09, 2012 @ 05:16:41

    mau tanya dunks mbak,insya allah saya mau ke jepang sendirian selama 5 hari nanti bulan oktober,ada beberapa pertanyaan :
    1. saya naek AA klo sesuai jadwal saya nyampe hanedanya jam 22.30 rencana saya mau langsung ke kyoto naek bus malam. kira2 untuk kekejar gak?? saya baca di milis2,kereta terakhir itu pukul 23.00,bener gak mbak??? untuk pesan bus ke kyoto harus via online atau datang langsung??
    2. untuk transportasi yang seperti mbak bilang di atas,khan lebih enak beli tiket terusan per hari,itu tiketnya bisa dibelinya dimana??? di stasiub atau harus beli di indonesia seperti JR Pass???
    3. oiya untuk kyoto ada one day tour gak?? klo misalnya gak ada kira2 seharian aja untuk keliling2 cukup gak,rencana langsung balik ke kyoto
    4. ttg hakone,itu berapa jam dari tokyo mbak?? beli tiket terusannya dari tokyo atau pas di hakone?? di hakone yang menarik apa?? (opsi klo misalnya ke kyoto gak dapet)

    mohon pencerahannya,biar saya ndak dag dig dug lagi

    makasih dan salam senyum

    Reply

    • lompatlompat
      Aug 09, 2012 @ 08:23:35

      Salam senyum juga Mas yang semangat!🙂 Berikut jawaban yang bisa kami berikan sepengetahuan kami yah.

      1) Hmmm… menurut kami kok nggak terkejar ya Mas. Betul, kereta terakhir itu jam 23. Dulu sewaktu kami ke sana naik AA, pesawatnya tiba tepat untuk kereta terakhir. Namun para penumpang yang naik kereta terakhir harus menghadapi kenyataan, sebelum sampai sempat tujuan, keretanya sudah berhenti jalan. Akhirnya harus naik taksi lagi ke tempat tujuan. Dan taksi Jepang itu mahal sekali. Sementara untuk naik kereta ataupun bis ke Kyoto, Mas harus ke stasiun Shinjuku yang cukup jauh dari bandara Haneda. Sebaiknya sih pesan online, namun website Jepang kurang bersahabat bagi yang tidak bisa berbahasa Jepang. Beli langsung dari tempat penjualan tiket di stasiun-stasiun bisa, ya tapi tidak bijak bila mendadak.

      2) Tiket terusan bisa dibeli di stasiun-stasun kereta besar. Misalnya, tiket terusan ke Hakone dan Kamakura kami beli di Shinjuku. JR Pass itu mahal, bila tidak berniat pergi ke banyak kota/terlalu jauh/dalam waktu singkat, transportasi lokal saja sudah memadai. Tidak semua rel kereta di Jepang milik JR. Sehingga meski Anda punya JR Pass, seringkali kartu itu tidak berlaku untuk naik berbagai kereta/moda transportasi lain.

      3) Kyoto, one day tour? Sendirian saja jalan oke kok, tidak usah pakai tur lagi. Sehari aja cukup, meski dua hari lebih ideal, tapi di Kyoto itu objek wisata yang bisa dilihat banyak, sehingga harus dipilih dulu agar tidak menyesal. Ya tergantung Mas sih, apakah suka objek-objek wisata budaya seperti yang banyak ditawarkan di Kyoto.

      4) Tiket terusan ke Hakone belinya di Shinjuku. Saya sendiri sangat menyukai Hakone, dan apa yang mas bisa lihat/lakukan di sana bisa Mas baca di sini. Letaknya juga tidak terlalu jauh dari Tokyo.

      Terus terang Mas, dengan waktu hanya 5 hari seperti yang Mas punya, kami TIDAK menyarankan Mas pergi ke Kyoto karena Mas masuk dari Tokyo. Kyoto-Tokyo itu jauh. Lebih ideal pergi ke Kyoto bila Mas masuk dari Oosaka. Sebaiknya hanya dengan 5 hari Mas berkonsentrasi di Tokyo dan sekitarnya saja, misalnya Yokohama. Kalaupun ingin keluar dari Tokyo untuk mencari suasana berbeda Mas bisa ke Kamakura. Semua artikel kami tentang Jepang bisa Mas baca di sini.

      Mas juga bisa buka situs ini untuk tahu banyak soal tempat wisata di Tokyo dan sekitarnya (Kanto) dan info-info lain.

      Semoga membantu ya. Terima kasih.

      Reply

  10. veronica
    May 31, 2013 @ 10:32:27

    hallo….mau nanya dong. saya ada rencana pergi kejepang 14 hari. mau ke tokyo.nagoya.kyoto dan osaka. kalo mau naik kereta ,naik kereta apa yach ? dan belinya dimana ? terima kasih

    Reply

    • lompatlompat
      Jun 01, 2013 @ 06:03:40

      Halo. Karena kota-kota itu cukup berjauhan, yang paling nyaman tentu pakai kereta peluru atau shinkansen. Beli tiketnya bisa di sana, tapi agar lebih murah sebaiknya manfaatkan JR Pass yang hanya bisadibeli di luar Jepang. Untuk di Indonesia coba hubungi JALAN Tour di Prince Building, Sudirman.

      Reply

  11. Steven david
    Dec 13, 2013 @ 11:04:59

    Dear Lompat Lompat

    mau promo dunk. kalo ada teman teman yg ingin tour dapat menghubungi eratour.harga dijamin murah. terima kasih Team Lompat lompat. semoga melompat makin tinggi y😀

    steven david
    http://www.eratour.co.id

    Reply

  12. Rita
    Aug 20, 2014 @ 04:29:15

    saya mau nanya donk, kalau saya sampai di Osaka Kansai jam 13.00 terus dilanjutkan ke Kyoto lebih baik menggunakan transportasi apa ya ? Lusanya sy mau melanjut ke KOBE, dari Kyoto ke Kobe ada transportasi yg lgsg ? Mohon tuntunanya😉

    Reply

  13. Tami
    Mar 31, 2016 @ 08:13:32

    Hello Mba.
    Rencananya akhir Mei 2016 saya pergi ke Osaka dan pulang juga dari Osaka (Kansai).
    Saya telah membuat itinerary seperti ini :
    1. Hari Ke-1 : Osaka-Nara-Kobe-Osaka
    2. Hari Ke-2 : Osaka-Kyoto-Nanba-Osaka
    3. Hari Ke-3 : Osaka-Umeda-Osaka

    Bagaimana menurut Mba mengenai itinerary yang saya buat?

    Untuk transportasi lebih baik naik subway atau kereta api biasa ya Mba?

    Kalau tidak salah ada Osaka Amazing Pass, Kansai Thru Pass, dan One Day Pass, menurut Mba tiket apa yang sebaiknya saya beli untuk mengcover tempat yang akan saya kunjungi diatas Mba? Untuk pulang dan pergi.

    Terima kasih atas jawabannya Mba.

    Regards

    Reply

    • lompatlompat
      Apr 01, 2016 @ 01:01:22

      Halo Mbak, rencana tiga hari sajakah? Tempat-tempat ini semuanya masih di Kansai, jadi Mbak bisa pakai Kansai Thru Pass, dengan catatan bahwa dengan kartu ini Mbak tidak bisa naik kereta-kereta JR (milik perusahaan pemerintah) sehingga bila harus menggunakan kereta JR, Mbak harus membayar lagi single trip ticket. Kalau ditanya sebaiknya subway atau kereta, tentu tergantung tempat-tempat yang ingin Mbak singgahi, namun Kansai Thru Pass ini sepertinya cukup baik untuk Mbak gunakan.

      Nanba dan Umeda itu masih bagian Osaka Mbak. Jadi sebenarnya kalau Mbak tulis ‘Osaka-Umeda-Osaka’ itu sebenarnya Mbak hanya di Osaka.

      Nara berada di barat Osaka, Kobe di timurnya. Kurang ideal bila dijadikan satu hari. Kalau saran saya:

      Hari ke-1: Osaka – Nara – Osaka (Umeda/Nanba)
      Hari ke-2: Osaka – Kyoto – Osaka (Kyoto sangat bagus dan sangat banyak objek yang bisa dilihat, lebih baik dijadikan satu hari sendiri saja)
      Hari ke-3: Osaka – Kobe – Osaka (Umeda/Nanba)

      Nara dan Kobe itu bisa sama-sama setengah hari atau sampai agak sore, jadi sepulangnya dari sana masih ada waktu untuk menjelajahi Osaka. Moga-moga ini membantu.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: