Pengantar: Beijing

This post is about China

Beijing sedang diterpa angin kencang yang datang dari Mongolia.  Terkadang tiupan angin begitu laju, nyaris menyeret saya serta entah ke mana ia pergi.  Tapi teman-teman berkata: justru sekarang ini musimnya enak untuk berkunjung ke Beijing.  Tidak terlalu dingin, tidak terlalu panas.  Yang penting: kepala tetap dingin.

“Jangan harapkan orang sini minta maaf kalau mereka menabrak kita,” kata seorang teman yang telah 11 tahun bermukim di Beijing.  “Bukannya mereka tidak sopan.  Karena dengan orang sebanyak ini, bagi mereka bertabrakan itu hal yang tidak bisa dihindarkan, tidak perlu dibesar-besarkan.”

Saya mengingat-ingat nasihatnya itu, dan selama beberapa hari di Beijing, saya juga berusaha menjadi orang yang lebih cuek dari biasanya: diam saja ketika ditabrak, meski kalau saya yang menabrak, saya otomatis berkata “Sorry.”

Tak perlu pula emosi bila pelayan seolah melemparkan sumpit, tisu, dan piring ke meja Anda.  Meskipun mungkin rasanya agak risih bagi kita, memang begini gaya mereka, bukannya mereka sedang berlaku tidak sopan.

Teman saya itu juga berkata untunglah saya datang ke Beijing sekarang, setelah Olimpiade.  “Dulu sewaktu gue datang pertama ke sini, meski pakai you-can-see, cewek-ceweknya tidak cukur bulu ketiak,”  Ia tertawa geli mengenang.  “Namun sekarang mereka modis-modis sekali.”

Saya memandang berkeliling dan mengiyakan.  Yang saya tak habis pikir, beberapa gadis tampak mengenakan stiletto – padahal mereka harus berjalan kaki jauh bila menaiki metro, entah itu menuju bangunan tujuan mereka atau berpindah jalur, dan seringkali harus mendaki tangga yang cukup tinggi.  Wow.  Apa mereka tidak merasa kerepotan?  Namun jelas keberadaan 15 jalur metro telah sangat membantu pergerakan mereka – dan juga para penghuni Beijing yang berbelas-belas juta.  Seandainya tidak ada jalur-jalur kereta bawah tanah ini, entah bagaimana kacaunya ketika mereka semua harus berangkat sekolah atau bekerja dan pulang pada waktu nyaris bersamaan.

Metro, bis, atau taksi?

Bagi pengunjung seperti saya, keberadaan kereta bawah tanah juga amat membantu.  Bepergian ke berbagai tempat yang jauh dari tempat saya menginap, dan yang tentunya tak pernah saya datangi sebelumnya, menjadi mudah.  Cukup cek jalur kereta (misalnya di situs ini), mana yang paling dekat dengan tujuan kita, rencanakan perpindahan jalur yang efektif kalau perlu, dan, voila, tidak perlu takut tersesat.  Papan-papan petunjuk arah yang dilengkapi tulisan Latin siap membantu kita.  Pengumuman dan petunjuk di kereta juga dilengkapi transliterasi.

Kartu sekali jalan Metro Beijing.

Berkat subsidi, harga tiket kereta bawah tanah di Beijing menjadi amat murah.  Dengan 2 CNY (yuan), selama kita tidak keluar dari stasiun, kita bebas bepergian ke stasiun mana saja.  Kalau di Jakarta, miriplah dengan sistem karcis Transjakarta: harganya flat, tidak seperti subway Singapura atau Hongkong yang menghitung berdasarkan jarak.

Anda bisa membeli tiket langsung dari loket, ataupun melalui mesin yang menerima uang logam pecahan 1 CNY dan uang kertas mulai dari 5 CNY.  Bila tidak mengerti bahasa Cina, ubah saja bahasa yang terpampang di mesin menjadi bahasa Inggris.  Sebelum memasuki peron, bila Anda membawa tas atau kantong belanja, segala bawaan Anda itu harus dilewatkan di dalam mesin sinar-X terlebih dahulu untuk pemeriksaan.  Ya, soal ini memang pemerintah Beijing sangat ketat dan berhati-hati.

Sorongkan tiket Anda ke mesin pembaca di gerbang masuk, dan simpan tiket tersebut, karena harus Anda masukkan ke mesin pembuka gerbang di tempat tujuan akhir Anda nanti.

Bagaimana dengan bis umum?  Harga karcis bis dalam kota juga flat, 1 CNY.  Jadi bila hendak ke mana-mana, siapkanlah uang receh yang siap dimasukkan ke dalam kotak di depan pintu masuk bis.  Sayangnya, meskipun di bis biasanya ada petunjuk nama-nama halte yang dilengkapi dalam transliterasi Latin, di halte sendiri petunjuk rute bis hanya menyertakan transliterasi untuk tempat awal dan tujuan akhir bis.  Sebaiknya bila Anda memang memutuskan untuk naik bis ke tempat tertentu, ceklah di situs internet (atau tanyakan kepada orang yang mengerti) untuk mengetahui nomor bis dan di halte mana saja bis itu bisa Anda peroleh.  Ada baiknya juga Anda mencatat atau menandai peta nama tempat tujuan Anda dalam tulisan Cina, agar mudah ditunjukkan kepada orang ketika menanyakan jalan.

Halte-halte di Beijing dilengkapi petunjuk nomor dan rute bis yang singgah di halte tersebut.

Taksi di Beijing juga tidak terlalu mahal, meskipun biaya flagfall (buka pintu)-nya cukup besar, 10 CNY.  Namun bila Anda memang harus menggunakan taksi, dan apalagi bila perginya tidak sendirian sehingga tarif taksi bisa dibagi bersama, kantong Anda tak akan terlalu diberati.  Oya, jangan marah-marah kalau supir taksi menambahkan 2 CNY ke tarif akhir Anda, karena ini memang peraturan di sana.  Tambahan ini bisa berubah-ubah setiap waktu.  Hanya beberapa hari sebelum saya tiba di Beijing, besarnya hanya 1 CNY.

Toilet umum

Ah, ya.  Masalah ini juga harus saya bahas, karena banyak juga yang penasaran soal kabar-kabar yang beredar mengenai toilet umum di Beijing.  Apa benar sedemikian parahnya?  Kalau soal ini, lagi-lagi teman saya berkata, “Untung lu datangnya setelah Olimpiade.”  Ya, karena dalam rangka persiapan besar-besaran menyambut Olimpiade, pemerintah Cina merombak banyak fasilitas umum di Beijing demi kenyamanan para pengunjung.  Toilet-toilet umum berubah menjadi toilet kering, baik yang duduk ataupun yang jongkok, dengan tisu, wastafel, dan sabun tersedia.

Fasilitas boleh berganti—kebiasaan yang susah diubah.  Siap-siap saja ‘mematirasakan’ indra bila Anda memasuki toilet umum di Beijing.  Rata-rata memang bersih, namun beberapa kali juga saya dapat ‘jackpot’, mendapati WC bekas buang air besar yang tidak disiram.  Di berbagai tempat (bahkan di dalam pesawat terbang!) pemerintah atau pengelola bangunan juga harus memasang peringatan yang kira-kira berbunyi ‘Demi kenyamanan, harap kunci pintu toilet Anda’.  Dan, ya, bahkan di pesawat terbang, ada saja yang menggunakan toilet tanpa mengunci pintu, membuat pramugari dan orang yang mengantri kebingungan.   Cerita heboh datang dari seorang rekan: ia mendapati 2 orang perempuan duduk di toilet yang berhadap-hadapan, dengan pintu terbuka, sambil mengobrol!

Jadi, yah, seperti juga di mana pun, tengok-tengok saja dulu toilet umumnya sebelum masuk: terlihat meyakinkan atau tidak?  Kalau rasanya tidak, ya, masih banyak kok toilet umum di Beijing yang bisa dimanfaatkan, misalnya di pusat-pusat perbelanjaan menengah ke atas yang tentunya lebih terjamin.  Gratis ini, hehehe.

Kebiasaan lain: meludah

Ini kebiasaan lain penduduk Beijing yang cukup mengganggu untuk orang yang tidak terbiasa.  Mereka gemar meludah di mana pun, termasuk di dalam ruangan: dan sebelum diludahkan, mereka ‘mengocok’ dahulu dahak itu dalam tenggorokan sehingga mengeluarkan bunyi keras.  Pokoknya jangan menyender ke dinding atau duduk di lantai, deh.  Bercak-bercaknya saja sudah mencurigakan.

Eh, tapi jangan karena kisah-kisah kami ini, Anda jadi malas berkunjung ke Beijing, karena kota ini sebenarnya menawarkan banyak hal yang mengesankan.  Ini sekadar agar Anda bersiap-siap dan tidak malah marah-marah mendapati penduduk Beijing melakukan banyak hal secara berbeda dengan kita.  Di bagian lain dari seri laporan Lompat-lompat ke Beijing, kami akan menampilkan cara mengunjungi sejumlah tempat terkenal di Beijing tanpa mengambil paket tur dari biro perjalanan, dan juga melihat sisi kehidupan Cina Muslim di Beijing.

2 Comments (+add yours?)

  1. hilsya
    May 05, 2011 @ 22:38:12

    whuaaa… cerita-cerita kebiasaannya kok bikin horor ya?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: