Rumah komunal di Ikebukuro

This post is about Japan

Ikebukuro, Tokyo.

Setiap pagi, saya jadi rutin terbangun oleh bunyi gedebak-gedebuk langkah kaki para penghuni rumah yang tergopoh-gopoh bersiap-siap berangkat kerja.  Mengherankan memang.  Sudah tahu setiap hari harus berangkat cepat, namun sepertinya mereka lebih memilih bangun siang dan terburu-buru melaksanakan ritual pagi ketimbang bangun lebih awal.  Dan bunyi kegiatan mereka pun semakin terdengar heboh akibat dinding dan lantai rumah Jepang yang tipis.

Suasana jalanan yang tenang di Ikebukuro, di mana rumah tempat kami menginap berada.

Berkesempatan menginap di rumah warga asli Jepang memang merupakan pengalaman tersendiri.  Kita jadi bisa ikut merasakan dan melebur dalam cara dan irama hidup mereka, yang mungkin memiliki perbedaan-perbedaan dengan hidup kita sendiri.  Namun, rumah bertingkat tiga yang kami inapi di Tokyo ini bukan rumah biasa.  Bukan rumah keluarga tradisional, bukan apartemen yang disewakan, melainkan sebuah rumah yang sengaja dibuka seluas-luasnya untuk menyambut tamu dari berbagai negara.  Betul-betul seluas-luasnya, karena walau rumah sedang kosong sekalipun, walau barang berharga bertebaran di dalam rumah, tak ada satu pun pintu rumah yang dikunci.  Tingkat kepercayaan dan keamanan yang tinggi menjadi kuncinya.

Rumah semacam ini bukan hal umum di Jepang.  Jangankan itu.  Ada lima orang lajang tinggal bersama pun sebenarnya buat mereka sudah ‘aneh’.  Hal ini kami pelajari pertama kali justru bukan dari salah satu penghuni tetap rumah tersebut, melainkan salah seorang teman mereka – mari kita sebut saja S-san – yang suatu hari bertamu untuk membawakan kantong sampah yang tidak terpakai.  Kebetulan para penghuni tetap sedang tidak ada di rumah, dan hanya ada kami saja yang sedang duduk-duduk di ruang bersama.

“Biasanya kalau sudah lepas dari keluarga, orang Jepang tinggal di rumah atau apartemen kecil saja, sendirian,” S-san menerangkan.  “Bukan tinggal beramai-ramai seperti ini, apalagi membolehkan tamu-tamu menginap.”

Di rumah ini memang ada – bukan dua, bukan tiga – lima pria muda tinggal bersama.  Mereka adalah H-san, Y-san dan adiknya T-san, I-san, dan D-san.  Ini masih ditambah tamu dan teman yang datang-pergi sesukanya setiap hari.  H-san, salah satu penggagas utama rumah komunal ini, merupakan orang yang sangat bersemangat mempelajari budaya-budaya berbeda, dan merasa orang Jepang harus lebih banyak melakukan hal tersebut.  Itulah salah satu alasan utamanya menjadikan rumahnya terbuka.  T-san punya pengalaman tinggal di India dan berkunjung ke negara-negara Asia Tenggara.  Ia dan D-san juga hendak mengembangkan bisnis ke tingkat internasional, sehingga merasa harus memperlancar bahasa Inggris.  Dan membuka pintu terhadap tamu-tamu yang (mau tak mau) berkomunikasi dengan bahasa Inggris adalah salah satu caranya.

“Ini sebetulnya bagian dari awal perubahan besar untuk Jepang,” S-san, yang pernah tinggal lama di Amerika Serikat, menambahkan lagi.  “Generasi muda Jepang sekarang lebih ingin tahu tentang budaya-budaya lain.”

Pemandangan dari jembatan menyeberangi rel kereta yang harus kami lalui bila menuju ke stasiun Ikebukuro. Menara putih tinggi di latar belakang adalah pembakaran sampah.

Saya teringat kisah seorang teman yang pernah tinggal di Jepang.  Ia berjumpa orang-orang yang mengira orang Indonesia masih makan gabah dan tidak menyangka di negara kita sudah banyak gedung-gedung tinggi.  Teringat pula ulasan komik Indonesia yang ditulis seorang Jepang, yang seolah tidak percaya di Indonesia ada kereta rel listrik seperti di negaranya.  Apakah itu buah dari ‘ketidaktertarikan’ mereka selama ini belajar dari bangsa lain?  Kalau iya, tak heran bila rintisan oleh rumah-rumah komunal seperti yang di Ikebukuro ini dianggap langkah besar.

Sebenarnya keputusan menjadikan rumah ini komunal bukannya tanpa protes atau cibiran tetangga.  Apalagi, maklumlah, yang biasanya berkunjung adalah anak muda (rata-rata orang asing pula), yang keluar-masuk tanpa kenal waktu dan mungkin sering menyebabkan bunyi berisik.  Mungkin bukan sengaja berisik, namun orang-orang yang biasa tinggal di rumah dari beton mungkin tidak sadar langkah kaki di rumah setipis ini pun bisa menimbulkan bunyi nyaring.  Sementara orang-orang Jepang terbiasa menahan diri, tidak menimbulkan bebunyian keras.  Hanya sesekali terdengar suara orang menyapa di pintu kala pagi hari, atau suara anak kecil menangis.  Sisanya, senyap – yang agak aneh rasanya mengingat kami berada di metropolitan Tokyo yang dihuni jutaan orang.  Jam 8 malam pun suasana perumahan sudah sepi sekali, nyaris tanpa suara.  “Ini normal, kok,” T-san menerangkan.

Padahal ‘berguling’ sedikit saja, kami sudah tiba di kawasan di sekitar stasiun Ikebukuro yang ramai sekali oleh berbagai toko, kafe, restoran, dan tempat hiburan.  Stasiun Ikebukuro adalah salah satu stasiun tersibuk di Tokyo, dengan beberapa pintu keluar yang membuat wisatawan harus berhati-hati.  Kalau salah keluar, bisa-bisa kebingungan karena ‘mendarat’ di daerah Ikebukuro yang asing sekali bagi kita.

Hidangan ‘ringan’ yang tersedia di salah satu kafe di Ikebukuro.

Konon Ikebukuro semakin memikat banyak pengunjung, termasuk warga Tokyo sendiri, karena tempat-tempat makannya yang mematok harga yang tergolong sedang bahkan murah untuk ukuran Tokyo.

Para penggemar anime dan manga pun bisa termanjakan di Ikebukuro, karena di sini ada cabang Animate setinggi 8 lantai, sejumlah cabang toko buku/CD/merchandise bekasK-books yang menjual barang-barang dengan harga dibanting, Mandarake yang menjual doujinshi, dan butler cafe yang memikat perempuan dari berbagai usia.  Di Ikebukuro juga ada sejumlah pusat perbelanjaan besar, Tower Records untuk yang ingin mencari rekaman musik, dan toko-toko elektronik yang giat bersaing berebut pembeli.  Serba ada, namun tidak (belum?) seramai Shinjuku ataupun Shibuya.

Di Ikebukuro, ada beberapa cabang K-Books, dengan spesialisasi masing-masing.

Namun kami tak perlu pergi sampai sejauh daerah stasiun untuk memperoleh berbagai barang yang kami butuhkan.  Hanya beberapa langkah dari rumah ada mesin otomat alias vending machine berbagai jenis minuman kalengan, dari air mineral (yang harganya paling murah adalah 100 yen, silakan kalikan sendiri dengan kurs saat ini) sampai kopi.  Melangkah agak lebih jauh lagi, ada sejumlah waserba dan toko 100 yen.

Mesin otomat di pojok jalan dekat rumah komunal.

Menurut D-san, sebetulnya sekitar 10 tahun lalu Ikebukuro bukan tempat aman.  Gang-gang anak muda berkumpul di sana-sini, mengenakan atribut-atribut dan kaus berwarna tertentu yang menandakan perbedaan kelompok.  Mereka kerap berkelahi, dan terkadang asal memukuli orang lain yang lewat mengenakan kaus dengan warna kelompok lawan mereka.  Namun kini Ikebukuro adalah tempat aman,  di mana gadis-gadis muda masih piknik dan mengobrol dengan suara halus di taman saat malam sudah larut.  Saya pun sempat mencicipi bermain sepak-sepakan bola di jalanan Ikebukuro kala malam hari.

Tinggal di rumah warga Jepang memang bisa menjadi salah satu pilihan yang menarik, karena kita bisa sekaligus mempelajari cara hidup mereka.  Namun tentu saja, kita perlu lebih bersikap peduli, tidak seleluasa seperti bila menginap di hotel mahal di mana kita adalah raja, dan juga harus bertenggang rasa.  Misalnya, kita harus belajar memilah-milah sampah kita.  Masing-masing jenis sampah akan diangkut pada hari berbeda-beda.  Mau mandi pun harus menyesuaikan diri dengan jadwal para penghuni rumah.  Kasihan kan kalau mereka sedang tergesa-gesa hendak berangkat kerja, belum mandi, eh kita malah enak-enakan mandi pancuran bermenit-menit lamanya?

15 Comments (+add yours?)

  1. Eve
    Jul 23, 2011 @ 08:07:10

    Pendeknya, kayak di rumah kos ya.
    Dan lokasinya mungkin sengaja dipilih dekat lokasi yang fun (dan nguras kantong) bagi yang ingin merasakan jalan, nongkrong dan belanja di Tokyo.

    Reply

    • lompatlompat
      Jul 23, 2011 @ 17:13:18

      Haha, iya.. Soal menguras kantong. Tapi Ikebukuro mendingan. Rumah lama mereka di Roppongi. Dan dibilang tempat kos juga, amat longgar peraturannya. Kesadaran pribadi saja.

      Reply

  2. Ira
    Jul 23, 2011 @ 11:17:42

    Konsep yg patut didukung. Sedikit demi sedikit bakal menggilas image bahwa orang Jepang phobia orang asing😀

    Reply

  3. Nina
    Jul 24, 2011 @ 02:49:24

    Wah, hebat juga pintu rumah ga pernah dikunci. Apa karena biasanya ramai jadi yakin ga ada perampok yg berani ya?

    Tapi kalau dipikir2, di sini juga Umumnya kalau masih lajang, tinggal di rumah ortu atau kos, kalau mau lebih mandiri lagi & dah mampu ya beli rumah ato apartmen. Jarang yang beli rumah buat ditempati bareng2 (+ada ruang yg jg disewakan)….Walau Warkop DKI dulu justru sering memakai konsep ini di film2 mereka. (eh kok nyambung aja?😄 )

    Reply

    • lompatlompat
      Jul 24, 2011 @ 02:56:25

      Hahaha! Warkop DKI! BRILIAN!😄

      Gue juga agak heran karena mereka sepertinya percaya sekali pada lingkungan dan orang lain. Padahal tetangga ada yang mengunci pintu rumah. Namun mereka juga bilang tidak semua daerah Tokyo seaman Kami Ikebukuro.

      Reply

  4. hilsya
    Aug 03, 2011 @ 09:43:41

    waduh tante guru.. aku baru tau lho, ada rumah komunal macam gini..
    secara kalo singgah udah numpang duduk manis dipesenin tempat tinggal..

    TFS ya.. jadi bahan pertimbangan juga kalo ke jepun sendirian *hiyaaa.. maju mundur banget*

    Reply

  5. christine
    Jun 15, 2012 @ 10:08:30

    Halo salam kenal, itu rumah komunalnya bebas yah? atau perlu booking? soalnya plan saya ke jepang tgl 3 juli ini dan mendarat hampir tengah malam (kalo gak delayed) plan akan stay di airport sampe pagi, trus check in hotel, tetapi masalahnya hotel baru bsa cek jam 2 siang, boleh gak yah kita numpang istirahat disitu sama mandi2/ kebetulan hotel tmpat kita tinggal di shinjuku jd masih satu line sama yamanote, oia sy sm suami dan anak kecil, mohon bantuannya/ trimakasih🙂

    Reply

    • lompatlompat
      Jun 17, 2012 @ 10:01:13

      Salam kenal juga mbak. Wiiih asyik mau ke Jepang! Hmmm saya coba jawab ya.

      Rumah komunal sebenarnya bukan semacam perhentian begitu mbak. Lebih mirip rumah yang terbuka menerima tamu untuk menginap dan berinteraksi. Kalau hanya mengisi waktu sebelum check in buat saya sih kurang enak yah. Dan buat kita juga kurang praktis.

      Kalau mandi, bisa kok di bandara. Kalau mau tidur semalam di bandara sih bisa. Tapi kalau bawa anak2, coba menginap di hotel transit atau hotel bisnis murah dekat bandara. Paginya naik kereta ke tengah kota. Titipkan barang di locker stasiun (bisa dibaca di post kami soal cara selamat di Jepang), lalu bebas berjalan2 dulu sebelum kemudian kembali ke stasiun & ambil barang lalu check in ke hotel. Demikian saran saya, semoga membantu.

      Reply

  6. sendy
    Jul 22, 2012 @ 14:16:50

    saya baru tau ada rumah komunal, saya juga mau ke Jepang Oktober nanti, mau sortir rumah komunal yg sesuai budget gimana ya? yg sprti disebut diblog juga yg dlm loop Yamanote. Saya solo traveling …kalo dilihat satu-satu capek dong😦 nanti tau dari mana ya klo yg punya rumah bkn org “jahat” gitu…
    kalo mo naik bis malam ke kyoto, ada rekomendasikah?
    terima kasih

    Reply

    • lompatlompat
      Jul 31, 2012 @ 15:02:50

      Hai Mas Sendy… waktu itu sudah saya balas via e-mail kan ya? Jepang Insya Allah aman mas… kita juga pilih2 tempatnya tentu dari situs2 yang dipercaya… Misalnya via airbnb.

      Bis malam ke Kyoto sih banyak, banyak yang rekomendasikan Willer. Waktu itu saya 2x naik tapi bukan Willer cuma saya lupa namanya…

      Reply

  7. mzakyzm
    Aug 29, 2013 @ 08:29:00

    saya ingin tau, adakah toko barang 2nd, semacam bookoff di ikebukuro?

    Reply

    • lompatlompat
      Sep 04, 2013 @ 04:51:23

      Halo! Maaf saya baru ngeh ada komentar. Iya, justru di Ikebukuro banyak sekali toko-toko demikian, mulai dari yang menjual CD, vinyl, buku, manga, sampai goods konser bekas🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: